Novel ini penuh air mata ya say...kalau tidak kuat Melo, tinggalkan saja...!
Penolakan sang suami untuk mengakui keberadaan putranya membuat Adis menyerah. Ia harus membesarkan putra semata wayangnya seorang diri.
Namun penderitaan makin sempurna yang harus ia alami saat putranya di vonis dokter mengalami sakit jantung membuat ia harus berpikir keras untuk mencari uang tambahan.
"Ya Allah. Dari mana aku harus mendapatkan uang 500 juta dalam sebulan?" desis Adis sambil mengelus dadanya yang terasa sangat sesak lagi sakit.
Bagaimana kisah ini selanjutnya antara Adis, suaminya Panji serta putra mereka Rian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Butuh Model Iklan
Entah mengapa perkataan Adis barusan pada nyonya Ambar yang terlihat berkelas itu tidak menjadikan wanita 40 tahun ini marah. Ia justru tersenyum dan memahami situasi Adis yang selama ini mungkin berasal dari kalangan bawah.
"Memang terdengar konyol untuk orang kalangan bawah sepertimu, tapi kehidupan sosialita bersentuhan dengan dengan hal-hal yang menipu. Jadi, nikmati saja dan kamu harus berperan sesuai yang mereka inginkan pada dirimu nanti." Senyum Nyonya Ambar begitu tulus saat memberikan penjelasan pada Adis.
Adis akhirnya belajar ilmu kepribadian pada nyonya Ambar. Dari cara jalan, duduk, makan di meja makan dengan tata cara yang begitu klasik.
Memperkenalkan sendok, garpu, pisau stik dan cara membawa makan ke mulut, cara meminum dan cara hadapi hal kecil saat makan seperti menemukan helai rambut di dalam makanan dan cara membalas umpan balik atas pertanyaan orang-orang yang duduk bersama di meja makan kala memenuhi undangan perjamuan makan malam.
Rupanya Adis begitu cepat meniru setiap pelajaran tata cara itu dengan baik dalam melakukan semuanya. Seakan Adis sudah di persiapkan untuk menjadi model suatu hari nanti dan inilah saatnya.
"Pelajaran untuk hari ini sangat memuaskan. Kamu termasuk orang yang mudah sekali menyerap pelajaran untuk hal yang baru.
Lusa nanti kamu bisa ke sini lagi setelah sesi pemotretan dengan Galih.
Apakah kamu sudah berkeluarga?" tanya nyonya Ambar seraya menyerahkan segelas jus jeruk untuk Adis yang merima nya dengan senang hati.
"Saya sudah memiliki satu putra yang berusia sekitar tiga tahun 5 bulan, Tante."
"Suamimu kerja di mana?"
"Sudah pergi. Tidak penting dia ada dan tiada. Bagi kami berdua sama saja," imbuh Adis dan nyonya Ambar merasakan kepedihan mendalam yang terlihat jelas di manik cantik Adis.
"Sudah selesai..?" tanya Galih setelah dua jam menunggu Adis belajar pada nyonya Ambar. Keduanya tersentak dengan teguran Galih yang tiba-tiba sudah berada di hadapan mereka.
"Kami sudah selesai. Silahkan bawa pulang Violin..!" nyonya Ambar mengecup pipi Adis." Sampai jumpa lagi sayang. Semoga sukses...!" Adis mencium lagi punggung tangan nyonya Ambar yang merasakan lagi kekuatan ikatan batin antara Adis dan dirinya. Keduanya pamit lalu meninggalkan mansion mewah itu.
Saat Adis meninggalkan Nyonya Ambar sendirian, ibu cantik ini merasakan ada yang hilang lagi dalam dirinya. Tiba-tiba ia teringat lagi bayi perempuannya yang di klaim meninggal dunia oleh ibunya pasca dia melahirkan.
"Jika bayiku masih hidup, mungkin ia akan tumbuh besar dan usianya sepantaran Adis. Tapi kenapa Adis begitu mirip denganku? Walaupun bukan wajahnya tapi lebih kepada kepribadiannya," gumam nyonya Ambar mengenang mendiang putrinya.
Tidak lama kemudian keduanya sudah tiba lagi di apartemen. Karena hari sudah gelap dan mereka memilih untuk rehat di unit kamar mereka masing-masing.
...----------------...
Keesokan harinya, Galih dan asisten Andre baru selesai sarapan pagi bersama dengan keluarga Adis. Pagi itu, mereka mau berangkat ke lokasi pemotretan.
Dina sudah menyiapkan semuanya seperti busana dan lainnya untuk Adis dalam sesi pemotretan. Begitu juga kepentingan Rian karena bocah ini ikut serta dalam aktivitas ibunya.
"Sudah siap semuanya...?" tanya asisten Andre ketika mereka sudah siap berangkat. Dan saat ini berada di depan lobi apartemen.
"Sudah. Tidak ada yang ketinggalan," ucap Dina sebagai manajer pribadi Adis. Gadis ini duduk di sebelah asisten Andre. Sementara Adis dan Galih duduk di jok belakang yang ditengahnya tentu saja ada Rian.
"Rian baik-baik saja?" tanya Adis cukup kuatir dengan kondisi Rian pasca operasi.
"Rian sehat mama. Sebentar lagi akan ada pendaftaran sekolah, apakah Rian sudah boleh sekolah mama?" tanya Rian saat melihat beberapa anak sekolah tadi di lobi apartemen siap berangkat sekolah.
"Tiga bulan lagi sekolah akan di mulai. Nanti mama akan mendaftarkan kamu di sekolah internasional, sayang," ucap Adis.
"Nanti aku akan siapkan sopir pribadi dan sekaligus pengawal untuk Rian," ucap Galih.
"Kalau bisa yang perempuan saja, tuan. Dengan begitu dia bisa mengurus Rian dengan baik," pinta Adis.
"Ok."
"Rian tidak sabar untuk sekolah mama. Pingin ketemu teman-teman," pinta Rian dan Adis mengerti akan hal itu. Sudah saatnya Rian membaur dengan teman-teman sebayanya untuk tumbuh kembang fisik dan otaknya.
"Iya sayang," janji Adis.
"Tidak apa kalau dia kepingin lebih cepat sekolah tanpa harus mengikuti tahun ajaran baru. Kita daftar saja. Dengan begitu dia juga punya banyak teman," ucap Galih.
"Baiklah. Nanti aku akan mencari waktu lenggang untuk mengurus pendaftaran sekolah untuk Rian," ucap Adis.
"Horeee....! Rian sebentar lagi sekolah Tante Dina...!" pekik Rian kegirangan membuat semuanya terkekeh.
Di lokasi pemotretan, Galih mengarahkan Adis di beberapa view terbaik untuk mengambil gambar Adis. Sementara itu Rian asyik dengan buku-buku bacaannya.
Asisten Andre memberikan beberapa berkas milik Adis kepada Dina dalam kontrak kerja dengan agensi mereka. Dina mulai pelajari semuanya tanpa terlewatkan.
"Ingat. Minggu depan kita sudah ke luar negeri," ucap asisten Andre. Dina mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa melihat wajah asisten Andre yang menikmati kecantikan gadis tomboi ini.
"Apakah kamu tidak berpikir untuk masa depanmu sendiri?" tanya Andre membuat Dina mengangkat wajahnya menatap wajah tampan asisten Andre.
"Masa depanku sudah bersama dengan sahabatku Adis."
"Maksudku, apakah kamu tidak berpikir untuk berkeluarga? Membina keluarga sendiri," ucap asisten Andre memperbaiki pertanyaannya.
"Aku akan memikirkan diriku jika Adis bisa mendapatkan lagi ayah untuk putranya Rian."
"Siapa sebenarnya ayahnya Rian? Apakah aku boleh tahu?"
"Lupakan saja...! Aku agak jengah membahas bajingan tidak bertanggung jawab itu. Dia menikahi sahabatku begitu mendadak dengan status istri siri. Dan....-"
Dina tidak ingin meneruskan kalimatnya karena tidak mau membahas lebih jauh masalalunya Adis.
"Aisss....! Kenapa aku jadi membahas juga denganmu. Sudahlah...! Jangan memancing aku untuk bicara tentang Adis," tolak Dina.
"Maafkan aku." Asisten Andre segera beranjak pergi meninggalkan Dina dan Rian. Ia menghampiri Galih yang saat ini membutuhkannya.
Galih melihat hasil pemotretannya di laptop miliknya. Ia terlihat puas dengan foto-foto Adis yang sangat menawan.
Sementara di perusahaan milik Panji, pria tampan ini sedang memaksa asistennya Rendy untuk mencari model iklan produknya dan dia tidak mau memakai model yang sudah-sudah.
"Apakah kamu tidak bisa menemukan model lain selain model itu-itu saja?" kesal Panji saat asisten Rendy memperlihatkan beberapa model langganan mereka pada Panji.
"Katanya sih ada model pendatang baru di agensi model perusahaan tuan Galih. Hanya saja saat ini mereka sedang mempersiapkan gadis itu untuk fashion show di Perancis nanti untuk busana musim dingin," jelas asisten Rendy.
"Apakah kamu sudah bertemu atau melihat wajah model pendatang baru itu?" tanya Panji penasaran.
"Tidak bisa tuan. Mereka sedang menyembunyikan model mereka itu sampai acara fashion show itu di gelar di Perancis Minggu depan."
"Apakah mereka mengundang aku juga untuk acara itu?" tanya Panji.
"Tentu saja tuan. Beberapa hari yang lalu bukankah aku sudah memberitahu tuan untuk acara itu?"
"Aku lupa. Baiklah. Aku sangat penasaran dengan model baru itu. Aku ingin melihatnya sendiri model itu saat acara fashion show nanti," timpal Panji merasakan getaran aneh mendengar model pendatang baru itu.
"Baiklah. Aku akan konfirmasi lagi kehadiran tuan di acara itu." Asisten Rendy langsung menghubungi asisten Andre untuk kehadiran tuannya di acara fashion show tersebut.