Tak ada yang menyangka jika orang yang dianggap musuh ternyata orang yang dikirim Tuhan untuk menjadi orang yang berarti dalam hidupnya.
Walau banyak sekali rintangan untuk mengucap janji suci. Tapi jika Tuhan sudah berkehendak rintangan seberat apapun tidak akan mengalahkan tekadnya.
Gama Alexander berubah menjadi posesif ketika sudah menjadi suami Elata. Tegas dan mempunyai karismatik yang menawan. Sehingga tak banyak yang kagum pada sesosok pengusaha muda tersebut.
Elata wanita yang dari dulu sangat dicintai dan diinginkan Gama. Siapa yang tidak kenal dengan wanita jutek itu. Tapi, setelah menikah dengan Gama, Elata berubah menjadi sosok yang ramah. Berbeda jika pada saat dengan Gama, wanita cantik itu akan berubah 180 derajat. Tingkah absurdnya akan kembali.
Apakah Gama dan Elata akan tetap bertahan dengan pernikahannya seperti waktu mereka pacaran dulu dengan cobaan yang akan datang menimpa pernikahan mereka. Ataukah akan sebaliknya?
Simak di MEIML
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seizy kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gama vs Elata 2
"Brengsek loe Askan. Sini gak, loe!" Teriak Elata lantang dan kembali mengejar Askan. Sampai anak-anak sekelas tertawa terpingkal-pingkal.
"Sorry El, gue emang sengaja. Sumpah" Askan nyengir, dan terus menghindar dari kejaran Elata. Gama yang notabenenya cuek. Kini di buat tertawa oleh Askan dan Elata yang menurutnya lucu kaya anak kecil. Tapi perlahan tawa itu memudar. Kepalanya di tekuk. Ia teringat akan seseorang yang sudah tiada. Melihat Elata yang terus mengejar Askan, mengingat akan dirinya yang selalu mengerjai Elata waktu kecil.
"Berhenti gak, loe!" Elata bertolak pinggang. Nafasnya tersengal karna cape yang terus mengejar Askan, tapi tak kunjung ia dapatkan.
"El, biar gue bantu nangkep si kambing conge ini" Semua yang ada di kelas di bikin ketawa ngakak dengan panggilan Flora pada Askan.
"Yang benar aja loe, cowo sekeren dan seganteng gue loe bilang kambing conge" Askan cemberut. Wajahnya di buat sememelas mungkin. Flora terkekeh melihat tingkah Askan.
Kembali, teman-teman mereka sekelas dibuat ketawa. Apa lagi si Bubur alias Burhan. Sampe guling-guling gak jelas. Ada lagi si Nanas alis si Syahnas yang sampe gebrak-gebrak meja. Melihat situasi yang sangat jarang sekali terjadi. Karna biasanya Elata selalu diam saat Askan membuat onar. Tapi entah setan apa yang kini merasuki Elata?
"Woy, gue bisa depresi ini lihat loe semua kaya cacing kepanasan. Gak bisa diem apa?" Kini Yuda sang ketua kelas mengeluarkan suara.
"Yud, dari pada loe ngomong terus, gak di dengar pula. Mending nikmati aja drama yang mereka buat"
Kembali, semua orang di buat tertawa. Yuda hanya bisa pasrah memijat pelipisnya.
Elata, gadis itu kini tengah mendekat ke arah mangsanya. Yang tak lain Gama. Menurutnya lah gara-gara Gama menarik tangannya, ia jadi bahan bulian teman sekelasnya. Harga dirinya kini turu. Kalian lupa kalau gengsi Elata segunung ciremai?
Gama yang melihat Elata mendekatinya. Mulai panik, tak tahu apa yang akan di lakukan gadis cantik itu. Tapi tiba-tiba saat Elata sudah di hadapan Gama. Suara Tap......Tap.....Tap...... Menghentikan aksi Elata. Dan menghentikan drama-drama yang Askan, Flora dan semua anak-anak kelas 12 IPA 2 buat. Senyum devil diwajah Elata menyeringai. Seperti ada cahaya bohlam yang bersarang di atas kepalanya.
Elata mencari-cari sesuatu di dalam tas mininya. Entah apa yang Elata cari dan entah apa yang akan di lakukan gadis itu. Gama sendiri tidak dapat membaca apa yang Elata pikirkan. Setelah rencananya ia lakukan. Elata duduk dengan santai. Seperti tak akan ada yang terjadi sesuatu apapun.
Dan benar saja, tiba-tiba saat guru paling kiler diantara terkiler datang, dan....
Brrukk.....
Pak Zaki jatuh terpelentang. Sontak tawa seisi kelas kembali menggema bagai petir yang menggelegar.
Ternyata pak Zaki terpeleset akibat menginjak botol minuman yang dengan sengaja Elata simpan di lantai. Dan beberapa kelereng yang tak tau gadis itu dapat dari mana.
"Berani-beraninya kalian simpan botol minum dan kelereng di lantai" Lantas setelah mendengar suara pak Zaki yang bagai terompet sangkakala tawa yang di lepaskan, mereka berhentikan.
"Siapa yang melakukannya?" Teriaknya kembali.
Elata dengan sengaja langsung menunjuk ke arah Gama.
"Gama....." Teriak pak Zaki
"Bukan saya, Pak" Elahnya Gama. Dia memicingkan matanya pada Elata. Dan Elata dengan sengaja hanya menjulurkan lidahnya pada Gama.." Wlee "
****
Disinilah sekarang Gama berada. Dilapangan basket yang panas dan yang paling Gama benci adalah, ia harus mengangkat kertas karton yang bertuliskan SAYA JANJI TIDAK AKAN MENGERJAI GURU LAGI. TERMASUK PAK ZAKI.
Begitulah tulisan yang di buat Gama. Setelah tadi masuk ke ruang BK. Baru kali ini seorang Gama Alexander bertamu ke ruang BK.
Semua murid yang melihat Gama di hukum seperti itu merasa lucu. Yang kebetulan bel istirahat pun sudah berbunyi. Tapi hukuman itu belum selesai. Tau kali yah kalau pak Zaki sudah menghukum murid, pasti di buat tak bisa berkutik. Seperti Gama saat ini hanya bisa pasrah menjalankan hukumannya.
"Aduhhh... Kacian benget nih enemy gue di hukum. Panas yah?" Elata tersenyum puas. Dan teman-temannya hanya menggelengkan kepala.
"Awas loe, El. Tunggu aja pembalasan gue" Gama yang tak terima. Karna kesalahan yang tidak pernah Gama buat, kini pemuda itu yang menanggungnya.
"Gue tunggu zheeyeng " Elata tertawa, kemudian hendak berjalan bersama teman-temannya ke arah kantin. Tapi belum juga melangkah, suara cempreng mengurungkan niatnya.
"Kak Gama. Ya ampun... Kok kakak bisa di hukum kaya gini?" Suara itu keluar dari mulut Zen. Anak kelas 11
Gama hanya tersenyum menanggapi.
"Kakak, pasti haus kan? Mana ini panas lagi.. Ni minum punya aku aja" Zen menyodorkan air mineral yang ada di tangannya.
Gama menerimanya. "Thank's"
Elata merasa hawa di lapangan basket itu semakin panas. Wajah juteknya kembali ia perlihatkan Karna merasa tak suka Gama menerima air minum dari Zen.
"Gak usah kecentilan deh sama ade kelas sendiri!" Tangan Elata ia lipatkan di dada. Mukanya masem. Askan si biang onar seakan mengetahui apa yang di rasakan Elata.
"El, kalau cemburu ya ngomong aja!" Askan mentoel-toel pundak Elata.
"Gak usah pake bilang kecentilan sama Gama "Kini Abram turut menyumbangkan suaranya.
Semua teman-teman yang mendengarkan godaan Askan dan Abram untuk Elata menertawakan Elata. Elata tak terima, gadis itu memukul perut Askan dan Abram.
Tiba-tiba....
"Apa lagi yang membuat kalian ribut? Elata kenapa kamu pukul perut Askan dan Abram?" Teriak lagi pak Zaki, yang kebetulan lewat melihat Elata memukul Askan dan Abram.
"Aduh, perut saya sakit, pak" Askan memegang perutnya. Memasang wajah yang meyakinkan pak Zaki. Kemudian Abram ikut-ikutan apa yang di lakukan Askan.
"Elata kamu keterlaluan"
"Saya cuma pelan kok, Pak " Elata membela diri. Karna takut pak Zaki akan menghukumnya.
"Kamu, lari keliling lapangan basket lima belas putaran!" Titah pak Zaki.
Dan ini yang di maksud Askan dan Abram. Kembali mengerjai Elata. Mereka menginginkan Gama dan Elata bersama-sama menjalankan hukuman pak Zaki di lapangan basket.
"What?"
Pak Zaki membawa Askan dan Abram pergi. Niatnya mau bawa ke UKS. Askan tesenyum puas, sampe-sampe ia julurkan lidahnya saat menoleh ke belakang Elata. Elata tak terima. Gadis itu menunjukan tangannya yang di kepal ke arah Askan.
"Dasar si biang onar. Awas aja entar" Elata terkekeh.
"Udah, sono loe lari lima belas putaran. Temenin enemy loe yang lagi di hukum juga. Kasian kan sendirian di hukumnya" Flola dan Cindy tertawa puas ikut mengerjai Elata. Kemudian berlalu meninggalkan Elata. Pergi melangkah ke kantin.
Elata mulai berlari mengitari lapangan basket. Dan Gama, pemuda itu hanya tertawa puas melihat Elata kini kena karmanya. Zen, adik kelas Gama itu masih mematung di tempatnya, sampai dari salah satu teman memanggilnya. Kemudian pergi bersama teman-temannya setelah pamit dan memberikan botol air mineral lagi pada Gama.
****
Di kantin.
Askan, Abram, Andra begitu juga Flora dan Cindy. Tak henti-hentinya mereka menertawakan Gama dan Elata.
"Gue tuh aneh sama Elata" Abram menghentikan tawa mereka." Katanya benci tapi kok ya cemburu" Lanjutnya kemudian
"BBC kali" sahut Andra
Mereka yang satu meja menatap Andra dengan kening berkerut. Bingung apa BBC
"Benci bilang cinta" Lanjutnya kemudian
Kini tawa mereka menggema lagi. Sampai seseorang datang menghampiri dengan peluh bercucuran dan nafas tersengal.
"Brengsek loe, sialann" Ucapnya dengan penuh emosi. Askan dan Abram yang tau seseorang itu siapa, mereka sudah siap mendapat amukan dari Elata. Menghindar pun sudah tidak bisa karna Elata akan terus melayangkan balasan pada Askan. Di belakangnya Gama menyusul dengan langkah santai.
"Sorry El, gue nyerah" Askan mengangkat ke dua tangannya ke udara, tanda ia menyerah akan serangan yang Elata lakukan.
"Gak, gue belum puas. Sini gak loe!" Elata terus menyerang Askan. Tangannya mengepal, sudah siap ia layangkan pada Askan.
"Udahlah El, gak cape apa, loe? Udah lari-lari bukannya break. Ini mending minum dulu!" Cindy melerai perang antara Askan dan Elata sambil menyodorkan minum pada Elata.
Elata yang memang kehausan langsung menerimanya dengan senang hati.
Di saat Elata tengah asik meneguk minuman itu, dari arah belakang Gama menepuk bahu Elata. Elata kaget. Begitu berbalik langsung menyemburkan minuman yang ada di mulutnya ke wajah Gama dengan refleks.
Gama mengusap wajahnya yang basah dengan telapak tangannya. Air yang menetes membuat seragam gama jadi basah. Pemuda itu dapat merasakan dingin di bagian dadanya.
Saat mata Gama mengarah ke wajah Elata. Tanpa dosa Elata malah nyengir kuda. Gama kesal bukan main. Tangannya langsung mencoelkan sambal kemudian ia oleskan ke pipi Elata.
"Gama..." Teriak Elata "pipi gue panas woy" Elata langsung menyambar tisyu yang ada di meja. Tapi karna itu sambal pipi Elata masih merasakan panas.
"Sorry, gue kira itu selai" Jawab Gama memasang wajah tanpa dosa.
Kembali mereka membuat heboh. Sampai seisi kantinpun di buat geleng-geleng kepala.
"Gama sama Elata itu sebenarnya cocok ya?" Ucap salah satu murid yang ada di kantin
"Hooh, walau sering berantem, tapi mereka cocok kalau pacaran" Teman semejanya menjawab.
"Gue, ngiri tau. Walau Gama sering cuek dan dingin sama yang lain. Tapi gue lihat sama Elata tuh enggak" Lanjutnya
Tanpa mereka sadari di sana, di meja sebelah mereka ada gadis yang patah hati mendengar apa yang mereka bicarakan.
Rara, ya dia mendengarnya. Hatinya merasa sakit, tapi apa yang di katakan mereka memang benar. Rara kini menyadari satu hal. Bahwa Gama tidak dapat dengan mudah ia miliki. Selama masih ada Elata.
Andra yang belakangan ini selalu memperhatikan Rara tanpa sepengetahuan teman-temannya merasa kasihan pada gadis itu.
"Gay's, gue kesana dulu" Pamit Andra pada teman-teman semejanya yang tengah asik menertawakan Gama dan Elata. Yang sedang cek cok tak mau ada yang mengalah.
Andra melangkahkan kakinya ke meja Rara yang tengah duduk sendiri. Dan tak lepas dari pengawasan pandangan teman-temannya.
"Sejak kapan si Andra dekat sama Rara?" Askan mengeluarkan pertanyaan yang membuat hatinya penasaran.
"Gue lihat sejak acara ulang tahun si Ariska waktu itu" Jawaban Abram mampu membuat teman-temannya dilanda kebingungan.
TBC
****
Kita baper-baperan dulu ya, sebelum badai datang.
Lope yu 😘😘😘