NovelToon NovelToon
Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang

Status: tamat
Genre:Suami Tak Berguna / Tamat
Popularitas:548k
Nilai: 4.9
Nama Author: Linda Pransiska Manalu

Rasa kecewa yang berkali-kali kualami atas perlakuan suamiku, Bram, dan keluarganya yang tidak pernah mengahargai sebagai istri dan menantu, akhirnyanya terlampiaskan.

Setelah bertahun-tahun tertindas, aku akhirnya menunjukkan perlawanan.

Ternyata tanpa aku duga sebelumnya, orang tua yang mengasuhku selama ini, bukanlah orang tua kandungku.

simak kelanjutannya dan mohon dukungan dari pembaca, untuk karya baru ku ini.🙏🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

"Hati terlanjur terluka, lagi. Entah dengan apa akan pulih. Yang jelas tetesan darahnya akan menyisakan luka yang entah kapan sembuh."

Aku pura-pura tidur saat kudengar langkah, Bram, memasuki kamar. Antara mendiamkan perbuatannya serta untuk membongkarnya, membuat napasku menderu di balik selimut.

Jika kubiarkan tentu, Bram, akan makin merajalela. Untuk membongkarnya pun, banyak hal yang masih perlu kupertimbangkan.

Aku mendengar dengkur halus, Bram. Sepertinya dia begitu lelah. Aku marah! Saat dia tidur dengan nyenyak, aku justru tak bisa memincingkan mataku, untuk tidur.

"Apa yang kamu lakukan, Bang, barusan di kamar mandi," ucapku datar. Aku yakin Bram, masih bisa mendengar pertanyaanku. Terbukti dia langsung membuka matanya. Terkejut, melihatku yang telah duduk bersila di sampingnya.

"Kamu, Dek, kenapa belum tidur?" sapanya antara heran dan curiga.

"Aku terjaga karena, mimpi buruk. Seperti mimpi buruk juga melihat apa yang abang lakukan di kamar mandi," sahutku datar.

"Maksud kamu apa, Dek?" Kedua bolanya matanya langsung membulat. "Kamu memata-mataiku, ya?!" sergahnya marah dengan wajah pucat pias.

"Aku kebelet pi**s, ternyata abang ...., Sungguh aku tak percaya, abang tega berbuat seperti itu."

"Semua gara-gara kamu, kalau kamu pandai melayani suami. Suami tidak akan mencari kepuasan dengan cara lain," sentaknya membuatku terkejut.

Bukannya merasa bersalah karena perbuatan hinanya terbongkar, malah menyalahkan aku istrinya.

"Abang, egois! Selama inipun abang hanya menuntutku. Tak pernah, menghargaiku. Jangan jadikan kelemahanku sebagai alasan untuk abang, berselingkuh. Jika pun abang selingkuh, haruskah kakak ipar perempuan itu. Tidak mikirkah kamu, Bang. Seolah tak ada lagi perempuan asing di dunia ini. Kamu menjijikkan!" rutukku.

Bram, begitu terkejut saat aku menyebut kakak iparlah wanita selingkuhannya. Wajaahnya memerah.

"Jangan sembarangan nuduh kamu, ya?!" beliaknya dengan nada mengancam.

"Mau berkelit ya, Bang, atau kamu membela wanita ****** itu. Kamu pikir aku tidak punya bukti, atas perselingkuhan kalian," teriakku emosi.

"Jangan sebut dia wanita, ******! Dasar kamu perempuan sinting," makinya hendak menamparku. Hatiku hancur lebur, atas penyangkalan dan pembelaannya pada, Sarah.

"Ceraikan, aku! Aku tidak mau hidup seatap dengan seorang suami berengsek, sepertimu," ucap emosi dan menyebutnya dengan kata, kamu.

"Oke, jika itu maumu. Aku juga sudah bosan jadi suami kamu. Wanita miskin yang tidak tau di untung," cecarnya makin kasar.

"Jangan sombong kamu, ya. Jangan, karena aku anak orang miskin seenak hati, menghinaku. Asal kamu tau, ya. Dalam sekejap Tuhan bisa hancurkan apa yang kamu miliki," umpatku.

"Pl*k!" sebuah tamparan mendarat di pipiku. Sakitnya tidak seberapa. Tapi hatiku hancur berkeping-keping. " Pergilah, kalau kamu mau pergi. Anak-anak akan ikut aku," teriaknya murka.

"Hem, tidak semudah itu, Bang," ucapku tenang. Tak ada air mata setetespun jatuh di pipiku. Malah dengan senyum penuh kemenangan, aku menyeringai kepadanya.

"Baik! Aku akan pergi dari sini. Tapi, aku tidak akan pergi dengan tangan kosong. Akan kupastikan, kamu akan menyesali semua perbuatanmu. Anak-anak akan pergi denganku. Tanah yang akan kita bangun rumah itu, menjadi milikku. Setengah dari gajimu adalah bagian dari anak-anak. Soal mobil, biarlah itu tetap milikmu. Soalnya aku jijik, karena pasti kau dan wanita ****** itu pasti telah mengumbar napsumu, di sana.

Jika, kamu menolak syarat yang aku bilang. Aku akan membuat hancur karirmu dan dan keluargamu!" ucapaku dingin penuh penekanan.

"Gila, kamu!" ucapnya. Memangnya kamu punya bukti kalau aku selibgkuh. Siapa yang akan percaya, ucapanmu," ucapnya melecehkan.

"Oke, kamu ingin bukti?" aku langsung mengirim VCS itu ke akun Sarah. Detik berikutnya ponsel, Bram, berbunyi. Sebuah notifikasi masuk. Wajahnya langsung memucat.

"Ka...mu?" ucapnya terbata. Belum sempat dia menyelesaikan ucapapnnya. Ponselnya kembali berdering. Seseorang, yang aku yakini, Sarah, berbicara panik di seberang. Bram, menatapku tajam atas kekacauan yang aku, buat.

"Oke, aku setujui permintaanmu! Tapi setelah itu, kamu lekas pergi dari rumah ini," ucapnya geram.

"Oh, no! Aku ralat, Bang. Kami pergi setelah rumah itu selesai di bangun. Aku tidak percaya, kalau uang gajimu akan beres, untuk anak-anak kalau kami sudah pergi dari rumah ini.

"Lalu apa maumu?"

"Lakukan segera pembangunan, rumah itu. Setelah itu, aku akan tutup rapat rahasia busukmu. Aku akan tetap berpura- pura jadi istrimu. Terserah kamu, mau lanjut terus hubungan terlarangmu itu, atau mau stop. Terserah! Antara kita, sudah tak ada hubungan apa-apa lagi. Kecuali dengan anak-anak,"

"Dasar wanita murahan! Kamu pikir semudah itu, memperalatku?!"

"Boleh. Abang boleh protes, siap-siap saja V*S itu beredar," ungkapku.

"Sekali sentak, Bram, mencengkram leherku. Aku kesulitan bernapas. Tapi, aku diam saja. Merontapun akan membuat, Bram, makin kalap. Kutatap manik matanya, dengan tatapan dingin. Tak ada permohonan, pandanganku kosong seolah telah mati raga. Tiba-tiba Bram melepas cengkeramannya. Aku tersenggal menarik napas. Melongarkan paru-paruku.

"Dasar wanita ib**s!" gertaknya. Lalu keluar kamar dengan langkah terhuyung. Aku memandang kepergiannya dengan senyum mencebik. Sepertinya, dia kehilangan kekuatannya. Mungkin juga syok melihat istrinya yang berubah jadi iblis, seperti katanya.

Aku mengusap leherku, dibawah sinar lampu kamar aku melihat tanda merah bekas cengkeramannya. Bagaimana kalau tadi, Bram, sampai khilaf dan membunuhku. Entah kemana pikiran warasku tadi, sampai diam dan pasrah.

Yang jelas tadi, aku sempat melihat sinar mata, Bram, yang begitu kebingungan melihat ekspresi wajahku.

Saat itu aku juga tak bisa berpikir apa-apa. Rasa sakit mengetahui perbuatan suamiku, membuat perasaanku juga seolah mati. Aku mengancamnya tanpa memikirkan apa akibatnya. Yang ada dalam pikiranku, hanya satu. Rasa sakit ini, harus kulampiaskan dengan cara lain.

Rencana awalku, yang hendak memindah tangan surat tanah, mobil, suamiku secara diam- diam. Berakhir dengan ancamanku, yang dia kabulkan dengan mudah karena terpaksa.

Juga gajinya yang akan aku tuntut, dengan melapor ke pimpinannya. Kini semua rencanaku berjalan mulus. Tinggal, bagaimana mengahadapi ibu mertua dan membalas Sarah.

Aku yakin ibu mertua akan melaukan serangannya padaku. Karena, sejak ini Bram, akan mengurangi jatahnya pada ibu mertua. Kalau soal Sarah, aku tak begitu mempermasalahkan. Bahkan aku merasa dia telah berada dalam kungkunganku.

Tapi apa semudah itu, Bram, akan memenuhi tuntutanku? Sejak malam ini, aku merasa bukan, Reny yang dulu lagi. Reny yang mudah di tindas dan di hina. Saatnya aku bangkit dan melawan siapa saja yang menghinaku.

Aku benar- benar harus menyiapkan mentalku. Firasatku, Bram tidak akan semudah itu menuruti ancamanku. Kulihat saja, itikad baiknya. Karena akupun tidak main-main dengan ancamanku.

Semua bukti foto yang dikirimkan Sofi, telah kusuruh dia simpan. Berikut struk belanja itu juga. Untung saja tadi, Bram, tidak merampas ponsel di tanganku. Bisa saja aku tadi kalah tenaga, bila dia bersikeras mau menghilangkan bukti itu.

Buru-buru kusimpan V*S, di file yang tidak akan terbuka oleh, Bram, karena aku yang memegang kata sandinya.***

1
Evy
Pasti paman dan Bibi aslinya itu dalang penculikan Reny waktu bayi..
Evy
Pasti deh Dion yang itu..yang ada dimasa lalu dan kembali bertemu dimasa sekarang..
Evy
Lebih baik tidak usah dibantu masak.biar tau rasa...minta saja bantuan pada menantu kesayangan nya si Sarah..
Noerlina Akbar
Luar biasa
Hera sasuwe
👍👍👍
Shinta Dewiana
syukurlah arby masih hidup...
Shinta Dewiana
uuuuu.....seru...tegang ini..
Shinta Dewiana
udah cukup tu buktinyaa...ayooo garcep lah reny
Shinta Dewiana
rasain lu sarah...puntung kan...cacat
Shinta Dewiana
jadi vikki sm martin anaknya bram...bukan anak si rio
Shinta Dewiana
kapan giliran si sarah ini..
Shinta Dewiana
ayuuu...tunggu apalagi reny jemputlah kebahagiaanmu..
Shinta Dewiana
ooo..waduh bukannya kecelakaan mobil pas pulang ngajar
Shinta Dewiana
betul2 keluarga sampah..
Shinta Dewiana
mampus lu bram...
Shinta Dewiana
impas ya....hah....
Shinta Dewiana
bagus reny rekam semua sebagai bukti..
Shinta Dewiana
tu kan benerrrrr.....
Shinta Dewiana
jangan dalang sumuanya adalah bibi elis dan ARBY adalah anaknya
Shinta Dewiana
cerita aja ma...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!