Pernikahan Keyla dan Edwin yang didasari oleh perjodohan terasa dingin sejak awal. Namun, waktu telah perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di hati Edwin. Tepat saat Keyla merasa pernikahan mereka mulai membaik, badai datang dari masa lalu.
Seorang wanita dari masa lalu Edwin, cinta pertamanya, kembali muncul. Kehadirannya yang tak terduga seketika menggoyahkan hati Edwin yang tadinya sudah mulai mencintai Keyla. Edwin, yang masih menyimpan sisa-sisa perasaan, mulai bimbang antara janji pernikahan dan nostalgia.
Di sisi lain, Keyla tengah berjuang meraih impiannya di dunia modeling, sebuah profesi yang tidak disukai dan dianggap tabu oleh Edwin. Keputusan Keyla untuk tetap mengejar karier ini semakin memperkeruh rumah tangga mereka, membuat Edwin merasa tidak dihargai.
Keyla kini berada di ujung tanduk. Ia harus berjuang mempertahankan suaminya dari bayangan masa lalu yang memikat, sambil berusaha membuktikan bahwa pilihannya sebagai seorang model tidak akan menghancurkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarMaker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab17
Keyla menyeruput es cappucino nya hingga menimbulkan bunyi ngeri di teliga Hana. Bagaimana tidak ngeri sedari tadi Keyla sudah menghabiskan 3 cup cappucino berukuran jumbo dengan sangat cepat membuat Hana geleng-geleng kepala tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran sahabatnya. Sebegitu sukanya terhadap cappucino.
"Kamu doyan apa kesetanan?" tanya Hana menatap Keyla ngilu.
"Apa?" Tanya Keyla tidak mengerti detik berikutnya dia menyadarinya.
"Ini," ucap Keyla menunjuk capucino yang ada di tangannya.
"Segitunya kamu suka sama cappucino?" tanya Hana.
"Ya habisnya aku bosen, katanya Edwin mau jemput aku. Di tungguin dari tadi malah nggak nongol-nongol," gerutu Keyla seraya meletakkan minumannya. Jika sedang badmood seperti ini hanya satu obatnya yaitu capuccino makanya Keyla sudah menghabiskan tiga minuman itu.
"Jangan-jangan dia selingkuh sama Alisya, astagaaaa aku harus apa Han," tuding Keyla yang langsung mendapatkan tabokan di kepala oleh Hana. Cewek itu kalau bicara asal jemplak, ucapan adalah doa jadi jangan berpikir yang tidak-tidak.
Plak.
"Adooh kok malah di tabok," kesal Keyla sembari memegangi kepalanya.
"Gak papah iseng aja," ucap Hana tanpa rasa bersalah.
"Njiir," kesal Keyla.
"Tuh ditunggu suami kamu yang katanya selingkuh sama Alisya," ucap Hana seraya terkekeh.
"Kamprett," umpat Keyla lalu mengedarkan pandangannya keluar dan benar di parkiran memang ada mobil Edwin.
"Aku pulang," ucap Keyla membereskan barangnya dan langsung pergi meninggalkan Hana.
"Gak ada akhlak," kata Hana seraya geleng-geleng.
Setelah tiba di luar Keyla segera masuk ke mobil Edwin.
"Kok lama?" tanya Keyla setelah berada di dalam.
"Nganterin Alisya pulang," jawab Edwin. Keyla yang sedang memasang seat belt secepat kilat langsung menolehkan kepalanya menghadap Edwin.
"Nggak salah denger kan?" tanya Keyla memastikan telinganya tidak bermasalah dan ia hanya salah mendengar.
"Enggak," jawab Edwin segera menjalankan mobilnya.
"Sekarang udah jam empat dan kamu sama Alisya lima jam, ngapain aja kamu selama itu?" tanya Keyla dengan tatapan menyelidik.
Edwin melirik Keyla, "Aku kerja Key," katanya lalu pandangannya pokus ke jalanan.
"Ya terus ngapain nganterin dia segala, dia kan bisa pulang sendiri," ucap Keyla sedikit sewot kerena cemburu suaminya mengantar orang lain dan membiarkannya menunggu lama di cafe.
"Dia berangkat aku jemput dan pulang juga harus aku anter,"
Dumb
Seketika mood Keyla langsung memburuk kala mendengar penuturan Edwin.
"Siapa si Alisya sampai kamu jemput segala?" tanya Keyla sedikit menaikkan intonasi suaranya.
"Key bisa diem aku lagi nyetir," ucapan Edwin membuat hati Keyla sedikit teriris.
Keyla langsung menolehkan kepalanya menghadap jendela melihat pepohonan di sisi jalan lebih menarik daripada melihat wajah menyebalkan Edwin.
"Anterin aku ke rumah mama," ucap Keyla tanpa menatap Edwin. Entah kenapa Keyla sekarang ingin menangis dan meluapkan isi hatinya yang sudah tidak tahan untuk tidak baik-baik saja.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Edwin.
"Aku kangen mereka," jawab Keyla berusaha menetralkan suaranya yang tercekat.
Edwin hanya mengangguk sebagai jawaban.
Setelah itu keduanya hanya diam dalam keheningan. Edwin fokus menyetir sedangkan Keyla berusaha menahan pertahanan agar air matanya tidak lolos dari kelopak mata.
Wajar bukan jika seorang istri ingin menangis jika suaminya mengantar jemput perempuan lain. Apalagi tidak berbicara apa-apa dengannya.
Edwin mengehentikan mobilnya di perumahan elit milik keluarga Keyla. Tanpa menunggu lama Keyla segera membuka pintu mobil dan berjalan begitu saja meninggalkan Edwin di mobil.
"Loh Key kok nggak bilang mama kalau mau dateng," ucap Sofia yang kebetulan baru keluar dari pintu rumah.
Keyla memeluk ibunya. Sofia sedikit kaget saat merasakan bahu Keyla bergetar.
"Keyla kangen ma," alibi Keyla masih memeluk ibunya erat.
Sofia masih diam tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Keyla. Kenapa anaknya tiba-tiba memeluknya dan bilang merindukannya.
"Mah," ucap Edwin menyalami tangan Sofia yang masih di peluk oleh Keyla.
"Istri kamu kenapa?" tanya Sofia tanpa suara. Edwin sedikit menolehkan kepalanya menatap punggung Keyla. Edwin sedikit terkejut mendapati Keyla menangis dengan bahu bergetar.
"Ma Keyla mau ke kamar," ucap Keyla melepaskan pelukannya.
"Key kamu nggak pernah lo nangis kayak gini, kenapa?" tanya Sofia menatap anak gadis sulungnya.
"Keyla cuman kangen mama," ucap Keyla setelah itu memasuki rumahnya. Sofia tentu saja tidak percaya dengan ucapan Keyla karena selama ini dia tidak pernah menangis, bahkan Sofia sampai lupa kapan terakhir kali melihat Keyla menangis.
"Edwin ayo masuk," ajak Sofia pada menantu kesayangannya.
"Papa kemana ma?" tanya Edwin.
"Papa keluar bentar tadi,"
"Mama masih nggak percaya Keyla nangis tadi, coba deh kamu samperin kayaknya dia marah sama kamu," ucap Sofia membuat Edwin mengernyitkan keningnya.
"Marah ma?" Tanya Edwin tidak mengerti.
"Keyla nggak pernah nangis lho di depan mama, dan mama tadi agak kaget," ujar Sofia, ia tahu pasti anaknya sedang marah pada suaminya persis seperti dia di masa muda.
"Mungkin capek ma karena seharian tadi di cafe Hana" jawab Edwin.
"Astaga ternyata kamu gak peka tapi ya sudahlah kalau gitu mama mau kedapur, kamu ke kamar Keyla aja." ucap Sofia tadinya ingin memberi tahu Edwin agar ia lebih peka terhadap Keyla tapi biarkan saja menantunya peka dengan sendirinya.
"oh iya kamarnya ada di atas," sambung Sofia.
Seperti yang di katakan Sofia, Edwin segera melangkahkan kakinya menuju kamar Keyla.
Edwin tidak sulit untuk mencari keberadaan kamar Keyla karena di depan pintu ada tulisan berinisialkan huruf K.
Edwin dengan perlahan membuka knop pintu, hal yang pertama di lihatnya adalah kamar Keyla yang berwarna ungu dan bau parfum khas tubuh Keyla.
Edwin mengunci kamar Keyla dan dia segera berjalan ke arah ranjang, disana ada Keyla yang menutupi dirinya dengan selimut.
"Aku ada salah?" tanya Edwin berjongkok di hadapan Keyla.
Keyla tidak menjawab.
"Kamu cemburu aku nganterin Alisya?" tanya Edwin masih tetap di posisinya.
"Pikir aja sendiri," jutek Keyla dengan suara serak. Sampai kapan Edwin tidak peka pada perasaan istrinya. Apa cowok itu tidak berpikir istri mana yang tenang ketika mendapati suaminya bersama wanita lain.
Edwin menyibak selimut yang menutupi tubuh Keyla dan mendapati wajah Keyla yang sudah basah dengan air mata.
"Kenapa nangis hmm?" tanya Edwin lslu menyeka air mata Keyla.
Keyla tidak menjawab dan malah beralih memunggungi Edwin.
Edwin tidak kehabisan akal dia membalikkan tubuh Keyla dengan tangan kekarnya.
"Maaf," lirih Edwin.
"Kenapa minta maaf," ucap Keyla menyeka air matanya.
"Aku salah," aku Edwin.
"Aku terima permintaan maaf kamu," kata Keyla setelah itu dia kembali memunggungi Edwin lagi.
"Alisya temen sekaligus clien aku Key," jelas Edwin seraya mengusap lembut kepala Keyla.
"Ya udah," Jawab Keyla kecus.
Edwin menghela nafas berat.
"Key," panggil Edwin.
Keyla tidak menjawab dia malah menyibak selimut dan berlari ke kamar mandi.
Huekkk
Keyla muntah. Perutnya benar-benar tidak enak.
Edwin langsung menghampiri Keyla dan memijat tengkuknya pelan.
"Kamu kenapa, sakit?" tanya Edwin khawatir.
Hueekk.
Lagi-lagi Keyla terus memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Pergi," ucap Keyla menepis tangan Edwin.
Hueeekk
Edwin tidak memperdulikan Keyla dan terus memijat pelan tengkuknya.
Keyla yang sedikit mendingan segera menyandarkan tubuhnya di tembok setelah membasuh wajahnya yang sekarang terlihat pucat.
"Kita kedokter," kata Edwin memegang tangan Keyla.
Keyla menggelengkan kepalanya dan segera berjalan keluar kamar mandi tapi Edwin menahannya dan langsung mengangkat tubuh Keyla ala bridal style. Keyla tidak memberontak karena badannya terlalu lemas.
Edwin membaringkan tubuh Keyla di ranjang.
"Muka kamu pucet, kita kedokter," ucap Edwin menyelipkan beberapa helaian rambut ke telinga Keyla.
"Enggak aku gak papa," jawab Keyla.
"Kamu punya minyak kayu putih?" Tanya Edwin.
"Di nakas,"
Edwin segera mengambil minyak kayu putih di nakas, saat Edwin ingin membuka minyak kayu putih itu Keyla terlebih dahulu mengambilnya.
"Aku bisa sendiri,"