Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.
Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Tahun Baru
Tanpa terasa, malam tahun baru akhirnya tiba.
Sejak sore, gedung opera telah dipenuhi kesibukan yang tidak biasa. Para pelayan hilir-mudik membawa nampan berisi gelas-gelas kristal, lilin-lilin baru dinyalakan di sepanjang koridor, sementara suara para pemusik yang sedang melakukan persiapan terdengar samar dari balik pintu ballroom.
Malam itu seharusnya menjadi malam yang penuh kegembiraan.
Malam ketika seluruh Paris menyambut tahun yang baru dengan pesta, musik, tarian, dan tawa.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, masih ada sesuatu yang tidak dapat benar-benar dilupakan oleh siapa pun.
Phantom.
Nama itu telah menjadi bisikan yang menghantui gedung opera selama berbulan-bulan. Sebagian orang menganggapnya hanya sebuah legenda, sebagian lainnya percaya bahwa ia benar-benar hidup di antara dinding-dinding gedung opera. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kemunculannya selalu membawa petaka.
Aku sendiri tidak tahu harus mempercayai yang mana.
Ia hanya tahu bahwa sejak dirinya terbangun di dunia yang asing ini, keberadaan Phantom bukanlah sesuatu yang dapat dianggap sebagai dongeng.
Ia nyata.
Dan entah mengapa, takdir seolah terus menyeretku semakin dekat kepadanya.
Aku atau bisa kita sebut dengan Christine berdiri di depan cermin besar di dalam kamarnya. Gaun yang dikenakannya malam itu jatuh dengan anggun mengikuti lekuk tubuhku. Rambutku ditata sedemikian rupa, sementara sebuah topeng cantik telah dipersiapkan untuk melengkapi kostumku.
Ia memandang pantulan dirinya sendiri selama beberapa detik.
Sungguh aneh.
Christine.
Nama itulah yang dikenal oleh semua orang di dunia ini.
Aku mengembuskan napas perlahan.
"Pesta kostum akan segera dimulai. Aku harus segera berganti pakaian. Orang-orang sudah menunggu."
Begitu memasuki ballroom, suara musik langsung menyambutnya.
Band telah mulai bermain.
Pesta pun resmi dimulai.
Ruangan itu berubah menjadi lautan cahaya.
Lampu-lampu kristal menggantung dari langit-langit tinggi dan memantulkan kilauan ke seluruh penjuru ruangan. Lilin-lilin menyala di atas meja-meja panjang yang telah dihiasi bunga dan kain sutra. Para tamu datang dengan pakaian terbaik mereka, masing-masing mengenakan kostum dan topeng yang berbeda.
Gaun-gaun wanita berdesir seperti ombak ketika mereka bergerak.
Para pria membungkuk dengan sopan, mengulurkan tangan untuk mengundang pasangan mereka menuju lantai dansa.
Tawa terdengar dari berbagai penjuru.
Gelas-gelas bersulang.
Musik mengalun.
Untuk sesaat, seolah-olah ketakutan terhadap Phantom telah lenyap dari ingatan semua orang.
Aku melangkah perlahan memasuki ballroom.
aku sedikit kewalahan.
Meskipun telah beberapa kali berada di gedung opera ini, kemegahan pesta tersebut tetap membuatnya tertegun. Dunia yang selama ini hanya ia kenal melalui buku dan film kini terbentang nyata di hadapannya.
Aku hampir lupa bahwa diriku bukanlah bagian dari dunia ini.
"Hari ini benar-benar seperti mimpi..."
Aku baru saja hendak mencari seseorang yang aku kenal ketika sebuah suara terdengar dari samping.
"Wanita cantik, maukah kau berdansa denganku?"
Langkahku terhenti.
Suara itu. Aku mengenalinya.
Aku perlahan menoleh.
Seorang pria berdiri di hadapannya. Wajahnya tertutup topeng, membuat identitasnya tidak mudah dikenali. Ia mengenakan pakaian formal yang cukup mewah untuk menghadiri pesta tersebut.
Namun ada satu hal yang tidak dapat disembunyikan oleh topeng apa pun.
Rambut pirangnya.
Rambut itu berkilau di bawah cahaya lampu, begitu mencolok di antara kerumunan.
Aku menahan senyum.
Aku tahu siapa kau.
Pria itu tersenyum di balik topengnya. Mungkin ia telah menghabiskan banyak waktu untuk mempersiapkan kostumnya. Mungkin ia merasa bahwa topeng tersebut telah berhasil menyembunyikan identitasnya.
Namun, ia sama sekali tidak dapat membodohiku.
Ini Raoul. Tanpa diragukan lagi.
"Aku belum bisa mengalihkan pandangan darimu sejak kau melangkah ke aula."
Nada suaranya terdengar begitu serius hingga aku hampir tertawa.
Aku memutuskan untuk bermain-main sebentar. Aku menundukkan kepala dengan sopan.
"Maaf, Tuan. Aku sudah memiliki pasangan dansa."
Pria itu tampak sedikit terkejut. Aku melanjutkan dengan senyum tipis.
"Lagipula, ada banyak wanita cantik di sini malam ini. Mungkin kau sebaiknya berdansa dengan salah satu dari mereka."
"Mataku hanya tertuju padamu."
Aku menghela napas kecil. Pandai sekali merayu.
"Ah, itu memang agak menjengkelkan."
Ia pura-pura berpikir.
"Tetapi tarian pertamaku telah dikhususkan untuk pasanganku. Mungkin kau bisa menunggu sebentar."
"Apakah pasangan dansamu sudah datang?"
Aku mengangguk, "Dia di sini."
Ia berhenti sejenak.
"Namun..."
Aku melirik ke arah pria tersebut dengan tatapan penuh arti. Pria itu tampaknya semakin bingung. Kemudian, ia melangkah mendekat dengan wajah yang dipenuhi kecemasan.
Aku hampir tidak mampu menahan tawanya.
Betapa lucunya melihat Raoul berusaha keras menyembunyikan dirinya sendiri.
Aku akhirnya berkata, "Ini sangat aneh. Untuk beberapa alasan, kamu menyembunyikan identitasmu saat memintaku berdansa."
Aku sengaja memasang wajah polos, "Haruskah aku menerima undangannya?"
Raoul tercengang. Selama beberapa detik, ia hanya menatap Christine.
Kemudian, seolah menyadari bahwa permainan tersebut telah berakhir, ia mengangkat kedua tangannya dan melepaskan topeng dari wajahnya.
Wajahnya terlihat sedikit malu.
"Ugh... Christine, kapan kau tahu bahwa itu aku?"
Aku tersenyum puas.
"Begitu kau berbicara kepadaku."
Raoul menghela napas.
"Mungkin aku terlalu banyak menghabiskan waktu di laut. Aku memang tidak terbiasa dengan acara-acara seperti ini."
Raoul melirik pakaian yang dikenakannya.
"Aku bahkan membutuhkan waktu berhari-hari untuk mempersiapkan diri menghadiri pesta ini. Namun, sepertinya aku tetap tidak mampu mengikuti mode terbaru di Paris."
Raoul menatapku dengan sedikit keraguan.
"Menurutmu, apakah aku berpakaian tidak modis, Christine?"
Aku menggeleng, "Tentu saja tidak. Bukan begitu caraku mengenalimu."
"Lalu bagaimana?"
Aku menatap rambut pirangnya.
Kemudian ia terkekeh, "Raoul, kau tidak tahu betapa mudahnya mengenali rambut pirangmu."
Raoul terdiam.
"Oh..."
Aku tertawa kecil.
Raoul tampak pasrah, "Jadi begitu rupanya."
Ia kemudian kembali mengenakan ekspresi yang lebih serius.
Dengan sopan, ia mengulurkan tangannya kepadaku.
"Kalau begitu... maukah kau memaafkan kecanggunganku dan memilihku untuk tarian pertamamu?"
Aku menatap tangan yang terulur itu.
Sesaat kemudian, ia meletakkan tangannya di atas tangan Raoul.
"Tentu saja."
Senyum hangat segera menghiasi wajah pria itu.
"Aku merasa terhormat."
Raoul membawaku menuju lantai dansa.
Musik memenuhi udara.
Pasangan-pasangan lain mulai bergerak mengikuti irama. Lampu-lampu kristal berkilauan di atas kepala mereka, menciptakan ribuan pantulan cahaya di permukaan lantai yang mengilap.
Aku merasa seolah-olah diriku sedang berada di dalam sebuah lukisan.
Jari-jarinya bertumpu ringan di bahu Raoul, sementara satu tangan pria itu melingkar di pinggangku.
Begitu musik berubah menjadi irama tarian yang lebih lembut, mereka mulai bergerak.
Satu langkah.
Kemudian langkah berikutnya.
Aku berusaha mengikuti gerakan Raoul sebaik mungkin.
Namun, tidak butuh waktu lama sebelum ia menyadari bahwa tarian ballroom tidak semudah kelihatannya.
"Ini adalah dansa ballroom pertamaku," bisikku. "Aku masih belum terbiasa dengan beberapa langkahnya."
"Dansa pertamamu?"
Raoul tampak terkejut.
"Aku sama sekali tidak mengira."
Sofia mengerutkan kening, "Kenapa?"
Raoul tersenyum.
"Karena kau terlihat sangat alami."
Ia memutarku perlahan sebelum menarikku kembali.
"Percayalah, kau tidak perlu merasa gugup. Banyak pria yang terus melirikmu dengan kekaguman dan keheranan."
Aku melirik sekeliling.
Benar saja. Beberapa pria di sekitar mereka memang tampak sesekali menoleh ke arahku.
Raoul memperhatikan hal itu pula, "Mereka membuatku sedikit cemburu."
Aku tersipu, "Raoul, jangan mengejekku."
Aku mencoba mengikuti langkah berikutnya.
Namun kakiku kembali salah bergerak.
"Ups..."
Sofia menatap ke bawah.
"Apa aku menginjak kakimu lagi?"
Raoul hanya tersenyum dan menggeleng.
"Tidak apa-apa."
Raoul mendekat sedikit, "Ikuti langkahku. Jangan terlalu memikirkan kakimu."
Aku mengangkat wajah, "Lalu?"
"Percayakan langkahmu kepadaku."
Nada suaranya begitu lembut sehingga aku menurut. Aku membiarkan Raoul membimbingku mengikuti irama.
Satu langkah ke kiri.
Satu langkah ke kanan.
Kemudian berputar.
Aku perlahan mulai memahami gerakannya.
Aku memang belum pernah menari bersama seorang pasangan sebelumnya. Namun, berkat kesabaran Raoul, ia akhirnya berhasil menyelesaikan tarian tersebut tanpa membuat terlalu banyak kesalahan.
Ketika musik berakhir, aku mengembuskan napas lega.
"Aku tidak ingin mempermalukan diriku sendiri."
Raoul tertawa kecil, "Kau memiliki pasangan dansa yang tersedia di sini."
Raoul mengulurkan tangannya lagi.
"Kenapa tidak berlatih beberapa kali lagi?"
Aku menatapnya.
Kemudian aku tersenyum, "Aku tidak akan melewatkan kesempatan sekali seumur hidup ini."
Kami baru saja bersiap untuk tarian berikutnya ketika...
Ting!
Sebuah nada piano yang sumbang tiba-tiba terdengar.
Nada itu begitu asing dan tidak selaras dengan musik yang sebelumnya memenuhi ballroom.
Para pemusik berhenti.
Semua percakapan seketika terputus.
Ballroom yang beberapa detik sebelumnya dipenuhi tawa berubah menjadi sunyi.
Aku merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan menjalar di sepanjang punggungnya.
Kemudian terdengar bisikan.
"Siapa itu?"
"Bagaimana dia bisa sampai ke tengah lantai dansa tanpa ada yang memperhatikan?"
"Sungguh pria yang menyeramkan."
"Matanya..."
"Matanya seperti hendak melahap seseorang."
Para tamu mulai mundur.
Satu langkah.
Kemudian dua langkah.
Tanpa ada seorang pun yang memerintah, mereka membuka ruang luas di tengah lantai dansa.
Sosok asing itu berdiri seorang diri.
Tak bergerak.
Tak berkata apa-apa.
Hanya berdiri di sana.
Seolah-olah seluruh ballroom adalah miliknya.
Seolah-olah ratusan orang yang mengelilinginya sama sekali tidak berarti.
Raoul ikut menoleh. Aku mengikuti arah pandangannya.
Dan ketika akhirnya melihat sosok tersebut, seluruh tubuhku seakan membeku.
Pria itu mengenakan topeng aneh yang menutupi separuh wajahnya.
Jubah hitam panjang membungkus tubuhnya dari bahu hingga hampir menyentuh lantai. Kegelapan pakaian itu membuatnya tampak seperti bayangan yang terlepas dari malam.
Namun ada satu benda yang mencolok di dadanya.
Mawar merah.
Sebuah mawar merah yang begitu terang di antara warna hitam jubahnya.
Aku merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.
Aku pernah melihat sosok itu.
Bukan sekali.
Bukan hanya dalam mimpi.
Melainkan dalam kisah yang dahulu hanya aku anggap sebagai cerita.
Kisah yang kini menjadi kehidupanku sendiri.
Aku tanpa sadar menggenggam tangan Raoul lebih erat. Mataku tidak mampu berpaling dari pria yang berdiri di tengah lantai dansa itu.
Udara terasa semakin dingin.
Musik telah berhenti.
Tawa telah lenyap.
Dan ketakutan yang selama ini berusaha dilupakan oleh seluruh tamu kembali hadir dengan begitu nyata.
Aku menelan ludah.
Bibirku bergerak perlahan, hampir seperti bisikan.
"Phantom?"