Anastasya yang biasa di panggil Ana, meneruskan pendidikan perguruan tingginya di Ibu Kota Jakarta.
Ana bukan hanya gadis desa biasa. Dia gadis yang pintar dan cerdas. Orang tuanya bekerja keras untuk bisa membiayai pendidikan Ana hingga lulus nanti.
Apakah nasib Ana akan selalu beruntung saat berada di Ibu Kota, apakah sebaliknya?
Yuk baca kisah lengkapnya hanya di Pesona Gadis Desa😊
Follow ig: mayarentika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maya rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 PGD
2 tahun pun telah berlalu. Penampilan Ana pun berubah drastis selama tinggal di kota 2 tahun ini. Ana juga masih bekerja di Cafetaria milik Kevin. Upah yang di dapat Ana lumayan tinggi, walaupun Ana hanya bekerja dari jam 6 sore sampai jam 10 malam. Ana sudah tak meminta uang jajan lagi kepada orang tuanya. Ana hanya meminta uang untuk keperluan kuliahnya.
Kulit yang memang sudah putih dari awal, kini lebih terawat lagi. Kali ini Ana tampil lebih dewasa dan modis. Ana memakai celana jeans warna hitam dan sweater berwarna peach, tak lupa sepatu warna putih bertengger di kakinya. Rambutnya yang sebatas bahu pun ia gerai dan ia selalu memakai make up tipis-tipis di wajahnya.
''Cantik bener mau kemana neng?'' goda Lufi.
''Mau cari cuan. Biar bisa bersanding dengan Kak Leon,'' ucap Ana menjawabnya dengan bercanda.
''Heleh, baru juga 1 kali ketemu. Gitu aja udah ketakutan, sok-sok an mau bersanding,'' ucap Lufi.
''Hehehe bercanda Fi. Lihat wajahnya aja udah ngeri, gimana mau bersanding. Yang ada spot jantung tiap hari,'' ucap Ana.
''Gimana kalau Kak Leon tiba-tiba pulang ke Indo?' tanya Lufi menaik-naikkan alisnya.
''Katamu kan masih 3 tahun lagi pulangnya. Jadi aku udah nggak ketemu dia lagi lah. Semoga saja aku bisa cepet lulus dan dapat pekerjaan yang tetap, biar bisa punya rumah sendiri Fi,'' ucap Ana.
Setelah Leon mengatakan jika Ana cantik, lebih tepatnya 2 tahun yang lalu, Lufi merasa jika Kakaknya tertarik dengan Ana. Lufi selalu menggoda Ana jika Kak Leon mencarinya. Namun tanggapan Ana hanya tersenyum saja. Mungkin mustahil bagi Ana, Kak Leon mencarinya.
''Jadi kamu mau ninggalin aku An?'' tanya Lufi yang sudah mulai berkaca-kaca.
''Nggak ninggalin Fi. Kita masih bisa bertemu. Walaupun sudah tidak 1 rumah lagi,'' ucap Ana.
''Tapi gimana kalau aku kesepian. Kamu jahat An,'' ucap Lufi yang tengah melow.
''Udah jangan di fikirin. Masih lama juga,'' ucap Ana menenangkan Lufi.
Lufi dan Ana sudah seperti saudara saja. Mereka pergi kemana-mana bersama, selain ke tempat kerja Ana. Ana selalu berangkat dan pulang bersama Fadil.
''Aku berangkat dulu ya. Jangan nakal di rumah,'' ucap Ana. Lufi hanya tersenyum simpul.
''Hati-hati An,'' ucap Lufi.
*
*
Sedangkan di Bandara Ibu Kota, Seorang laki-laki yang baru saja sampai di Bandara di jemput oleh asisten pribadinya. Kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya. Rambut yang selalu di sisir klimis pun tak akan bisa tersapu oleh badai. Terlihat wajah datar dan arogannya seorang Leonard Lewis saat melewati orang-orang yang sedang menatapnya.
''Bagaimana dengan kuliah Lufi Ga?'' tanya Leon yang sudah masuk ke dalam mobil miliknya.
''Kuliah Nona Lufi lancar Tuan. Ia bahkan selalu mendapat nilai terbaik nomor 2 setelah sahabatnya Tuan,'' ucap Dirga.
''Sahabat?'' Leon mengeryitkan dahinya.
''Iya Tuan. Saat ini sahabat Nona Lufi tinggal di rumah anda juga Tuan,'' ucap Dirga.
''Apa?? Kenapa Lufi tak pernah berbicara ini kepadaku?'' ucap Leon.
''Saya kurang tau Tuan,'' ucap Dirga.
Dirga melajukan mobilnya menuju rumah mewah 2 lantai milik keluarga Lewis. Setelah hampir 1 jam perjalanan, mereka telah sampai di rumah mewah itu.
Lufi pun tak tau jika Kakak satu-satunya itu hari ini pulang ke Indonesia.
Tap tap tap.
Suara sepatu milik Leon menggema di ruang tamu. Sepi, seperti tak ada penghuninya. Leon menoleh ke kanan dan ke kiri. Nampak ruangan masih sama seperti 2 tahun yang lalu.
Leon pun naik ke lantai 2 dimana letak kamarnya berada. Leon terlebih dulu mampir di kamar Lufi.
Ceklek.
Leon membuka pintu dengan sangat pelan, hingga suara pintu terbuka tak terdengar di telinga Lufi.
Leon menyipitkan matanya saat melihat Lufi yang sudah tidur nyenyak.
''Dimana sahabat Lufi. Kata Dirga ada yang tinggal di sini?'' batin Leon.
Leon pun mendekat ke arah Lufi. Rasa rindu yang di rasakan seorang Kakak terhadap adiknya yang selama 2 tahun tak berjumpa. Apalagi Lufi adalah keluarga Leon satu-satunya.
Cup.
Leon mengecup kening Lufi. Namun Lufi tak ada pergerakan sama sekali.
Jam pun sudah menunjukkan pukul 10 malam, Leon pun pergi ke kamar miliknya sendiri.
Ana yang baru saja tiba di rumah juga tak mengetahui jika Kakak Lufi sudah pulang dari LN.Tanpa ragu-ragu ia berjalan seperti biasa masuk ke dalam rumah. Ana juga tak melihat jika mobil yang ada di garasi bertambah 1.
''Pasti Lufi sudah tidur,'' ucap Ana yang langsung masuk ke dalam kamarnya. Ana segera membersihkan diri, setelah itu ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
''Aduh lapar lagi. Nih gara-gara tadi nggak sempet istirahat,'' ucap Ana. Ia segera keluar dari kamar menuju ke dapur. Ana akan membuat mi instan untuk mengganjal perutnya sampai pagi.
Bau dari mi instan tersebut membuat seseorang turun menuju dapur. Leon berjalan sangat pelan hingga tak menimbulkan suara. Sampai akhirnya Leon tiba di dekat dapur dan melihat seseorang tengah memasak.
Gleg. Leon pun menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana tidak, saat ini Ana hanya memakai hot pants dan kaos oblong berwarna putih. Kaki mulus milik Ana terpampang nyata. Rambut yang ia cepol begitu saja memperlihatkan leher jenjang miliknya.
''Dia siapa?'' batin Leon yang masih mengamati pergerakan Ana dari jauh.
Ana pun ingin menaruh mangkuk yang berisi mi itu di atas meja. Namun Ana terlonjak kaget saat melihat sosok seseorang yang tengah melihatnya.
Brukkk pyarrrrrrr.
Mangkuk yang berisi mi tersebut jatuh dari tangan Ana, dan mangkuk tersebut mengenai kaki Ana sebelum jatuh ke lantai.
''Awwww ssshhhh,'' Ana pun mendesis kesakitan saat mi yang baru saja mendidih mengenai kakinya.
''Kamu nggak pa-pa?'' tanya Leon berjongkok di dekat Ana.
''Em i itu em ak aku nggak pa-pa Kak,'' ucap Ana yang sudah ketakutan melihat wajah Leon dari dekat.
''Kakimu melepuh dan berdarah gini masih bilang nggak pa-pa?'' ucap Leon yang sedikit menaikkan suaranya. Ana pun semakin ketakutan.
''Beneran Kak ini nggak pa-pa,'' ucap Ana berusaha berdiri namun brukkk. Kaki Ana terasa sakit dan ngilu. Mungkin karna efek kejatuhan mangkuk kaca tadi. Untung Leon siap menangkap tubuh Ana.
''Te terima kasih Kak,'' ucap Ana.
''Ayo aku obati lukanya,'' ucap Leon memapah tubuh Ana dan di bawa ke kursi yang ada di ruang makan.
Leon segera mengambil kotak obat yang berada di dekat ruang keluarga. Ia segera mengobati kaki Ana..
*
Si galak udah kembali ya🤭🤭😍