Berada dalam lingkungan sekolah terfavorit dan populer tak membuat Ve berkecil hati. Meski bully-an masih terus terjadi tetapi Ve punya sejuta cara untuk menghadapinya. Belum lagi Salsa yang tak pernah berhenti menganggunya.
Sayangnya ia juga harus dipusingkan dengan cinta dua lelaki tampan dan kaya raya tetapi berbeda karakter. Al sikapnya dingin, sedang Dion sangat humble. Parahnya lagi mereka mencintainya, meski tau Ve gadis miskin.
Lalu bagaimanakah kisah cinta mereka di masa putih abu-abu itu, dan siapakah yang ahirnya memenangkan hati Ve? Apakah cinta bisa menembus batas perbedaan antara si kaya dan si miskin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENCARI JATI DIRI
Happy reading all😘
Di dalam perjalanan ke desa, Ve duduk bersama seorang ibu-ibu di dalam bus. Sedari tadi tatapannya begitu kosong, hingga ia pun tak berani bertanya dengan beliau. Sebenarnya Ve tidak suka seperti ini, tetapi apa daya, ia juga mempunyai masalahnya sendiri.
Ve mengusir rasa bosannya dengan melihat jendela bus yang menyajikan pemandangan indah di sekitar. Pemandangan apik tersuguh di sana. Hamparan sawah yang hijau dan beberapa sungai kecil di sampingnya membuat matanya menjadi sejuk seketika.
Ini pertama kalinya Ve kabur dari rumah. Kejadian kemarin membuatnya sedikit trauma, hingga ia memutuskan untuk mengambil jalan ini. Ia juga baru menyadari jika ilmu bela dirinya belum sekuat yang ia perkirakan.
Ve tak menyangka jika mereka melakukan ini padanya. Bully yang mereka lakukan bisa jadi membunuh mental korbannya. Beruntung korban saat ini dirinya, jika orang lain akan seperti apa?
Meski terpaksa Ve, akhirnya sebuah keputusan besar harus ia ambil kali ini. Ia tak mau kecolongan seperti kejadian kemarin. Ve harus menjadi wanita yang kuat, yang bisa melindungi orang-orang yang ia sayangi.
Terlebih ia hanya tinggal bersama neneknya di rumah, tak ada laki-laki yang melindungi mereka jika ada seseorang yang berniat jahat. Oleh karena itu, apapun jalannya, akan Ve tempuh dengan segenap jiwa raga.
Ve lebih memilih untuk pergi dan memperkuat ilmu bela dirinya ketimbang ia harus terus menerus menerima bully-an dari mereka yang tidak suka akan kehadirannya.
...⚜⚜⚜...
...Memang tidak ada yang bisa memaksa sesorang untuk menyukai kita. Apalagi ia sangat membenci kehadiran kita. Tapi, jadilah dirimu sendiri, agar orang yang tidak menyukaimu bisa membedakan mana berlian dan batu biasa....
...⚜⚜⚜...
Sejak lahir, Ve tidak pernah bertemu atau melihat kedua orangtuanya secara langsung. Hingga yang anggap keluarga ataupun orangtuanya hanya Nenek Safa seorang.
Tak ada sanak saudara yang tinggal dekat dengan mereka, bahkan neneknya selalu mengatakan padanya jika saatnya nanti ia harus pergi, nenek tak mau melihat Ve sedih ataupun sengsara. Sejak saat itu, Ve berjanji tak akan menggores luka pada hati neneknya.
Satu keinginan Nenek Safa, beliau hanya ingin melihat Ve sukses dan menjadi pribadi yang lebih baik. Setidaknya ia bisa berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan jika sukses nanti. Lamunan Ve harus terhenti, ketika kernet bus mengatakan jika daerah tujuannya sudah sampai.
Ve segera mengambil tas miliknya, lalu memakainya.
Sesaat kemudian ia telah turun dari bus. Ia pun berjalan menyusuri jalan di pinggiran sawah. Terlihat di sana banyak petani yang akan mencari rumput untuk hewan ternaknya.
Tiba-tiba dari arah belakang Ve di kejutkan oleh panggilan bibi nya.
"Neng Raya ...."
Ve menoleh, "Loh Bik Imah, apa kabar?"
"Alhamdulillah baik, Neng. Lah nenek mana, jangan bilang kamu kabur dari rumah ya?"
Ve hanya meringis memamerkan barisan gigi putihnya. Sedangkan, Bi Imah hanya geleng-geleng dengan sikap Ve yang terkadang bukan seperti anak perempuan pada umumnya. Ia tau betul, kalau Ve adalah anak cewek yang tomboi. Tetapi ia sangat sayang pada Ve, melebihi rasa sayangnya pada putranya sendiri.
"Ya sudah, ayo ikut Bibi pulang."
Ve mengangguk senang, lalu merangkul pundak bibinya yang tidak terlalu tinggi itu. Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di tempat yang mereka tuju.
"Assalamu'alaikum, Abah."
"Wa'alaikum salam."
Abah keluar, lalu ia menjemput istrinya di pintu utama. Dilihatnya istrinya tidak datang sendirian.
"Loh, Neng geulis, apa kabar? Mana nenek kamu?" ucap abah sambil membolak-balikan tubuh Ve.
Bik Imah menaruh barang belanjaan miliknya di atas meja. Lalu ia menoleh pada suaminya itu.
"Neng Raya mah, datang sendiran, Abah. Mungkin ia kabur lagi dari rumah."
Bik Imah mengucapkan hal tersebut sambil tersenyum. Lalu ia kembali mendekati Ve.
"Benar kata, Bibik 'kan?"
"Iya, tapi bukan karena ada masalah sama nenek, tapi karena masalah lain."
"Oh, gitu, ya sudah. Ayo ikut masak sama bibi di dapur."
"Iya, Bik. Abah, maaf Raya permisi dulu ya."
Abah mengangguk, ia melihat punggung Ve dari kejauhan.
"Ada masalah apa sebenarnya?" tanya Abah dalam hatinya.
Tetapi ia tak akan memaksa Ve mengatakan apa masalahnya saat ini. Biarlah nanti biar ia yang jujur padanya.
Sementara itu di dapur, Ve masih sibuk membantu bibinya memasak.
"Hm, harum banget, ini buat masakan apa?"
"Ini, bikin sayur sop ayam, sama goreng tempe dan tahu kesukaan abah."
"Kalau sambalnya udah bikin belum?"
"Sudah dong, tapi sayangnya, Abah kurang suka sambel, jadi sayur sop ayamnya dibuat gurih sekalian."
"Oke."
Meski hidup di kota, Ve sama sekali tak malu membantu neneknya memasak atau pun berjualan. Karena ia sadar jika waktunya tiba nanti, ia akan menjadi seorang ibu rumah tangga.
🍃Keesokan harinya.
Ternyata keinginan itu terkadang tak sejalan dengan kenyataan. Ingin hati berlatih sekuat tenaga, tetapi sayangnya baru satu jam berlatih, nafas Ve sudah tesengal-sengal.
"Uhuk, uhuk ...."
"Diminum dulu sayang, katanya mau jadi wanita tangguh, baru sebentar kok udah ngos-ngosan," ejek Bibi Imah.
Sementara itu, Ve hanya nyengir kuda. Baginya terkadang kekuatan super darinya itu bisa muncul ketika dirinya kepepet alias the power of kepepet.
Tetapi Bi Imah bukan berarti mengejeknya melainkan ia hanya pura-pura agar membangkitkan kembali keinginan Ve untuk giat berlatih. Benar saja, setelah dirasa kekuatannya kembali membara, Ve segera melanjutkan latihan bela diri.
"Tuh, keponakan kamu, kalau ada keinginan baru dia semangat, tapi ya gitu, sayangnya Ve perempuan, hahaha ...."
"Hush, abah bisa aja," ucap Bi Imah sambil tertawa.
Sedangkan di sisi lain, Ve benar-benar memanfatkan dua hari ini untuk giat berlatih. Nyatanya ia berhasil mempelajari jurus-jurus baru di tempat itu. Abah dan bibi merasa puas karena ternyata Ve berhasil mempelajarinya.
"Oh, ya, Raya, setelah ini berarti kamu balik ke kota lagi dong?" tanya Bi Imah setelah makan malam.
"Iya, Bi."
"Hm, setelah kamu pergi, rumah ini bakal sepi lagi deh."
"Hm, Bibi jangan bersedih gitu dong, nanti kalau musim liburan sekolah, kalau nenek mengijinkan Ve pasti bakal main kemari, kok."
Bi Imah mengusap gemas rambut Ve, lalu memeluknya erat.
"Hanya kamu yang Bibi harapkan sayang, soalnya kamu tau sendiri 'kan, anak-anak Bibi sudah menikah semua dan jarang pulang," ucap Bi Imah sendu.
"Ulu, uluh ... Bibi, sayang, jangan bersedih ya, nanti Ve jadi nangis lagi."
Lalu kedua perempuan beda usia itu saling berpelukan satu sama lain. Sedangkan abah hanya bisa geleng-geleng melihat mereka. Ia hanya membiarkan mereka menumpahkan kerinduan masing-masing.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
...Jangan lupa LIKE, RATE, FAVORIT, ...
...VOTE/GIFT nya ya 🌹dan ☕...
Akhirnya es baloknya Al yg mementing kan belajar dari berpacaran akhirnya runtuh dengan kehadiran nya Veeya..
terimakasih Outhor semoga sukses selalu..🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹✌️✌️✌️✌️✌️✌️
Sabrina itu lebih gila dari anaknya Salsa...
sepertinya Lisa tau apa yg terjadi saat ini...