Kalila gadis yang terlahir cantik dan lugu. Ia memutuskan untuk mengubah dan tidak memikirkan penampilan lagi sejak ia mengalami patah hati pada saat SMP. Kisah cinta pertama yang membawa dampak keterpurukan dalam hidupnya.
Suatu hari Kalila bertemu dengan seorang pria yang merupakan guru baru di sekolahnya. Ia tidak menyangka luka lama yang dipendamnya kembali bangkit hingga menyisakan rasa sakit.
Mungkinkah Kalila mampu kembali melewati hari-harinya seperti dulu? Ataukah rasa sakit itu akan terus membelenggu hidupnya?
Follow IG Author yuk
@Septriani_wulan15
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septriani wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Bekal
Bab 17 Bekal
“Bug! “Aw....!” seketika tangan Kalila ditarik oleh seseorang masuk ke dalam ruangan yang entah Kalila belum sadar itu ruangan apa.
“Hai, kamu tahu aku langsung ke sini saat lihat berita di grup sekolah,” ucap Danes yang menarik Kalila masuk ke dalam UKS.
“Ish ... kamu rese tahu!” kesal Kalila dan kembali melangkah keluar, tapi dengan cepat Danes menarik tangannya. Danes terus menatap Kalila, dia sangat kagum dengan aura kecantikan Kalila yang semakin terpancar.
“... apa lagi?!” tanya Kalila dengan nada yang ketus.
“Kamu enggak kangen sama aku? Aku masakin kamu seperti biasa, jadi hari ini kamu harus wajib makan di sini!” Danes menarik tangan Kalila dan membawa tubuhnya duduk di kursi, sementara dia menyiapkan makanan yang dibawanya.
Ya ... memang Danes sering kali membawa bekal makanan hasil buatan dia sendiri. Sejak dia duduk di bangku SMA, Danes sudah mulai tinggal sendiri, karena orangtuanya yang berada diluar kota Jakarta. Dia selalu saja membuatkan masakan untuk Kalila bahkan dia juga sering membawa untuk orang-orang yang dekat dengan Kalila. Semenjak banyak tugas dan ujian di kampusnya Danes mulai jarang membuatkan makanan untuk wanita pujaannya.
Awal mulanya Kalila selalu menolak pemberian dari Danes. Tapi, Danes p
tipikal orang yang tidak gampang menyerah, dia selalu berusaha mendekat bukan hanya dengan Kalila, tapi orang-orang yang berada disekitarnya.
“Aku bikinin banyak sekali makanan kesukaan kamu,” ucap Danes sambil membuka tiga buah kotak makanan. Kalila hanya duduk pasrah menunggu Danes menyiapkan semuanya.
Walaupun Kalila terlihat tidak peduli dengan Danes, tapi dia menghargai apa yang orang lain berikan padanya. Setelah membuka kotak makanan, Kalila semakin tidak bisa menolal melihat sushi yang tersusun rapi dengan berbagai macam toping.
“Apa kamu punya waktu menyiapkan ini semua?” tanya Kalila dengan mulut yang penuh makanan. Dia benar-benar sangat menikmati makanan kesukaannya itu. Danes hanya menyanggah bahunya tersenyum melihat Kalila yang semangat memakan masakannya.
“Buat kamu enggak ada yang sulit! La, kamu cantik!” seketika Kalia berhenti mengunyah dan menatap sinis Danes. Dia pun berdiri dan dengan cepat Danes menekan bahunya, agar dia duduk kembali.
“Jangan ngambek, napa? Ya udah habisin makanannya. Aku sudah bangun subuh loh buatin ini semua buat kamu.” Kalila mengangguk tersenyum dan kembali menikmati makanan kesukannya itu.
‘La, kenapa kamu harus tersenyum seperti ini di saat aku membuatkanmu sushi sih!’ gumam Danes yang matanya tidak lepas memandang kecantikan Kalila.
Tiga box sushi selesai disantap 'tak tersisa oleh Kalila. Danes tersenyum dan mencubit kedua pipi Kalila karena merasa gemas dengan kelakuan Kalila.
“Aw ... sakit tahu!” ucap Kalila memasang wajah yang kesal.
“Aku gemes banget sama kamu. La, sampai kapan kamu menutup hatimu buatku? Aku tidak pernah peduli dengan penampilan kamu,” ucap Danes dengan memasang wajah yang serius.
“Maafin aku! Aku ....” belum selesai Kalika bicara, Danes langsung berdiri dan me gambil jas dokternya.
“Mulai hari ini aku sudah rutin lagi di sini. Ujianku sudah beres, jadi kamu harus menemaniku untuk terus makan siang bareng di sini!”
“Dih ogah! Jangan maksa!” ucap Kalila sambil melangkah kaki ke luar.
“La, aku bakal tunggu hati kamu terbuka untukku sampai kapan pun!” ucap Danes sebelum Kalila melangkah kaki keluar ruangan. Kalila membalikkan badannya dan hanya melemparkan senyuman untuk Danes.
“Sedang apa kamu ke sini? Apa masih sakit?” tanya Akbar bertemu dengan Kalila yang baru saja keluar dari ruangan.
“Enggak, Pak! Hanya bertemu dengan teman saja,” jawab Kalila sambil menunduk dan melangkah pergi meninggalkan Akbar yang masih berdiri di depan pintu UKS sambil terus menatap punggung Kalila.
Akbar pun membuka pintu UKS dan dia tampak kaget saat melihat Danes yang berada dalam ruangan itu. Seketika hatinya panas mengingat Kalila yang baru saja keluar dari sini. Akbar pun melangkah masuk ke dalam dan duduk di depan Danes.
“Siang! Mulai kapan kamu masuk lagi?” tanya Akbar.
“Siang, Pak! Karena ujian saya sudah beres, jadi mulai hari ini saya mengelola UKS. Terima kasih ya Pak Akbar sudah membantu saya hampir satu bulan ini,” ucap Danes tersenyum sambil membereskan meja kerjanya.
Seketika pandangan Akbar tertuju pada tiga buah kotak makanan yang ada di atas meja. Melihat itu membuat Akbar menjadi bertanya-tanya, apakah Kalila benar-benar mempunyai hubungan dengan Danes?
“Ada apa, Pak?” tanya Danes yang memperhatikan Akbar yang terus menatap ke arah meja kerjanya.
“Ah, enggak apa-apa. Sepertinya kamu habis makan siang ya!” sengaja ini Akbar tanyakan, karena Danes agar dia tahu jawaban dari setiap pertanyaan yang terus muncul di otaknya.
“Oh tadi ada Kalila. Aku selalu membuatkannya bekal makan siang.” Deg ... mendengar itu seketika hati Akbar terasa sangat sakit sekali. Danes belum tahu tentang masa lalu Kalila dan Akbar, maka dari itu dia tidak menyadari apa yang dia katakan dapat membuat Akbar sakit hati.
“Oh ....!” jawab Akbar singkat sambil merapihkan barang-barangnya, karena mulai hari ini, ruangan dia akan pindah pada ruang guru.
~Bersambung~