Rara Depina atau biasa di panggil Rara, terpaksa menggantikan ibunya yang sedang sakit sebagai Art di ruamah tuan muda Abian Abraham.
Rara bekerja tanpa sepengetahuan tuan muda Abian. Abian yang pergi kerja saat Art belum datang dan pulang saat Art sudah pergi membuat Rara bisa bekerja tanpa di ketahui Abian.
Apa jadinya saat tak sengaja Abian memergoki Rara tengah berada di apartemennya.
Dilema mulai muncul saat diam-diam Abian mulai jatuh cinta pada pembantu cantiknya itu, dan di tentang oleh keluarga besarnya yang telah memilihkan calon buat Abian.
Akankah Abian mampu mempertahankan Rara di sisinya, cuus baca kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
Ara baru saja keluar dari kamar mandi saat duo kembar meneriaki Ara dari ruang tengah.
"Kak! ada teman kakak!" seru duo kembar serempak.
"Hiiis anak dua ni, apa gak bisa gak teriak," gumam Ara jengkel seraya menutup daun telinganya dengan kedua tangannya.
Dengan langkah lebar Ara menuju keruang tamu.
"Kebiasaan kalian ya, teriak-teriak bikin telinga sakit tau gak!" hardik Ara. Tapi kemudian bahunya melemas seketika saat tau siapa yang datang.
"Hay," sapa Rendra dengan garis senyum yang begitu sempurna. Pria ini kemana saja setelah menghilang beberapa hari.
"Abis mandi," tanya Rendra seraya menatap Ara dari ujung rambut hingga kaki.
"Ahh maaf kak!" seru Ara seraya berlari meninggalkan Rendra di ruang tamu.
"Bodoh! bodoh!" gerutu Ara menjitak kepalanya sendiri.
Bagaimana bisa dia menemui Rendra dengan baju tidur yang begitu seksi, di tambah handuk terbelit di kepala.
Dengan tergesa Ara mengganti bajunya dengan baju santai, kaos oblong dan celana pendek jadi pilihannya. Dengan tergesa pula dia menemui Rendra di ruang tamu. Kedatangan Rendra membuatnya lupa dengan semua masalahnya dengan Bian.
"Kamu sakit Ra? muka mu pucet banget," tanya Rendra pada Ara yang duduk tepat di depannya.
"Iya kemarin, tapi sekarang udah baikan kak."
Rendra menatap wajah pucat Ara, sakit apa anak ini sampai wajahnya sepucat ini.
"Ra," panggil Rendra seraya menatap lekat wajah pucat Ara.
"Iya kak."
"Kamu yang tadi, telihat cantik," ujar Rendra dengan senyum tipis di bibirnya. baju tidur sedikit transparan dengan rambut basah yang terbalut handuk, Ara benar-benar terlihat sangan seksi.
Seksi dari hongkong, amburadul gak karuan gitu. Mana handuk masih nempel dikepala lagi.
Ara memindai setiap Rendra lelaki yang diam-diam dia rindukan belakangan ini. Sudah hampir sebulan Rendra tak ada kabar, mungkin terlalu sibuk hingga tak punya waktu untuk menemui Ara.
"Ada perlu apa kakak datang kesini?"
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan sama kamu Ra."
"Masalah apa itu kak?"
"Yang jelas masalah pribadi, tapi... bisakah kita keluar sebentar Ra."
Ara tampak berpikir, tapi kemudian mengangguk setuju. Setelah terlebih dulu pamit pada ibu.
Ara dan Rendra pergi kesuatu tempat. Awalnya Rendra membawa Ara ke sebuah restoran mewah, tapi Ara tidak mau turun dari mobil, walau Rendra memaksa, Ara tetap kekeh tidak mau turun. Bagaimana mau turun dia merasa salah kostum, gak mungkin kan Ara makan malam dengan baju yang sangat apa adanya dan bukan pada tempatnya gini.
"Jadi kita makan dimana?" tanya Rendra saat sudah keluar dari halaman Restoran.
"Lesehan pinggir jalan aja kak, pecel lele atau apalah."
"Hmm baiklah."
Rendra mencari tempat makan pinggir jalan yang tidak ramai pengunjung. Tujuannya membawa Ara keluar tak lain ingin membicarakan masalah pribadi pada Ara.
"Bagaimana kalau ini Ra," Rendra menepikan mobilnya dekat warung makan lesehan pinggir jalan yang lumayan sepi.
"Boleh."
Rendra menepikan mobilnya di samping warung makan. Kemudian keduanya turun pesan makanan, Ara memesan ayam penyet sementara Rendra pesan pecel lele. Setelah pesan Ara dan Rendra mencari tempat yang dirasa nyaman untuk menyantap hidangan yang mereka pesan. Mereka memilih gazebo yang kebetulan kosong.
"Ra," panggil Rendra di sela makannya.
"Iya kak."
"Aku, sudah berusaha tidak memikirkan mu belakangan ini. tapi sepertinya aku tidak bisa," ucap Rendra dengan senyum tipis dibibirnya. Menglang hampir sebulan berharap bisa mengabaikan Ara, nyatanya dia tak mampu.
Ara yang sedang menatap Rendra jadi bingung tak tau berbuat apa, yang jelas saat ini wajah mulusnya sudah merah merona.
Rendra tertawa pelan. Ara selalu mampu membuat hatinya berdebar tak karuan walau dengan tingkah polosnya.
"Ra bisakah kita pacaran, jujur aku ingin lebih dari itu, tapi statusmu hanya boleh di tahap pacaran. Ingat Jangan menolak ku!" kata kata yang mengandung penegasan di akhir kalimat.
Ara masih saja diam. wajahnya tertunduk, tangannya sibuk menyuir daging ayam menjadi potongan-potongan kecil, lalu menyuapkan kedalam mulutnya mengunyahnya perlahan.
"Ra, kau dengar apa yang aku ucapkan tadi?" tanya Rendra seraya mencuci tangannya lalu mengeringkannya dengan tisu. Ara mengankat wajahnya menatap Rendra lalu mengangguk kecil.
"Kalau kau sungkan. Tak usah di jawab sekarang, kau bisa kirimkan jawabanmu melalui pesan."
"Iya kak." hanya kata-kata itu yang mampu Ara ucapkan.
Senang tentu saja dia merasa sangat senang. lihatlah bagaimana tampannya Rendra. Bukan hanya sekedar tampan dia juga pria mapan dan dewasa. Apa lagi Rara suka pria dewasa seperti Rendra. Sejenak ucapan Rendra membuatnya lupa pada perlakuan Abian padanya.
"Ayo pulang," ajak Rendra seraya menggandeng jemari Ara meninggalkan warung lesehan.
Rendra membawa mobil mewahnya masuk kedalam gang rumah Ara, lalu memarkirkannya di halaman rumah Ara. Bukan mobil Rendra saja yang parkir di sana, ada mobil lain, entah mobil siapa.
"Mobil siapa Ra?" tanya Rendra curiga. Ara mengedikkan bahunya, dia juga tidak tahu mobil siapa.
Keduanya melangkah menuju rumah, sayub-sayub terdengar ibu sedang berbincang dengan seseorang, tapi siapa.
"Asalamulaikum." Ara mengucap Salam seraya melangkah kedalam di ikuti Rendra.
Langkahnya terhenti saat tau suapa yang tengah berbincang pada ibu.
"Nak Rendra mari duduk," ucap ibu mempersilahkan. Rendra yang sedang menatap Bian lekat, beralih menatap ibu lalu mengangguk sopan.
"Ara ayo ikut ibu," ujar ibu seraya membawa Ara menuju dapur.
"Kamu tau maksud kedatangan tuan Bian Ra?" tanya ibu seraya menuang gula kedalam dua buah gelas yang sudah ibu siapakan. Ara menggeleng pelan.
"Dia sudah cerita semua apa yang terjadi. Apa kau bodoh Ra, kau gak mikir Tuan Bian siapa!" salak ibu seraya memukul lengan Ara dengan tangannya.
"Tapi buk..."
"Sudah nanti saja kita bicara, antar air ini ke depan!" ujar ibuk, tampak jelas wajah ibu sedang menyimpan amarah, habis lah Ara.
Dua pasang bola mata menatap lekat sosok Ara yang berjalan masuk keruang tamu dengan nampan berisi dua gelas air teh hangat.
Sebelum Ara masuk, dua pria ini sempat sedikit bersitegang, saling mengusir merasa salah satu dari merekalah yang berhak bertamu lebih lama.
Ara meletakkan dua gelas Air di atas meja dengan sedikit kasar. Dia geram pada Bian, entah apa yang dia katakan hingga ibu memarahinya. Bukankah Bian yang harus di marahi bukan Ara.
"Silahkan di minum kak," ucap Ara pada Rendra di sertai senyum yang begitu manis.
Bian tersenyum tipis, tanpa di persilahkan Bian mengambil tehnya lalu menyesapnya perlahan.
"Ara aku pulang dulu, dan kau! jangan bertamu di rumah calon istri orang terlalu malam."
Ara dan Rendra menatap Bian dengan mulut terbuka alias melongo. Sementara Bian berlalu dengan acuhnya.
Rendra beralih menatap Ara, meminta penjelasan dari ucapan Bian barusan.
"Bian benar kakak pulanglah ini sudah malam."
"Tapi Ra.."
"Kalau hatiku sudah siap, aku akan cerita pada kakak, tapi tidak saat ini."
Rendra menarik napas berat, dia tak ingin memaksa Ara menjelaskan apa yang terjadi, mungkin Ara punya alasan sendiri untuk tak menceritakannya sekarang.
"Baiklah aku pulang Ra," pamit Rendra tak bersemangat.
"Iya hati-hati kak."
.
.
Happy reading.
Hay readers tinggalin jejak ya buat karya ini 🙏🙏🙏🙏🥰