"Aku alergi pada wanita. Kau paham sekarang?" -Nick Kyler-
"Aku tidak percaya! Mana ada alergi seperti itu?" -Bianca Arthur-
Nick Kyler, seorang pria kaya yang memutuskan untuk menyepi di sebuah pulau, setelah kisah cintanya bersama Bellinda kandas.
Penyakit "alergi pada wanita" yang dialami oleh Nick juga menjadi salah satu alasan Nick pergi dari hingar-bingar kehidupan kota metropolitan. Nick hanya ingin menyepi dan hidup sendiri dalam ketenangan
Namun, semua niat Nick menjadi terusik saat tiba-tiba seorang gadis datang dan tersesat di pulau miliknya.
Bianca Arthur, seorang desainer yang tak sengaja tersesat ke pulau pribadi Nick saat sedang berlibur.
Sifat Bianca yang manja dan kekanakan kerap membuat Nick emosi dan menimbulkan perseteruan diantara mereka.
Apakah rasa benci Nick pada Bianca akan berubah menjadi sebuah rasa cinta?
Apakah penyakit "alergi pada wanita" yang dialami Nick akhirnya sembuh setelah pertemuan Nick dengan Bianca?
Lalu, siapakah sebenarnya Bianca Arthur?
Rahasia apa yang disembunyikan Bianca dari Nick?
Masih bagian dari "Suami Bayaran Nona Bellinda"
Cerita tentang Nick Kyler yang alergi pada wanita karena trauma masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERASAAN ANEH
Nick tak kunjung bisa memejamkan matanya meskipun waktu sudah menunjukkan pukul tiga dinihari. Pria itu hanya membolak-balik tubuhnya di atas kasur, merasa tidak nyaman dan tidak mengantuk sama sekali.
Nick akhirnya kembali bangun dan duduk di atas kasur. Pria itu menyugar rambutnya berulang kali, merasa bingung harus melakukan apa.
Setelah menimbang-nimbang, Nick bangkit berdiri, dan keluar dari kamar. Pria itu memeriksa Bianca yang masih tidur nyenyak di sofa depan.
Nick merapatkan selimut yang membalut tubuh Bianca, karena selimut itu sempat melorot dan nyaris jatuh ke lantai.
Nick hanya khawatir jika Bianca kedinginan atau menggigil. Tapi ngomong-ngomong, kenapa Nick jadi peduli pada wanita manja dan cerewet ini?
Bukankah seharusnya Nick membiarkan saja Bianca tidur dengan atau tanpa selimut, dan tak perlu mempedulikannya?
Aneh sekali!
Setelah memastikan Bianca sudah hangat dan nyaman, Nick masuk kembali ke dalam kamar. Namun pria itu tak langsung merebahkan diri di atas kasur. Nick malah membuka lemari yang ada di kamarnya dan mengambil sesuatu dari laci yang tersembunyi di dalam lemari.
Nick membawa keluar kotak berwarna hitam itu, untuk ia letakkan dengan hati-hati di atas kasur. Nick memang jarang memakai benda ini, namun inilah satu-satunya alat untuk Nick bisa terhubung ke dunia luar.
Telepon satelit.
Biasanya Nick hanya menggunakan benda ini, saat dirinya butuh sesuatu yang penting. Nick akan menghubungi kepala pelayan di mansionnya dulu, untuk mengirimkan barang yang ia butuhkan menggunakan telepon satelit ini.
Dua sampai tiga bulan sekali, akan ada sebuah kapal yang singgah di pulau milik Nick untuk mengantarkan beberapa kebutuhan pokok yang tidak mungkin Nick tanam di pulau ini. Dan ini sudah tiga bulan berlalu sejak kedatangan kapal yang terakhir ke pulau Nick.
Nick masih menimang-nimang telepon di tangannya. Merasa ragu untuk menghubungi seseorang dan meminta mereka menjemput Bianca ke pulau ini.
Wanita itu bisa menumpang kapal yang biasa membawa kebutuhan Nick, lalu turun di pelabuhan, dan anak buah Nick akan mengantar Bianca pulang dari pelabuhan hingga ke depan rumah wanita itu.
Lalu setelahnya, Nick akan kembali hidup sendirian di pulau ini.
Tidak akan ada lagi teman berdebat, ataupun ocehan merdu Bianca yang selalu menggema setiap hari. Tidak akan ada lagi suara cerewet yang meminta Nick untuk segera memasak atau menyiapkan makanan.
Ada apa dengan Nick?
Bianca hanya wanita asing yang bahkan belum genap satu minggu tersesat di pulau ini.
Lalu kenapa seolah Nick sudah terbiasa dengan kehadiran wanita itu, dan merasa tidak rela jika harus melepaskan Bianca pergi dari pulau ini?
Tapi bukankah Nick tidak bisa egois?
Bianca pasti juga punya keluarga yang sekarang sedang kebingungan mencari keberadaan anak perempuan mereka. Orang tua Bianca mungkin sekarang sedang kalang kabut mencari sang putri
Egois sekali jika Nick terus menyembunyikan Bianca di pulau ini.
Nick menekan nomor yang sudah sangat ia hafal. Butuh waktu sedikit agak lama, sebelum akhirnya telepon tersambung.
"Kediaman Tuan Kyler,"
"Aku Nick," ucap Nick cepat.
"Selamat pagi, Tuan Nick. Ada masalah?"
"Kapal yang akan singgah di pulau. Kira-kira kapan akan datang lagi?"
"Kapal baru berangkat beberapa hari yang lalu karena cuaca sedikit buruk, Tuan. Kami benar-benar minta maaf. Mungkin satu sampai dua minggu lagi, kapal baru tiba di pulau. Apa ada masalah serius?"
Pelayan Nick terdengar khawatir.
"Tidak ada masalah apa-apa. Aku hanya bertanya saja." Jawab Nick santai.
"Syukurlah kalau begitu, Tuan,"
"Bisa kau cari informasi mengenai seorang wanita bernama Bianca Arthur?" Tanya Nick selanjutnya.
"Akan saya cari informasinya, Tuan,"
"Baiklah, nanti aku hubungi lagi kalau ada yang penting," pungkas Nick sebelum akhirnya menutup sambungan.
Nick menyimpan kembali telepon miliknya, dan bergegas keluar dari kamar untuk melihat Bianca.
Wanita itu masih tidur nyenyak di sofa. Nick menghela nafas lega dan kembali masuk ke dalam kamar.
Sekarang pria itu merebahkan tubuhnya ke atas kasur, dan menatap pada langit-langit kamarnya.
Satu sampai dua minggu lagi waktu yang tersisa untuk Nick tinggal bersama Bianca. Haruskah Nick berdebat dengan wanita itu satu minggu ke depan?
"Itu hanya sugesti dari dalam dirimu sendiri, Nick! Kau itu tidak alergi pada wanita!"
"Cobalah untuk mengirimkan sugesti kalau kau tidak alergi pada wanita dan terus merapalkannya dalam hati. Maka alergimu itu perlahan akan menguap pergi!"
Kalimat Bianca terus saja terngiang di benak Nick.
Pria itu memejamkan matanya lalu menarik nafas panjang.
"Nick tidak alergi pada Bianca, Nick tidak alergi pada Bianca, Nick tidak alergi pada Bianca,"
Baru tiga kalimat dan Nick sudah membuka matanya, karena merasa ada yang salah dengan kalimatnya.
Bukankah seharusnya Nick tidak alergi pada wanita?
Kenapa jadi Nick tidak alergi pada Bianca?
Baiklah, Nick akan mengulanginya sekali lagi.
"Nick tidak alergi pada Bianca, Nick tidak alergi pada Bianca, Nick tidak alergi pada Bian-"
Ya ampun!
Kenapa Bianca lagi?
Wanita, Nick! Wanita!
Ada apa dengan otak dan lidahmu?
Nick tak berhenti merutuki pikirannya sendiri yang terus saja memikirkan Bianca.
Aneh!
Sangat aneh!
Nick tidak sedang jatuh cinta pada wanita bawel dan menyebalkan itu, kan?
"Wanita, wanita, wanita!"
"Nick tidak alergi pada Bianca, Nick tidak-"
Hhhhh!
Nick menggeram kesal karena kalimat yang ia rapalkan terus saja keliru. Kenapa Nick berulangkali menyebut nama Bianca?
Apa susahnya mengganti Bianca dengan wanita?
Lidah Nick seakan sudah terpatri dan terus saja menyebut nama Bianca, Bianca, Bianca!
Dasar wanita manja merepotkan!
Sudah merepotkan, masih juga membuat pikiran Nick menjadi kacau tak karuan.
Hhhhh!
Terserah saja!
Nick mau tidur sekarang.
Nick menguap lebar sebelum akhirnya pria itu memiringkan tubuhnya dan memeluk guling. Tak butuh waktu lama, dan Nick sudah memejamkan matanya, hanyut ke dalam mimpi indahnya bersama Bianca.
Tidak!
Jangan Bianca lagi!
****
Matahari sudah naik cukup tinggi, saat Bianca bangun dari tidurnya. Perut Bianca keroncongan sekarang. Apa Nick sudah memasak untuk sarapan?
Kenapa sedari pagi, Bianca belum mencium wangi masakan?
Sedikit malas, Bianca akhirnya masuk ke dapur dan mendapati ruangan itu kosong serta masih rapi. Bianca ganti membuka tudung saji di atas meja makan.
Kosong!
Nick belum memasak untuk sarapan!
Kemana pria itu?
Apa masih tidur juga?
"Nick!" Panggil Bianca seraya melangkah menuju ke kamar Nick.
Pintu kamar setengah terbuka.
"Nick, apa kau belum bangun?" Tanya Bianca seraya mendorong pintu kamar Nick.
Pria itu masih berbaring di atas kasurnya. Tapi kenapa Nick terlihat gelisah dalam tidurnya?
Keringat sebesar biji jagung juga terlihat memenuhi wajah Nick.
Aneh!
"Nick! Kau kenapa?" Bianca mengguncang tubuh Nick, berusaha membangunkan pria itu.
Mungkinkah Nick sedang bermimpi buruk sekarang?
"Nick!" Panggil Bianca sekali lagi yang langsung membuat Nick membuka lebar matanya dan bangkit duduk di atas kasur.
Mata pria itu menatap nyalang, menyapu ke setiap sudut ruangan seakan sedang mencari-cari sesuatu.
Hingga akhirnya, tatapan netra Nick bertubrukan dengan Bianca yang juga sedang menatap aneh ke arahnya. Saat itulah, ingatan Nick akhirnya kembali.
Nick sedang berada di gubuk miliknya bersama Bianca.
"Kau kenapa Nick?" Tanya Bianca sedikit ragu.
Nick hanya menggeleng dan menyugar rambutnya dengan kasar.
"Apa aku menyakitimu, Bee?" Tanya Nick tiba-tiba yang sontak membuat Bianca melongo.
"Tidak sama sekali. Memang kau bermimpi apa? Membunuhku dengan pisau dapur?" Tanya Bianca menebak-nebak.
Nick tersenyum simpul.
"Aku bermimpi melemparmu ke tengah laut, lalu kau dimakan hiu!" Nick menakut-nakuti Bianca dan memasang senyuman mengejek.
Bianca mencebik,
"Dasar Nick kejam!" Tukas Bianca seraya memukul Nick dengan bantal.
Wanita itupun berlalu dari hadapan Nick dan keluar dari kamar.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
perkosa aja pas Nick tidur 🤣🤣🤣
geregetan sama nick