Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 16
"Jadi, mau dipindahkan kapan?"
"Sekarang."
Erson membuang nafasnya kasar. Jika memang akan dibawa ke rumah peristirahatan, mengapa harus dibawa ke istana lebih dulu.
"Aku bisa mendengar isi hatimu, Ersoon. Kenapa aku membawa Catty ke sini dulu, karena kordinat rumah peristirahatan ada di kamar ku. Aku lupa lokasi tepatnya karena terakhir bekunjung ke sana adalah 20 tahun yang lalu."
Erson mengangguk paham. Rumah peristirahatan adalah rumah yang digunakan oleh mendiang kaisar dan permaisuri serta Lucien untuk menghabiskan waktu bersama. Dan Lucien berhenti datang saat kedua orang tuanya telah meninggal.
"Siapkan semuanya. Aku akan membawa mereka lebih dulu sebelum sihir tidur ku habis. Siapkan pelayan yang juga seorang kesatria untuk melindungi mereka."
"Baik."
Lucien kembali masuk ke kamar. Sebuah cahaya terlihat begitu terang, sebuah tanda bahwa Lucien sudah melakukan teleportasi kembali.
Haaah
Erson membuang nafasnya kasar. Tubuhnya terasa sangat lelah, seolah baru saja melakukan perjalanan jauh.
"Aku rasa ini akan jadi masalah nanti," ucap Erson.
"Benar, tapi mari pikirkan nanti dan mulai melakukan perintah Lucien. Apa kau memerhatikan, Erson, dia sangat berbeda saat menyebut wanita dan anak itu," ungkap Norman.
Erson setuju. Ada banyak hal yang harus disiapkan lebih dulu untuk rumah peristirahatan milik Lucien di wilayah utara.
Wilayah Utara adalah wilayah pegunungan yang diselimuti oleh salju. Tapi meski demikian, di sana juga ada desa yang aman dan damai.
Wilayah Utara sebenarnya dipimpin oleh seorang Duke. Carlos Winter dan Caleya Winter. Namun mereka jarang menampakkan diri.
Keduanya mengasingkan diri ke utara dan tak pernah lagi menunjukkan diri pada kegiatan sosial bangsawan di ibu kota setelah tragedi yang terjadi di keluarga mereka.
Mereka juga menutup diri rapat-rapat. Tak ada yang tahu apa sebab pastinya.
"Jadi apa kita juga harus meminta izin kepada Beliau?" tanya Erson kepada Norman.
Wilayah Utara tentu juga bagian dari kekaisaran. Bukan hal yang sulit bagi Lucien untuk berada di sana. Namun sebagai sopan santun, tetap harus memberi tahu pemilik wilayah.
"Sebaiknya kita tetap mengirimkan surat sebagai pemberitahuan kalau Lucien ada di sana. Duke dan Duchess mungkin tak akan mendatangi Lucien untuk menyambut. Namun harus tetap memberitahu keberadaan kaisar.
"Baiklah, nanti aku akan mengirim beliau surat. Keluarga Winter, dulu keluarga itu sungguh sangat bersinar, Pahlawan Kallistar. Tapi sekarang begitu redup."
Setelah mengatakan hal tersebut, Erson melenggang pergi menuju ke ruang kerja Lucien. Hal yang dilakukan pertama kali untuk permintaan Lucien adalah mengirim surat ke wilayah utara, memberitahukan keberadaan Lucien.
Ditengah kesibukan Erson dan Norman, Lucien sudah sampai di utara. Dan dia sangat beruntung karena saat sampai, barulah Cattleya dan Leoric bangun.
"Tuan Cien, ini dimana?"
Cattleya melihat ke sekeliling ruangan. Warna di ruangan itu didominasi warna putih. Ada dari tempat tidur, dinding, dan perabotan semua berwarna putih. Yang berbeda hanya selimut dan kelambu tempat tidur, yakni berwarna biru.
"Ini sebenarnya bukan tempat yang aku janjikan. Tapi aku menjamin dengan nyawaku bahwa tempat ini aman untuk mu dan Leo."
Cattleya mengedipkan matanya berkali-kali. Rumah ini jelas bukan rumah biasa. Perabotan mahal, kain sprei yang lembut dan kasur yang empuk. Semua ini adalah barang-barang yang biasa digunakan oleh para bangsawan.
Cattleya lalu melayangkan tatapan penuh ragu kepada Lucien. Tapi dia menahan bibirnya untuk mengungkapkannya. Saat ini, yang paling penting adalah dia dan anaknya bisa menghindari Cale Winslow.
"Apa ini sungguh rumah Anda, Tuan?" tanya Cattleya. Dia sebenarnya masih sangat penasaran. Dalam benak Cattleya bertanya, siapa sebenarnya Cienlu ini.
"Ibu, lumah Ayah badus cekali ya. Le cuka," ucap Leoric sambil melompat-lompat di atas kasur.
"S-sayang, tidak boleh begitu," sergah Cattleya.
"Biarkan saja, Catty. Dia sedang senang. Sekarang mari kta berkeliling. Ah ya, di rumah ini belum ada apa-apa. Aku sedang menyiapkannya. Kita juga tidak bisa keluar rumah, karena hawa di sini sangat dingin."
Cattleya mengerutkan alisnya. Dia belum sepenuhnya mengeri apa yang dikatakan oleh Lucien. Hawa dingin itu jelas sudah biasa baginya. Di rumah kecilnya sebelumnya, Cattleya tak bisa membeli selimut tebal untuk dirinya, karena hanya ia peruntukkan untuk Leoric. Dia sudah biasa dengan dingin.
Tapi saat melihat ke luar jendela, Cattleya baru paham arti ucapan Lucien. Sepanjang mata memandang, hanya ada warna putih di sana. Bahkan sekarang pun juga tengah turun butiran-butiran putih sedikit lebih deras.
"Salju, di sini ada salju?" guman Cattleya lirih. Terakhir sudah lama sekali dia melihat salju, yakni di kehidupan sebelumnya di dunia modern.
"Waaah apa itu Ibu? Telihat cepelti ec di lumah makan olang kaya."
Dengan mata berbinar, Leorin menanyakan tentang pemandangan di luar jendela.
"Itu salju, sayang. Cantik kan?" jawab Cattleya.
"Iya ibu cantik. Tapi, tetap jauh lebih cantik Ibu."
Hahahah
Cattleya tertawa lebar, dia lalu memeluk Leoric dan mencium pipi anaknya pada kedua sisi.
Lucien ikut tersenyum melihat tawa Cattleya dan Leoric. Tangannya mengepal dengan erat.
"Aku akan menjaga senyum itu agar tak pernah pudar. Aku berjanji Catty, bahwa kalian akan selalu merasa bahagia. Tak akan ada yang boleh merusah tawa dan kebahagiaan kalian."
Dalam hati Lucien bertekad. Di dalam tekadnya itu, Lucien sudah bersiap untuk melakukan berbagai banyak persiapan untuk mewujudkan tujuannya.
TBC