"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"
_________________
Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.
Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.
Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?
꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
꧁ঔৣ [Chapter 23 ] ঔৣ꧂
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...
"wah~ segar nya!"
Suara gemercik air mancur di taman dalam mansion menyusup halus di antara tirai sutra yang berayun pelan. Udara pagi itu terasa sejuk, beraroma bunga melati dan seduhan kopi arabika hangat yang memenuhi kamar utama.
Anisa duduk di tepi ranjang berseprai putih bersih. Jemari lentiknya perlahan merapikan lipatan kain gamis berwarna pastel yang dikenakannya. Di atas meja nakas tepat di sampingnya, sebuah kotak beludru hitam berukir logo khas tampak terbuka, menampilkan sebuah ponsel pintar berdesain elegan namun kokoh.
Klek.
Pintu kamar mandi terbuka. Oscar melangkah keluar dengan celana kain santai dan kemeja putih berserat halus yang belum dikancingkan sepenuhnya. Rambut hitamnya yang sedikit basah jatuh berantakan di dahi.
"Sudah dilihat ponselnya, Sayang?" suara Oscar terdengar berat dan dalam, bergetar lembut tepat di dekat telinga Anisa saat ia mendudukkan diri di samping istrinya.
"Sudah, Mas... Bagus sekali," bisik Anisa tulus, menyentuh punggung tangan Oscar. "Terima kasih ya, Mas... Maaf jika gara-gara ponsel hancur itu membuat Mas repot."
Oscar memajukan tubuhnya, melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang Anisa dari samping dan menyandarkan dahinya tepat di bahu sang istri.
"Jangan pernah minta maaf untuk kesalahan orang lain, Anisa. Mulai esok, ke mana pun kamu pergi, Dante dan empat pengawal inti akan mengikutimu dari jarak aman. Tidak ada bantahan, ya?"
"Iya, Mas Oscar... Saya nurut," sahut Anisa pasrah namun matanya berbinar lembut.
Mendengar kepatuhan yang begitu manis, naluri manja Oscar seolah tumpah sepenuhnya. Pria dingin yang itu justru merebahkan kepalanya di atas paha Anisa, melingkarkan lengan di pinggang istrinya bak anak kecil yang enggan ditinggal. Anisa tersenyum halus, jemari lentiknya menyisir lembut rambut hitam Oscar yang agak basah.
"Mas... kancing kemejanya belum dirapikan," bisik Anisa pelan, mencoba mengalihkan detak jantungnya sendiri yang berdebar terlalu kencang.
Oscar tidak bergerak, ia hanya menengadah sedikit dari pangkuan Anisa dengan binar mata jahil yang hangat.
"Rapikan untukku dong, Anisa."
Anisa menahan napas sejenak. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia perlahan merapikan kerah dan membenarkan kancing kemeja suaminya satu per satu. Jarak mereka yang teramat dekat membuat napas hangat Oscar menerpa pergelangan tangan Anisa. Oscar membeku, menatap lekat-lekat jemari lembut istrinya yang bersentuhan langsung dengan dadanya.
"Tanganmu dingin sekali, Sayang... "
"Dan tahu tidak?,Kabar buruknya, jantungku jadinya berdetak terlalu kencang gara-gara kamu," goda Oscar dengan suara serak yang berat.
Pipi Anisa memanas hebat di balik kain cadarnya. Belum sempat Anisa membalas godaan itu, jemari besar Oscar sudah terangkat, mengusap lembut punggung tangan Anisa dan mengecup jemari istrinya dengan begitu tulus dan penuh penghormatan.
TIIING!
Suara notifikasi bernada tegas dari ponsel kerja Oscar di atas meja mendadak memecah keheningan yang romantis tersebut. Oscar menggeram pelan, terpaksa membuka matanya dan melihat pesan masuk dari Ezekiel mengenai dokumen penting kantor yang harus segera ia selesaikan.
"Harus ke kantor sekarang, Mas?" tanya Anisa pelan.
"Pekerjaan mendesak, Sayang... Tapi rasanya malas sekali kalau harus berangkat.padahal memeluk mu saja belum selesai~" jawab Oscar berat hati, mendudukkan dirinya kembali tanpa melepas genggaman tangannya dari jemari Anisa.
"hah?!,a..apa mas?"
Melihat suaminya hendak bersiap pergi, Anisa berinisiatif bergerak cepat. "Mas lebih baik tunggu di kamar sebentar ya, saya buatkan sarapan praktis dulu sebelum Mas berangkat. Mas tidak boleh pergi dengan perut kosong."
"aku ikut!"
Anisa dan Oscar akhirnya melangkah keluar kamar dengan terburu-buru. Namun, baru saja jemari kakinya menuruni tangga utama menuju lorong lantai bawah, langkahnya terhenti seketika.
Di ruang tamu utama, dua orang tamu baru saja disambut oleh pengawal mansion. Di sana, Barbara tampak duduk anggun di atas kursi rodanya. Namun, perhatian Anisa langsung tersita pada sosok wanita bertubuh tinggi, berpenampilan amat elegan dan berkelas dengan setelan blazer mahal yang berdiri di samping Barbara— ternyata itu Direktur Chika.
Oscar yang menyusul turun dari lantai atas tampak sedikit terkejut, namun segera menguasai diri. Chika melangkah maju dengan senyum profesional yang amat percaya diri, mengulurkan tangannya pada Oscar.
"Selamat pagi, Oscar. Maaf mengganggu waktumu pagi-pagi begini," ujar Chika anggun, menjabat tangan Oscar ala salam pebisnis kelas atas. "seperti yang kita membahas draf kemarin sempat kita tunda?, makanya aku datang jauh jauh kemari hanya untuk memastikan saja"
Anisa berdiri agak jauh di ambang pintu lorong. Dari balik kain cadarnya, pandangan matanya tak lepas dari sosok Chika. Ada denyut asing di dalam dadanya—sebuah gumpalan rasa cemburu yang halus namun cukup menyengat saat melihat betapa luwes dan anggunnya Chika berinteraksi dengan suaminya.
Oscar melirik sejenak ke arah Anisa, seolah menyadari perubahan aura istrinya. Namun demi profesionalitas, Oscar mengangguk tegas pada Chika.
"Bicara di ruang kerja utamaku di dalam mansion saja. Lebih aman."
Chika dan Oscar berjalan berdampingan menuju ruang kerja pribadi Oscar di bagian dalam mansion. Meskipun tahu mereka hanya membicarakan urusan bisnis dan taktik lingkaran yang belum sepenuhnya ia pahami, hati Anisa tetap saja terasa ganjil dan tak tenang.
"Anisa?" suara lembut Barbara memecah lamunan Anisa.
Anisa tersentak pelan, segera mengalihkan pandangannya dan melangkah mendekati kursi roda Barbara. "Ah... Kak Barbara?. Selamat pagi..."
Barbara tersenyum hangat, mengisyaratkan pelayannya untuk memberi mereka ruang. Barbara memandangi Anisa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan binar mata penyayang.
"Wajahmu kelihatan jauh lebih cerah dan segar pagi ini, Anisa. Bagaimana? Apakah kamu betah tinggal di mansion ini? Apakah Oscar memperlakukanmu dengan baik?"
Anisa mengangguk pelan, menyunggingkan senyum di balik cadarnya. "Sangat betah, Kak. Mas Oscar... dia sangat baik dan menjaga saya."
"lalu bagaimana ceritanya di jam segini dia masih di rumah?"tanya Barbara
"Mas Oscar sebenarnya sudah mau bersiap, Kak... tapi tadi ada saja alasannya untuk menunda," tutur Anisa pelan, sedikit malu-malu menatap jemarinya.
Barbara tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang sangat hangat dan jarang terdengar di sudut mansion dingin ini.
"Sudah kubuga. Jangan kaget, Anisa," ujar Barbara seraya mengibaskan tangannya santai.
"Pria-pria Carlous itu mukanya saja yang di luar seperti tembok es, tapi kalau sudah di kamar... astaga, gengsi mereka runtuh tidak bersisa! Edward saja yang diktator begitu pernah pura-pura tangannya terkilir cuma supaya aku mau menyuapinya makan selama tiga hari. Padahal malamnya aku lihat sendiri dia santai-santai push-up di gym!"
Anisa tak sanggup menahan tawa halusnya dari balik kain cadar. Bayangan tentang sang Diktator Edwardo Carlous yang berpura-pura sakit demi disuapi benar-benar meruntuhkan kesan menyeramkan pria itu di kepalanya.
"Ternyata... kak Edward bisa seperti itu juga ya, Kak?" kekeh Anisa, lalu memberanikan diri melanjutkan dengan mata berbinar jahil. "Kalau Mas Oscar... bukan cuma manja, Kak. Tapi suka sekali bercanda, jahil, dan... suka menggoda hal-hal tidak jelas."
"Benarkah?" Barbara terbelalak pura-pura kaget, lalu tertawa makin lebar. "Oscario yang dingin dan irit bicara itu?"
"Iya, Kak!" aduh Anisa dengan pipi memanas di balik kainnya. "Tadi pagi saja... kancing kemejanya sengaja dibiarkan terbuka. Padahal kalau di depan kak Dante atau pengawal lain, wajahnya seram sekali."
"Aduh, dasar!" Barbara menggeleng-gelengkan kepala, terkekeh gemas.
"Mereka itu...meskipun tidak sedarah tetapi sama sama punya penyakit bucin yang unik, Anisa. Jadi kalau Oscar mulai jahil dan menempel terus padamu... nikmati saja, itu tanda dia sudah bertekuk lutut padamu."
Gelak tawa ringan mengudara di antara mereka berdua, mencairkan seluruh kekakuan dan rasa canggung. Hingga akhirnya, setelah tawa mereka mereda perlahan, Barbara merapikan posisi duduknya di atas kursi roda.
Raut wajah Barbara perlahan berubah sedikit lebih serius, namun tetap memancarkan kehangatan seorang kakak ipar yang penuh kasih sayang...
"Anisa... sebenarnya aku sudah tahu mengenai awal kedatanganmu ke keluarga ini," tutur Barbara tenang. "Tentang bagaimana kamu mengorbankan dirimu untuk menjadi pelunas utang, menggantikan Ananira."
Anisa terhenyak pelan. Dadanya berdesir kaget. Ia tidak menyangka Barbara mengetahui rahasia kelam itu.
"Maaf jika aku menyinggungnya," sambung Barbara cepat. "Tapi aku sungguh kagum padamu. Kamu wanita yang sangat berhati emas, Anisa."
Anisa menunduk tipis, menggeleng halus. "Tidak seperti itu, Kak Barbara... Bagi saya, Ananira sebenarnya tidak bersalah. Dia memiliki tekanannya sendiri yang sangat berat. Dituntut menjadi pewaris tunggal yang sempurna oleh Kakek Azriel Lezman bukanlah hal yang mudah. Jiwanya tertekan, makanya Ananira tumbuh menjadi pribadi yang bebas dan sering membangkang... Itu hanya bentuk pemberontakannya."
Barbara mendengarkan dengan cermat, terkejut oleh kedewasaan dan sudut pandang Anisa yang begitu pemaaf.
"Dulu..." bisik Anisa pelan, pandangannya menerawang ke lantai batu pualam. "Kakek Azriel selalu memaksaku untuk menutup wajahku rapat-rapat. Dia bilang... mungkin demi memprioritaskan Ananira jadinya tidak pantas saya menunjukkan wajah di mata dunia."
"dan demi bisa mendapatkan perlindungan, tempat tinggal,makan kenyang, saya menuruti semua perintahnya. Saya tidak bersekolah formal, tidak pernah keluar rumah, tidak punya teman, apalagi perihal kekasih."
Mata Barbara membelalak samar. Rasa iba yang amat dalam menyeruak di dadanya.
"Serius!,Kamu... tidak bersekolah formal? Tapi bagaimana bisa tutur bahasamu begitu santun dan kamu justru terlihat terpelajar, Anisa?"
Anisa tersenyum tipis di balik kainnya. "meskipun tidak bersekolah,Kakek Azriel tetap mendatangkan guru privat ke rumah untuk mengajari saya membaca, menulis, dan berhitung. Dan alhamdulillah... guru privat yang didatangkan adalah seorang wanita muslimah yang sangat baik. Lewat beliau, saya diajari ilmu pengetahuan, dan lewat beliau pula... saya merasa makin dekat dengan almarhumah Ibu saya serta menemukan keindahan agama Islam yang selama ini saya cari."
Dada Barbara bergetar hebat. Hatinya tersentuh sampai ke sanubari terdalam mendengarkan ketabahan jiwa gadis di depannya ini. Betapa dingin dan menderitanya masa lalu Anisa, namun gadis ini tumbuh menjadi sosok yang begitu yang penuh keikhlasan ini
Tak lama kemudian, pintu ruang kerja pribadi terbuka. Oscar dan Direktur Chika melangkah keluar setelah menyelesaikan perbincangan bisnis mereka. Anisa segera berdiri dan menghampiri suaminya.
"Urusan kita sudah selesai untuk hari ini, Oscar. Terima kasih," ujar Chika anggun, lalu mengangguk sopan pada Anisa sebelum berpamitan.
Oscar langsung memajukan langkahnya, merangkul pinggang Anisa dari samping dengan gestur protektif dan hangat, seolah menegaskan posisinya. Oscar menatap istrinya dengan binar penuh rasa bersalah karena telah membuatnya menunggu.
Namun, di sudut ruangan...
Barbara yang masih duduk di atas kursi rodanya menatap punggung Anisa dan Oscar. Dari balik jemarinya yang terlipat di pangkuan, kedua tangan Barbara mengepal amat erat dalam ketakutan yang tak terkelola.
Hatinya mendadak mencelos hebat. Pikiran Barbara melayang membayangkan betapa kelam dan dunia bawah ini
Melihat Anisa—wanita yang begitu polos, tak berdosa, dan telah menderita sepanjang masa muda nya—Barbara merasa hancur. Sebuah bayangan mengerikan berkelebat.
Bagaimana jika kelak, di akhir perang darah ini... hanya akan ada tetesan air mata dan bercak darah yang menodai kain cadar suci milik Anisa?
Barbara memejamkan matanya erat-erat, menahan sesak di dadanya. Ia sangat mencintai Anisa, dan ketakutan akan tragedi yang mungkin menimpa gadis itu kini membayang bagaikan mimpi buruk yang siap menelan mereka semua.
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...