Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Pertama — 15
Dua minggu berlalu sejak malam ditaman belakang gedung olahraga dan kehidupan Bram terus menunjukkan perubahan yang semakin meningkat.
Herman, ayah Bram ternyata benar benar berusaha menempati janjinya.
Ia mulai bekerja disebuah bengkel kecil milik kenalan lamanya.
Meskipun hubungannya dengan Bram masih jauh dari kata akrab, setidaknya ia mulai rutin mengirimkan kabar.
Terkadang hanya pesan singkat menanyakan kondisi ibunya a.k.a nenek Bram, kadang juga mengirimkan sedit uang untuk membantu meringankan beban rumah tangga tanpa embel-embel permintaan seperti dulu.
"Gue nggak nyangka bapak beneran berubah. Belum sepenuhnya sih, tapi seenggaknya dia udah usaha."
"Itu udah bagus kok."
Sejak beberapa hari terakhir, layar hologram mulai muncul lebih sering dari biasanya meski tanpa perubahan poin yang signifikan seperti sebelumnya, hanya catatan catatan singkat yabg tersa seperti bisikan peringatan.
[Progres subjek terhadap definisi akhir bahagia mencapai 89%.]
[Estimasi penyelesaian misi: dalam waktu dekat.]
Perubahan besar lainnya juga terjadi pada hubungan Bram dilingkungan sekolah.
Sejak kejadian classmeet dia kini menjadi salah satu anggota tim basket dan berlatih bersama Refan dan beberapa teman temannya yang dulu memandangnya sebelah mata.
Dah puncak dari semua itu ketika Karina baru saja kembali kekamar kosnya setelah menghabiskan sorenya bersama Bram.
[Pembaruan status penting.]
[Poin Kehidupan: 8.900 / 100.000.]
[Progres subjek terhadap definisi akhir bahagia: 95%]
[Estimasi waktu hingga misi dinyatakan tuntas: kurang dari satu minggu.]
[Disarankan pengguna mulai mempersiapkan diri untuk proses perpisahan, sesuai dengan janji yahg telah dibuat kepada subjek.]
Karina menatap layar itu lama dengan tangan gemetar hebat hingga ponsel jadulnya yang tergeletak disampingnya ikut bergetar.
"Kurang dari satu minggu? Secepat itu?!!"
Ia bangkit dari kasurnya dan berjalan mondar-mandir dikamar sempitnya yang tiba tiba terasa semakin sesak.
Ia tau tujuan sebenarnya dari perjalanan ini dan ini sebenarnya adalah kabar baik.
Bukti nyata misinya berhasil membuat Bram mendapatkan kebahagiaan yang selama ini ia perjuangkan.
Tapi disisi lain ia juga merasa berat hati. Dirinya tanpa sadar telah jatuh cinta padanya dan merasakan perasaan yang begitu sakit untuk meninggalkan orang yang ia cintai.
...----------------...
Keesokan harinya Karina berusaha bersikap senormal mungkin disekolah meskipun Bram menyadari perubahan kecil dari dirinya.
"Al.. Lo kenapa? dari tadi ngelamun terus." tanyanya dengan khawatir saat mereka duduk berdua ditaman belakang gedung olahraga sepulang sekolah.
Karina menatapnya lama sambil mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. "Bram, aku... aku rasa waktu aku nggak lama lagi."
Wajah Bram seketika langsung berubah memucat. "Maksud lo?"
"Aku nggak bisa jelasin detailnya, tapi dalam waktu dekat aku harus pergi, benar benar pergi Bram." Jawabnya dengan menangis tersedu sedu
Bram terdiam lama sambil menatap Karina yang menangis, namun ia tetap tenang tidak seperti beberapa bulan lalu yang langsung menangis atau berteriak. Sebaliknya ia menarik napas panjang mencoba menguatkan dirinya sendiri.
"Lo inget janjii lo kan? Lo bilang kalo waktu saatnya lo pergi lo nggak akan pergi tanpa pamit."
"Aku inget." Jawab Karina dengan air mata yang terus menetes.
"Dan akan aku tepati janji itu Bram, aku nggak akan ninggalin kamu tanpa penjelasan."
Bram mengaguk pelan sambil menggenggam tangan Karina erat erat, seolah ingin mengingatkan setiap detik sentihan itu sebelum akhirnya menghilang selamanya.
"Gue nggak akan pura pura nggak takut Al. Jujur aja gue takut banget. Tapi gue percaya kalo gue bisa lewatin ini semua seperti yang lo harepin."
Kata kata itu meskipun penuh dengan kepedihan yang tidak dapat disembunyikan, tapi juga menyimpan kekuatan yang luar biasa.
Sebuah bukti nyata bahwa Bram telah tumbuh menjadi orang yang mampu menghadapi rasa kehilangan, sesuatu yang dulu mustahil untuk ia bayangkan akan bisa tercapai.
...----------------...
Dikamar kosnya Karina menatap langit langit kamarnya dengan air mata yang membasahi pipinya.
Pikirannya dipenuhi berbagai kenangan indah yang telah ia dan Bram bangun selama bulan bulan terakhir.
Layar tembus pandang muncul dihadapannya dengan nada suara datar khas robotik.
[Sistem memahami bahwa proses ini tidak mudah bagi pengguna.]
[Namun perlu diingatkan, tujuan dari program ini bukan untuk menghindari rasa sakit perpisahan.]
[Melainkan untuk memastikan bahwa kebahagiaan yang dihadirkan bersifat nyata dan berkelanjutan, terlepas dari kehadiran pengguna.]
[Subjek telah membuktikan bahwa dirinya telah siap.]
[Yang menjadi pertanyaan nya sekarang apakah pengguna juga siap?]
Karina menatap layar hologram itu dengan perasaan yang campur aduk.
Ia menyadari bahwa dirinya belum siap dengan perpisahan yang akan segera datang.
"Aku harus siap." Pikirnya salam hati sambil menghapus air matanya yang terus mengalir tanpa henti.
"Demi Bram. dan demi semua yang udah kami perjuangkan bersama." Ucapnya lagi mencoba menguatkan dirinya sendiri.
Namun jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, ia tau tidak ada perpisahan yang benar benar bisa membuatnya siap untuk mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang yang telah mengajarkan nya apa itu arti cinta tanpa syarat, bahkan ketika cinta itu sendiri harus berakhir dengan kepedihan yang tidak bisa dirinya hindari.
kata kata hari ini; setiap ada pertemuan, pasti juga ada yang namanya perpisahan.
Asekkk masuk pak eko
buang aja,karina mati lagi aja