NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Tiga Panggilan Darurat

Pagi harinya datang dengan tiga getaran ponsel yang hampir bersamaan. Aira sedang duduk di beranda belakang dengan selimut masih tersampir di bahu ketika suara notifikasi memecah keheningan. Udara dingin masih menggantung di antara pohon, membawa bau tanah basah dari hujan semalam. Dia menatap cangkir teh yang sudah mulai dingin di meja kecil, lalu menoleh ke dalam rumah saat langkah kaki mulai terdengar buru-buru.

Reza muncul lebih dulu di ambang pintu beranda, wajahnya sudah berubah menjadi topeng letnan yang kaku. Di tangannya ponsel masih menyala. “Markas. Laporan rutin yang tidak bisa ditunda. Atasan langsung.”

Belum sempat Aira menjawab, Keenan masuk dari sisi dapur dengan wajah yang sama tegangnya. “Telepon dari rumah. Ayah saya masuk ICU tadi dini hari. Ibu meminta saya pulang sekarang juga.”

Raka menyusul terakhir, rambut masih acak-acakan, jaket belum sepenuhnya dipakai. “Bascam. Ada kecelakaan di sesi latihan pagi. Dua mekanik cedera, mobil utama rusak parah. Manajer bilang kalau saya tidak muncul dalam tiga jam, sponsor utama mundur.”

Aira meletakkan cangkir dengan pelan. “Jadi kalian bertiga harus pergi.”

Bukan pertanyaan. Hanya pernyataan datar yang membuat ketiga pria itu saling berpandangan.

Reza yang pertama berbicara. “Saya coba tunda. Tapi perintah ini dari atas langsung. Kalau saya menolak, mereka akan mengirim orang lain ke sini. Orang yang tidak kita percaya.”

Keenan mengusap wajah. “Ibu sudah menangis di telepon. Ayah tidak stabil. Saya harus di sana.”

Raka menggigit rahang. “Saya bisa kirim orang lain, tapi sponsor hanya mau bertemu saya. Kalau mereka cabut, tim kehilangan dana untuk sisa musim. Banyak orang yang bergantung.”

Aira menatap masing-masing dari mereka dengan tenang yang membuat suasana semakin berat. “Pergi. Semua.”

“Aira—” Raka melangkah maju.

“Pergi,” ulangnya. “Kalian punya urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Saya tidak akan lari. Dan rumah ini penuh pengawal. Kakek Reza sudah mengatur semuanya.”

Reza berdiri tegak di depannya, jarak hanya satu langkah. “Saya tidak nyaman meninggalkanmu. Arya masih di luar. Kemarin ada jejak di bawah jendela.”

“Saya tahu.” Aira menarik selimut lebih rapat. “Tapi kamu tidak bisa menolak perintah markas hanya karena saya. Itu akan membuatmu dicurigai. Dan Keenan tidak bisa memilih saya di atas ayahnya yang sekarat. Raka juga tidak bisa membiarkan seluruh timnya hancur.”

Keenan meletakkan tangan di sandaran kursi Aira, jari-jarinya sempat menyentuh bahu perempuan itu sebentar. “Saya akan kembali segera setelah kondisi ayah stabil. Paling lama dua hari.”

Raka tidak bilang apa-apa. Dia hanya berlutut di depan Aira, menatap matanya dari bawah. “Uang di rekeningmu jangan dikembalikan dulu. Pakai kalau perlu. Dan telepon saya setiap dua jam. Janji.”

Aira mengangguk sekali. “Janji. Sekarang berdiri. Kamu kotorin celana.”

Raka tersenyum kecil, lalu bangkit. Reza masih belum bergerak. “Saya tinggal satu jam lagi,” kata Reza akhirnya. “Cukup untuk mengatur shift pengawal dan memastikan tidak ada celah. Setelah itu saya harus sudah di markas sebelum siang.”

Aira tidak membantah. Dia hanya menatap ke arah pohon-pohon yang bergoyang pelan di kejauhan. “Atur saja. Pengawal di sini sudah lebih banyak dari yang saya butuhkan.”

Satu jam berikutnya berjalan dalam kesibukan yang canggung. Reza berbicara cepat dengan kepala pengamanan, mengganti posisi jaga, menambah satu unit di sisi hutan yang kemarin dipakai pengintai. Keenan memeriksa perban Aira untuk terakhir kali, meninggalkan obat dan instruksi tertulis yang rapi. Raka mengisi kulkas dengan makanan yang mudah dihangatkan, seolah Aira tidak bisa meminta pengawal untuk memasak.

Giliran kepergian tiba hampir bersamaan. Keenan yang pertama. Dia berdiri di depan Aira di ruang tamu, tas medis di bahu. “Jangan bandel. Kalau demam atau nyeri bertambah, telepon saya langsung. Bukan lewat Reza. Langsung kabari saya.”

Aira mengangguk. “Hati-hati di jalan. Ayahmu lebih penting.”

Keenan ragu sejenak, lalu menepuk pelan puncak kepala Aira—gerakan yang lembut dari dokter yang biasanya kaku. Lalu dia pergi.

Raka menyusul. Dia tidak bilang banyak. Hanya menyerahkan ponsel cadangan yang sudah diisi nomor-nomor penting. “Setiap dua jam. Kalau tidak ada kabar, saya balik lagi ke sini.”

“Jangan. Fokus ke mobilmu. Jangan sampai sponsor benar-benar cabut.”

Raka menatapnya lama, seolah ingin mengucapkan sesuatu yang lebih berat, lalu hanya mengangguk dan keluar.

Tinggal Reza. Dia berdiri di ambang pintu dengan seragam lapangan yang rapi, wajah sudah kembali ke mode letnan. “Pengawal di dalam rumah dua orang. Di luar enam. Shift berganti setiap empat jam. Kamar tidurmu dipindah ke sayap dalam yang tidak ada jendela besar. Jangan buka pintu untuk siapa pun selain orang yang sudah saya kenalkan tadi pagi.”

Aira duduk di sofa, kaki dilipat. “Saya mengerti.”

Reza masih belum berbalik. “Aira.”

“Ya.”

“Kalau Arya mencoba mendekat… jangan hadapi sendiri. Tunggu saya. Atau tunggu Raka dan Keenan kembali. Apa pun yang dia tawarkan, jangan percaya.”

Aira menatapnya. “Kamu berbicara seperti orang yang akan pergi jauh.”

“Saya hanya pergi ke markas. Laporan rutin. Saya akan kembali sebelum malam kalau bisa.”

“Kalau tidak bisa?”

Reza terdiam. Lalu bilang pelan, “Maka kamu tetap di dalam rumah. Jangan keluar. Jangan dekat jendela. Dan… jangan merasa sendirian. Pengawal di sini dipilih langsung oleh kakek.”

Aira hanya mengangguk. Reza masih berdiri beberapa detik lebih lama, seolah ada kata-kata lain yang ingin keluar, tapi akhirnya dia hanya mengangguk kembali dan keluar. Pintu utama tertutup.

Rumah putih yang besar itu tiba-tiba terasa terlalu sunyi. Suara langkah pengawal di luar hanya terdengar samar. Aira duduk diam di sofa untuk waktu yang lama, menatap nampan sarapan yang belum tersentuh.

Dia akhirnya berdiri, berjalan ke dapur, dan menuang teh baru. Tangannya stabil. Napasnya teratur. Tapi di dada, ada ruang kosong yang tiba-tiba terasa lebih besar dari biasanya.

Tiga pria yang selama ini memenuhi setiap sudut hidupnya sekarang pergi. Masing-masing dengan alasan yang sah dan meninggalkan janji untuk kembali.

Aira menyeruput teh sambil menatap keluar jendela dapur yang menghadap ke sisi rumah yang lebih terbuka. Pohon-pohon berdiri tenang. Tidak ada bayangan mencurigakan. Terlalu tenang. Di saku jaketnya, ponsel bergetar pelan. Pesan masuk dari nomor tidak dikenal. "Selamat pagi, Aira Hadi. Mereka akhirnya meninggalkanmu sendirian. Kita bisa bicara lebih santai sekarang."

Aira menatap layar tanpa berkedip. Ibu jarinya bergerak, tapi tidak membalas. Dia hanya mengunci ponsel, meletakkannya di meja, dan menarik napas dalam. Di luar, jauh di balik barisan pohon yang dijaga, Arya menurunkan ponsel dari tangannya. Senyumnya tipis.

“Giliran kita,” gumamnya pada pengawal yang berdiri di sampingnya. “Tunggu sampai dia terbiasa sendiri dan merasa dirinya aman dulu. Setelah itu… jemput kunci kita dengan sopan.”

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!