NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16

Jarak

Satu minggu kemudian, pengawal masih berdiri dua langkah di belakang Nadhira bahkan ketika ia hanya berjalan ke rumah Bu Mega.

Pada hari pertama, Nadhira menganggapnya penyesuaian. Hari kedua, petugas perempuan ikut berdiri di koridor PAUD meski kesepakatan mereka menyebut ia menunggu di luar gedung. Hari ketiga, dua petugas memeriksa taman belakang sebelum Arkan boleh bermain dengan Kopi. Hari keempat, kendaraan pengawal mengikuti mobil Nadhira ketika ia hanya pergi ke klinik hewan di dalam BSD.

Tidak ada ancaman baru selama tujuh hari itu. Tidak ada pesan, kendaraan mencurigakan, atau percobaan memasuki kompleks. Tingkat penjagaan justru bertambah.

Jaraknya tiga rumah. Jalan di dalam kompleks memiliki kamera, palang ganda, dan patroli. Namun, petugas perempuan itu tetap mengikuti sampai teras, lalu menunggu di dekat pagar selama Nadhira minum teh.

Ketika Nadhira pulang, satu petugas lain sudah memeriksa tas belanja kecil yang dikirim dari minimarket.

"Siapa yang memerintahkan pemeriksaan barang saya?" tanyanya.

Petugas itu tampak serba salah. "Protokol keamanan, Bu. Semua kiriman diperiksa."

"Kiriman tertutup, iya. Tapi itu tas yang tadi dibawa Bu Mega sendiri."

"Arahan Pak Rayhan, Bu."

Petugas perempuan yang mendampinginya dari rumah Bu Mega mendekat. "Maaf, Bu. Kami menerima pembaruan protokol setiap pagi. Kalau kami meninggalkan jarak pandang tanpa izin, laporan kami dianggap gagal."

"Apakah saya pernah meminta kalian mengikuti sampai teras tetangga?"

"Tidak."

"Apakah saya pernah setuju tas pribadi dibuka tanpa bertanya?"

Petugas itu menunduk. "Tidak, Bu."

Nadhira melihat kecemasan pada wajahnya. Perempuan itu bekerja, bukan sedang mencari kuasa atas hidup orang lain.

"Saya tidak akan menyalahkan kalian karena menjalankan perintah," kata Nadhira. "Mulai sekarang, kalau perintah baru berbeda dari protokol yang saya setujui, beri tahu saya sebelum dijalankan. Saya akan membicarakannya langsung dengan Rayhan."

"Baik, Bu."

Nadhira meminta tas ditutup kembali. Barangnya utuh, tetapi rasa tidak nyaman sudah terlanjur menetap. Batas yang berubah diam-diam tetap sebuah pelanggaran, meski dilakukan dengan sarung tangan dan bahasa sopan.

Nama yang sama selalu menjadi ujung setiap batas.

Malamnya, Nadhira menunggu Rayhan pulang. Ia meletakkan daftar protokol yang disepakati minggu lalu di meja makan.

"Kita perlu bicara."

Rayhan membuka jas. "Tentang apa?"

"Pengawal mengikuti saya ke tiga rumah dari sini. Tas Bu Mega diperiksa. Kemarin seorang petugas berdiri di depan pintu kelas Alif sampai guru merasa diawasi. Ini tidak sesuai kesepakatan."

"Ada ancaman yang belum selesai."

"Agus dan Pak Darmo sudah mendapat somasi. Gerbang mencatat semua tamu."

"Somasi tidak menghentikan orang yang berniat nekat."

"Lalu kapan saya boleh berjalan tanpa seseorang menghitung langkah?"

Rayhan meletakkan ponsel di meja. "Saat risiko turun."

"Siapa yang menentukan?"

"Tim keamanan."

"Yang menerima perintah darimu."

Nada Nadhira masih terkendali, tetapi telapak tangannya mulai panas. Dua minggu lalu ia menyetujui pendampingan untuk keluar kompleks, bukan penjagaan di antara rumah tetangga.

"Saya tidak keberatan dengan pemeriksaan gerbang, daftar jemput, atau pengawal ketika kami ke Jakarta," katanya. "Saya keberatan diperlakukan seolah tidak mampu memilih kapan menyeberang jalan."

"Saya tidak mengatakan Anda tidak mampu."

"Tindakanmu mengatakan itu."

Rayhan menghela napas. "Anda melihat sendiri betapa cepat Alif dibawa."

Kata-kata itu mengenai titik yang paling sakit. Nadhira berdiri.

"Jangan gunakan ketakutan saya kehilangan anak untuk membenarkan setiap keputusanmu."

"Saya menggunakan fakta."

"Faktanya saya pernah dikunci, diawasi, dan diputuskan hidupnya oleh orang lain. Ini bukan perlindungan, ini penjara."

Untuk pertama kalinya sejak menikah, suara Nadhira naik di depan Rayhan.

Ekspresi pria itu menjadi dingin. "Kalau sesuatu terjadi karena kita mengurangi penjagaan, apakah Anda siap menerima akibatnya?"

"Kalau semua pilihan diambil dari saya, apa bedanya rumah ini dengan rumah lama yang pintunya dikunci dari luar?"

Rayhan tidak menjawab.

Keheningannya terasa seperti dinding.

Nadhira mengambil kartu akses dan ponsel. "Saya mau ke minimarket. Sendiri. Di dalam kompleks. Saya akan kembali sebelum setengah jam."

Petugas perempuan di dekat pintu berdiri. Nadhira mengangkat tangan.

"Jangan ikuti saya. Catat waktu berangkat, kalau perlu. Tapi saya pergi sendiri."

Ia menunggu Rayhan melarang. Pria itu hanya berdiri di samping meja dengan rahang mengeras.

Nadhira keluar.

Udara malam terasa lembap setelah hujan singkat. Minimarket berada sekitar enam ratus meter dari rumah, masih di dalam gerbang kompleks. Setiap seratus meter ada lampu dan kamera. Meski begitu, langkah pertama tanpa bayangan petugas membuat jantungnya berdebar lebih cepat daripada seharusnya.

Ia tidak bodoh. Ia memeriksa kendaraan yang lewat, tidak memakai earphone, dan mengirim lokasi langsung kepada ponselnya sendiri untuk catatan. Namun, kewaspadaan yang ia pilih terasa berbeda dari ketakutan yang dipaksakan.

Di minimarket, Nadhira membeli susu, plester luka, dan dua es krim kecil untuk anak-anak besok. Kasir menyapanya biasa saja. Tidak ada yang mengejar, memotret, atau memanggil keluarga.

Perjalanan pulang memakan waktu dua puluh enam menit sejak ia keluar.

Rayhan menunggu di teras.

Ia tidak membawa payung, padahal rintik mulai turun. Kedua tangannya berada di saku celana. Wajahnya tetap datar, tetapi pandangannya memeriksa kepala, lengan, tas, dan jalan di belakang Nadhira sebelum berhenti pada wajahnya.

"Saya kembali," kata Nadhira.

"Saya bisa melihat."

"Tidak ada yang terjadi."

"Sekali pulang selamat tidak menghapus risiko."

"Dan satu ancaman tidak boleh menghapus hidup saya."

Mereka berdiri berhadapan di bawah rintik hujan. Tak satu pun meminta maaf.

Nadhira masuk, meletakkan es krim di freezer, lalu tidur lebih awal bersama Alif. Namun, setelah tengah malam ia terbangun karena suara ketukan pelan dari kamar anak-anak.

Ia mengikuti bunyi itu.

Rayhan duduk di lantai kamar bermain dengan lengan kemeja digulung. Sebuah rak buku kecil terbaring di depannya. Salah satu penyangga patah setelah sore tadi tersenggol anak-anak, dan kini Rayhan memasang sekrup baru dengan obeng tangan agar tidak membangunkan mereka.

Kotak peralatan terbuka. Di sampingnya ada dua bagian mobil merah Alif yang sudah direkatkan.

Ponsel Rayhan tergeletak telungkup di lantai. Saat layar menyala karena notifikasi, Nadhira sempat melihat laporan keamanan yang mencatat jam ia keluar, rute menuju minimarket, dan waktu ia kembali. Di samping ponsel ada secangkir kopi yang sudah dingin dan tidak tersentuh.

Rayhan mengangkat kepala. "Suara saya membangunkan Anda?"

Nadhira menggeleng.

Rak itu bisa diperbaiki staf besok pagi. Mobil plastik murah itu bahkan bisa diganti seratus kali tanpa terasa bagi Rayhan. Namun, pria tersebut memilih duduk di lantai tengah malam, memperbaiki benda anak-anak satu per satu karena ia tidak bisa tidur setelah pertengkaran mereka.

Untuk pertama kalinya, kemarahan Nadhira tidak hilang, tetapi jarak di antara mereka terasa lebih rumit daripada sekadar pintu penjara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!