Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Di saat Bella sedang mengokohkan fondasi keamanan operasional di SMA Garuda, badai besar akhirnya menghantam markas Geng Serigala. Jumat sore, pukul 16:30 WIB. Pangkalan utama Geng Serigala berlokasi di sebuah bangunan bekas pabrik tekstil yang setengah hancur di pinggiran kota. Tempat itu selalu dipenuhi asap rokok tebal, grafiti kasar di dinding, dan aroma alkohol murahan. Siang itu, suasana di dalam pabrik terasa sangat pengap. Bukan karena cuaca, melainkan karena tensi psikologis yang mendidih hingga ke titik didih tertinggi.
Leo sang CEO Geng Serigala, berdiri di atas sebuah peti kemas kayu di tengah ruangan, memandang ke bawah ke arah sekitar empat puluh anggota gengnya yang berkumpul. Wajah tampan Leo yang dihiasi bekas luka terlihat sangat serius. Di tangannya, ia memegang selembar kertas yang berisi poin-poin. Toni berdiri di barisan paling depan, melipat tangannya di dada. Wajahnya ditekuk, matanya memancarkan rasa tidak hormat yang terang-terangan. Lengannya masih dibalut perban elastis akibat insiden di pelabuhan.
"Dengarkan baik-baik," suara bariton Leo bergema, menuntut keheningan mutlak dari pasukannya. "Aku telah mengevaluasi arah pergerakan kelompok kita selama setahun terakhir. Dan jujur saja, kita sedang berjalan menuju kehancuran. Tawuran, pemalakan anak SMP, mabuk-mabukan di jalanan... itu tidak menghasilkan apa-apa selain catatan kriminal dan permusuhan."
Suara gumaman protes mulai terdengar dari kerumunan, namun Leo mengangkat tangannya untuk membungkam mereka.
"Mulai hari ini, Geng Serigala akan mengubah operasinya," Leo mendeklarasikan kebijakan barunya yang terinspirasi langsung dari pertemuannya dengan Bella di mal tempo hari. Bella telah menunjukkan bahwa kepemimpinan terstruktur jauh lebih efektif dan menguntungkan daripada kekerasan acak.
"Kita tidak akan lagi memalak siswa sekolah lain atau warga sekitar. Kita akan menerapkan apa yang disebut Code of Conduct (Kode Etik). Fokus kita adalah melindungi wilayah kita, bukan menyerang wilayah orang lain. Jika ada yang ingin uang jajan, kita akan mencari pekerjaan sambilan menjaga parkir di pasar atau di acara-acara resmi secara legal. Kita akan mengubah rasa takut masyarakat menjadi rasa hormat. Siapa pun yang melanggar aturan ini, akan berhadapan langsung denganku."
Keheningan yang mencekam turun menyelimuti pabrik tua itu, para anggota geng saling berpandangan dengan kebingungan massal. Di otak mereka yang terbiasa dengan hukum rimba, kata 'bekerja legal' dan 'kode etik' terdengar seperti bahasa alien. Dan pada momen kritis itulah, bom waktu 'Karyawan Toksik' akhirnya meledak. Toni meludah ke tanah tepat di depan peti kemas tempat Leo berdiri, suara ludahan itu memecah keheningan dengan sangat provokatif.
"Kode Etik? Kerja legal? Jaga parkir kayak tukang ojek pengkolan?!" Toni tertawa keras, tawa sarkastis yang bergema di dinding beton pabrik. "Lo udah gila, Leo! Lo kesambet apa?! Oh... gue tahu. Lo abis dicuci otaknya sama si Bella, kan?!"
Mendengar nama Bella disebut, para anggota geng mulai berbisik-bisik panas. Leo menatap Toni dengan tatapan tajam yang siap membunuh. "Jaga bicaramu, Toni. Ini adalah keputusanku sebagai pemimpin. Dan tugasku adalah memastikan kalian semua tidak berakhir mati konyol di selokan atau membusuk di penjara."
"Pemimpin?" ejek Toni, melangkah maju hingga ia berdiri tepat di bawah peti kemas Leo. Ia menunjuk wajah Leo tanpa rasa takut sedikit pun. Ini adalah insubordinasi tingkat akhir. "Pemimpin sejati nggak bakal tunduk sama ancaman musuh! Lo takut sama ancaman polisi dari si Bella! Lo pengecut! Bone Breakerz udah ngehina kita di pelabuhan, mereka udah muter lengan gue, dan lo malah nyuruh kita jadi anak manis?! Geng Serigala itu ditakuti karena taringnya, bukan karena pakai dasi!"
"Jika taring itu mengancam nyawa kita sendiri, maka taring itu harus dicabut," balas Leo dingin, suaranya memancarkan otoritas yang berbahaya. "Jika kau tidak setuju dengan kebijakan baru ini, pintu pabrik ini terbuka lebar untukmu. Silakan keluar."
"Oh, gue emang bakal keluar," desis Toni dengan seringai buas. Ia menoleh ke belakang, menatap puluhan anggota geng yang sedang bimbang.
Toni mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Woy! Kalian semua denger sendiri kan?! Ketua kita udah jadi pengecut! Dia mau ngerubah kita jadi sekumpulan kacung penjaga parkir! Kita ini Serigala! Kita yang berkuasa di jalanan! Siapa yang masih punya harga diri, siapa yang masih mau dihormati dan ditakuti, ikut gue sekarang! Kita hancurin SMA Garuda, kita hancurin Geng Bone Breakerz, dan kita buktiin kalau Serigala yang asli nggak pernah tunduk sama kertas perjanjian sampah!"
Terjadi keributan besar di dalam pabrik tersebut. Idealisme rasional yang ditawarkan Leo berbenturan langsung dengan nafsu kekerasan dan ego remaja yang ditawarkan oleh Toni. Konflik memuncak saat Toni mulai menolak cara Bella dan Leo secara terang-terangan.
Secara perlahan namun pasti, kelompok itu terbelah dua. Sekitar lima belas orang faksi radikal yang selama ini selalu menjadi masalah dan paling sering masuk kantor polisi, berjalan menyeberang dan berdiri di belakang Toni. Sementara sisa anggota yang lebih loyal, lebih tua, dan lebih rasional tetap berdiri di tempat mereka, memihak Leo. Skisma Organisasi (Organizational Schism) baru saja terjadi.
Leo menatap kelima belas orang yang membelot itu dengan rahang terkatup rapat. Di satu sisi, insting primalnya ingin melompat turun dan menghancurkan wajah Toni saat itu juga. Namun, di sisi lain, otak rasionalnya yang baru saja terbangun oleh kata-kata Bella menyadari satu hal krusial. Toni baru saja membantunya membersihkan organisasi dari penyakit toksik (Purging), kelima belas orang itu adalah liabilitas, bukan aset.
"Bagus," kata Leo dengan suara datar, tanpa sedikit pun emosi. Ia menatap Toni layaknya menatap orang asing. "Mulai detik ini, kalian berlima belas bukan lagi bagian dari Geng Serigala. Aku mencabut perlindungan organisasiku dari kalian. Apa pun yang kalian lakukan di luar sana, itu adalah tanggung jawab pribadi kalian."
"Gue nggak butuh perlindungan pengecut," ludah Toni sengit. Ia berbalik, memimpin faksi pemberontaknya. "Ayo cabut! Malam ini, kita kasih pesan peringatan buat si bos HRD palsu itu. Kita bakal bakar aset sekolahnya. Biar Leo tahu, siapa yang pantas jadi raja jalanan yang sebenarnya."
Toni dan pengikutnya berjalan keluar dari pabrik tua itu, meninggalkan Leo dan sisa Geng Serigala dalam keheningan yang menyesakkan. Seorang anggota loyal mendekati Leo. "Bos... kita biarin mereka gitu aja? Kalau mereka nyerang SMA Garuda, si Bella bakal ngira kita yang ngelanggar perjanjian. Bella bisa ngelaporin kita ke polisi."
Leo menggeleng pelan. Ia mengeluarkan ponselnya.
"Bella tidak sebodoh itu. Manajer yang cerdas tahu cara membedakan antara kebijakan perusahaan dan tindakan indisipliner mantan karyawannya," jawab Leo. Ia membuka kontak Bella dan mengetikkan sebuah pesan peringatan (Early Warning Notification).
Leo: Toni dan 15 orang radikal baru saja keluar dari organisasiku. Mereka bukan lagi bagian dari Geng Serigala. Mereka berniat menyerang SMA Garuda malam ini. Lakukan tindakan pencegahan operasionalmu. Aku tidak akan ikut campur.
Satu kilometer dari sana atau lebih tepatnya di kamar Bella Anastasia, ponsel di atas meja bergetar pendek. Bella yang sedang menyusun draf proposal anggaran untuk Festival Pendidikan, melirik layar ponselnya. Ia membaca pesan dari Leo tersebut tanpa berkedip. Matanya menyipit, memproses data krisis yang baru saja masuk dengan kecepatan superkomputer.
"Dion," Bella memanggil wakilnya yang sedang duduk di karpet membaca komik.
"Ya, Bos?" sahut Dion, langsung meletakkan komiknya.
"Aktifkan Protokol Manajemen Krisis Tingkat 1 (Red Alert)," perintah Bella, suaranya sangat tenang namun memancarkan aura bahaya yang absolut. Ia menutup laptop-nya dan berdiri. "Karyawan toksik kompetitor baru saja di PHK massal, dan mereka sedang dalam perjalanan menuju institusi kita untuk melakukan perusakan aset (Sabotage). Hubungi Rindi, Tono, dan Bono. Kita akan melakukan Night Shift (Lembur Malam)."
Dion menelan ludah, darahnya berdesir cepat. Ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu. "Siap, Bos! Kita cegat mereka di gerbang sekolah?"
"Tidak. Kita tidak akan bertarung di lapangan terbuka. Kita akan menggiring mereka ke dalam sistem perangkap (Bottleneck Trap)," jawab Bella dengan senyum dingin layaknya predator sejati. "Mari kita ajarkan pada para pemberontak itu bahwa menentang manajemen adalah kesalahan fatal."
Malam itu, SMA Garuda akan menjadi medan pertempuran asimetris antara kekerasan brutal jalanan melawan strategi pertahanan korporat tingkat tinggi. Arc Manajemen Krisis resmi mengambil alih kendali cerita.