Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.
Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.
Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 16
Pagi ini adalah kali pertama dalam hidupnya menginjakkan kaki seorang diri di negara tetangga ini. Sebagai seorang illustrator yang biasa mendekam di dalam kamar, melangkah di atas trotoar daerah City Hall rasanya seperti masuk ke dalam halaman buku referensi visual yang hidup.
Raffles Hotel tempat mereka menginap terletak sangat strategis. Teringat ucapan Danu di telepon semalam, Kinan memutuskan untuk berjalan kaki menuju National Gallery Singapore. Ia sengaja menolak tawaran taksi dari resepsionis hotel. Lagipula, ngapain naik taksi kalau cuma beberapa menit jalan kaki, sambil menikmati angin pagi Singapura yang tanpa polusi? batinnya riang.
Begitu sampai di seberang gedung mata Kinan seketika berbinar.
"Wah... gila, keren banget," gumam Kinan takjub, langsung merogoh ponselnya untuk mengabadikan bangunan kuno yang dipadukan dengan struktur kaca modern tersebut.
Kinan melangkah masuk ke area lobi yang sejuk dan tenang. Saat berdiri di antrean loket tiket, ia merogoh tas selempangnya untuk mengambil dompet. Jemarinya tak sengaja menyentuh black card yang di berikan Arga.
Kinan menarik kartu itu keluar sejenak, menatapnya dengan senyum tipis.
Kartu ini emang dikasih Pak CEO sebagai bentuk tanggung jawabnya, pikir Kinan. Tapi ya kali cuma buat bayar tiket galeri sama minuman doang gue harus gesek black card? Tahu diri dikit lah, Kinan. Beli dan nikmati seni pakai uang hasil keringat sendiri rasanya lebih afdal!
Kinan memasukkan kembali kartu itu ke dalam tas, lalu mengeluarkan kartu pembayaran digital miliknya sendiri untuk membayar tiket masuk.
Begitu melangkah ke dalam ruang pameran, fokus Kinan teralihkan. Ia menyusuri lorong-lorong galeri dengan langkah perlahan, mengamati teknik pencahayaan, tekstur goresan kuas, hingga komposisi warna dari deretan lukisan para maestro Asia Tenggara.
Di sudut ruangan yang terlihat sepi, Kinan mendudukkan dirinya di bangku, bersandar santai, lalu mengeluarkan buku sketsa miliknya. Ia mulai menggoreskan pensil, mencatat detail ide latar untuk referensi proyek miliknya. Ia benar-benar terlarut dalam dunianya sendiri.
Saking terlarutnya dalam goresan pensil dan ketenangan museum, Kinan sampai lupa waktu. Beberapa lembar kertas sketsanya kini sudah dipenuhi oratan garis cepat, mencatat gestur pengunjung yang lalu-lalang, pencahayaan dari langit-langit kaca, hingga sudut arsitektur klasik galeri.
Saat Kinan sedang mengagumi salah satu poster pameran khusus di lorong utama, matanya mendadak tertahan pada sebuah banner besar bergambar promosi acara mendatang. Di sana, terpampang wajah seorang wanita yang begitu familier di papan iklan internasional.
Natasha Vanya.
Aktris papan atas Indonesia yang wajahnya belakangan sering wira-wiri di film-film box office dan brand ambassador perhiasan kelas atas. Di poster itu, Natasha tampak sangat memesona dengan gaun malam dan riasan yang semakin membuatnya tampak cantik, menjadi sorotan utama sebagai tamu kehormatan untuk acara red carpet pameran mendatang.
Kinan mengerjap pelan, memandangi poster itu sambil memiringkan kepalanya.
"Ckckck... buset, cakep banget ini orang," gumam Kinan pelan seraya mengagumi proporsi wajah dan struktur tulang sang aktris. "Garis rahangnya dapet banget, pencahayaannya makin bikin kelihatan elegan. Kalau digambar di tablet pasti kelihatan mewah dan hidup banget."
Bzzzt... Bzzzt...
Tepat saat jari Kinan hendak menekan tombol kamera, ponsel di genggamannya bergetar. Panggilan masuk menampilkan nama.
Pak CEO.
Eem... Handphonenya udah di aktifin lagi? Alis Kinan terangkat. Ia membatalkan niat mengambil foto, lalu menggeser layar untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Pak CEO?" sapa Kinan santai, menjadikan alunan musik instrumental lembut di galeri menjadi latar belakang suaranya.
Di seberang sana, Pria itu baru saja menyelesaikan sesi checking laporan di laptopnya. Ada jeda dua detik sebelum suaranya terdengar di speaker ponsel Kinan.
"Kamu di mana sekarang?" tanya Arga tanpa basa-basi, bernada formal seperti biasa.
"Di galeri seni, Pak. Sesuai izin tadi pagi," sahut Kinan santai sambil menyandarkan bahunya ke pilar dinding. "Ada apa, Pak?"
"Tidak," potong Arga cepat, seraya menatap layar laptopnya. "Saya hanya memastikan kamu sampai di lokasi dengan aman dan tidak tersesat."
Kinan terkekeh pelan. "Aman, Pak CEO. Jalan kaki dari hotel cuma beberapa menit, trotoarnya mulus banget. Rugi kalau nggak jalan kaki sambil cuci mata."
"Terserah kamu," sahut Arga dingin. "Lalu, kartunya bisa digunakan?"
"Oh, kartu sakti Bapak?" Kinan merogoh tasnya sekilas. "Aman kok, masih utuh di dalam tas. Saya belum pakai sama sekali."
Arga menghentikan ketukan jarinya di meja. "Kenapa? Saya sudah bilang gunakan kartu itu untuk kebutuhan kamu. Jangan menyulitkan diri sendiri."
"Nggak menyulitkan kok, Pak CEO," balas Kinan santai. "Tiket galeri doang mah masih masuk budget dompet saya. Lagian ini kan buat hobi pribadi saya, bukan acara formal keluarga. Saya pegang kesepakatan kita kok, urusan pribadi tanggung sendiri. Kartu Bapak saya simpan baik-baik buat keadaan darurat aja."
Jawaban santai yang sangat memegang teguh batasan dan kesepakatan itu membuat Arga bungkam sesaat di seberang telepon.
Arga merapikan kerah kemejanya, berusaha mengembalikan nada suaranya agar tetap terkontrol. "Terserah kamu. Yang penting jangan pulang terlalu sore. Jika butuh apa-apa, hubungi saya."
"Siap, Bos," goda Kinan riang, lalu menambah celetukan. "Bapak lanjut kerja aja, dan jangan kaku-kaku amat mukanya waktu ngetik. Nanti makin cepet tua."
"Kinan..."
Klik.
Sambungan diputus sepihak oleh Kinan sebelum Arga sempat menanggapi godaannya.
Sementara itu di galeri, Kinan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dengan senyum tipis. Ia melirik sekilas lagi ke arah poster Natasha Vanya di dinding, lalu merapihkan kembali tasnya.
Kinan kembali menyusuri galery sebelum akhirnya keluar dengan perasaan sangat puas. Niat awalnya adalah kembali berjalan kaki menuju Raffles Hotel sambil mencari tempat jualan es krim potong khas Singapura di pinggir jalan.
Namun, kepalanya yang penuh imajinasi visual, perhatian Kinan sangat mudah teralihkan. Ketika melihat gang-gang kecil dengan dinding penuh mural warna-warni dan bangunan bergaya kolonial yang estetik, kakinya otomatis melangkah mengikuti rasa penasaran.
Ia memotret mural, memperhatikan detail pintu bangunan tua, hingga akhirnya menyusuri lorong demi lorong tanpa sadar bahwa ia telah melangkah terlalu jauh dari jalur utama City Hall.
Tiga puluh menit berlalu.
Kinan menghentikan langkahnya di depan sebuah persimpangan jalan yang terasa asing. Di sekelilingnya kini bukan lagi gedung-gedung besar yang tadi ia lewati, melainkan deretan kafe-kafe kecil dan pertokoan bernuansa vintage.
"Lho... ini gedung tinggi yang tadi di mana, ya?" gumam Kinan sambil memutar badannya 360 derajat.
Ia merogoh ponselnya untuk membuka aplikasi peta digital. Namun, layar ponselnya justru menampilkan ikon sinyal yang menyilang.
"Aduh, ini sinyal kenapa malah ngilang," Kinan terkekeh pada dirinya sendiri, sama sekali belum panik.
Kinan mencoba berjalan beberapa ratus meter lagi sambil mencari plang jalan atau stasiun MRT terdekat, tetapi makin melangkah, pemandangan di sekitarnya malah makin tidak familier. Matahari Singapura mulai bergerak makin rendah.
Di kamar hotel, Arga menatap jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul lima sore. Pria itu menghentikan ketukan jarinya di atas papan ketik laptop, lalu menatap jendela luar. Hari mulai sore, dan Kinan belum memberi kabar sama sekali sejak telepon diputus sepihak tadi siang.
Arga meraih ponselnya, berniat mengirimkan pesan singkat.
Bzzzt... Bzzzt...
Tepat saat itu, layar ponselnya menyala menampilkan panggilan masuk dari Kinan. Arga langsung menggeser layar dan menempelkannya ke telinga.
"Kamu di mana? Ini sudah hampir malam," tegur Arga langsung.
Di seberang sana, terdengar hembusan napas Kinan diselingi tawa kecil yang agak canggung.
"Anu... Pak CEO. Saya mau tanya..."
Dahi Arga berkerut. "Tanya apa?"