Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.
"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”
Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.
***
"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.
Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.
Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.
"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSA 16
Hanan menggendong Rosa menuju kamar mereka di lantai dua. Pria itu sama sekali tak membiarkan istrinya berjalan sendiri, meski sudah diprotes berkali-kali.
Amelia merosot di sofa, memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut. Lagi-lagi dia yang disalahkan atas kejadian yang menimpa Rosa. Sesuatu yang juga tak bisa dia kendalikan.
Gadis itu kembali teringat dengan benda yang dicarinya. Sekelebat ingatan muncul saat dia bertukar nomor ponsel dengan Ilyas. Dia tanpa ragu menghubungi nomor sang perawat.
“Halo, Ilyas. Maaf mengganggumu. Ini mungkin terdengar sepele, tapi apa kamu melihat gantungan kunci di rumah sakit. Bentuknya manusia salju, tapi sudah sangat lusuh.” Amelia mendeskripsikan benda yang sedari tadi dia cari.
“Oh, tidak masalah. Aku memang menemukan gantungan kunci, tapi sudah kuberikan pada pria yang berada di ruangan yang kamu jaga. Apa dia tidak memberikannya padamu?”
Kalimat Ilyas membuat Amelia berpikir untuk sesaat.
“Bagaimana penampilan pria itu?” Amelia takut jika yang diberikan boneka itu oleh Ilyas adalah Jetro. Dia akan dalam masalah.
“Tunggu sebentar, biar ku ingat-ingat. Rambutnya hitam kecokelatan, tatapannya tajam, dan dia sepertinya memiliki tanda lahir di lehernya. Aku kira dia sudah mengembalikan gantungan kunci itu padamu.”
Mas Hanan?
Amelia diliputi kelegaan dan kecemasan sekaligus mendengar ciri-ciri yang disebutkan oleh Ilyas mirip seperti Hanan. Dia lega karena bukan Jetro yang mendapatkannya, tapi tetap cemas karena dia kebingungan bagaimana cara menanyakan itu pada Hanan.
Amelia mondar-mandir hingga sore hari dan memutuskan mendatangi Hanan untuk bertanya langsung. Pria itu melewati Amelia yang masih berada di ruang tamu.
“Tunggu.”
Langkah Hanan berhenti dan dia menoleh pada Amelia dengan alis menukik tajam.
“Apa seorang perawat memberikan gantungan kunci padamu? Itu milikku. Bisakah aku mendapatkannya kembali?”
“Tidak.” Hanan menjawab tanpa pikir panjang. Langkahnya kembali berlanjut, tapi Amelia menghadangnya.
“Tapi Ilyas bilang dia memberikan gantungan kuncinya padamu. Aku hanya memintanya kembali. Kumohon. Bentuknya manusia salju dan sudah usang. Benda seperti itu tidak mungkin membuatmu tertarik, ‘kan?” Amelia dengan keras kepala berdiri di depan Hanan.
“Oh, benar. Benda murahan dan kotor itu. Aku sudah membuangnya,” ucap Hanan ringan.
“Kamu buang di mana?”
Hanan menyipitkan matanya melihat reaksi gelisah Amelia yang terlalu jelas.
“Di mana lagi? Tentu saja di tempat sampah.”
Amelia melirik ke sana ke mari dan matanya tertuju pada tempat sampah di ujung ruang tamu. Tanpa ragu tangannya mengacak-acak sampah sampai menemukan gantungan kunci itu. Meski sudah ternoda oleh saus makanan, Amelia tak ragu memegangnya.
Hanan menatap jijik kelakuan Amelia dan menghampirinya.
“Apa kau sudah gila? Mengacak-acak sampah seperti gelandangan.” Hanan menarik kasar Amelia agar berdiri.
“Memangnya kenapa? Apa itu mengganggumu? Aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku.” Amelia menghempas kasar tangan Hanan yang berada di lengannya.
“Benda kotor itu kau bahkan bisa mendapatkan yang lebih baik. Mengapa kau memeliharanya? Apa itu dari seseorang yang begitu penting untukmu?” Hanan terpancing dan menatap Amelia dengan gejolak emosi yang kuat.
“Iya! Benda ini diberikan oleh orang kucintai. Apa kamu memiliki masalah dengan itu? Aku lebih menghargai benda kotor ini dari pada apa pun di bumi.” Amelia membalas tatapan tajam Hanan.
Dia berlalu pergi sebelum emosinya kian memuncak karena jika saat itu terjadi maka yang dia lakukan mungkin hanya menangis alih-alih marah.
Hanan tak sempat mencegah kepergian Amelia, meski dia ingin. Itu karena emosinya membeku oleh suara Amelia yang pertama kalinya meninggi saat berbicara dengannya. Dan satu hal lagi yang membuatnya terdiam.
“Benda ini dari orang yang kucintai.”
“Dia pasti bercanda, ‘kan?” Hanan tertawa sinis.
Dia tak percaya bahwa Amelia memiliki sosok yang disukai, terlebih lagi selama ini dia tahu bahwa gadis itu diam-diam menyimpan rasa untuknya. Tidak mungkin ada orang lain di luar sana yang berhasil menarik perhatiannya.
Mengingat gantungan kunci lusuh itu, harusnya benda itu sudah lama berada di tangan Amelia. Kalau pun benar itu dari orang yang dicintainya, harusnya itu sudah bertahun-tahun lamanya.
Hanan mengepalkan tangannya erat.
“Tidak. Mengapa aku merasa tak nyaman dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Amelia. Kenapa aku harus memikirkannya?”
Terlepas dari benar atau tidaknya, Hanan tak suka saat gadis itu membalas tatapan tajamnya dengan kalimat tadi.
“Sial.”
***
“Ini semua karenamu. Aku melewatkan hari pernikahan Amelia dan sekarang harus terjebak di tempat busuk ini bersamamu.”
Kanaya mendumel kesal. Kakinya melangkah cepat dengan tiap entakkan keras membentur tanah basah di bawahnya. Wajah cantik itu tertekuk menampilkan raut cemberut yang tak dapat disangkal telah mencapai level maksimal.
“Jika kamu terus mengomel dengan suara langkah yang keras, para bajingan itu mungkin akan langsung menyadari keberadaan kita.”
Sosok pria tetap di belakang Kanaya merespons santai. Langkahnya tampak lebar, tapi teratur dengan jarak yang konsisten dari gadis di depannya.
Kanaya melirik sinis ke belakang tanpa memberikan tanggapan lebih. Diam-diam meminimalkan suara yang bisa ditimbulkan agar tidak menimbulkan kecurigaan dari komplotan orang-orang busuk yang mengincar mereka.
Semuanya berawal dari pria bernama Asta yang muncul secara tiba-tiba dan membawanya pergi. Pria itu bisa dikatakan memiliki banyak akses di kehidupan Kanaya karena secara ikatan Asta adalah tunangannya.
“Sebenarnya untuk apa kau membawaku pergi? Aku harus menghadiri pernikahan Amelia lusa nanti. Jangan macam-macam.”
Di mata Asta, Kanaya selalu seperti kucing kecil yang bersikap garang pada orang asing. Cakar dan taringnya selalu mencuat, tapi sayangnya tak membuatnya takut.
“Rumahmu memiliki pengkhianat yang berkeliaran, mereka telah memasang peledak di beberapa bagian rumah. Orang tuamu memintaku membawamu pergi sampai kondisi di sana aman.”
“Apa?” Kanaya tercekat untuk sesaat. Laku kepanikan melandanya. “Bagaimana dengan Ayah dan Bunda?”
“Tenang saja. Semua sedang diatasi oleh keluargamu, tapi kamu tidak bisa terus berada di sana untuk sementara.” Asta merespons sementara tangannya sibuk mengendalikan setir mobil.
“Sampai kapan kita harus melakukan pelarian ini? Aku sudah bilang aku harus menghadiri pernikahan Amelia lusa nanti.” Kanaya mendadak gusar.
“Sepertinya tidak bisa dalam beberapa hari ini. Tenang saja, aku sudah mengatakannya pada Amelia dan dia mengerti.” Asta melakukan manuver di belikan tajam.
“Tidak bisa. Aku harus datang ke acara sahabatku. Orang-orang itu pasti akan menganiayanya. Tidak bisa dibiarkan.”
Asta menghela napas pelan. “Pilih mana, kamu menghadiri acara pernikahan sahabatmu itu, tapi akan membuatnya terancam oleh orang-orang yang mengincar keluargamu saat ini atau membiarkan acaranya berlangsung tanpamu?”
Kanaya terdiam. Diminta memilih di antara dua pilihan itu membuatnya kesulitan memilih, tapi bukankah dia ingin hadir ke acara Amelia untuk melindunginya. Jika kehadirannya justru menambah ancaman, akan sia-sia niatnya itu.
Gadis itu membuang muka ke arah jalan. Dengan berat hati harus merelakan acara sahabatnya itu.
“Berjanjilah untuk membawaku bertemu Amelia setelah situasi aman.”