NovelToon NovelToon
Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: S.Lintang

⚠️⚠️

Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.

⚠️⚠️

~•~

Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -

Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Selama pelajaran berlangsung, Zayna duduk di sebelah Disty karena Zaffar yang tidak masuk sekolah.

Sudah pasti Zaffar masih berada di rumah sakit, makanya tidak sekolah.

Sekarang, kelas sudah sepi, hanya tersisa mereka berdua karena murid lainnya sudah pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka.

"Lo tau nggak sih, dua hari kemarin Zaffar juga nggak masuk sekolah. Dan hari ini juga belum," ucap Zayna pada Disty yang menggambar di buku kosong tapi telinganya juga tetap mendengarkan.

"Gue yakin banget sih kalo dia pasti masuk rumah sakit lagi, kayak dulu_ pas pertama kali Zaffar gangguin lo dan Javeno ngamuk sampe buat dia masuk rumah sakit karena patah tulang juga kan. Heran nya, Zaffar sering dapat amukan dari Javeno sampe buat dia bolak-balik masuk rumah sakit, tapi nggak pernah jera buat gangguin lo," lanjut Zayna semakin heboh bercerita.

"Apa dia beneran suka sama lo ya? Terus Javeno juga suka sama lo, makanya dia ngelindungi lo dari Zaffar_ bukan dari Zaffar aja sih, dari semua orang yang coba dekat sama lo."

"Tapi ya Dis, di banding Zaffar, gue lebih setuju lo sama Javeno. Ya walaupun Javeno jauh lebih serem dan bahaya sih dari Zaffar. Tapi juga_ kalo bisa enggak sama dua-duanya sih. Tapi kalo lo suka sama salah satunya, lo suka sama siapa?"

"Gue."

Zayna langsung berdiri saat mendengar suara dingin Javeno yang tiba-tiba menyahut. Sudah berdiri di dekat meja urutan nomor dua. Wajah Zayna langsung pucat pasi, ia panik serta takut.

Sedangkan Disty tidak mengangkat pandangan, ia tetap menggambar di bukunya.

"E-eh.. sorry Jav. Gue nggak bermaksud," ucap Zayna cepat-cepat menjelaskan dengan nada yang gugup.

Javeno diam, tatapannya tajam menusuk dengan wajah datar yang dingin.

"G-gue ke kantin duluan ya Dis."

Bahkan saat bicara pada Disty pun, Zayna masih gugup lalu ia segera keluar dari kelas. Meninggalkan Disty bersama Javeno.

Javeno yang sekarang sudah menghampiri, duduk di sebelah Disty yang masih tetap menggambar.

"Gimana?" tanya Javeno dingin.

"Apanya?" tanya Disty santai, ia tidak merasa berbuat salah kan? Jadi ia masih bisa santai saja untuk menyiapkan apa yang sedang ia kerjakan sekarang ini.

"Pilih siapa?" tanya Javeno ingin tau jawaban dari mulut Disty langsung.

"Kamu udah jawab tadi," kata Disty semakin fokus untuk menyelesaikan gambar yang ia bikin.

"Versi kamu."

"Samain aja!"

"Dis!" geram Javeno.

Oke, Disty menyimpan buku dan pensil nya, lalu menatap sepenuhnya pada wajah tampan ini.

"Kamu," jawab Disty lebih jujur dari apa pun.

"Kenapa?" Javeno menatap mata Disty yang memang tidak ada kebohongan di sana.

Disty mengidikkan bahunya. "Kamu bahaya, tapi aku udah terlanjur nyaman dan ngerasa aman walaupun kamu sendiri adalah tempat yang paling berbahaya untuk aku," jawabnya.

"Permisi Kak."

Seorang siswa masuk, mengantar nampan berisi satu burger, seporsi kentang goreng, dan air mineral pesanan Javeno. Seperti biasa, setiap hari selalu ada siswa yang mengantar atas suruhan Javeno.

Siswa itu pergi setelah mendapat bayaran dari Javeno.

Disty mengambil burger nya dan mulai menggigit satu gigitan. Mengunyah nya lalu menyodorkan pada Javeno juga.

"Satu gigitan aja," kata Disty.

"Nggak," tolak Javeno menjauhkan tangan Disty dari hadapannya.

Disty diam, melanjutkan memakan burger, sesekali akan memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya juga.

Pipi Disty gembung karena terisi penuh oleh burger dan kentang goreng.

Javeno mengusap lembut pipi gembul itu.

"Zayna.. menurut kamu bagaimana?" tanya Javeno.

Disty menoleh. "Kenapa tiba-tiba? Kamu suka dia?" tanyanya spontan.

Javeno mendengkus lalu menggeleng.

"Dia cerewet," jawab Disty kembali memasukkan kentang ke dalam mulut.

"Kamu kesepian?"

Disty menoleh lagi. Jujur ini pertama kalinya Javeno bertanya seperti ini.

Disty mengangguk pelan. "Iya, tapi kalau dia ada, rasa sepi nya sedikit berkurang. Karena dia selalu punya bahan random untuk dia ceritain, walaupun aku cuek dan nggak pernah respon dia."

"Kamu mau berteman sama dia?"

Uhuk..

.. uhuk..

Disty mengambil air mineral yang sudah di buka, meminum nya dengan cepat hingga habis. Bahkan muka nya sampai memerah cuma karena pertanyaan Javeno barusan.

"Kamu...?"

Disty merasa ada yang berbeda dengan Javeno. Tapi ini terlalu tiba-tiba untuk dirinya.

"Jawab," ucap Javeno lembut tapi penuh tuntutan.

"Kamu kasih izin emang?" tanya Disty.

Sedikit, Javeno melihat secercah harapan di dalam mata Disty.

"Hanya di sekolah, nggak berlebihan.. tapi tetap bukan untuk merespon cowok lain," kata Javeno dingin.

Disty menggeleng. "Tunggu! Ini kamu beneran? Kasih izin aku berteman?" tanyanya.

"Cuma Zayna," jawab Javeno dingin.

"Gapapa," sahut Disty senang, sebelum ia merubah raut wajahnya.

"Tapi Zayna nggak bakal luka kan? Kamu nggak akan buat dia kayak Melinda dulu kan?" tanya Disty waspada.

"Nggak berlebihan, dan selama dia masih ada di dalam batas wajar. Dia aman," jawab Javeno membuat senyum Disty mengembang.

"Kamu serius?" tanya Disty sekali lagi.

Javeno mendatarkan mukanya. "Aku tarik...."

"Eh jangan! Enggak!" potong Disty dengan cepat lalu ia memeluk Javeno dengan bahagia.

~•~

Sekolah hari ini berjalan lancar sampai selesai. Dan setelah mendapat izin bisa berteman dengan Zayna, Disty belum memulai nya.

Tapi Disty sudah mulai merespon sedikit demi sedikit ocehan Zayna, dan Zayna? Gadis itu senang.

"Jalan ke parkiran bareng?" tawar Zayna sambil memakai tas nya.

Disty berdiri dan mengangguk. "Ayo," katanya singkat.

Zayna senang, dan mereka berdua keluar dari kelas dengan Zayna yang selalu cerewet dan berusaha mengajak Disty bicara.

Disty akan menanggapi sesekali, tidak semuanya.

Sampai langkah mereka berdua berhenti karena Zaffar.

Ya, Zaffar berdiri di depan Disty. Dengan mukanya yang jauh dari kata baik. Bahkan bibir Zaffar yang sebelumnya pecah dan penuh darah itu masih bengkak tapi sudah mulai membaik.

Belum sempat Zaffar bicara kalau dirinya merindukan Disty, Javeno sudah lebih dulu datang tanpa suara dan langsung merangkul pinggang Disty. Membawa Disty pergi dari hadapan Zaffar yang mengepalkan tangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!