NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 16 : PECAHNYA KESEPAKATAN DI TEPI JALAN

Deru mesin mobil sedan mewah milik Raditya Evan Baskara membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan sedang setelah mereka meninggalkan badai deklarasi di rumah keluarga Baskara. Di dalam kabin mobil yang ber-AC dingin itu, keheningan yang amat pekat mendadak mendominasi. Radit fokus menatap lurus ke depan, kedua tangannya mencengkeram lingkar kemudi dengan urat-urat tangan yang masih tampak sedikit menegang karena emosi yang tertahan. Sementara di kursi penumpang sebelah kiri, Kalea Azzahra Putri duduk mematung. Matanya yang berwarna biru jernih menatap kosong ke arah luar jendela kaca yang gelap, melihat gedung-gedung tinggi yang berputar menjauh.

Otak Kalea saat ini serasa mau pecah memikirkan rentetan kejadian gila yang baru saja menimpa hidupnya. Mulai dari dihina sebagai anak haram oleh mamanya Natasha di depan calon ibu mertua palsunya, diusir tanpa belas kasihan oleh Ambarwati, hingga puncaknya—pernyataan nekat Radit yang secara sepihak mengumumkan akan menikahinya tanpa restu, bahkan melabelinya sebagai "cinta pertama".

Suasana sunyi yang menyiksa itu akhirnya membuat Kalea tidak tahan lagi. Dia menarik napas panjang demi mengumpulkan keberanian, lalu membalikkan tubuh mungilnya menghadap ke arah posisi duduk Radit.

Ehem!

Kalea berdehem dengan sengaja, memecah keheningan di antara mereka berdua. "Mas Radit... kamu bisa pinggirkan mobil ini sebentar tidak? Aku butuh penjelasan sekarang juga!" tuntut Kalea dengan nada suara yang diusahakan tetap tegas dan ketat laksana seorang manajer hotel, meskipun di dalam dadanya jantungnya sudah berdegup kencang secara tidak karuan.

Radit tidak menghentikan laju mobilnya. Pria berusia 29 tahun itu hanya melirik Kalea sekilas dari sudut mata elangnya, lalu sebuah senyuman tipis yang sangat menawan perlahan terukir di bibirnya, memperlihatkan sepasang lesung pipinya yang dalam secara samar. "Aku sedang menyetir, Kalea. Kalau kamu mau penjelasan, bicara saja sekarang. Telingaku tidak tersumbat."

"Jangan bercanda, Mas Radit!" ketus Kalea sambil mengepalkan tangannya di atas pangkuan, sifat bar-barnya kembali menyala karena merasa dipermainkan. "Maksud kamu tadi di rumah itu apa, hah?! Kenapa kamu tiba-tiba bilang ke Mommy kalau kamu akan menikahi aku dalam waktu dekat?! Kesepakatan taruhan satu minggu kita kemarin di kafe kan cuma mengharuskan aku menjadi pacar pura-pura kamu! Kenapa sekarang jalurnya malah melompat jauh jadi pernikahan?! Apa otak jenius doktermumu itu mendadak konslet setelah rahangmu dipukul oleh Mas Fandi tadi?!"

Radit memutar setir mobilnya perlahan, berbelok memasuki jalur area perumahan yang lebih sepi dan teduh di bawah rimbunnya pepohonan kota. "Otakku masih berfungsi dengan sangat sempurna, Kalea. Bahkan jauh lebih genius daripada yang kamu bayangkan," jawab Radit dengan nada suara bariton yang sangat tenang, datar, dan santai tanpa beban seolah dia tidak baru saja memicu perang dunia di rumahnya sendiri.

"Lalu kenapa kamu bicara sekonyol itu di depan Mommy-mu, hah?!" cecar Kalea lagi, matanya yang biru menatap lurus ke dalam manik mata Radit penuh tuntutan. "Kamu juga pakai bilang kalau aku ini... aku ini cinta pertama kamu! Bualan macam apa itu?! Kita ini baru kenal beberapa hari, dan setiap kali bertemu kita selalu adu mulut seperti kucing dan anjing! Jangan membuat karangan cerita yang terlalu berlebihan hanya demi menolak perjodohan dengan Natasha!"

Radit perlahan-lahan menginjak pedal rem, menepikan mobil mewahnya dengan sempurna di bawah sebuah pohon pelindung yang rindang di pinggir jalan yang sunyi. Dia mematikan transmisi mobil, melepaskan sabuk pengamannya, lalu membalikkan seluruh tubuh jangkungnya menghadap lurus ke arah Kalea.

Jarak di antara mereka di dalam kabin mobil yang sempit itu mendadak mengikis. Radit menopang tangan kanannya di atas sandaran kursi Kalea, menundukkan kepalanya sedikit hingga mata elangnya mengunci seutuhnya sepasang netra biru jernih milik Kalea dari jarak dekat.

"Kalea... apakah wajahku saat ini kelihatan seperti seorang pria yang sedang membuat bualan palsu?" tanya Radit dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat rendah, dalam, dan dipenuhi oleh hembusan napas hangat maskulin yang langsung menyerpa permukaan kulit wajah Kalea.

Kalea tertegun membeku di tempat duduknya, refleks memundurkan punggungnya hingga menempel erat pada sandaran kursi mobil. Jantungnya mendadak berdegup dengan ritme yang tiga kali lebih cepat dari biasanya laksana genderang perang yang bertalu-talu. "K-Kenapa kamu malah menatapku seperti itu?! Jawab saja pertanyaanku!" gugup Kalea dengan sapuan warna merah merona yang mulai menjalar di kedua pipi mulusnya.

Radit justru terkekeh sangat tipis, sebuah tawa renyah yang terdengar begitu merdu di telinga Kalea. Sifat jahil dan humoris sarkastiknya mendadak bangkit melihat kepanikan wanita tegas di depannya ini. Radit memajukan wajah tampannya satu senti lebih dekat, menatap lekat ke arah bibir ranum Kalea yang sudah sembuh total. "Dengar, Kalea. Pilihan saya berubah dari pacar pura-pura menjadi pernikahan karena situasi di rumah tadi sudah tidak bisa dikendalikan menggunakan kontrak biasa. Mommy saya tidak akan pernah berhenti mengejar saya dengan Natasha jika status kita hanya sebatas sepasang kekasih yang bisa putus kapan saja. Apalagi... setelah Tante Larasati membawa rumor sampah tentang status silsilah keluargamu di depan Mommy."

Mendengar kata "rumor sampah tentang status silsilah keluarga", binar mata biru Kalea mendadak meredup, digantikan oleh kilatan luka batin yang sangat dalam. Dia menundukkan kepalanya, meremas ujung blazernya dengan erat. "Kamu... kamu tidak malu ya, Mas Radit? Kamu seorang Direktur Utama, dokter bedah genius, keluargamu terhormat... tapi kamu malah nekat mau menikahi perempuan yang dicaci orang sebagai anak haram seperti aku? Kamu tidak takut reputasimu hancur?"

Meninggalkan sejenak ego kaku yang biasa dia tunjukkan, Radit menatap mata biru itu lekat-lekat. Sebersit rasa hangat yang aneh bercampur empati yang mendalam mendadak merayap di lubuk hati Radit yang paling dalam. Pria berusia 29 tahun yang selama ini dikenal buta akan cinta dan kaku laksana batu es itu perlahan-lahan mengulurkan tangan kirinya yang besar dan hangat.

Jari-jemari Radit yang kokoh bergerak lembut menyelip di bawah dagu Kalea, mengangkat wajah cantik wanita itu dengan kelembutan yang luar biasa agar mata biru mereka kembali bersitatap secara langsung.

"Kalea, tatap mata aku," perintah Radit dengan nada suara yang tidak lagi kaku, melainkan bertransformasi menjadi sangat lembut, tulus, dan menenangkan.

Kalea mendongak pasrah, terhanyut oleh kehangatan sepasang mata elang Radit yang menatapnya dengan intensitas yang sangat dalam.

"Dengar baik-baik, karena aku tidak akan mengulangi kalimat ini untuk kedua kalinya," ucap Radit, tatapan matanya mengunci jiwa Kalea seutuhnya. "Bagi seorang Raditya Evan Baskara, status sosial, silsilah darah, atau caci maki orang di luar sana tentang dirimu sama sekali tidak memiliki nilai sepeser pun di mataku. Yang aku lihat saat ini adalah seorang Kalea—wanita tangguh, mandiri, dan berjiwa baja yang berani menampar pipiku di parkiran rumah sakit, wanita yang matanya berwarna biru seindah hamparan langit malam, dan wanita yang entah sejak kapan... sudah berhasil meruntuhkan seluruh kekakuanku hanya dalam waktu satu minggu."

Radit mengelus pelan pipi kemerahan Kalea menggunakan ibu jarinya, mengirimkan getaran romantis yang luar biasa manis hingga membuat napas Kalea mendadak tercekat di tenggorokan. "Kalimatku di rumah tadi tentang kamu adalah cinta pertamaku... itu bukan bualan untuk membohongi Mommy, Kalea. Itu adalah sebuah kebenaran yang baru aku sadari saat melihatmu diserang dan ditampar oleh keluargamu sendiri di tepi kolam renang tadi. Aku tidak tahan melihatmu terluka. Aku ingin melindungimu, aku ingin membelenggu takdirmu bersamaku untuk selamanya melalui sebuah pernikahan yang sah. Jadi... berhentilah berpikir kalau kamu adalah aib, karena di mataku, kamu adalah bidadari yang sesungguhnya."

DEG! DEG! DEG!

Mendengar untaian kalimat puitis, jujur, dan sangat romantis yang keluar langsung dari mulut pria sedingin Radit, seluruh pertahanan ego Kalea runtuh berhamburan. Dadanya bergemuruh hebat laksana digulung badai asmara yang luar biasa dahsyat.

Di dalam hatinya, Kalea menjerit frustrasi merutuki kondisi fisiknya sendiri. "Ya Allah... Jantung murahan!!! Kenapa kamu bisa berdetak sangat kencang dan liar seperti ini hanya karena ucapan dokter sombong ini?! Tenanglah, Kalea! Jangan sampai kamu terlihat salah tingkah di depan pria menyebalkan ini!" batin Kalea panik sambil sekuat tenaga menahan debaran di dadanya.

Radit yang memiliki kepekaan tinggi sebagai seorang dokter langsung menyadari perubahan ritme napas Kalea yang memburu serta rona merah di wajah cantiknya yang semakin menebal seperti buah tomat matang. Sebuah senyuman jahil yang sangat menawan kembali terukir lebar di bibir tampannya, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam secara sempurna.

Radit menarik kembali tangannya dari dagu Kalea, lalu bersandar kembali pada kursinya sambil terkekeh geli. "Wah, lihat itu. Manajer hotel kita yang biasanya bar-bar dan suka berteriak lantang, sekarang kenapa mendadak diam membeku seperti patung lilin begitu? Wajahmu merah sekali, Kalea. Jangan-jangan... jantungmu saat ini sedang berdegup sangat kencang karena terpesona oleh ketampanan suami masa depanmu ini?" goda Radit dengan nada meledek yang sangat menyebalkan.

Kalea langsung tersentak kaget dari lamunannya, sifat keras kepala dan salah tingkahnya meledak seketika untuk menutupi rasa malunya yang sudah mencapai ubun-ubun kepala. Dia memukul lengan kekar Radit dengan tas jinjing kecilnya dengan gemas. "Heh! Dokter Sombong! Narsis sekali kamu ya! Siapa juga yang terpesona dengan pria kaku sepertimu?! Jantungku berdetak kencang karena aku sedang menahan emosi menghadapi kelicikanmu, tahu?!" bentak Kalea dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan untuk menutupi kegugupannya.

"Hahaha, benarkah begitu?" goda Radit lagi, matanya mengerling jenaka sengaja terus memprovokasi Kalea yang sedang salah tingkah setengah mati. "Kalau begitu, kenapa matamu dari tadi tidak bisa berhenti menatap lesung pipi saya, Kalea? Mengaku saja, pesona seorang Dokter Radit memang terlalu sulit untuk ditolak oleh wanita mana pun, termasuk kucing liar sepertimu."

"Iihh! Raditya Evan Baskara!!! Diam tidak kamu?! Atau aku melompat turun dari mobil ini sekarang juga!" ancam Kalea sambil melotot tajam, bersiap meraih gagang pintu mobil dengan wajah yang semakin merona merah padam, membuat Radit kembali tertawa lepas memenuhi ruang kabin mobil dengan kehangatan tawa mereka berdua.

Namun, tawa Radit mendadak terhenti ketika Kalea kembali menatapnya dengan rahang mengeras. Sisi emosional yang terluka dan harga diri yang tinggi kembali menguasai pikiran wanita berhijab itu. Kehangatan yang sempat singgah langsung dihancurkan oleh fakta bahwa rencana ini sudah melanggar batasan kesepakatan tertulis mereka.

"Tapi tidak, Mas Radit. Aku menolak!" suara Kalea mendadak berubah menjadi sedingin es. "Aku tidak mau menikah denganmu! Rencana pernikahan kilat besok pagi ini sama sekali tidak sesuai dengan kesepakatan awal kita di kafe!"

Radit mengernyitkan dahi, matanya memancarkan ketidakpercayaan. "Kalea, jangan konyol. Ini demi keselamatanmu dan reputasiku. Pernikahan ini jalan keluar mutlak."

"Jalan keluar buatmu, bukan buatku!" tantang Kalea dengan napas memburu. "Kesepakatannya hanya menjadi pacar pura-pura! Bukan mengikat diriku dalam pernikahan nyata secara hukum dan agama! Aku tidak sudi menjual status pernikahanku hanya untuk menjadi tameng pelindung dari kebohonganmu di depan Mommy mu!"

Radit menyandarkan tubuhnya kembali pada kursi kemudi, wajah tampannya berubah menjadi sangat kaku dan sedingin es, kembali ke mode Direktur Utama yang kejam. "Dengar baik-baik, Kalea. Jangan mencoba memancing emosi saya di sini. Kamu lupa kalau utang seratus delapan puluh juta rupiahmu itu belum lunas sepeser pun hari ini? Jika kamu menolak, setelah saya menyalakan mobil ini kembali, saya akan langsung menyuruh pengacara saya memproses laporan perusakan barang mewah ke kantor polisi! Karir hebatmu di Hotel Grand Luminance akan hancur dalam semalam saat kamu meringkuk di dalam sel tahanan!"

Mendengar ancaman hukum yang berulang kali digunakan Radit untuk memojokkannya, Kalea menarik sudut bibirnya, tersenyum sangat sinis dan penuh dengan tatapan meremehkan tepat di depan wajah Radit.

"Silakan, Mas Radit yang terhormat," desis Kalea dengan suara rendah yang tajam. "Laporkan aku ke polisi sekarang juga. Panggil pengacaramu, jebloskan aku ke penjara paling gelap sekalipun! Aku tidak takut! Bagiku, menjadi tahanan di balik jeruji besi jauh lebih terhormat dan bebas, daripada harus dipaksa menjadi istri sewaan dari pria sombong, egois, dan licik yang suka memanfaatkan penderitaan orang lain seperti kamu!"

Cklek!

Kalea melepaskan sabuk pengamannya dengan gerakan kasar, lalu dengan cepat membuka pintu kemudi penumpang dan melangkah turun ke atas aspal jalanan yang sepi.

"Kalea! Sialan, kembali ke dalam mobil sekarang!" bentak Radit, matanya membelalak kaget melihat kenekatan wanita itu.

Kalea tidak memedulikan teriakan itu. Dia membanting pintu mobil Radit dengan sangat keras (BAM!), lalu berjalan cepat setengah berlari di atas trotoar, membelakangi mobil mewah tersebut dengan air mata kemarahan yang akhirnya lolos membasahi pipinya. Dia merasa sangat terhina dijadikan alat tawar-menawar atas takdir hidupnya.

Radit mengumpat kasar, langsung mematikan mesin, dan melompat turun dari mobilnya. Dengan langkah kakinya yang panjang, dia berlari mengejar Kalea. Hanya dalam beberapa detakan jantung, tangan kanan Radit yang besar berhasil mencengkeram kuat pergelangan tangan Kalea dari belakang, menghentikan langkah kaki wanita itu secara paksa di bawah terik matahari.

"Lepaskan aku, Dokter!!! Jangan berani-berani menyentuhku lagi dengan tangan kotormu?!" teriak Kalea histeris, berbalik dan mencoba menghempaskan tangan Radit dengan sekuat tenaga.

"Saya tidak akan melepaskanmu sebelum kamu kembali masuk ke dalam mobil, Kalea!" bentak Radit dengan suara menggelegar, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap. "Jangan bersikap bar-bar dan kekanak-kanakan di pinggir jalan seperti ini! Kamu harus memikirkan masa depanmu!"

"Masa depanku adalah urusanku, bukan urusan pria bajingan seperti kamu!" balas Kalea dengan parau, mata birunya berkilat penuh amarah yang menyayat hati. "Aku memang tidak punya uang seratus delapan puluh juta sekarang, dan aku memang dicaci semua orang sebagai anak haram! Tapi bukan berarti kamu bisa mengatur dan menginjak-injak harga diriku dengan memaksaku masuk ke dalam pernikahan kontrak sialanmu itu! Hubungan gila kita selesai hari ini! Aku akan cari pinjaman ke tempat lain, jadi stop meneror hidupku?!"

Radit mematung, menatap lekat ke dalam manik mata biru Kalea yang sedang bergetar hebat menahan badai air mata dan luka batin yang teramat sangat mendalam. Keberanian dan ketegasan Kalea yang menolak tunduk pada ancaman hukumnya justru mengirimkan hantaman getaran asmara yang jauh lebih kuat ke dalam dada Radit, mengunci jiwanya untuk menolak melepaskan wanita berhijab ini dari jalinan takdir hidupnya ke depan.

...****************...

Sementara badai emosi sedang meledak di pinggir jalan antara Radit dan Kalea, atmosfer yang tidak kalah mencekam justru sedang mengurung ruang keluarga kediaman Wijaya. Kepergian Radit yang menggandeng paksa Kalea keluar dari rumah tadi meninggalkan keheningan yang berat, sebelum akhirnya pecah menjadi histeria baru.

Fitri Amelia Wijaya berdiri di tengah ruangan dengan napas yang memburu kesetanan. Air matanya mengalir deras, menghancurkan silsilah ketenangan yang biasa dia miliki sebagai seorang Dokter Spesialis Jantung. Matanya yang merah menatap lurus ke arah Shinta Kirana Wijaya yang sedang duduk di sofa sambil berpura-pura menangis terisak-isak.

"Shinta! Jawab pertanyaan Mbak sekarang juga!" teriak Fitri dengan suara melengking yang bergetar hebat penuh kepedihan. "Apakah benar apa yang dikatakan anak haram itu tadi?! Kamu... kamu benar-benar berselingkuh di belakang Mbak bersama Mas Fandi selama tiga tahun ini?! Jawab, Shinta?!"

Sarah Wijaya yang duduk di samping Shinta langsung terlonjak kaget, wajah paruh bayanya memucat sempurna mendengar nominal waktu yang disebutkan. "Astagfirullah, Fitri! Jaga bicaramu! Kenapa kamu malah menuduh adik kandungmu sendiri setelah mendengar bualan dari anak pembawa sial itu?! Shinta tidak mungkin melakukan hal serendah itu!"

Shinta yang kelicikannya sudah mendarat di tingkat tertinggi langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisannya sengaja dikeras-keraskan agar terdengar sangat menderita. "Hiks... Mbak Fitri tega sekali menuduh Shinta seperti itu! Demi Allah, Mbak, Kak Kalea itu cuma memfitnahku karena dia kesal! Dia sengaja mengarang cerita menjijikkan itu supaya Mbak Fitri membenciku dan mengalihkan perhatian Papa dari kelakuan gatelnya yang tadi menggoda Mas Fandi di tepi kolam!"

Shinta menurunkan tangannya, menatap Fitri dengan pandangan mata yang dibuat seolah-olah dia adalah korban kelaliman yang paling suci. "Mbak tahu sendiri kan dari dulu Kak Kalea selalu iri melihat kebahagiaan kita? Dia benci melihat Mbak Fitri sukses jadi dokter dan punya suami mapan, dia juga benci melihat Shinta sukses jadi influencer! Makanya dia memakai kedatangan Dokter Radit tadi untuk membuat sandiwara seolah-olah dia ditindas, padahal dia yang ular yang sesungguhnya di rumah ini!"

Di saat yang bersamaan, Fandi Achmad Mahendra melangkah masuk ke ruang keluarga setelah membersihkan sisa darah di sudut bibirnya akibat pukulan di kamar tadi. Pipinya yang kiri tampak merah padam, bekas tamparan keras yang dia terima dari Fitri saat mereka berada di dalam kamar sebelum turun ke bawah. Fandi berjalan dengan langkah kaku, langsung mengambil posisi berlutut di bawah kaki Fitri, mencoba memasang wajah paling memelas yang bisa dia buat.

"Fitri... sayang, tolong dengarkan Mas," panggil Fandi dengan suara yang bergetar penuh kepalsuan. Tangan kanannya mencoba meraih jemari Fitri, namun Fitri sempat menarik tangannya menjauh dengan pandangan ragu. "Apa yang dikatakan Shinta itu seratus persen benar! Kalea itu wanita iblis yang sangat licik! Dia yang terus-menerus memanggil Mas ke kamarnya, dia yang menggoda Mas dengan pakaian tidurnya yang kurang ajar itu! Mas bersumpah demi apa pun, Mas menolak karena Mas cuma cinta sama kamu, Fitri! Kejadian di hotel kemarin sore itu... Mas cuma tidak sengaja berpapasan dengan Shinta yang sedang ada kerjaan pemotretan di sana, kami tidak melakukan apa-apa! Kalea sengaja memutarbalikkan fakta di depan Dokter Radit untuk menghancurkan rumah tangga kita!"

Sarah yang mendengar kesaksian kompak dari Shinta dan Fandi langsung berdiri dengan wajah memerah murka, meluapkan seluruh kebenciannya kembali kepada nama Kalea. "Tuh, kan! Apa Mama bilang, Fitri! Anak haram itu memang benar-benar iblis pembawa sial! Dia sudah merusak kedamaian rumah ini, sekarang dia malah berani memfitnah Shinta berselingkuh dengan kakak iparnya sendiri! Benar-benar darah kotor yang tidak tahu adat! Untung saja tadi Papa tidak memukulnya sampai mati!"

Sementara perdebatan di antara para wanita itu terus berkecamuk dengan dialog yang panas dan menguras emosi, Hermawan Wijaya hanya duduk membisu di sofa tunggal sudut ruangan. Pria paruh baya itu bersandar kaku, kedua tangannya bertautan di depan dada. Wajahnya sangat datar, kaku, dan matanya menatap kosong ke arah lantai marmer tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hembusan napas panjang yang berat berkali-kali keluar dari lubuk dadanya, menunjukkan bahwa dia sedang memikul beban misteri masa lalu yang mendadak terusik akibat pertanyaan Kalea tentang status kelahirannya semalam. Dia memilih diam, tidak membela Shinta ataupun menyalahkan Kalea.

Fitri menatap lurus ke dalam manik mata adiknya, Shinta, mencoba mencari celah kebohongan di sana. Sebagai seorang dokter yang terbiasa membaca raut wajah pasien, hatinya saat ini benar-benar hancur dan dipenuhi oleh kabut keraguan yang luar biasa besar. Dia tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah antara aduan Kalea yang bermata biru jernih atau tangisan histeris adik bungsunya yang manja ini.

"Shinta... Mas Fandi... kalau sampai aku tahu kalian berdua benar-benar membohongi aku di rumah ini," ucap Fitri dengan suara parau yang sangat dingin, menahan air matanya agar tidak kembali tumpah. "Aku bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaanku sebagai dokter untuk memastikan hidup kalian hancur."

Mendengar ancaman dari istrinya, Fandi tidak kehilangan akal. Dengan gerakan yang sangat lambat penuh taktik manipulasi yang biasa dia gunakan selama tiga tahun ini, Fandi berdiri dari berlututnya. Dia langsung melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling tubuh Fitri, memeluk erat istrinya dari belakang meskipun Fitri sempat memberontak pelan.

"Mas tidak akan pernah membohongimu, Fitri sayang," bisik Fandi dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat manis, romantis, dan penuh rayuan maut tepat di dekat telinga Fitri. Dia menundukkan kepalanya sedikit, lalu mendaratkan sebuah ciuman lembut yang cukup lama di pipi kanan Fitri yang basah oleh air mata. "Kamu istri Mas yang paling hebat, seorang dokter spesialis jantung yang terhormat dan cantik. Mana mungkin Mas berpaling pada anak haram atau wanita mana pun di luar sana? Cuma kamu pemilik hati Mas yang sesungguhnya."

Fitri memejamkan matanya rapat-rapat, napasnya yang tadi memburu perlahan-lahan mulai melunak akibat sentuhan manis dan ciuman manipulatif dari suaminya yang sangat pandai mengambil hati tersebut. Benteng kecurigaannya mendadak goyah kembali, tertutup oleh rasa cinta yang buta.

Di sudut sofa, Shinta yang menyaksikan bagaimana Fandi memeluk mesra dan menciumi pipi kakaknya sendiri demi menyelamatkan diri, langsung memalingkan wajahnya sedikit ke arah lain. Sebuah dengusan sinis yang sangat tipis dan dipenuhi rasa muak yang mendalam keluar dari bibirnya. Di dalam hatinya, Shinta merasa sangat dongkol melihat kepalsuan Fandi yang sedang merayu Fitri di depannya, namun dia terpaksa menahan diri agar sandiwara mereka untuk menyudutkan Kalea tetap berjalan dengan sempurna tanpa tercium oleh ibunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!