Ada sebuah kepercayaan pada legenda 'pamali' di kampung kebun jeruk nipis. yang dimana para gadis yang belum menikah dilarang keluar malam hari, duduk di depan pintu, potong kuku malam hari, gunting rambut pas malam hari.
Namun ada, sekelompok remaja yang melanggar aturan itu dan berujung malapetaka bagi dirinya sendiri. Dari mereka diganggu setan di rumah sampai dibuat tersesat di hutan belakang rumah.
Apakah Anda bisa menyelesaikan pamali yang telah mereka langgar dan pergi dari pamali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
“Gua tau lu mau ngasih tau sesuatu, tapi gpp nanti kalau sudah nemu kata yang pas lu bisa langsung kasih tau kita. Biar kita langsung ceritain ke pak Yanto juga nanti nya”
Tutur Farhan dengan lembut menepuk pundak sahabat nya itu.
“Mumpung masih ada waktu nih, dah yuk kita Mabar mobile legend dulu gak sih?” Tanya Dimas sudah siap siaga memegangi ponsel nya.
‘nah, kan apa gua bilang? Bener nih tebakan gua. Ini bocah mau begadang karena ada mau nya’ Farhan hanya bisa menghela nafas panjang melihat tingkah sahabatnya itu.
Berbeda dari farhan yang hanya diam mendengar ocehan Dimas, bagas justru malah menerima ajakan Dimas itu.
“Oke, gasss lah. Udah lama banget nih kita bertiga ga Mabar game. Mana gua masih epic lagi dari awal main sampai sekarang”
“Mungkin karena Hero kita di udah di nerf sama moonton” ucap Bagas mengeluarkan ponselnya, bersiap login masuk ke mobile legend.
“Bisa jadi sih, kan di moonton setiap ada Hero yang terlalu enak dipakai pasti langsung di nerf habis habisan atau kalau gak skill nya di nerf biar gak nendang lagi”
sahut dimas begitu semangat, ia menunjukan Hero yang baru baru ini nerf oleh moonton ke Bagas.
Sedangkan itu ada satu orang yang memperhatikan kedua nya dengan ekspresi kesal, siapa lagi kalau bukan Farhan.
“Yah, lu berdua main nya masih pada kek cupu bro. Masih nob parah, gimana mau pindah sampai ke glory coba. Main Hero nana tapi skill nya yang biasa dipakai Hilda. Kan gak ngotak”
kesal Farhan yang akhirnya ngoceh panjang lebar, lalu tersenyum kikuk di akhir kata.
Mendengar itu Bagas dan dimas hanya bisa terkekeh kecil sambil menggaruk kepala mereka yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
“Yaudah kalo gitu ajarin kita main biar pro gamer” kata Dimas dengan tersenyum kecil.
“Oke, ayolah. Dari tadi dong ngajak nya” sambar Farhan langsung mengeluarkan ponselnya juga dan login masuk ke dalam aplikasi mobile legend.
Detik demi detik berlalu, ketiga nya sudah cukup mengantuk untuk bermain game lagi. Ditambah suasana malam ini cukup tenang walaupun ada sedikit gangguan kecil tadi.
Tapi selama mereka bersama sama, semua akan terasa mudah bagi mereka.
“Udah ngantuk berat ini gua, kalau gitu gua bangunin pak Yanto dulu yah” ujar Farhan ia hampir tidak kuat menahan beban kepala nya sendiri, karena sangking ngantuknya.
Bagas dan dimas yang sama sama ngantuk hanya bisa mengangguk kecil saja,
Dengan hati hati Farhan menepuk-nepuk pundak pak Yanto, agak sedikit kuat agar cepat bangun.
Dan pak Yanto pun terbangun, saat membuka mata nya ia dapat melihat mata Farhan sudah merah, pertanda dia butuh istirahat.
“Ouhh, bapak paham. Sekarang giliran bapak yang jaga. Kalian sekarang sudah bisa tidur. Nih bantal sama selimut kalau dingin”
Bagas, Farhan dan dimas langsung merebahkan badannya di karpet berbulu lebat yang cukup hangat.
Tidak butuh waktu lama untuk mereka bertiga tertidur pulas. Melihat itu pak Yanto hanya bisa tersenyum kecil.
Namun saat pak Yanto menolehkan pandangannya ke arah kiri, nafasnya tertahan di tenggorokan nya.
Sampai membuat bulu kuduknya merinding.
Karena terlihat jelas sebuah tulisan, yang nampak nya ditulis oleh dari dan bertuliskan “Joko”
Pak Yanto langsung mengerjapkan matanya berkali-kali, namun apa yang ia lihat benar benar nyata. Bukan halusinasi nya karena ia baru bangun tidur.
“Sepertinya terjadi sesuatu tadi saat mereka bertiga yang berjaga, mungkin besok siang saja akan saya tanyakan langsung ke mereka”
“Tapi kenapa harus Joko yang ditulis namanya disitu, mana pake darah lagi. Kalau manusia gak mungkin, kan ini di lantai dua terlalu tinggi untuk tangga sekalipun” pak Yanto terdiam sejenak.
Melihat kejadian itu ia rasa ada yang tidak beres dengan murid cowok nya ini, namun pak Yanto tidak bisa main langsung tuduh begitu saja tanpa bukti nyata.
__________________________________
Entah sudah berapa lama Alfin dan bunga bersembunyi di dalam, yang pasti kini kondisi mereka sudah memprihatinkan.
Keduanya mengalami gejala yang aneh, bunga dehidrasi parah, matanya bengkak, tangan nya membiru seperti es.
Sedangkan Alfin matanya memerah seperti habis mandi air yang dikasih pewarna merah. Lalu kedua tangan serta mulut nya terus mengeluarkan asap, seolah seperti dibakar api.
“Gua bener bener gak kuat banget, ini dingin banget ya Allah” bunga meringkuk bersandar pada bahu Alfin, mencari kehangatan.
“Gua juga gak kuat bunga, ini panas banget” Alfin hanya bisa memandangi kosong ke depan. Ada sebuah percikan penyesalan yang tubuh di hati nya.
Namun seperti kata pepatah nasi sudah jadi bubur, apa yang sudah diperbuat harus dipertanggungjawabkan.
“Bentar, gua liat itu sosok udah pergi belum yah. Semoga aja sudah pergi yah, biar kita bisa pulang” bunga hanya mengangguk kecil, tenaga nya sudah terkuras habis untuk semua kejadian yang terjadi.
Alfin dengan hati hati menggeser semak belukar itu, pandangan nya dengan pelan mengamati sekitar dengan perasaan deg-degan.
“Alhamdulillah, sudah aman bunga. Ayo keluar. Gua percaya habis ini kita bakal keluar dari sini”
Alfin dengan cekatan memapah bunga membantu sahabat nya itu berjalan, dengan luka di telapak kaki nya yang mungkin kini sudah semakin parah.
Ditambah pecahan kaca itu belum dikeluarkan dari telapak kaki bunga, membuat nya berjalan tertatih tatih.
Mereka berjalan dengan begitu pelan dan melihat gubuk tua itu masih ada seperti saat mereka baru pertama kali kesini.
Namun saat mereka hendak melangkahkan kaki kembali, Alfin mendengar suara langkah kaki.
Membuat nya dilanda perasaan takut. “Lu denger suara gak?”
“Enggak denger, tapi gua cium ada aroma bau amis yang bercampur baur kemenyan, bunga melati dan jeruk” jawab bunga.
Keduanya dengan kompak mempercepat langkahnya. “Masuk ke gubuk aja, biar aman. Yang penting kita jangan nginjek itu sesajen nya”
“Oke” Alfin dan bunga dengan cepat membuka pintu gubuk tua itu dan berjalan masuk kedalam melangkahi sesajen.
“Maaf yah bukan bermaksud jelek, izin berlindung yah. Kami hanya ingin berlindung dengan aman” gumam bunga menutup pelan pintu gubuk hingga tertutup rapat.
“Kita jangan berisik kalau gak nanti ketahuan” bisik bunga memperingatkan Alfin.
“Oke” balas Alfin dengan berbisik, ia melangkahkan kakinya dengan gerakan yang penuh perhitungan agar tidak menimbulkan suara yang mungkin bisa menarik perhatian sosok itu.
“Ternyata luas juga yah gubuk nya, padahal dari luar itu kecil. Bukan mau menghina yah, maaf” bisik Alfin mengamati setiap sudut bagian dalam gubuk tua ini.
“Iya, yah emang dari luar kelihatan kecil ternyata di dalam cukup luas” bunga dengan menahan rasa sakit di kaki ia mengikuti Alfin.
Dan saat suasana begitu hening, suara langkah kaki itu perlahan mendekat ke arah gubuk, bersamaan dengan bau amis yang bunga cium tadi.
Alfin langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah bunga, memberikan isyarat agar ia tetap diam. Melihat itu bunga mengangguk kecil, menutup mulut nya rapat rapat dengan tangan kanannya.