Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.
Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.
Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.
Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hubungan Gelap
Waktu menunjukkan pukul 20.30 menit. Gilang baru saja memarkirkan mobilnya di basement lantai 7 apartemen. Satu lantai di bawah apartemennya yang ada di lantai 8. Dia habis berkunjung ke rumah salah seorang kerabatnya sepulang kantor tadi.
Dia bergegas turun dari mobil, ingin segera menyegarkan tubuhnya yang terasa penat setelah seharian beraktivitas di kantor dan berkunjung ke rumah kerabatnya. Meskipun ia sempat mandi di kantor sebelum pulang sore tadi, rasanya tetap terasa kurang afdol kalau tidak membersihkan tubuh lagi sebelum beristirahat.
Saat ia keluar lift dan berbelok ke lorong apartemen, tiba-tiba ia mendengar percakapan yang menarik perhatiannya.
"Papih nggak bisa lama-lama temani kamu, Bella."
"Iya, iya, Udah ditungguin Nyonya di rumah, kan?"
Suara dua orang yang sedang berbincang itu sangat familiar di telinga Gilang, apalagi ketika sebuah. nama disebut, hingga ia menghentikan langkahnya dan membalikkan badan, mengintip ke arah dua orang tadi berasal dari.
Gilang terhenyak hingga netranya membulat, ketika pandangannya mendapati sosok Bella dan Pak Satria yang berdiri di depan lift dengan sangat mesra.
"Mereka? Sedang apa mereka di sini?" Gilang sampai mengerjapkan matanya, khawatir dirinya salah melihat. Namun, Bella dan Pak Satria masih tetap ada di tempat yang sama.
"Ya sudah, Papih pulang dulu."
"Hati-hati, Pih. Muaacchh!"
Tangan Gilang mengepal. Dadanya tiba-tiba saja terasa bergemuruh melihat adegan mesra antara Bella dan Pak Satria.
"Mereka sedekat itu?" Gilang sampai tercengang lalu menghela nafas dalam-dalam. kemudian kembali mengintip. Kali ini Pak Satria sudah tak tampak dari pandangannya, hanya Bella yang berjalan menjauh.
Gilang memperhatikan Bella yang memakai pakaian tidur celana pendek, sehingga memperlihatkan paha dan betis mulusnya.
Rahangnya mengeras, matanya memicing. menatap lekat Bella hingga akhirnya menghilang dari pandangannya.
"Apa Bella tinggal di apartemen ini? Kenapa mereka sangat intim seperti itu? Apa mereka punya hubungan spesial?" Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak Gilang, seakan tak percaya dengan peristiwa yang baru ia lihat tadi.
Hingga malam menjelang, pikirannya masih terusik dengan kedekatan Bella dengan Pak Satria. Sama sekali tak terlintas dalam pikirannya akan bertemu Bella dan Pak Satria dengan keadaan seperti itu.
Gilang tak berpikir jika Bella adalah anak Pak Satria, sebab setahunya anak Pak Satria bernama Kathy. Justru pikiran buruk lah yang kini menghinggapi otak Gilang terhadap mereka berdua.
Sebelumnya ia sudah merasakan keanehan, ketika Pak Satria meminta dirinya mempekerjakan Bella sebagai sekretaris. Kala itu, ia justru mengira kalau Pak Satria mengirim Bella untuk memata-matai dirinya atau ditugaskan untuk menggoda dirinya. Namun, ternyata pak Satria dan Bella sendirilah yang mempunyai hubungan rahasia.
"Apa mungkin Pak Satria hanya memanfaatkanku?" Gilang juga berpikir, jika dirinya hanya diperalat Pak Satria untuk menutupi hubungan gelap Pak Satria dengan Bella, dengan menyodorkan putri Pak Satria untuk dijodohkan dengannya.
"Sial! Harusnya aku sadar dari awal, nggak mungkin Pak Satria begitu saja menjodohkan putrinya denganku. Jadi ini alasan yang sebenarnya?!" Gigi Gilang bergemerutuk saling menggigit, menyadari dirinya telah dimanfaatkan.
Dia juga teringat tentang cerita Bella yang mengatakan resign dari pekerjaannya dulu karena istri bosnya cemburu.
"Pantas saja istri bosnya dulu cemburu, kalau dia bersikap seperti itu. Atau jangan-jangan mantan bosnya itu Pak Satria?" Gilang berspekulasi dengan tebakannya.
Gilang memijat keningnya. Benar-benar di luar dugaan, seorang Satria Wijaya, pengusaha ternama yang selama ini sangat dihormati dan mempunyai reputasi yang baik ternyata menyimpan sisi gelap yang bisa menjadi suatu skandal, yang akan mencemarkan nama baik juga reputasi Pak Satria sendiri. Dan Gilang merasa dirinya akan terlibat dalam skandal itu.
***
Mood Gilang hari ini tampak buruk, akibat kejadian yang ia lihat semalam antara Bella dan Pak Satria. Bukan karena merasa cemburu, tapi merasa tertipu. Dia tidak ingin dijadikan alat untuk melancarkan hubungan gelap antara Bella dan Pak Satria.
Bahkan ketika melewati Bella, Gilang tak menoleh apalagi membalas sapaan Bella.
"Pagi, Pak."
Gilang terus melangkah, seakan tak menganggap keberadaan Bella, padahal ia berjalan melintasi meja Bella.
Kening Bella seketika berkerut mendapatkan sikap acuh tak acuh Gilang padanya.
"Eh, dia kenapa?" Bella bingung melihat sikap Gilang yang pagi ini tampak beda dari hari-hari sebelumnya. Tapi, dia tak ingin ambil pusing dan terus melanjutkan pekerjaannya.
Sementara dalam ruangan kerjanya, Gilang menatap Bella dari jendela. Dia masih menyayangkan sikap Belka yang begitu mesra pada Pak Satria. Sejujurnya ia mengagumi sosok Bella, sejak pertama kali bertemu. Dia melihat Bella sebagai sosok wanita yang percaya diri dan humble. Tak mengira, jika Bella tak lebih dari seorang wanita simpanan, laki-laki yang usianya lebih cocok menjadi ayah Bella.
Gilang mendengus kasar lalu melangkah ke arah mejanya. Dia ingin menegur Bella, tapi ia menghormati Pak Satria yang memiliki saham cukup banyak di perusahaannya. Dia benar-benar merasa galau menghadapi masalah ini.
***
Jimmy berada di ruangan Gilang untuk melaporkan beberapa hal penting yang bersangkutan dengan perusahaan.
"Bos, kau tahu berita yang sedang hangat beredar di seputar pegawai kantor ini?" Setelah urusan pekerjaan yang ia laporkan selesai, Jimmy seperti hendak bercerita pada Gilang, karena ia yakin Gilang akan tertarik dengan berita yang akan ia sampaikan.
"Kau ditugaskan di sini untuk bekerja bukan untuk mendengarkan gosip!" balas Gilang dengan nada sinis. Sampai siang hari, mood Gilang masih belum berubah.
"Ini soal Bella, Bos." Walaupun Gilang tak antusias terhadap kabar yang ingin ia sampaikan, Jimmy tetap membahas soal gosip tentang Bella pada bosnya.
Gilang melirik ke arah Jimmy. Tepat seperti dugaan Jimmy, Gilang langsung bereaksi ketika nama Bella disebut. Namun, Gilang tak menanyakan atau berkata sepatah kata pun menanggapinya.
"Kau harus cepat bertindak, Bos! Jangan sampai rumor ini semakin kencang terdengar dan sampai di telinga Pak Satria!" ujar Jimmy kembali.
Kedua mata Gilang memicing, membuat alisnya hampir bertautan, ketika nama pak Satria pun disebut oleh Jimmy.
"Ada apa?" Hanya dua kata itu yang terucap dari bibir Gilang dengan nada dingin.
"Kemarin di kantin ada kejadian heboh, katanya ada yang menyebarkan gosip, kalau Bella itu ada main dengan Pak Satria. Kau paham maksudnya, kan?" Jimmy menjelaskan soal gosip yang beredar tentang Bella dan Pak Satria. "Kau harus segera mengambil tindakan, Bos! Jangan sampai rumor ini terus berkembang! Ini bisa membahayakan hubungan kerjasama antara perusahaan kita dengan Pak Satria, apalagi kau ini 'kan jangan menantunya Pak Satria," ujar Jimmy dengan rasa khawatir.
Gilang menghempas nafas panjang seraya menyandarkan punggungnya di kursi. Satu tangannya memijat pelipis, karena gosip yang beredar itu baru saja ia pergoki semalam.
"Kau tahu, Jim? Bella itu ternyata tinggal di apartemen yang sama denganku." Gilang yang awalnya tak ingin bercerita tentang pertemuannya dengan Bella dan Pak Satria pada Jimmy, akhirnya memilih untuk bercerita. Karena biasanya dia memang selalu bercerita banyak hal pada Jimmy, baik urusan perusahaan ataupun masalah pribadi.
"Hahh? Serius, Boss? Di unit berapa dia tinggal?" Jimmy sangat antusias mengetahui Bella ternyata tinggal di apartemen yang sama dengan bosnya.
"Aku lihat dia semalam bersama Pak Satria." Tak menjawab pertanyaan Jimmy, Gilang justru menceritakan apa yang dilihatnya semalam. "Mereka berdua begitu akrab dan mesra, saling berangkulan dan berciuman." Dengan nada berat Gilang memaparkan adegan romantis antara Bella dan Pak Satria, yang ia duga mereka berselingkuh.
"Astaga! Jadi rumor itu benar?" Jimmy sampai melongo hampir tak percaya.
❤️❤️❤️
Bersambung ....
bakal makin gencar gak nih Bella menggoda Gilang setelah dengar cerita Jimmy😁
.