Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16.
Mulai malam ini Zira berencana menempati unit apartment tersebut. Ia pamit pada Reni, dan Reni pun tidak keberatan. Lagipula, tempat tinggal mereka masih berdekatan.
Jujur, Zira sedikit bingung. Bagaimana tidak, Semalam kata Reni apartemen tersebut baru di beli oleh pemiliknya dua hari lalu namun furniture di dalamnya terbilang lengkap, ada tempat tidur, lemari, peralatan memasak di dapur, bahkan sampai untuk perlengkapan mandi pun terbilang lengkap. Dan yang lebih anehnya lagi menurut Zira, pemilik apartemen mengizinkan dirinya menggunakan semua fasilitas tersebut. Tentunya semua itu di sampaikan oleh petugas resepsionis tadi. Berhubung saat ini kondisi perekonomiannya sedang sulit, Zira pun menerimanya dengan senang hati tanpa menanyakan alasan mengapa pemilik apartemen begitu baik terhadap penyewa.
Dengan dibantu oleh Reni, Zira menyusun pakaiannya yang tidak seberapa itu ke dalam lemari besar yang berada di dalam kamar apartemen.
"Kamu sangat beruntung, di saat sulit seperti ini Tuhan mengirimkan orang baik untuk membantumu, Zira."
"Kamu benar. Siapapun pemilik apartemen ini, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya, karena beliau telah bermurah hati membantuku." Balas Zira membenarkan ucapan Reni.
"Baiklah, kalau begitu aku balik dulu. Sekarang sudah malam, sebaiknya kamu pun segera beristirahat!." Setelah selesai membantu Zira merapikan pakaiannya, dan mereka juga telah makan malam beberapa saat lalu, Reni pun akhirnya pamit untuk kembali ke unit apartemennya.
Zira mengangguk. "Btw, terima kasih banyak untuk semuanya."
"Kamu ini tidak habis-habisnya mengatakan terima kasih. Ya sudah, kalau begitu aku pamit." Reni pun berlalu meninggalkan apartemen Zira.
*
"Memangnya hal apa yang ingin kamu sampaikan, Lexi?." Tanya Daddy. Waktu telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, namun Lexi justru meminta mereka semua berkumpul di ruang tengah.
"Aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku berniat melamar seorang wanita untuk dijadikan istri."
"Benarkah?." Pengakuan Lexi seperti mimpi bagi mommy sambungnya. Pasalnya, setelah dua puluh delapan tahun usia pemuda itu, ini pertama kalinya ia membahas tentang calon istri. Kantuk mommy bahkan langsung lenyap begitu saja saat mendengarnya.
"Leon jadi penasaran. Memangnya siapa wanita beruntung itu, mas?." Sang adik pun ikut bertanya saking penasarannya.
"Untuk saat ini aku belum bisa mengungkapkan identitas calon istriku. Nanti, setelah lamaranku diterima, aku pasti akan memberitahukan kepada kalian semua siapa wanita itu."
Daddy, Mommy, dan juga Leon kompak mengangguk paham, tidak keberatan jika memang untuk saat ini Lexi belum siap mengungkapkan identitas calon istrinya.
"Hanya itu saja yang ingin aku sampaikan." Tutur Lexi sebelum sesaat kemudian berlalu menuju garasi mobilnya. Entah hendak kemana perginya pria itu di jam segini, baik Daddy, Mommy, terlebih Leon, tak berani untuk bertanya.
*
"Aku ada di bawah." Zira mengernyit saat membaca pesan singkat yang baru saja masuk ke aplikasi hijau miliknya. Pesan singkat dari kontak tidak dikenal.
Zira menyingkap gorden jendela apartemennya untuk melihat ke bawah. Betapa terkejutnya ia melihat keberadaan Lexi berdiri bersandar di samping mobilnya seraya menatap ke arah jendela kamarnya.
Dengan perasaan kesal, Zira melakukan panggilan telepon ke nomor kontak yang barusan mengirim pesan kepadanya. Nomor yang diyakini oleh Zira adalah nomor kontak Lexi.
"Bagaimana anda bisa tahu kalau saya tinggal di gedung ini?." Begitu panggilan tersambung Zira langsung mencecar Lexi.
"Tidak penting bagaimana aku bisa tahu. Sekarang sebaiknya kamu turun dan temui aku!." Setelahnya, Lexi langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu respon apapun lagi dari Zira.
Awalnya Zira enggan menemui Lexi, namun mendengar pria itu terus membunyikan klakson mobilnya, dengan perasaan kesal bercampur geram akhirnya Zira turun untuk menemui pria itu.
"Apa saat sekolah dulu anda tidak diajarkan sopan santun?." Kesal Zira.
"Terima kasih atas pujiannya." Lexi mengulas senyum yang justru terlihat menjengkelkan di mata Zira. Wanita itu mendongakkan kepala, menatap berang pada pria dengan tinggi badan seratus sembilan puluh sentimeter tersebut.
"Maaf sudah mengganggu waktu istirahat kamu. Sebenarnya maksud dan tujuan saya ke sini ingin menyampaikan sesuatu padamu." Sejenak, Lexi menjeda kalimatnya, sementara Zira memilih tak menyela karena sadar bahwa Lexi masih ingin melanjutkan kata-katanya.
"Aku ingin menikahi mu."
"Apa anda sudah tidak waras?." Kedua bola mata indah milik Zira nyaris keluar dari rongganya, saking kagetnya mendengar perkataan gila yang terucap dari mulut pria tampan dihadapannya itu.
"Kalau memang demikian menurutmu, maka anggap saja aku sudah tidak waras. Asal bisa menebus kesalahanku di masa lalu, tidak masalah jika kamu menganggapku gila sekalipun." Lexi menatap Zira dengan tatapan dalam, pria itu bahkan menekan tubuh Zira hingga mentok pada dinding mobilnya.
Zira mendorong tubuh Lexi agar menjauh darinya.
"Sepertinya anda memang sudah benar-benar tidak waras, tuan Lexiano Fernandez. Lagipula, siapa bilang saya bersedia menikah dengan anda." Zira berusaha menekan rasa geram dihatinya.
"Aku tidak sedang meminta persetujuan maupun kesediaan kamu. Ini hanya sekedar penyampaian untuk kamu ketahui. Karena bersedia ataupun tidak, aku akan tetap menjadikanmu istriku."
Da-rah Zira seperti mendidih mendengar ucapan Lexi.
"Sebaiknya pergi dari sini sebelum saya panggil security untuk mengusir anda." Tak berselang lama setelah Zira melontarkan kalimat tersebut, salah seorang security yang tengah melakukan patroli di area sekitar gedung apartemen nampak melintas.
"Selamat malam, tuan Lexiano Fernandez." Bukan hanya sekedar menyapa, security tersebut bahkan sampai membungkuk singkat dihadapan Lexi.
"Selamat malam." Balas Lexi. Melihat interaksi antara Lexi dan security apartemen semakin menyadarkan Zira bahwa pria dihadapannya itu bukan orang sembarangan, sehingga terus berdebat pun tidak akan ada gunanya. Zira lantas memilih berlalu begitu saja.
*
Sudah dua hari berlalu, akan tetapi ucapan Lexi malam itu masih saja mengganggu pikiran Zira, sampai-sampai wanita itu tak berselera untuk makan karena terlalu banyak pikiran.
"Apa dokter Zira lagi kurang enak badan? Wajah dokter Zira kelihatan pucat soalnya." Tanya salah seorang perawat yang bertugas shift malam bersama Zira diruang IGD.
"Kepala saya rasanya agak pusing, sus." Setelah mencoba menahannya beberapa saat, kini Zira tak sanggup lagi untuk terus menahan rasa pusing yang sejak tadi menderanya.
"Astaga, dok...." Perawat tersebut lantas membantu Zira untuk rebahan di bad pasien, kemudian meminta bantuan pada dokter jaga lainnya untuk segera memeriksa kondisi Zira.
"Dokter hanyalah sebuah profesi, karena faktanya kita semua adalah manusia biasa yang juga bisa merasakan lelah dan juga sakit." Kata rekan sejawatnya setelah selesai memeriksa kondisi Zira. Usai mendengar penjelasan dari rekan sejawatnya atas kondisinya saat ini, Zira pun setuju untuk di infus demi proses pemulihan.
Di saat-saat seperti ini, tentunya Zira sangat membutuhkan perhatian dari keluarga, terutama sang ibu. Zira berusaha menguatkan hatinya. Ini semua merupakan konsekuensi dari perbuatannya maka ia tak boleh mengeluh.
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣