Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan yang Menghalangi Jalanku
Di sebuah manor mewah kawasan Le Parc Thamrin.
Seorang gadis terlihat gelisah, dan semburat kemarahan terpampang di wajah cantiknya. Gadis itu adalah Jessica Gunawan. Jessica Gunawan yang tidak terbiasa ditolak, dan bahkan mungkin belum pernah merasakan menghadapi sebuah penolakan. Sejak kecil, hampir semua yang ia inginkan selalu berhasil ia dapatkan.
Sekolah terbaik, bahkan di luar negeri. Lingkungan sosial terbaik. Karier yang cemerlang. Dan perhatian dari orang-orang penting. Termasuk laki-laki. Banyak laki-laki berusaha mengejarnya, namun dia tidak memberi kesempatan untuk mendekat. Kecuali laki-laki yang menurutnya satu level dengannya.
Karena itu, ketika keluarganya memperkenalkan Ardian Mahendra sebagai calon pasangan yang potensial, Jessica tidak langsung menolak.
Sebaliknya. Ia menganggap Ardian sebagai sosok yang sepadan dengannya. Berpendidikan. Berpengaruh. Berasal dari keluarga terpandang.
Meski Ardian terlihat dingin, Jessica yakin itu hanya soal waktu. Sampai pertemuan di kafe beberapa hari lalu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya..., ia merasa kalah bahkan sebelum pertandingan dimulai.
Jessica masih mengingat jelas tatapan Ardian saat perempuan itu masuk ke dalam kafe. Joyce…, nama yang berhasil dia temukan setelah mengirim beberapa informan untuk menyelidik gadis pengganggu itu.
Nama yang kini terus mengganggu pikirannya. Bukan karena Joyce lebih cantik. Bukan pula karena Joyce berasal dari keluarga yang lebih berpengaruh.
Justru sebaliknya. Menurut Jessica, perempuan itu sangat biasa. Penampilannya juga sangat sangat sederhana menurutnya. Terlalu biasa. Dan itulah yang membuatnya kesal.
“Damn it... Bagaimana mungkin Ardian Mahendra tertarik pada perempuan seperti itu?”
“Dia tidak ada seperkuku jika dibandingkan denganku. Performance.., jelas masih menang besar aku.”
Dengan marah, Jessica berbicara pada dirinya sendiri. Namun..
“Drrtt.. drtt..” ponselnya bergetar.
Nadia call..
Dengan malas, Jessica meraih dan menerima panggilan masuk.
“Apaan..”
“Ketemuan yukk.. aku di Senayan nih.”
„Okay wait a minute.. aku meluncur..”
“Yap..”
**************
Beberapa saat kemudian, Jessica sudah masuk ke lounge eksklusif di kawasan Senayan.
"Jessica...."
Terdengar suara sahabatnya, Nadia tengah memanggilnya. Gadis itu melambaikan tangan, dan Jessica segera menghampirinya.
.”Duduk Jess.., aku dah pesankan minuman kesukaanmu. Caramel macchiato..”
Jessica langsung duduk di sofa, kemudian menyesap minumannya. Tanpa ia sadari, dia kembali melamunkan tentang Ardian dan Joyce. Hal itu membuat sahabatnya Nadia bertanya-tanya. Dia sampai mengerenyitkan kening.
"Kamu dari tadi diam. Kenapa.. ada masalah"
Jessica meletakkan cangkir tehnya.
"Iya.. sedikit sedang jengkel.”
“Hemmmhh.. tumben-tumbenan ada yang membuat mood tuan putri menjadi jengkel nih.”
Jessica kembali terdiam, kemudian
“Nad, kamu pernah merasa dikalahkan seseorang yang bahkan nggak kamu anggap pesaing? Levelnya jauh bahkan amat jauh dibanding kita.."
Nadia tertawa kecil.
"Kedengarannya serius nih."
"Karena memang serius."
Jessica membuka ponselnya, dan tidak lama lalu menunjukkan foto Joyce di layar ponselnya. Nadia memperhatikan beberapa saat.
"Dia siapa? Norak sekali, era saat ini masih berpenampilan laki-laki. Terlalu casual"
"Perempuan yang membuat Ardian kehilangan minat padaku."
Nadia mengangkat alis. Dia terkejut.., mengingat status mentereng Ardian Mahendra, CEO Aethera Corporation.
"What the fuc*k.. Dia, perempuan ini?"
"Iya."
"Hmm. Menarik nih.."
Nadia kembali memperhatikan foto itu.
"Bukan tipe perempuan yang biasanya dicari laki-laki kaya. Kecuali ada something wrong yang membantunya."
"Persis. Exactly."
"Itu yang membuatmu kesal?"
Jessica menyandarkan tubuh ke kursi. Pikirannya tampak lelah.
"Yang membuatku kesal adalah aku bahkan nggak tahu apa yang dilihat Ardian darinya. Hanya karena kedatangan dia, membuat Ardian mengacuhkanku. Dan itu terjadi pada blind date beberapa hari lalu"
“Unik juga.. Cari tahu Jess.., atau stalker dia. Masak tuan putri Jessica, putra konglomerat Jak-Sel dikalahkan gadis ga jelas seperti itu.”
*****************
Malam itu.
Sesampainya di rumah, Jessica kembali membuka laptopnya. Meskipun sudah mendapatkan informasi dari informannya, namun gadis itu tidak yakin. Joyce menjadi target untuk dikalahkannya.
Awalnya ia hanya ingin mencari tahu sedikit tentang Joyce. Sekadar rasa penasaran. Dia memasukkan nama JOYCE ALVARETHA di browser. Namun matanya terbelalak, karena semakin banyak informasi yang ia temukan, dan menjadikan semakin besar rasa tidak sukanya.
Joyce ternyata cukup dikenal di industri event. Memiliki reputasi baik. Banyak klien loyal. Dan yang paling membuat Jessica tidak nyaman..., beberapa foto memperlihatkan Joyce bersama Ardian dalam acara launching Aethera.
Meski hanya profesional. Tetapi cukup untuk menimbulkan dugaan. Apalagi didasari dengan kecurigaan, dan tidak suka dengannya. Perlahan Jessica menutup laptopnya dengan kesal.
"Aku nggak akan kalah karena perempuan seperti ini. Dia hanya seorang freelancer, tidak akan bisa menyaingiku.."
Sebuah rasa gengsi turut mempengaruhi pikirannya.
“Seperti pungguk merindukan bulan.. jika Ardian yang menjadi incarannya.”
“Aku harus mengalahkanmu Joyce.. bahkan dengan cara yang tidak etispun, akan aku lakukan.”
Dia tersenyum smirk. Perlahan ia berdiri dan berjalan menuju jendela kamar. Pemandangan kota Jakarta terbentang di hadapannya. Lampu-lampu sangat indah membentuk mozaik terpampang di depan matanya.
Namun pikirannya sudah bergerak ke arah lain. Bukan lagi tentang Ardian. Laki-laki itu menjadi kurang menarik. Saat ini fokus dan pikirannya beralih ke perempuan yang dianggapnya menjadi pesaingnya. Bukan dari kalangan atas, melainkan tentang Joyce.
Tentang bagaimana perempuan itu perlahan masuk ke dalam kehidupan yang menurut Jessica seharusnya menjadi miliknya.
Keesokan harinya. Jessica menerima telepon dari ibunya.
"Jess.., kamu akan datang ke acara makan malam keluarga Mahendra minggu depan?"
"Tentu dong mam.. Gimana bisa lebih dekat dengan Ardian.. jika aku tidak sering kesana."
"Bagus. Ini baru putriku.."
Ibunya terdengar puas.
"Kita belum menyerah. Keluarga Mahendra harus terkoneksi lebih dekat dengan keluarga kita. Dengan pernikahan kalian, akan memperbesar citra perusahaan kita di negara ini."
Jessica tersenyum tipis.
"Kita mam.. Maksud mami..?"
"Keluarga Mahendra adalah koneksi penting. Untuk berjaya di negara ini, Mahendra bisa menjadi jalan pelicinnya"
Jessica memahami maksud sebenarnya. Bagi sebagian keluarga besar mereka, pernikahan bukan hanya tentang cinta. Pernikahan untuk memperbesar aliansi akan mereka lakukan. Tetapi juga tentang posisi. Pengaruh. Dan masa depan bisnis.
Setelah telepon berakhir, Jessica kembali teringat pada Joyce. Lalu sebuah ide mulai muncul di kepalanya. Bukan sesuatu yang ilegal. Bukan sesuatu yang terang-terangan jahat. Namun cukup untuk membuat seseorang kehilangan kesempatan.
Jika Ardian mengagumi Joyce karena citra baik dan profesionalismenya..., maka yang perlu dilakukan hanyalah membuat citra itu mulai retak.
Sedikit demi sedikit. Tanpa ada yang menyadari siapa yang berada di baliknya. Jessica tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah muncul saat ia bersama Ardian.
Karena untuk pertama kalinya..., ia tidak lagi melihat Joyce sebagai orang asing. Melainkan sebagai ancaman. Dan ancaman, menurut Jessica, harus disingkirkan sebelum tumbuh terlalu besar.