Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.
Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.
Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.
Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.
Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lingkaran yang Menyambung
Tiga puluh tahun kemudian.
Arka, sekarang berusia 70-an, duduk di kursi goyang di teras rumah yang sama—rumah dengan pohon mangga yang sekarang sudah sangat tua, cabang-cabangnya menaungi separuh halaman.
Nadia, di sebelahnya, merajut sesuatu—kebiasaan baru yang dia mulai setelah pensiun. Rambut mereka sudah putih semua, tapi tawa mereka masih sama seperti dulu.
Kirana, sekarang seorang penulis yang cukup dikenal, datang mengunjungi bersama anak-anaknya—cucu-cucu Arka dan Nadia, yang berlarian di halaman, tertawa, mengejar kupu-kupu.
"Kakek!" salah satu cucu, seorang anak laki-laki bernama Damar—nama yang dipilih Kirana sendiri, tanpa Arka pernah memintanya, sebagai penghormatan setelah mendengar cerita tentang sahabat ayahnya—berlari ke arah Arka, memegang sesuatu di tangannya.
"Kakek, aku nemu ini di gudang! Apa ini?"
Anak itu menyerahkan sebuah kotak kayu kecil—kotak yang sama, yang sudah berpindah tangan, disimpan, ditemukan kembali, selama puluhan tahun.
Arka tersenyum, membuka kotak itu dengan tangan yang sudah mulai bergetar karena usia. Di dalamnya, surat-surat lama—dari ibunya, dari dirinya sendiri untuk masa depan, dan beberapa surat baru yang dia tambahkan selama bertahun-tahun, untuk Kirana, untuk cucu-cucunya.
"Ini," kata Arka, suaranya lembut, "ini cerita keluarga kita, Dam. Mau dengar?"
Anak kecil itu—Damar kecil—duduk di pangkuan kakeknya, matanya berbinar. "Mau!"
Arka mulai bercerita—bukan seluruh cerita, bukan detail tentang perjalanan waktu (itu adalah sesuatu yang dia simpan untuk waktu yang tepat, jika memang ada waktu yang tepat). Tapi dia menceritakan tentang neneknya—ibu Arka, yang meninggal dengan damai, dikelilingi orang-orang yang dicintainya. Tentang seorang sahabat bernama Damar, yang mengajarkan arti persahabatan, meski hidupnya singkat dalam cerita ini. Tentang cinta yang tumbuh dari pertemuan kecil—dua anak yang berkenalan di halaman, berjanji untuk "main lagi besok."
Damar kecil mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali bertanya, "Lalu apa, Kek?" atau "Terus gimana?"
Di akhir cerita, anak itu menatap kakeknya dengan mata yang serius—mata yang, entah kenapa, mengingatkan Arka pada dirinya sendiri di usia yang sama.
"Kek," kata Damar kecil, "menurut Kakek, kenapa hal-hal sedih bisa terjadi? Kayak Nenek yang meninggal, atau temen Kakek yang... yang Kakek bilang 'hidupnya singkat'?"
Arka tersenyum, mengusap kepala cucunya.
"Kakek dulu juga mikir gitu," katanya. "Kakek pikir, kalau ada cara buat bikin semua hal sedih nggak pernah terjadi, hidup bakal lebih baik. Tapi sekarang Kakek ngerti—hal-hal sedih itu bagian dari cerita. Tanpa mereka, kita nggak akan tahu seberapa berharga hal-hal yang baik."
"Jadi... kita harus bersyukur sama hal-hal sedih juga?"
"Bukan bersyukur karena sedihnya," kata Arka. "Tapi bersyukur karena—setelah sedih itu—kita masih punya kesempatan buat ngerasa bahagia lagi. Itu yang penting. Bukan jumlah kebahagiaan atau kesedihan yang kita punya. Tapi gimana kita terus jalan, terus mencintai, meski tau bahwa segalanya berubah."
Damar kecil mengangguk, meski Arka tahu pemahaman penuh dari kata-kata itu mungkin baru akan datang bertahun-tahun kemudian—mungkin saat anak ini sudah dewasa, menghadapi kehilangannya sendiri, menemukan kekuatannya sendiri (entah kekuatan dalam arti harfiah, atau hanya kekuatan untuk bertahan).
Sore itu, setelah semua orang pulang, Arka dan Nadia duduk berdua di teras, menyaksikan matahari terbenam—warna jingga dan ungu yang sama seperti yang Arka ingat dari masa kecilnya, dari hari sebelum 14 Maret yang lama.
"Kamu kepikiran sesuatu?" tanya Nadia, melihat Arka yang diam menatap langit.
"Aku cuma kepikiran," kata Arka, "tentang berapa banyak 'hari sebelum'—hari-hari biasa, yang nggak terasa spesial saat itu—yang ternyata jadi momen-momen yang paling aku ingat sekarang."
Nadia menggenggam tangan Arka—tangan yang sekarang penuh kerutan, tapi masih hangat seperti dulu.
"Setiap hari adalah 'hari sebelum' sesuatu," kata Nadia lembut. "Kita cuma nggak pernah tau sebelum apa, sampai kita liat ke belakang."
Arka mengangguk, menggenggam tangan Nadia lebih erat, dan mereka duduk dalam diam, menyaksikan matahari tenggelam—dua orang yang telah melewati begitu banyak, sekarang menikmati kesederhanaan dari sebuah sore yang tenang.
Di langit, bintang-bintang mulai muncul satu per satu, seperti mereka selalu muncul, di setiap dunia, di setiap garis waktu—konstan, meski semuanya di sekitarnya berubah.