Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.
Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedikit Kecewa
“Mas Aren benar-benar nggak muncul ya… Ini sudah satu bulan loh. Jahat banget.”
Dhea mengembuskan napas pelan sambil menopang dagunya di atas meja kasir.
Sudah satu bulan berlalu sejak hari itu. Namun Aren benar-benar menghilang begitu saja. Tidak pernah datang lagi ke toko bunga miliknya.
Hal itu membuat Dhea merasa sedikit kecewa. Karena sebenarnya ia hanya ingin berbicara baik-baik dengan Aren.
Bukan marah. Bukan membencinya.
Namun pria itu justru memilih menghindarinya seperti ini.
“Dhea kangen loh…” gumamnya lirih.
Tatapan Dhea perlahan mengarah ke pintu toko yang masih sepi. Dan tanpa sadar, ia kembali mengingat semua hal tentang Aren.
Tentang bagaimana pria itu selalu datang menemuinya.
Membelikan jajanan kesukaannya. Duduk diam menemaninya di toko.
Bahkan mendengarkan semua ocehannya tanpa mengeluh.
Seketika hati Dhea terasa semakin kosong. Karena baru sekarang ia sadar, kehadiran Aren ternyata sudah menjadi bagian dari hari-harinya.
“Dhea nggak peduli loh… mau Mas Aren ataupun Mbak Arelia,” gumam Dhea pelan dengan mata yang mulai berkaca-kaca lagi. “Yang penting jangan menghindar begini…”
Ia perlahan menundukkan kepalanya di atas meja kasir.
Sudah satu bulan.
Namun sampai sekarang, Aren benar-benar tidak pernah muncul lagi di hadapannya. Hal itu membuat hati Dhea terasa sangat kosong. Karena tanpa sadar, ia sudah terlalu terbiasa dengan kehadiran pria itu.
“Masa karena takut sama Dhea sampai benar-benar menghilang sih…” lirihnya sedih.
Padahal sejak awal, Dhea sama sekali tidak pernah merasa jijik ataupun marah setelah mengetahui semuanya.
Ia hanya terkejut. Sangat terkejut.
Namun setelah memikirkannya selama ini, Dhea justru semakin memahami satu hal. Bahwa Aren pasti menyimpan banyak sekali rasa sakit sampai memilih hidup seperti itu.
Seketika Dhea mengusap sudut matanya pelan.
“Mas Aren bodoh…” gumamnya lirih. “Dhea cuma mau tetap jadi temannya…”
Tiba-tiba—
Kriiikk…
Pandangan Dhea langsung menoleh saat mendengar suara pintu toko terbuka. Dan seketika, matanya langsung membelalak saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu.
Tanpa berpikir panjang lagi, Dhea langsung bangkit dari duduknya lalu berlari menghampiri orang tersebut.
Saat tiba di depannya, Dhea langsung memeluk sosok itu erat.
“Mas Aren ke mana saja sih sebenarnya?” keluh Dhea dengan suara bergetar. “Sudah satu bulan malah menghindari Dhea. Dhea jadi sedih…”
Sedangkan orang yang dipeluknya itu terlihat membeku.
Karena saat ini, dirinya bukan berada dalam wujud Aren.
Melainkan Arelia.
“Dhea…” panggilnya pelan dengan suara lemah.
Namun Dhea justru semakin memeluknya erat.
“Mas Aren jahat,” ucapnya sambil terisak kecil. “Mas Aren malah menghindari Dhea…”
Mendengar tangisan itu, hati Aren langsung terasa sesak.
Perlahan, ia mendorong tubuh Dhea dengan sangat lembut.
Dan saat itu juga, terlihat jelas wajah gadis itu yang sudah dipenuhi air mata.
Deg.
Aren langsung terdiam. Karena dirinya tidak pernah menyangka, Dhea benar-benar menangisinya seperti ini.
“K-kenapa kamu menangis?” tanya Aren dengan suara bingung dan panik.
“Mas Aren jahat tauk…” jawab Dhea dengan isak tangisnya.
Hati Aren langsung terasa semakin sesak mendengar suara tangisan gadis itu.
“Dhea…” panggilnya pelan. “Kamu lihat sekarang? Aku siapa.”
Aren mencoba mengingatkan bahwa saat ini dirinya berada dalam wujud Arelia. Namun Dhea justru menggeleng cepat sambil mengusap air matanya kasar.
“Dhea nggak peduli!” ucapnya dengan suara bergetar.
“Mau Mbak Arelia ataupun Mas Aren, kalian berdua sama-sama jahat!”
Deg.
Ucapan itu langsung membuat Aren membeku. Sedangkan Dhea kembali menangis karena rasa kecewa yang selama ini ia tahan akhirnya keluar begitu saja.
“Kenapa malah menghilang satu bulan begini…” lirih Dhea sambil menundukkan kepalanya. “Padahal Dhea cuma mau bilang kalau Dhea nggak marah…”
Mata Aren langsung melebar pelan.
“Apa?” tanyanya lirih.
Dhea menggigit bibirnya kuat-kuat sambil mencoba menahan tangisnya.
“Dhea juga nggak jijik…”
Kalimat itu langsung membuat dada Aren terasa sesak. Karena selama satu bulan ini, hal paling ia takuti justru tidak pernah ada di hati Dhea.
“Setelah kejadian itu, Dhea terus mencari keberadaan Mas Aren,” ucap Dhea dengan suara yang masih dipenuhi tangisan. “Tapi Dhea nggak pernah menemukan Mas Aren ataupun Mbak Arelia…”
Aren langsung terdiam mendengar setiap ucapan Dhea.
Sedangkan gadis itu kembali mengusap air matanya dengan kasar.
“Dan akhirnya Dhea pasrah mencari,” lanjutnya lirih. “Tapi Dhea masih berharap dan nunggu kalau Mas Aren bakal datang lagi.”
Suara Dhea mulai bergetar semakin kuat.
“Mau wujudnya bagaimana pun, Dhea nggak masalah. Itu nggak penting buat Dhea.”
Deg.
Kalimat itu langsung membuat mata Aren perlahan memerah.
Karena selama ini, ia terlalu takut dengan pikirannya sendiri.
“Yang penting jangan menghilang tanpa kabar begini…” ucap Dhea sambil menangis lagi. “Dhea benar-benar sedih…”
Seketika Aren langsung memeluk tubuh Dhea erat. Tangannya bergetar pelan saat memeluk gadis itu.
“Maaf…” lirihnya dengan suara yang mulai serak. “Maaf karena aku malah kabur dan ninggalin kamu sendiri…”
Dhea langsung menangis semakin kencang di dalam pelukan Aren.
Sedangkan Aren perlahan memejamkan matanya. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada seseorang yang menerima dirinya sepenuhnya.
“Jangan menghilang atau menghindar lagi…” ucap Dhea dengan suara yang bergetar. “Dhea benar-benar nggak suka seperti itu.”
Tangannya mencengkeram pelan pakaian Aren seolah takut pria itu pergi lagi.
“Padahal Dhea cuma mau bicara sama Mas Aren…” lanjutnya lirih di sela tangisnya. “Tapi Mas Aren malah jahat sama Dhea…”
Dan setelah mengatakan itu, tangisan Dhea justru semakin pecah. Bahu gadis itu sampai bergetar karena terlalu lama menahan rasa sedih dan kecewanya sendirian.
Sedangkan Aren hanya bisa memeluknya semakin erat. Hatinya terasa sesak melihat Dhea menangis seperti ini karena dirinya.
“Maaf…” ucap Aren lirih dengan suara serak. “Aku benar-benar minta maaf, Dhea.”
Aren perlahan mengusap rambut Dhea dengan lembut berusaha menenangkan gadis itu.
“Aku cuma takut…”
“Takut kamu bakal menjauh setelah tahu semuanya.”
Dhea langsung menggeleng cepat meski masih menangis.
“Dhea nggak akan pergi…”
Jawaban itu langsung membuat Aren membeku. Sedangkan Dhea perlahan mengangkat wajahnya yang sudah dipenuhi air mata.
“Karena buat Dhea…” suaranya kembali melemah.
“Mas Aren ataupun Mbak Arelia tetap orang yang sama.”
Dhea memasang wajah cemberutnya meski pipinya masih basah oleh air mata.
“Janji nggak bakal menghilang begitu lagi?” ucap Dhea sambil menatap Aren lurus.
Deg.
Aren langsung terdiam beberapa detik. Melihat wajah Dhea yang masih merah karena menangis membuat hatinya terasa semakin tidak enak. Perlahan, Aren menganggukkan kepalanya pelan.
“Iya,” jawabnya lirih.
“Aku janji.”
“Beneran?” tanya Dhea memastikan lagi dengan wajah cemberutnya.
Aren tidak bisa menahan senyum kecilnya melihat ekspresi polos gadis itu.
“Iya, beneran.”
“Kalau bohong gimana?”
Aren terkekeh pelan.
“Kamu mau hukum aku?”
“Iya,” jawab Dhea cepat tanpa berpikir.
Hal itu justru membuat Aren tertawa kecil untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Sedangkan Dhea perlahan ikut tersenyum tipis meski matanya masih sembab.
“Aku nggak akan pergi lagi,” ucap Aren pelan sambil mengusap sisa air mata di pipi Dhea. “Karena sekarang… aku juga nggak mau jauh dari kamu.”
“Awas ya kalau Mas Aren bohong,” ucap Dhea dengan wajah cemberutnya.
“Iya, iya. Nggak kok,” jawab Aren sambil tersenyum kecil.
“Sudah, jangan nangis terus. Jelek tahu wajah kamu kalau menangis.”
Dhea langsung melotot kecil.
“Ini kan gara-gara Mas Aren loh!”
“Iya, iya salah aku,” jawab Aren pasrah.
Lalu pria itu menghela napas pelan sebelum kembali
berbicara.
“Hey, jangan panggil begitu.”
Dhea mengernyit bingung.
“Kenapa?”
“Kamu nggak lihat sekarang wujudku siapa?”
Aren saat ini masih berada dalam wujud Arelia. Namun Dhea justru langsung manyun.
“Siapa suruh juga sekarang datang malah pakai wujud begitu,” sahutnya kesal. “Kan Dhea juga sudah tahu wujud aslinya bagaimana.”
Deg.
Ucapan polos itu langsung membuat Aren sedikit salah tingkah. Sedangkan Dhea masih memasang wajah cemberutnya sambil mengusap sisa air mata di pipinya.
“Jadi sekarang maunya panggil apa?” tanya Aren sambil menahan senyum kecilnya.
Dhea langsung berpikir beberapa detik.
Lalu—
“Mbak Aren aja.”
“Hah?” Aren langsung terkejut.
Sedangkan Dhea malah tertawa kecil melihat ekspresinya.