NovelToon NovelToon
Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22.Evolusi Tulang Jiwa, Berangkat Pulang, dan Pertemuan di Jalan Raya

Setelah menyesuaikan napas dan menenangkan aliran tenaga di seluruh tubuhnya, Xiao Xuan berbaring santai tepat di samping bangkai besar Beruang Emas Pencabik itu.

Wajahnya yang biasanya dingin dan tenang kini dipenuhi senyum lebar yang tak bisa disembunyikan, matanya berbinar-binar penuh rasa takjub dan syukur.

"Kukira kau pelit dan tidak memberiku apa-apa selain cincin roh saja," gumamnya pelan sambil menepuk-nepuk bangkai keras di sampingnya seolah sedang menepuk bahu teman lama.

"Ternyata kau sudah menyimpan hadiah terbaik untukku. Tulang Roh Dada Eksternal... wahai Saudara Beruang, kau benar-benar hebat. Terima kasih banyak!"

Ia diam sejenak, merasakan kembali kekuatan dahsyat yang meluap di dalam tubuhnya saat tulang roh itu diaktifkan tadi.

"Hanya saja..." lanjutnya sambil menggelengkan kepala sedikit sambil tertawa kecil, "efeknya terlalu dahsyat sampai menghabiskan tenaga begitu cepat.

Dengan cadangan kekuatan jiwaku sekarang, aku hanya bisa bertahan dalam kondisi berubah itu beberapa menit saja. Tapi tak apa. Ini baru permulaan. Nanti saat aku semakin kuat, semakin banyak tenaga yang kumiliki...

mungkin suatu hari nanti aku bisa mempertahankan wujud kekar itu selamanya tanpa merasa lelah sedikit pun."

Pikirannya kemudian teringat pada tampilan batinnya. Ada notasi yang menyatakan bahwa aset ini masih bisa ditingkatkan. Tanpa ragu sedetik pun, pikirannya terfokus langsung pada pilihan itu.

Mengapa harus menunggu? batinnya tegas. Kekuatan adalah segalanya. Semakin cepat aku kuat, semakin aman hidupku nanti.

Dalam sekejap, suara notifikasi yang jelas dan ringkas bergaung di dalam benaknya, lembut namun penuh kepastian, persis seperti bisikan takdir:

"Peningkatan berhasil. Tulang Roh Dada Eksternal (Biru) —> Tulang Roh Dada Eksternal (Ungu)."

"Keterangan: Tulang Roh milikmu telah berevolusi sepenuhnya. Sumber tenaganya berubah dari esensi binatang berusia 400 tahun menjadi energi murni setara binatang berusia 1000 tahun. Kemampuan dasar telah ditingkatkan secara drastis dan membuka sifat baru."

"Keahlian Baru — Transformasi Beruang Emas (Tingkat Ungu): Seluruh atribut fisik meningkat 50% secara permanen, dan saat diaktifkan, kamu bebas mengatur pembagian peningkatan kekuatan mulai dari 1% hingga 50% sesuai kebutuhan. Konsumsi kekuatan jiwa berkurang drastis hingga sepertiga dari sebelumnya."

Mata Xiao Xuan membelalak lebar, bersinar terang oleh kegembiraan yang meluap.

Lima puluh persen? Dan bisa diatur sesuka hati?!

Ini jauh melampaui ekspektasinya. Bukan sekadar angka yang bertambah besar, kemampuan mengatur seberapa besar kekuatan yang dikeluarkan memberikannya fleksibilitas luar biasa dalam pertempuran.

Ia bisa menghemat tenaga saat menghadapi musuh lemah, atau mengerahkan segalanya saat berhadapan dengan bahaya maut. Ditambah lagi dengan pengurangan konsumsi tenaga... ini adalah peningkatan yang sempurna, dibuat khusus untuk gaya bertarungnya.

"Panen luar biasa!" serunya dalam hati. "Perjalanan berburu kali ini benar-benar hasil yang paling besar yang pernah kudapatkan seumur hidup."

Setelah puas merasakan dan memahami kekuatan barunya, Xiao Xuan menoleh ke arah mulut gua. Langit di luar sudah benar-benar gelap, hanya tersisa remang-remang cahaya bulan

Melanjutkan perjalanan pulang di malam hari di tengah hutan purba ini adalah tindakan yang sangat tidak bijak. Bahaya mengintai di setiap bayangan, dan penglihatannya akan sangat terbatas.

Ia memutuskan untuk bermalam di sini saja. Tempat ini aman, tidak kekurangan air maupun makanan.

Di bawah sinar remang api unggun yang ia nyalakan, Xiao Xuan berjalan ke sungai kecil tak jauh dari gua untuk membersihkan diri, membasuh debu, keringat, dan noda darah yang menempel di kulit maupun pakaiannya.

Setelah kembali, ia membagi pekerjaan: satu tungku api digunakan untuk merebus dan membersihkan sepotong besar daging serta cakar Beruang Emas itu, sementara api lainnya disiapkan untuk memanggang.

Sambil menunggu daging matang, ia duduk bersandar di dinding gua, menatap potongan cakar besar yang sedang berasap di atas api.

"Dulu, di kehidupan sebelumnya, ini adalah hidangan mewah yang bahkan tak mampu kubeli seumur hidup," gumamnya sambil tersenyum tipis. "Sekarang... aku bisa memanggangnya sepuas hati. Nasib memang berubah ya."

Matanya berbinar sedikit saat teringat sesuatu. "Tunggu... Beruang Emas ini kan masih kerabat dekat jenis beruang yang legendaris.

Berarti bagian kakinya juga punya kualitas terbaik, kan? Hehehe... hari ini aku akan membuat hidangan legendaris, salah satu menu utama Jamuan Kekaisaran: Satu Telapak Menguasai Dunia!"

Namun senyumnya perlahan memudar saat ia mulai mengolahnya. Tanpa bumbu, tanpa garam, tanpa rempah apa pun... aroma amis yang kuat menyebar ke udara.

"Sialan..." keluhnya sambil mengibaskan tangan menjauhi bau itu. "Saudara Beruang, dagingmu enak dan kuat, tapi baunya amis sekali. Tanpa bumbu yang pas, rasanya pasti sulit ditelan. Lupakan saja. Daripada bersusah payah mengolahnya sampai pagi, lebih baik makan sepotong apa adanya lalu tidur. Besok harus berjalan jauh."

Ia akhirnya memakan sedikit daging panggang yang matang, cukup untuk mengisi perut, lalu berbaring di atas tumpukan daun kering, memejamkan mata untuk beristirahat dan memulihkan sisa tenaga.

Keesokan paginya, fajar baru saja menyingsing, cahaya oranye tipis mulai menerobos masuk ke dalam gua. Xiao Xuan sudah bangun, segar dan bertenaga penuh.

Ia berjalan keluar gua, berhenti sejenak di depan tumpukan tanah kecil yang ia buat semalam sebagai tanda peristirahatan terakhir Beruang Emas itu. Wajahnya serius, penuh rasa hormat.

"Saudara Beruang, aku pamit pergi ya," ucapnya pelan namun jelas. "Jangan terlalu merindukanku. Kalau ada kehidupan selanjutnya, semoga kau bereinkarnasi menjadi Beruang Cakar Teror Emas Gelap yang sejati, menjadi makhluk terkuat di hutan ini. Sampai jumpa lagi di lain waktu."

Setelah mengucapkan perpisahan itu, Xiao Xuan tidak berlama-lama lagi. Ia membalikkan badan, melangkah mantap menjauh, meninggalkan wilayah itu selamanya.

Perjalanan pulang berjalan jauh lebih cepat dibandingkan saat ia datang. Dengan kekuatan fisik yang meningkat drastis, gerakan kakinya menjadi lebih ringan dan kencang. Langkah Awan Tangga yang ia gunakan kini terasa lebih luwes, seolah tanah tidak lagi berat dipijaknya.

Waktu berlalu cepat, hingga matahari mulai condong ke barat. Cahaya senja berwarna merah darah menyelimuti seluruh Hutan Perburuan Jiwa, membuat pepohonan dan tanah berwarna kemerahan, seolah seluruh hutan ini baru saja selesai menyaksikan pertumpahan darah besar.

Menurut perhitungannya, ia hanya berjarak sekitar tiga li lagi dari gerbang keluar. Sebentar lagi ia akan aman dan bebas.

Namun, tepat saat ia sedang melompat melewati semak belukar, telinganya yang tajam menangkap suara-suara aneh di depan sana. Suara benturan keras, teriakan, dan bunyi benda yang pecah.

Xiao Xuan mengerutkan kening. Ia memperlambat langkah, mengubah arah sedikit ke samping, berniat memutar jalan sekitar sepuluh meter lebih jauh. Ia tidak ingin terlibat masalah. Di hutan ini, bertemu orang lain sering kali lebih berbahaya daripada bertemu binatang buas.

Namun saat ia hendak berbelok, suara percakapan yang terdengar jelas tertiup angin sampai ke telinganya, membuat langkah kakinya terhenti seketika.

"Lang Xi, berhenti melawan dengan keras kepala! Sebagian besar anak buahmu sudah mati. Serahkan benda itu... dan wanita di sampingmu. Aku bisa mengampuni nyawamu!"

Suara itu kasar, penuh ancaman dan keserakahan.

Jantung Xiao Xuan berdebar kencang. Lang Xi? Kapten tim yang membawanya masuk kemarin?

Lalu terdengar suara berat yang ia kenal betul, suara yang penuh kemarahan dan penyesalan: "Hah! Kalian yang membunuh saudara-saudaraku demi benda ini! Kau kira aku akan menyerahkannya begitu saja ke tangan pembunuh?! Mimpi!"

"Konyol! Kau pikir hanya kau yang rugi? Anak buahku juga tewas di sini demi benda ini! Karena kau tidak mau berdamai... sudah, habisi mereka! Serang!"

Suara itu diikuti suara benturan pedang dan senjata roh yang kembali bergemuruh hebat.

Xiao Xuan diam terpaku sejenak. Ia menghela napas panjang, menimbang-nimbang. Ia tadinya ingin menghindar, ingin selamat dan pulang saja. Tapi Lang Xi pernah membantunya. Meski hanya sekadar mengantar masuk dan memberi petunjuk, setidaknya lelaki itu tidak jahat, bahkan sempat mengingatkannya dengan tulus.

Kalau aku pergi begitu saja, dan dia mati di sini... batinnya bergelap. Itu sama saja aku membiarkan orang yang pernah baik padaku dibunuh.

Tanpa ragu lagi, ia mengubah arah sepenuhnya. Dalam sekejap, tubuhnya melesat cepat menyusup di balik pepohonan, menuju sumber suara itu. Hanya butuh beberapa detik baginya menempuh jarak sepuluh meter itu.

Ia mendarat diam-diam di dahan pohon besar yang rimbun, bersembunyi sempurna di balik dedaunan, lalu menatap ke bawah dengan pandangan tajam dan jernih.

Pemandangan di bawah sana sungguh mengerikan.

Lang Xi, yang kemarin terlihat gagah dan berwibawa, kini bersandar lemah pada batang pohon besar. Tubuhnya penuh luka robekan, darah mengalir deras dari bahu dan perutnya, wajahnya pucat pasi namun matanya masih menyala penuh semangat juang.

Di belakangnya, hanya tersisa satu orang lagi wanita pelindung bertipe pertahanan yang kemarin sempat terlihat kesal karena Lang Xi terlalu banyak bicara. Wanita itu juga terluka, tubuhnya gemetar ketakutan namun tetap berdiri tegak di belakang kaptennya, tak mau lari.

Sementara di hadapan mereka, ada tiga orang penyerang yang aura kekuatan rohninya jauh lebih tinggi. Seorang Tetua Roh tingkat tiga puluh lima, dan dua orang Ahli Roh tingkat dua puluh lima ke atas.

Di tanah sekitar mereka tergeletak banyak mayat, baik anggota tim Lang Xi maupun orang-orang dari pihak penyerang.

Jelas sekali, pertempuran ini terjadi karena perselisihan memperebutkan sesuatu yang berharga, dan pihak Lang Xi sudah terdesak sampai ke tepi jurang kematian.

Xiao Xuan menganalisis situasi dengan cepat, pikirannya berputar tajam menyusun rencana.

Kalau aku menyerang langsung dengan kekuatan biasa... tidak mungkin menang, hitungannya tajam. Lawan ada tiga orang, pemimpinnya bahkan lebih kuat dari Yun Lang.

Jimat api dan dinding tanah yang biasa... tidak akan cukup berarti bagi seorang Tetua Roh. Itu hanya akan membuat mereka sadar ada musuh lain, lalu mereka akan memburuku juga.

Ia diam sejenak, matanya menyipit penuh perhitungan dingin.

Kalau begitu... gunakan cara yang paling efektif. 'Menggerakkan rumput untuk mengejutkan ular'. Jika aku bisa membunuh atau melumpuhkan pemimpin mereka dengan satu serangan dahsyat dari tempat tersembunyi... kekacauan akan terjadi. Dua orang bawahannya pasti akan ketakutan dan mundur melihat pemimpinnya jatuh tiba-tiba.

Keputusan bulat terbentuk di kepalanya.

Tangan kanannya bergerak cepat ke dalam tas di pinggang. Tiga lembar jimat berwarna perak cerah, memancarkan hawa dingin dan tajam dikeluarkan.

Itu adalah Jimat Pemadatan Logam jenis jimat yang paling sulit ia buat, mengandung energi kepadatan tertinggi, digunakan khusus untuk menambah bobot dan ketajaman senjata.

Bersamaan dengan itu, ia memanggil senjatanya keluar.

Wusss!

Tongkat Emas Penghancur Langit muncul di tangannya, berkilau keemasan. Tanpa membuang waktu, Xiao Xuan menempelkan ketiga jimat itu tepat di bagian pangkal dan tengah tongkat.

Saat energi jiwanya dialirkan, jimat-jimat itu meleleh dan menyatu seketika ke dalam logam tongkat itu.

Seketika itu juga, kilauan emas berubah menjadi cahaya putih keperakan yang pekat dan dingin. Aura senjata itu menjadi jauh lebih berat, lebih tajam, dan lebih padat.

Bobotnya saja langsung bertambah sekitar dua puluh persen dari berat aslinya yang sudah mengerikan itu.

"Bagus..." gumamnya pelan.

Kemudian, dua jimat lainnya ia tempelkan langsung ke telapak tangannya sendiri, lalu ia melapisi seluruh tubuhnya dengan Teknik Kulit Roh Halus, membuat aura keberadaannya benar-benar hilang, seolah ia menyatu dengan bayangan dan dedaunan di sekelilingnya.

Sekarang, tongkatnya cukup kuat dan berat untuk menembus pertahanan seorang Tetua Roh. Tubuhnya cukup tersembunyi untuk melakukan serangan tak terduga.

Matanya terkunci tajam pada sosok pemimpin penyerang yang sedang tertawa puas melihat mangsanya sekarat.

Satu kesempatan saja. Satu pukulan saja. Harus tepat sasaran, harus mematikan.

Napanya tertahan, kekuatan jiwanya dikumpulkan ke titik puncak, dan di dalam hatinya, Xiao Xuan bergumam dingin:

Maaf, Tuan Tetua Roh... kau memilih musuh yang salah, dan hari ini kau kebetulan berada di jalan yang sama denganku.

1
Aisyah Suyuti
good
aldo
lanjut author
ag noja
sejak kapan ada binatang tingkat tiga bukanya jenis dan usianya dari binatang jiwa🤔
ag noja
tunggu sejak kapan di dunia soul land mengenal kata mantra 🤔
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Rusf
semangat terus.
aldo
wah bagus banget author Dan lanjut Kan author 🙏🙏🙏🙏
aldo
waw lanjut author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!