Regan Saputra mati dalam kebangkrutan dan pengkhianatan.
Di detik terakhir, bibirnya hanya menyebut satu nama. Nara Wulandari. Wanita yang gagal ia lindungi.
Namun, kematian justru membawanya kembali ke 14 Maret 1993.
Regan terbangun di kamar kontrakan kumuh. Dia kembali menjadi pemuda miskin 19 tahun dengan isi dompet 12 ribu rupiah.
Tidak ada kepanikan, hanya senyum tipis seorang predator yang siap memburu.
Regan bersumpah tidak mengulang kesalahan yang sama.
Berbekal ingatan sejarah, ia mengakuisisi aset rawa yang kelak menjadi pusat kota dan menyiapkan jaring pengaman sebelum krisis moneter menghantam Indonesia.
Target utamanya jelas. Menghancurkan Dion Hartawan sampai tidak bersisa, dan memberikan dunia kepada Nara.
Dulu ia kalah telak. Kini ia bertindak sebagai penguasa bayangan yang mengendalikan perputaran ekonomi.
Kematian mengubahnya dari seorang pecundang menjadi monster bisnis.
Siap melihat bagaimana 12 ribu rupiah berubah menjadi kerajaan triliunan rupiah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UaOnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Rongsokan Penyedot Pajak
Air hujan menetes dari plafon jebol, menghantam genangan di lantai tegel kusam. Pak Broto mengusap tengkuknya yang berlemak dengan sapu tangan handuk. Kemeja sutranya basah oleh keringat. Pria paruh baya itu mendengus kasar, menatap pemuda berkaos oblong di depannya dengan tatapan merendahkan.
"Lo nyuruh gue datang jauh-jauh ke sini cuma buat dengerin omong kosong, Dek?" Pak Broto melipat lengannya di depan dada. "Gue kira pembeli rahasia yang diomongin orang-orang itu cukong dari Glodok. Bukan anak kuliahan yang masih bau matahari."
Di sudut ruangan, Notaris Rusdi sibuk menyusun berkas ke dalam tas kulitnya. Pria berkacamata tebal itu sudah bersiap pergi. Hujan di luar semakin deras, menambah suram suasana ruang utama gedung mangkrak ini.
Regan tidak bereaksi. Tangannya menyentuh pilar beton di tengah ruangan. Permukaannya kasar dan lembap. Bangunan tiga lantai ini hancur berantakan. Atapnya bocor, instalasi listriknya mati total, dan ada sisa sarang laba-laba di setiap sudut.
Bagi Pak Broto, ini barang rongsokan penyedot pajak. Tapi di mata tajam Regan, ini emas murni.
Enam tahun lagi, tepat setelah krisis moneter menyapu bersih para pemain lama, kawasan ini akan diubah pemerintah menjadi zona komersial premium terbatas. Izin mendirikan bangunan baru di area ini akan dikunci mati. Satu-satunya cara memiliki kantor di ring satu Menteng adalah dengan membeli bangunan lama yang izinnya sudah terbit sebelum tahun 1995.
Gedung reyot ini adalah tiket VIP menuju meja bundar para naga ekonomi.
"Dua ratus juta," suara Regan memecah gemuruh hujan. Datar. Mengalun tanpa keraguan.
Pak Broto tertawa keras. Suaranya menggema memantul di dinding kosong.
"Lo gila? Tanah di sini harga pasarannya lima ratus juta, Bocah!" Pak Broto menunjuk lantai dengan telunjuknya yang dipenuhi cincin emas. "Gue kasih diskon jadi empat ratus karena bangunannya rusak. Dua ratus juta itu harga ruko pinggiran, bukan Menteng!"
Regan menoleh lambat. Matanya mengunci iris Pak Broto yang memerah. Pemangsa sedang menatap mangsanya.
"Empat ratus juta untuk bangunan yang masuk zona merah pelebaran jalan protokol?" Regan memiringkan kepalanya sedikit. "Surat peringatan dari dinas tata kota sudah ada di laci meja kerja Bapak sejak minggu lalu. Bangunan ini masuk daftar gusur bulan depan. Ganti rugi dari negara cuma lima puluh juta."
Tawa Pak Broto tercekik seketika. Jakunnya naik turun. Tangannya yang tadi menunjuk arogan kini turun perlahan.
"Lo... tahu dari mana soal surat itu?" Suara Broto turun drastis. Kepanikannya bocor dari ritme napasnya yang mendadak memburu.
Itu rahasia tertutup. Hanya dia dan orang dinas yang tahu. Rencananya adalah menjual cepat gedung ini ke orang bodoh sebelum alat berat pemerintah datang meratakan semuanya.
"Saya tahu banyak hal, Pak Broto." Regan melangkah maju mendekati meja kayu lapuk di tengah ruangan. "Dan saya juga tahu, Bapak butuh uang tunai hari ini juga untuk bayar denda pelunasan kapal kargo Bapak yang ditahan bea cukai di Tanjung Priok."
Wajah Broto pucat pasi. Rahasianya ditelanjangi habis-habisan oleh pemuda sembilan belas tahun.
"Dua ratus juta. Uang tunai. Hari ini juga." Regan merogoh saku dalam jaket kanvasnya.
Dia menarik selembar bilyet giro dan buku tabungan. Cek pencairan tunai dari Bank Buana. Dana segar hasil komisi konsultasi dari Sukardi, juragan tekstil Tanah Abang yang dia selamatkan dari kerugian miliaran beberapa hari lalu.
Regan meletakkan cek itu di atas meja. Bunyi tamparan kertas di atas kayu terdengar nyaring.
"Ambil atau Bapak kehilangan kapal kargo Bapak besok pagi," tantang Regan dingin.
Mata Broto terpaku pada deretan angka di atas kertas berharga itu. Ego keangkuhannya hancur lebur diinjak realita. Tangannya bergetar saat dia meraih cek tersebut. Dia menatap Regan dengan rasa takut yang tidak bisa disembunyikan lagi.
"Rusdi," panggil Broto dengan suara serak. Dia menoleh ke arah sang notaris. "Siapin aktanya sekarang."
Notaris Rusdi, yang dari tadi membisu, buru-buru mengeluarkan kembali berkasnya. Tangannya ikut gemetar. Dia tidak pernah melihat negosiasi sebrutal dan secepat ini. Seorang anak remaja baru saja memelintir leher pengusaha senior tanpa menyentuh fisiknya sama sekali.
Ruangan itu kembali sunyi. Hanya suara gesekan pena di atas kertas dan derai hujan yang terdengar.
Regan berjalan menuju jendela kusam di lantai dua. Dia menyeka debu di kacanya. Jalanan Menteng terlihat abu-abu tertutup air dari langit. Mobil-mobil era sembilan puluhan melintas lambat membelah genangan.
Satu napas panjang dia tarik. Paru-parunya terisi udara basah.
Dia tidak membual soal surat gusur itu. Surat itu memang ada. Tapi yang Broto tidak tahu, rencana pelebaran jalan itu akan dibatalkan langsung oleh presiden bulan depan karena terbentur sengketa lahan yayasan militer di blok sebelah. Gedung ini tidak akan pernah disentuh alat berat. Nilainya akan meroket tajam, kembali ke angka wajar, lalu melonjak sepuluh kali lipat pasca reformasi 1998.
Kini, dia punya dua aset masif. Tanah di Sudirman yang masih berupa hamparan alang-alang, dan gedung komersial ini. Mesin uangnya sudah mulai terbentuk.
"Tanda tangan di sini, Mas Regan," panggil Notaris Rusdi ragu-ragu. Panggilan hormat itu baru saja lahir beberapa menit yang lalu.
Regan berbalik. Dia berjalan menghampiri meja, mengambil pena yang disodorkan. Tinta hitam menggores kertas akta jual beli, mengesahkan perpindahan kuasa mutlak.
Notaris Rusdi mengumpulkan berkas itu. Dia menatap Regan dengan dahi berkerut, menggelengkan kepalanya pelan.
"Saya sudah lima belas tahun jadi notaris," buka Rusdi pelan, merapikan salinan dokumen ke dalam map plastiknya. "Dan belum pernah saya lihat transaksi seberbahaya ini."
Regan hanya mendengarkan. Wajahnya datar tak berekspresi. Dia menunggu pria paruh baya itu menyelesaikan kalimatnya.
Regan menandatangani akta jual beli. Notaris itu menggumam, "Anak muda nekat."
Regan melipat pena. "Atau anak muda yang tahu sesuatu yang Bapak belum tahu."
Pemuda itu mengambil salinan akta, memasukkannya ke dalam map cokelat, lalu melangkah keluar menembus hujan. Dia membiarkan Pak Broto dan Notaris Rusdi mematung di dalam gedung tua yang kini resmi menjadi miliknya.
Langkah kakinya stabil. Sepatu kanvasnya basah menginjak genangan aspal, tapi dia tidak peduli. Mesin kerajaannya telah menyala. Dia butuh tempat untuk menyimpan dokumen-dokumen vital ini dengan aman.
Regan menyetop metromini berasap tebal yang melintas lambat. Dia naik, memilih duduk di kursi paling belakang. Sepanjang jalan menuju Bendungan Hilir, kepalanya memproses skenario demi skenario. Musuh-musuhnya masih tertidur, tapi mereka tidak akan diam selamanya.
Dion Hartawan masih menyusun seminar kampus yang keuntungannya akan disedot mutlak oleh Regan. Pak Wirawan di Glodok masih menata stok barang baru. Dan Nara, gadis itu pasti sedang mencerna semua informasi yang menghajarnya siang tadi di terminal Blok M. Nara terlalu cerdas untuk dibohongi lebih lama.
Metromini berhenti di mulut gang. Hujan sudah mereda menjadi gerimis tipis.
Regan turun. Berjalan santai melewati deretan warung rokok dan pedagang gorengan. Lingkungan padat penduduk ini memeluknya dengan bau khas kemiskinan ibu kota. Air selokan meluap menyentuh bibir trotoar.
Langkahnya teratur, menghitung jarak menuju pintu kamarnya yang berada di pojok ujung lorong.
Namun, langkah itu terhenti tepat tiga meter dari pintu kayunya yang mengelupas.
Indra penciumannya yang tajam menangkap sesuatu yang janggal. Bau ini tidak cocok dengan aroma got, minyak jelantah, dan asap obat nyamuk yang biasa memenuhi udara gang Bendungan Hilir.
Aroma ini elegan. Manis, menusuk, dan sangat memabukkan. Wangi mawar bercampur musk yang harganya setara dengan biaya makan satu keluarga selama sebulan penuh.
Regan menajamkan pandangan.
Di depan pintu kamarnya yang tertutup, siluet seorang perempuan berdiri menyandar. Gaun selutut berwarna merah marun membalut tubuhnya dengan sempurna. Hak tinggi runcingnya mengetuk-ngetuk lantai semen dengan ritme bosan.