Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Perjamuan Beracun
Setelah malam berdarah di Glodok, nama Elena Adiguna bukan lagi sekadar rumor di kalangan pebisnis Jakarta, namanya menjadi alarm bahaya di radar organisasi global.
Fasilitas klon yang hancur itu meninggalkan lubang besar di kantong The Obsidian, dan seperti predator yang terluka, mereka pasti akan menyerang balik dengan cara yang lebih licin.
Elena duduk di kursi kerjanya, menatap hard drive yang baru saja dikirim Julian lewat kurir diplomatik dari New York.
Di sampingnya, Reza sedang asyik melempar-lempar koin perak, tampak bosan dengan kesunyian yang mencekam.
"Julian bilang, data di dalam ini adalah daftar 'kontak tidur' mereka di Asia," gumam Elena.
"Orang-orang yang terlihat bersih, tapi sebenarnya adalah pion yang siap digerakkan untuk menjatuhkan ekonomi sebuah negara."
"Dan kau mau memakai itu buat umpan lagi?" Reza menangkap koinnya.
"Elena, kau baru saja hampir mati karena kembaran digitalmu. Apa kau nggak capek main api?"
Elena menoleh, matanya berkilat. "Aku nggak main api, Reza. Aku adalah apinya."
Undangan dari Kegelapan
Sebuah notifikasi muncul di layar monitor besar di ruangan itu.
Bukan pesan teks, melainkan sebuah undangan digital dengan logo The Obsidian yang kini sudah tidak asing lagi.
"The Last Supper. Singapura, 21.00 malam ini. Datanglah, atau kami akan mulai menghapus nama-nama di daftar yayasanmu satu per satu."
Elena mengepalkan tangan. Mereka menyerang titik lemahnya, orang-orang tak bersalah di bawah perlindungan yayasannya.
"Mereka mengundangmu ke Singapura?" Paman Han masuk dengan wajah tegang.
"Nona, itu wilayah mereka. Singapura adalah benteng finansial mereka di Asia. Anda akan masuk ke mulut buaya."
"Kalau begitu, aku akan bawa sikat gigi yang sangat tajam buat mulut buaya itu," jawab Elena santai sambil berdiri.
"Paman, siapkan jet pribadi. Reza, kau ikut. Tapi kali ini, kau bukan pengawal. Kau adalah 'investor' yang baru saja mengkhianatiku."
Reza mengangkat alis.
"Oh? Peran yang menarik. Jadi aku harus pura-pura menjualmu demi posisi di dewan mereka?"
"Tepat. Itu satu-satunya cara supaya kita bisa masuk ke ruang pertemuan utama mereka tanpa harus menembak semua orang di pintu depan."
Langit Marina Bay yang Dingin
Singapura menyambut mereka dengan kemegahan yang dingin.
Pertemuan itu diadakan di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit privat yang tidak terdaftar di peta publik Marina Bay.
Keamanan di sana bukan lagi kelas preman Glodok; mereka adalah tentara bayaran profesional dengan teknologi pemindai biometrik tercanggih.
"Nama?" tanya penjaga di lobi dengan nada tanpa ekspresi.
"Elena Adiguna. Dan ini mitra baruku, Reza Mahendra," Elena menjawab dengan suara yang begitu tenang hingga hampir terdengar seperti robot.
Pemindai sinar merah melewati wajah Elena. Detak jantungnya stabil, meski di balik gaun malamnya yang berwarna emerald, ia menyembunyikan alat pelacak frekuensi rendah.
"Silakan masuk. Mereka sudah menunggu."
Meja Makan Para Penguasa
Di dalam ruangan kaca yang menghadap ke Singapura skyline, duduklah tiga orang tua yang tampak seperti kakek-nenek ramah di pesta keluarga.
Namun, Elena tahu bahwa satu kata dari mereka bisa membuat sebuah mata uang runtuh.
"Elena, Elena... kau benar-benar keras kepala seperti Sarah," ujar seorang wanita tua dengan kalung mutiara yang harganya mungkin cukup untuk membeli satu desa.
"Duduklah. Mari kita makan sebelum kita bicara soal... terminasi."
Elena duduk, sementara Reza berdiri di belakangnya dengan tangan di saku, memerankan perannya sebagai pengkhianat dengan sempurna.
"Kalian mengancam yayasanku," Elena langsung ke inti masalah. "Kalian pikir aku akan takut?"
"Kami tidak mengancam, Nak. Kami hanya merapikan aset," sahut pria di ujung meja.
"Kau adalah variabel yang tidak stabil. Kau menghancurkan Eve, investasi masa depan kami.
Sekarang, kau harus membayar.
Dan harganya adalah seluruh akses ke data Obsidian yang kau curi."
Reza maju selangkah. "Dia membawanya di sini, Tuan-tuan," ujar Reza sambil meletakkan sebuah tas koper kecil di meja.
"Sesuai kesepakatan kita, aku menyerahkan data ini, dan kalian memberiku kendali atas aset Mahendra di Eropa."
Elena menatap Reza dengan akting terkejut yang luar biasa. "Reza? Kau... kau benar-benar mengkhianatiku?"
"Bisnis tetap bisnis, Elena. Kau terlalu emosional," jawab Reza dingin.
Para tetua Obsidian itu tertawa. Mereka merasa telah menang.
Mereka mengambil koper itu dan segera menghubungkannya ke komputer utama di tengah meja untuk memverifikasi data.
Sianida Digital
"Tunggu sebentar," ujar sang wanita tua sambil mengerutkan kening melihat layar.
"Kenapa kodenya tidak terbaca? Ini bukan daftar kontak. Ini..."
"Itu adalah virus 'Kamikaze', Nyonya," Elena memotong pembicaraan dengan suara yang kini berubah menjadi sangat tajam.
Senyum kemenangannya muncul.
Reza tidak lagi berdiri diam.
Dalam satu gerakan kilat, ia mengeluarkan pistol kecil dari balik jasnya dan melumpuhkan dua penjaga di pintu.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak pria tua itu panik.
"Data yang kau coba buka itu baru saja mengirimkan lokasi server pusat kalian ke pihak berwenang di lima negara secara bersamaan," Elena berdiri, mencondongkan tubuhnya ke meja.
"Dan sebagai bonus, sistem pendingin ruangan ini baru saja aku kunci. Dalam tiga puluh detik, gas saraf yang kalian gunakan untuk 'mengamankan' gedung ini akan berbalik masuk ke ruangan ini."
Kepanikan pecah.
Para penguasa dunia itu kini tampak seperti tikus yang terjebak.
Mereka mencoba membuka pintu, tapi semua sudah terkunci secara digital oleh Paman Han dari jet pribadi.
"Kau gila! Kau juga akan mati di sini!" teriak mereka.
Elena mengeluarkan masker oksigen mini dari tas tangannya dan melemparkan satu ke Reza.
"Aku sudah terbiasa mati, ingat? Dan kali ini, aku tidak akan jatuh ke jurang sendirian."
Runtuhnya Menara Gading
Gedung itu mulai bergetar.
Bukan karena ledakan, tapi karena semua sistemnya mengalami overload.
Elena dan Reza berlari menuju jendela kaca yang sudah dipasangi alat peledak kecil oleh tim Paman Han sebelumnya.
BOOM!
Kaca pecah berkeping-keping.
Di luar, sebuah helikopter tanpa tanda pengenal sudah menunggu di udara, meluncurkan tali penyelamat.
"Ayo, Elena!" teriak Reza.
Mereka melompat ke arah kegelapan malam Singapura, bergelantungan di tali helikopter saat gedung di belakang.
Mereka mulai gelap total—sebuah simbol runtuhnya kekuatan finansial The Obsidian di Asia.
Kemenangan yang Pahit
Di dalam helikopter, Elena melepas masker oksigennya.
Ia terengah-engah, namun matanya bersinar penuh kepuasan.
Ia melihat ke bawah, ke arah gedung yang kini dikepung oleh polisi internasional.
"Kau benar-benar gila," Reza tertawa sambil mengelap keringat di dahinya.
"Strategi pengkhianatan itu hampir saja bikin aku kena serangan jantung kalau kau telat sedetik saja menekan tombolnya."
"Tapi berhasil, kan?" Elena menyandarkan kepalanya.
Ponsel Elena bergetar. Sebuah pesan dari Julian di New York: "Target utama di Eropa sudah terdeteksi panik.
Mereka sedang melarikan diri. Sekarang atau tidak sama sekali."
Elena menatap langit malam yang luas.
Perang ini belum benar-benar berakhir, tapi malam ini ia telah memotong salah satu tentakel terbesar yang mencoba mencekiknya.
"Paman Han," Elena bersuara lewat radio.
"Ya, Nona?"
"Ganti rute. Kita tidak pulang ke Jakarta. Kita ke London. Aku ingin menyambut mereka saat mereka mendarat."
Reza menggelengkan kepala, tersenyum kagum.
"Kau benar-benar nggak mau kasih mereka napas, ya?"
"Napas adalah kemewahan yang tidak pantas mereka dapatkan setelah apa yang mereka lakukan pada ibuku," jawab Elena dingin.
Helikopter itu melesat membelah awan, meninggalkan Singapura yang masih dalam kekacauan.
Sang Nyonya yang Terbuang kini telah menjadi pemburu paling mematikan di dunia internasional.
Dari Jakarta ke Singapura, dan kini menuju jantung kekuatan lama di Eropa, Elena Adiguna sedang menulis ulang takdirnya—dengan tinta yang terbuat dari keberanian dan sedikit racun yang manis.
Bersambung...
Ayo buruan baca...