NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Jatuh Cinta Dengan Dosen Cantik

Sang Pewaris Jatuh Cinta Dengan Dosen Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dosen
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: pena pedang

Dunia ini kejam, tak ada kebahagiaan yang kekal, ujian selalu datang, maka jangan jadi orang yang lemah.
Di tengah hutan terpencil terdapat tempat pelatihan pembunuh bayaran, suatu organisasi dunia gelap yang dibentuk oleh bos mafia besar asia yaitu Bos Jamal.
disanalah tempat tinggal seorang pemuda bernama Bayu yang telah ditinggalkan orang tuanya sejak masih berumur sepuluh tahun. kini 12 belas tahun telah berlalu namun bayangan tragedi kematian kedua orang tuanya masih terngiang dikepalanya.
Ditempat pelatihan pembunuh bayaran ini lah ia dilatih oleh sang paman menjadi mesin pembunuh yang jenius untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.

kehidupannya mulai berubah saat ia mengenal seorang gadis yang bernama Anita, sosok dosen cantik yang dapat menyentuh hatinya.
ideologinya sedikit demi sedikit mulai berbeda, tentang asmara, balas dendam, maupun apa yang telah diwariskan, semua memiliki batu sandungan yang harus diterjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena pedang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

memusnakan naga.

Di dalam Bar Gonza.

Ruang VIP yang tadinya ramai penuh tawa kini dalam sekejap berubah mencekam, bau Amis darah menyebar mengisi ke seluruh ruangan.

Para pengawal tergeletak disana, sedangkan para gadis penghibur buru-buru keluar, namun Bayu hanya duduk di kursi sofa, masih santai sambil menghisap rokok.

Tatapan matanya tajam, sebatang rokok ia jepit diantara jari telunjuk dan jari tengah.

Ia hisab lalu ia hembuskan asap rokok itu dengan pelan, begitu sangat menikmati.

wakil ketua berkumis yang bertubuh besar tergeletak di lantai sedang punggungnya bersandar di dinding.

Ia hanya bisa melihat sosok pemuda tampan di hadapannya, sedang duduk di sofa dengan santai sambil merokok.

Ia teringat satu gerakan, kecepatan membantai para pengawal yang hanya membutuhkan sedikit waktu untuk menumbangkan semuanya, itu sudah cukup membuatnya menjadi tertekan tak berdaya.

Tanpa tenaga, tanpa perlawanan, tanpa kemampuan untuk membalas, ia kini hanya bisa pasrah, sebab ia menyadari bahwa malam ini dirinya telah kalah.

"Ketua tak akan melepaskan mu," kata wakil ketua berkumis masih dalam keadaan tertunduk menyediakan.

"Aku kecewa, ternyata kalian sangat lemah, kini kamu gak mampu berjalan, baiklah, cepat panggil ketua kalian kesini", kata Bayu sambil menghisap rokok.

"Baik," Dengan tangan gemetar wakil ketua itu mengangkat ponselnya.

"Ketua, ada yang mengacaukan usaha kita, orang-orang kita sudah terbantai habis," katanya.

Dari sebrang telepon pria dewasa menggeram, matanya memerah, "sampah, dasar tak becus, aku akan kesana", teriaknya berjalan keluar dari kamarnya dan memanggil semua anak buahnya.

......

Satu jam berlalu dengan cepat.

Bar di kosongkan dengan paksa.

Orang-orang berlarian keluar, begitu juga dengan Anita cs.

Para preman jalanan mengambil posisi mengepung pintu keluar bar. Pria dewasa memakai jas hitam ditangannya memegang cerutu berjalan santai masuk bar diikuti lima puluh pengawal memakai kemeja hitam rapi, dan tak lupa di pinggangnya terselip pistol.

Suara langkah kaki berat, banyak dan serempak melewati lorong.

Dari ruang VIP suara itu terdengar samar, namun beberapa menit kemudian suara itu semakin jelas dan semakin mendekat.

"Braaak"... Pintu di dobrak, para pengawal segera mengelilingi Bayu yang Masi duduk di sofa dengan santai.

Dari belakang para pengawal yang datang, suara langkah santai berjalan masuk, langkahnya ringan dan seperti ketukan di dalam kesunyian malam.

Saat ia datang para pengawal sudah menyediakan kursi husus untuk ia duduki.

Kursi itu diletakkan disamping wakil ketua yang sedari tadi tergeletak di lantai.

"Dooor!!", satu tembakan tepat dikepala wakil ketua.

"Sampah tak berguna", katanya setelah membunuh wakilnya sendiri.

Penembakan itu cukup membuat seluruh ruangan menegang untuk beberapa detik.

Semua terdiam, namun Bayu tersenyum.

"Hahaha.... Aku suka orang yang nekat dan tak tau diri" kata ketua itu menatap tajam pada Bayu yang masih terlihat santai.

"Bapak Gonzales", kata Bayu mengangkat wajahnya.

"Kamu tahu namaku?" Jawab ketua itu.

"Hmmm.... Rektor UJ elit" lanjut Bayu senyumnya semakin melebar.

Pupil mata Pak Gonzales sedikit mengecil, walau sebentar namun Bayu dapat menangkap gerakan singkat itu.

"Siapa kamu, bahkan tahu identitasku", teriak pak Gonzales.

"Santai aja, kita lakukan permainan ini pelan-pelan", kata Bayu lagi, mencoba memegang kendali permainan.

Pak Gonzales menggelengkan kepalanya, "baiklah... Aku turuti permintaanmu, agar kamu gak mati penasaran, anggap saja ini permintaan terakhirmu yang akan aku kabulkan".

Bayu menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Lelaki tua yang sok keras kepala".

"Jaga bicaramu" teriak salah satu pengawal mengacungkan pistolnya kearah Bayu di ikuti semua pengawal.

Gerakan itu serentak.

"Bocah... Keadaanmu sekarang tak menguntungkan, jadi jagalah bicaramu" kata pak gonzales sambil menghisap cerutu kemudian meniupkan kedepan.

Asap rokok dan cerutu bercampur menjadi satu mengisi ruangan.

Di luar bar disamping jalan raya, Anita cs berjalan santai.

"Tadi itu sangat menyeramkan" kata Vivi sambil berjalan.

"Gak tahu siapa yang menyinggung geng sembilan naga", sambung April.

"Aku pernah dengar geng itu memiliki sembilan ketua, katanya setiap ketua memimpin di dalam bidangnya masing-masing, sedang identitasnya sangat rahasia", potong Ratih.

"Pantesan, tadi sebelum mereka datang, semua disuruh keluar", kata Vivi lagi.

"Acara kita jadi berantakan, maaf ya" kata Anita.

"Gak usah ngomong acara lagi... Kita bisa keluar dengan selamat itu udah bersyukur banget", jawab Ratih.

"Gak gitu... Aku jadi merasa bersalah, aku yang mengajak kalian pergi ke bar Gonza, malah jadi seperti ini, gimana kalau kita mencari tempat sate sambil minum bir, gak apa-apa kan, lagian yang tadi itu kita gratisan", jelas Anita.

"Oh... Gitu... Jadi kantongmu masih tebal ya" jawab April.

"Hehe..." Anita tertawa kecil sambil menggaruk kepala.

"Baiklah.. kejadiannya Uda seperti ini, jadi apa boleh buat, aku tahu tempat makan sate yang enak", jawab Vivi.

Mereka berempat naik mobil dan berhenti di trotoar depan pedagang sate kaki lima.

Mereka turun mengisi meja kosong.

Udara malam berhembus pelan, warung sate tanpa atap menambah keseruan suasana malam yang terang, dihiasi lampu redup dan di bawah langit berbintang.

Bau aroma sate dari asap yang menyebar menambah selera makan, dan mampu membuat air liur penuh di dalam mulut.

Pelayan datang dan menyajikan makanan dan minuman yang telah mereka pesan.

"Aaaah... Aku baru sadar, langit malam ini sangat indah" kata April mendongak keatas.

"Bu model baru sadar ya..." Jawab Ratih menggigit sepotong daging sate.

"Harusnya kita mengajak bayu juga", kata Anita tiba-tiba.

April dan Ratih saling memandang.

"Kayaknya nama itu gak asing ditelinga" kata Ratih.

April menunjuk pada Anita, jangan-jangan cowok ganteng itu ya... Emang kamu kenal dekat Ama dia?" Tanya April antusias.

"Tunggu-tunggu.... Emangnya kalian berdua kenal juga sama Bayu?" Tanya Vivi penasaran.

"Hanya satu kali ketemu sih..." Jawab April.

Ratih mengangguk.

"Sebenarnya... Bayu itu salah satu mahasiswa di kampusku.

"Benarkah..!!!" Jawab April dan Ratih serempak.

Vivi memperhatikan.

Anita mengangguk, "sejujurnya, karena dia program riset kecerdasan buatan itu berhasil dengan sukses" jelas Anita.

"Haaa... Kok bisa?" Tanya Ratih.

Anita terdiam lagi, wajahnya berubah menjadi cemas.

"Ada apa?" Tanya Ratih menangkap perubahan dari raut wajah Anita.

"Entah kenapa hatiku sekarang tiba-tiba merasakan gak enak". Jawab Anita lagi.

"Emangnya kenapa, kok...." Kata Ratih.

"Aku baru ingat", potong Anita.

"Apa?" Tanya Ratih.

Sedang Vivi dan April mendengar dengan seksama tanpa memotong percakapan.

"Kalian ingat, saat kita diganggu preman geng naga, bukankah Bayu telah menolong kita" kata Anita mengangkat kedua alisnya.

Mereka terdiam untuk beberapa saat.

"Gak mungkin kan orang yang mengacau di bar Gonza adalah Bayu", kata Ratih ragu-ragu.

"Iya gak mungkin, mereka hanya preman, sedang dalam bar tadi yang datang salah satu ketua geng sembilan naga yang identitasnya disembunyikan". Jelas April.

"Sejujurnya setelah kejadian itu, mereka datang lagi mencari perhitungan dengan Bayu, bahkan sampai menyita surat kendaraan Bayu".

"Terus gimana?" Tanya April antusias.

"Paginya Bayu masih selamat dan seperti gak terjadi apa-apa" jelas Anita.

"Kamu yakin?" Tanya Ratih.

"Bahkan Bayu masih masuk kampus dan bersama aku menghadiri rapat pengembangan program kecerdasan buatan, karena bayulah program ini berjalan lancar dan berhasil", jelas Anita kembali.

Kini mereka berempat jadi terdiam.

.........

Di dalam bar ruang VIP.

Bayu sedang berdiri di tengah tumpukan para pengawal yang sudah bergelimpangan tak berdaya.

Bayu berjalan lima langkah kedepan pas, berhenti di depan pak Gonzales yang masih duduk di kursi.

Namun duduknya saat ini sudah menegang, sedang hatinya risau dan jantungnya berdebar kencang.

"Apa yang kamu mau?".

"Memusnakan naga" jawab Bayu menatap tajam.

..........

Bersambung.

1
Fatmawati Qomaria
novel baru ya kk
Muhammad Salim: iya kak
total 1 replies
Muhammad Salim
kalau ada yang kurang pas, komen saja ya... maklum masih baru dan masih belajar.
Muhammad Salim: iya kakak... terimakasih 🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!