Aura, seorang sekretaris teladan, dan Arkan, CEO dingin yang perfeksionis, terpaksa menikah setelah dijebak dalam sebuah skandal memalukan saat perjalanan bisnis di Bali. Pernikahan paksa ini memaksa mereka menjalani peran sebagai atasan-bawahan di kantor sekaligus suami-istri di rumah. Di balik kerumitan perasaan yang mulai tumbuh, keduanya harus bersatu memburu dalang konspirasi yang sengaja menjebak mereka sebelum karier dan nyawa mereka menjadi taruhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Investigasi Bawah Tanah
Malam itu, rumah mewah di Menteng terasa lebih sunyi dari biasanya. Setelah insiden dengan Robert Tanadi di kantor, atmosfer antara Arkan dan Aura diselimuti oleh kecanggungan yang aneh—campuran antara kemarahan Arkan yang posesif dan kebingungan Aura yang mulai merasakan getaran tak kasat mata. Namun, di balik dinding-dinding kokoh itu, ada urgensi lain yang lebih besar daripada sekadar urusan perasaan. Ancaman dari Danu dan misteri laporan polisi di Bali masih menggantung seperti pedang Damocles di atas kepala mereka.
Pukul sebelas malam, Aura baru saja hendak merebahkan diri ketika pintu kamarnya diketuk pelan. Ia membuka pintu dan mendapati Arkan berdiri di sana, tidak lagi mengenakan jas kaku, melainkan kaos hitam santai dan celana kain. Wajahnya tampak lelah, namun matanya memancarkan ketajaman yang hanya muncul saat ia sedang merencanakan sebuah manuver bisnis besar.
"Bawa laptopmu ke perpustakaan bawah tanah," ucap Arkan tanpa basa-basi. "Bimo baru saja mengirimkan data yang kita tunggu."
Aura tidak bertanya. Ia segera meraih laptop dan menyusul Arkan menuruni tangga menuju perpustakaan yang terletak di lantai dasar, sebuah ruangan yang dikelilingi oleh ribuan buku dan kedap suara. Arkan sudah menyalakan layar monitor besar yang terhubung ke sistem keamanan pribadi Mahendra Group.
"Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan Bimo," Arkan memulai, suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu. "Danu sudah mulai bergerak di tingkat dewan komisaris. Dia menggunakan data palsu soal kerugian proyek Bali untuk menggoyahkan kepercayaan Oma. Jika kita tidak menemukan 'sang pengadu' itu dalam waktu dekat, pernikahan ini tidak akan cukup untuk menyelamatkan posisiku."
Aura duduk di samping Arkan, meletakkan laptopnya di meja kayu jati yang luas. "Saya sudah memeriksa kembali log komunikasi kantor selama satu bulan sebelum kejadian di Bali, Pak. Ada satu hal yang ganjil."
Aura membuka sebuah folder terenkripsi. "Ada beberapa panggilan keluar dari telepon meja di divisi operasional—divisi Pak Danu—ke sebuah nomor di Bali. Panggilan itu dilakukan pada jam-jam yang tidak wajar, sekitar pukul dua pagi."
Arkan menyipitkan mata. "Operasional? Siapa yang memiliki akses ke telepon itu di jam seperti itu?"
"Secara resmi, hanya staf keamanan dan petugas kebersihan. Tapi, ada satu nama yang muncul di daftar absensi lembur pada malam-malam tersebut," Aura mengklik sebuah nama. "Hendra. Dia salah satu asisten pribadi Pak Danu yang paling senior."
Arkan bersandar ke kursinya, jemarinya mengetuk meja. "Hendra... dia orang yang sangat licin. Dia sudah bersama Danu sejak awal. Jika Hendra terlibat, maka Danu adalah otak di belakangnya. Tapi kita butuh bukti fisik, bukan sekadar log telepon yang bisa dibantah sebagai urusan koordinasi lapangan."
"Itu sebabnya saya melakukan sesuatu yang mungkin sedikit... melanggar hukum," Aura bergumam pelan, melirik Arkan dengan ragu.
Arkan mengangkat alisnya. "Apa yang kamu lakukan?"
"Saya meretas akun cloud cadangan milik Hendra. Dia cukup ceroboh untuk menggunakan tanggal lahir anaknya sebagai kata sandi," Aura memutar laptopnya ke arah Arkan. "Di sana, ada folder tersembunyi berisi foto-foto. Lihat ini."
Layar menampilkan foto-foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi. Foto Arkan dan Aura di restoran Bali, foto mereka saat memasuki lift hotel, bahkan foto saat Aura tampak tidak berdaya dipapah oleh Arkan. Namun yang paling mengejutkan adalah sebuah tangkapan layar percakapan pesan singkat.
“Barang sudah diletakkan di bawah laci meja rias. Polisi akan tiba pukul 06.00. Pastikan media sudah standby di lobi.”
Darah Arkan seolah mendidih melihat pesan itu. "Binatang," desisnya. "Mereka benar-benar merencanakan ini sedetail itu. Mereka tidak hanya ingin saya jatuh, mereka ingin menghancurkan martabatmu juga, Aura."
Aura terdiam sejenak, menatap foto dirinya yang tampak menyedihkan di layar. Rasa mual itu kembali, namun kali ini ada kemarahan yang membakarnya. "Pak Arkan, ada satu lagi. Di dalam folder yang sama, ada rekaman suara."
Aura menekan tombol play. Suara yang muncul sangat jernih.
“Ingat, Hendra. Jangan sampai ada jejak. Setelah ini selesai, Lydia akan mengatur transfer ke rekening istrimu di Singapura. Mahendra Group akan berada di bawah kendaliku, dan Arkan akan berakhir di penjara atau setidaknya di pengasingan sosial.”
Itu suara Danu. Dan dia menyebut nama Lydia.
Keheningan yang mencekam menyelimuti perpustakaan itu. Arkan menatap layar dengan pandangan kosong, namun Aura bisa merasakan amarah pria itu sedang mencapai titik puncaknya. Pengkhianatan dari sepupu sendiri adalah satu hal, tetapi melibatkan Lydia—wanita yang dikirim keluarganya untuk "menyelamatkan" reputasinya—adalah penghinaan yang tak termaafkan.
"Jadi Lydia dan Danu bekerja sama," ucap Arkan pelan, suaranya mengandung kengerian yang tenang. "Lydia bertugas sebagai 'pilihan yang lebih baik' di mata keluarga saya, sementara Danu menghancurkan saya dari dalam. Strategi yang sempurna."
Aura menatap Arkan dengan rasa simpati yang mendalam. "Apa rencana kita selanjutnya, Pak?"
Arkan menoleh ke arah Aura. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Aura sebagai sekretaris atau istri kontrak, melainkan sebagai satu-satunya sekutu yang ia miliki di dunia yang penuh tipu daya ini. Ia meraih tangan Aura, menggenggamnya dengan erat di atas meja.
"Kita tidak akan menyerahkan ini ke polisi sekarang," ucap Arkan mantap. "Danu punya koneksi, dia bisa menghilangkan bukti ini sebelum sampai ke meja hijau. Kita akan memainkan permainan mereka. Kita akan biarkan mereka berpikir bahwa rencana mereka berhasil."
"Maksud Bapak?"
"Besok adalah pertemuan tahunan pemegang saham. Danu pasti akan mencoba melakukan pemungutan suara untuk mosi tidak percaya terhadap saya. Lydia akan ada di sana untuk menunjukkan 'dukungannya'," Arkan tersenyum dingin. "Kita akan biarkan mereka merasa di atas angin. Dan saat Danu merasa kemenangan sudah di tangan, kita akan memutar rekaman ini di depan seluruh dewan komisaris dan media yang dia undang sendiri."
Aura mengangguk, merasakan adrenalin mulai mengalir di nadinya. "Saya akan menyiapkan salinan digital di lima server berbeda agar tidak bisa dihapus. Saya juga akan menyusupkan rekaman ini ke dalam slide presentasi laporan tahunan."
Arkan menatap Aura dengan binar kekaguman yang tidak bisa disembunyikan. "Kamu benar-benar Sekretaris Sempurna, Aura. Dan sekarang, kamu adalah partner yang berbahaya."
Malam semakin larut saat mereka terus menyusun rencana. Di ruang bawah tanah itu, batas-batas antara atasan dan bawahan benar-benar lenyap. Mereka berbagi informasi rahasia, menyusun strategi, dan sesekali tertawa kecil saat menemukan celah dalam rencana Danu yang arogan.
Saat mereka akhirnya selesai, jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Aura meregangkan tubuhnya yang kaku.
"Aura," panggil Arkan saat wanita itu hendak merapikan laptopnya.
"Ya, Pak?"
"Terima kasih. Bukan hanya untuk data ini, tapi karena kamu tidak memilih flashdisk Danu malam itu," Arkan menatapnya dengan lembut. "Bimo memberi tahu saya bahwa dia menemukan flashdisk yang kamu buang di taman."
Aura tertegun, wajahnya merona merah. "Bapak tahu?"
"Saya tahu semuanya, Aura. Dan kenyataan bahwa kamu memilih untuk tetap di sisi saya, meskipun saya telah menyeretmu ke dalam kekacauan ini... itu berarti segalanya bagi saya."
Arkan melangkah mendekat, jarak di antara mereka kini sangat tipis. Untuk sesaat, Aura mengira Arkan akan menciumnya. Jantungnya berdegup kencang, menanti sesuatu yang melanggar aturan nomor satu mereka. Namun, Arkan hanya meletakkan tangannya di bahu Aura, memberikan remasan yang memberikan kekuatan.
"Istirahatlah. Besok akan menjadi hari yang panjang. Kita akan menjatuhkan raksasa-raksasa itu bersama-sama," bisik Arkan.
Aura mengangguk, hatinya terasa penuh. Saat ia berjalan kembali ke kamarnya, ia menyadari bahwa investigasi bawah tanah malam ini telah mengubah segalanya. Mereka bukan lagi dua orang yang terikat kontrak dingin; mereka adalah dua pejuang yang berbagi rahasia yang sama. Dan bagi musuh-musuh Mahendra, kerja sama ini akan menjadi awal dari akhir kejayaan mereka.
Di balik jendela rumah Menteng, fajar mulai menyingsing. Sinyal pertama telah berlalu, dan sekarang, badai perlawanan balik telah siap dilepaskan.