Bagaimana rasanya jika di hari pernikahan, ternyata pria yang kamu nikahi bukanlah pria yang kamu cintai. Hal ini terjadi pada Rania, gadis malang yang ternyata menikahi Arman, adik dari Adam pria yang dia cintai. Dan kemalangan tak berhenti disana, bahkan setelah pernikahan ternyata Arman memilih pergi meninggalkannya untuk pergi bersama wanita yang dia cintai. Namun na'as, pesawat yang ditumpangi mereka berdua mengalami kecelakaan dan seluruh penumpang dikabarkan meninggal dunia.
Rasa kecewa Rania seketika berubah menjadi duka. Status seorang istri berubah menjadi janda hanya dalam waktu sehari. Namun, setelah semua kejadian itu tidak mudah bagi Rania untuk meninggalkan rumah keluarga Pratama. Karena ibu mertuanya ingin Rania melahirkan keturunan untuk keluarga mereka.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Dan bagaimana kehidupan Rania di rumah keluarga Pratama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Adam langsung membawa Rania serta menggandeng Dava dan Diva meninggalkan ruang makan.
"Ayo, kita naik ke atas," ujar Adam tegas.
"Tunggu!" Arman menghalangi langkah mereka. Wajahnya yang arogan tampak merah padam. "Kenapa Rania harus ikut ke lantai atas? Kamar tamu di bawah masih banyak yang kosong. Sebagai 'adik ipar' yang berbakti, bukankah seharusnya dia tahu batasan? Apalagi ada aku, suaminya, yang tidur di lantai bawah. Kenapa dia malah mengekor ke wilayah pribadimu, Kak?"
Bu Sofia segera melerai Arman sebelum Adam meledak. "Arman, dengar dulu... Rania itu selama ini tidur di kamar anak-anak di lantai atas. Kamarnya tepat di samping kamar Adam. Itu karena Dava dan Diva sering terbangun malam hari dan mencari sosok ayah. Rania harus sigap di sana."
Arman tertawa sinis, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Mencari sosok ayah? Bukankah ada pengasuh? Dan kenapa harus di samping kamar Kak Adam? Ini tidak masuk akal. Aku tidak terima. Rania, kamu tidur di lantai bawah. Di kamar mana pun terserah, asal jangan di atas. Aku suamimu, dan aku tidak suka istriku berkeliaran di dekat pria lain, meskipun itu kakakku sendiri."
Adam melangkah satu tindak ke depan, tubuhnya yang tegap menjulang di depan Arman. Tatapan matanya begitu tajam, sedingin es yang mampu membekukan siapa pun. "Rania tetap di atas. Dia yang paling tahu kebutuhan anak-anak. Jangan sok mengatur di rumah yang bahkan tidak tahu di mana kamu berada selama lima tahun terakhir."
Tanpa menunggu balasan Arman, Adam menarik Rania dan anak-anak melewati Arman begitu saja. Rania sempat melirik sekilas ke arah Arman, dan ia bergidik ngeri melihat kebencian yang terpancar dari mata pria itu.
"Jangan pedulikan dia. Terus jalan," bisik Adam di telinga Rania, memberikan kekuatan yang sangat dibutuhkan wanita itu.
Arman yang ditinggalkan di ruang tamu hanya bisa menggeram. Ia menoleh pada ibunya. "Ibu terlalu memanjakan mereka! Dan satu lagi, aku ingin kamar yang lebih luas. Kalau perlu, pindahkan barang-barangku ke lantai atas besok pagi. Aku ingin kamar utama di atas!"
Adam yang baru mencapai pertengahan tangga berhenti dan menoleh sedikit. "Lantai atas adalah kekuasaanku. Tidak ada yang boleh menginjakkan kaki di sana tanpa izin dariku, termasuk kamu, Arman. Mengerti?"
Suara Adam yang berat dan penuh otoritas membuat Arman bungkam seketika. Dengan perasaan kesal yang luar biasa, Arman membalikkan badan dan masuk ke dalam kamar tamu sementara, diikuti oleh Jenny dan Bagas.
Di dalam kamar, suasana tak kalah panas. Jenny pinggir tempat tidurnya dengan kesal. Dia menatap suaminya dengan tatapan provokatif.
"Kamu lihat itu, Arman? Kakakmu... dia tidak hanya melindunginya, tapi dia menjaganya seperti singa menjaga betinanya," bisik Jenny dengan suara rendah yang berbisa. "Jangan-jangan benar apa yang kupikirkan. Selama kamu dianggap mati, mereka berdua punya hubungan spesial. Mana ada kakak ipar seposesif itu pada janda adiknya sendiri?"
Arman mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. "Diam kamu, Jenny!"
"Kenapa aku harus diam? Kamu lihat tatapan Rania pada Adam? Itu bukan tatapan takut pada kakak ipar, itu tatapan wanita yang sedang berlindung pada suaminya. Kalau kamu diam saja, posisi kita di keluarga Pratama akan tergeser oleh 'anak adopsi' dan wanita pembawa sial itu. Kamu harus melakukan sesuatu, Arman. Rebut kembali hakmu, atau kita akan terus diinjak-injak kakak ipar."
Hasutan Jenny bekerja seperti api yang menyambar bensin. Arman mondar-mandir di kamar dengan pikiran kalut. "Dia masih istriku. Besok, aku akan menunjukkan pada Adam siapa yang sebenarnya memiliki Rania."
Sementara itu di lantai atas, suasana jauh lebih tenang namun terasa sangat emosional. Rania membimbing Dava dan Diva ke tempat tidur mereka. Ia mencoba tersenyum meski hatinya hancur berkeping-keping. Dengan suara lembut yang bergetar, ia membacakan cerita tentang ksatria pemberani yang melindungi kerajaannya, sebuah cerita yang menggambarkan sosok pahlawan seperti dari Adam di matanya.
"Mama, kenapa Om tadi marah-marah pada Papa dan kita?" tanya Diva dengan polos sebelum matanya terpejam.
Rania mengusap kening putrinya. "Om itu hanya sedang lelah, Sayang. Tidurlah, ada Papa dan Mama di sini."
"Sampai kapan mereka tinggal disini ma, aku tidak suka dengan anak mereka. Dia sangat nakal, tadi dia merebut boneka Diva dan mendorongnya. Aku benar-benar tidak suka dengannya. " adu Dava.
"Benarkah? apakah Diva terluka? " Rania segera memeriksa keadaan anaknya untungnya Diva tidak terluka.
Setelah memastikan kedua buah hatinya terlelap, Rania beranjak bangun. Ia tidak lupa mengunci pintu kamar anak-anak dari dalam, sebuah tindakan naluriah karena ia merasa terancam oleh kehadiran Arman di bawah sana.
Baru saja ia berbalik, pintu penghubung antara kamar anak dan kamar utama terbuka. Adam berdiri di sana. Tanpa sepatah kata pun, dia melangkah mendekat dan menarik Rania ke dalam dekapan dadanya yang bidang, seolah ingin menyatukan kembali jiwa Rania yang sempat tercerai-berai karena ketakutan.
Adam mencium kening Rania lama sekali, lalu turun ke puncak kepalanya. "Maafkan aku... maaf karena harus memintamu bersandiwara karena keinginan ibu," bisiknya parau.
Rania membalas pelukan itu dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada Adam. "Aku takut, Mas. Aku takut dia melakukan sesuatu padaku dan anak-anak."
Adam tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menangkup wajah Rania, menatap matanya dalam-dalam sebelum mendaratkan ciuman yang penuh kerinduan dan kepemilikan. Ciuman itu tidak seperti biasanya, ada rasa menuntut, rasa haus akan kepastian bahwa wanita ini adalah miliknya. Adam menggendong Rania masuk ke dalam kamar mereka, menutup pintu rapat-rapat seolah ingin mengunci seluruh dunia di luar sana.
Malam itu, di bawah keremangan lampu kamar, Adam mencurahkan seluruh cintanya. Ia mencium setiap jengkal wajah Rania, membisikkan kata-kata yang menenangkan. Entah kenapa, kembalinya Arman justru menyulut api asmara dan proteksi yang lebih besar dalam diri Adam. Ia merasa sangat rindu, rasa rindu yang menyakitkan sekaligus mendebarkan.
Di benaknya, hanya ada satu tekad tidak akan ada satu tangan pun yang boleh menyentuh Rania, dan tidak ada satu orang pun yang boleh menyakiti anak-anaknya. Sekalipun itu adalah adik kandungnya sendiri.
Di kegelapan malam, Adam terjaga, memeluk Rania yang akhirnya tertidur karena kelelahan. Matanya menatap langit-langit kamar dengan tajam. Dia harus memikirkan cara untuk melindungi anak dan istrinya. Tapi masalah terbesar adalah ibunya yang tidak ingin anak-anaknya keluar dari rumah ini.
Saat dia sedang berfikir, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan bunyi handle pintu yang dipaksa dibuka.