menceritakan tentang pengalaman seorang Mustafa yang nekat mencium seorang wanita baik-baik dan bahkan bercadar.
Hingga kebejatannya itu membuatnya harus menikahi sang wanita bercadar.
Baca kisahnya di sini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
"Ah iya oke." Padahal lebih asik mengamati gerakan dia. Gak tahunya jadi bantuin beneran.
Akhirnya aku memotong apel berbentuk dadu, dan dia mengupas buah yang lain.
Aku memotong sambil ku amati tangannya yang lumayan cekatan juga. Pikiranku benar-benar kemana-mana saat melihat tangan Azzahra memegang buah kiwi.
"Awh!" Karena tak fokus. Tanganku terkena sedikit pisau.
"Mas!" refleknya menengokku dan melihat jariku yang mengeluarkan sedikit darah.
"Kenapa Mas gak hati-hati?" marahnya sambil memegang tanganku.
"Ada hansaplast?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Gak ada," jawabku pelan.
"Gak perhatian sama diri sendiri?" tanyanya seperti sebuah sindiran.
Dengan polosnya aku kembali menggeleng. "Mas lebih suka diperhatiin sama kamu," godaku padanya.
Dia seperti berdecih sebal padaku. Lalu tangannya mengambil tissu yang ada di depannya. Tanganku ia kasih tissu lalu dia genggam erat luka goresan pisau tadi, supaya darahnya berhenti.
Aku tersenyum melihatnya. Tiba-tiba dia mendongak. Mata kami saling menatap. Detak jantungku seperti terhenti saat itu. Kami tak ada yang berkutik. Selain bola mata kami saling memandang satu sama lain.
Lalu dia menunduk, menghindari tatapan kami yang terlihat semakin intimm.
"Mas duduk aja. Biar Azzah yang selesain ini," katanya sambil menyerahkan tanganku yang kanan ke tanganku yang kiri.
Aku kembali tersenyum lebar. "Tuh kan, dari tadi apa. Mas emang ditakdirkan buat lihatin kamu," ucapku sambil meledek.
"Gak ada!" tolaknya sambil melanjutkan memotong apel yang sebagian sudah ku potong tadi.
"Ada. Nih sekarang mas lihatin kamu," ledekku sambil cengengesan.
"Mas ke depan aja!" suruhnya.
"Gak mau!" tolakku sambil menggeleng-geleng.
"Terserahmu Mas," jawabnya menyerah.
Ku awasi dia seperti sangat kerepotan. Dia benar-benar sibuk untukku hari ini.
"Udah selesai!" ucapnya girang.
"Mau langsung dimakan apa nunggu dingin?" tawarnya seraya bertanya.
"Em, mas ngikut kamu aja!" jawabku dan dia terlihat setengah berfikir.
"Azzah lebih suka dingin," sahutnya kemudian.
"Ya udah, kalau gitu dimakan dingin aja." Aku melontarkan senyum. Saat ini aku berdiri sambil bersandar di dinding.
Setelah dia mengangguk. Salad itu ia masukkan ke kulkas. Lalu beberapa buah ia masukkan juga ke dalam kulkas.
"Oh iya, mau makan di sini apa di rumah abi?" tanyanya padaku.
"Di mana aja, terserah kamu!"
"Ada beras?" tanyanya padaku.
"Beras...!" Aku berfikir. Sudah lama banget aku gak masak. Mana mungkin aku punya beras. Pikirku sangat malu.
"Iya beras Mas," jawabnya memastikan.
Aku menggeleng sambil menunjukkan deretan gigiku.
Dia menarik nafas panjang.
"Gak punya?" tanyanya dan aku mengangguk.
"Ya udah, kalau gitu kita makan di rumah abi aja," jawabnya.
Lalu dia mendekati tempat cuci piring. Menyalakan kran di sana. Dia mencuci tangannya. Lalu dia membereskan sisa-sisa kupasan buahnya tadi. Dia terlihat cekatan. Kadang merapikan bahan-bahan yang tadi ke kantong plastik. Setelah meja beres, dia kembali mencuci tangannya.
Sedang aku? Aku masih terdiam. Makan di tempat mertuaku sangatlah kurang nyaman, ditambah lagi suasana yang mencekam gara-gara sikap Sulaiman yang tak menyukaiku.
Azzahra sudah lewat di depanku. Ku tatap punggungnya, dia mendekati tasnya lalu melepas cadarnya.
"Mas udah azan, gak wudhu?" tanyanya mengejutkanku.
"Ah eh, i.. iya Dik!" jawabku agak terbata.
"Dik, mas mau mandi dulu kalau gitu."
Dia mengangguk.
Lalu ku usap kepalanya. Dia agak terkejut. Sebab saat ini dia tengah duduk di samping tasnya.
"Hehe." Aku cengengesan di depannya.
Dia tersenyum kecil. Setelah mengambil handuk, ku intip lagi istriku. Ternyata dia mainin HP nya.
"Bisa mainan HP ternyata," celetukku saat aku lewat di depannya.
"Bisa. Bukannya mas juga gitu?"
Dia melempar balik kata-kataku.
"Ya gak masalah, asal gak ada hal-hal yang disembunyiin," jawabku sambil berlalu darinya. Aku masuk kamar mandi dan menyalakan kran.
Azzahra di luar sana terlihat biasa saja. Karena dia merasa tak menyembunyikan apa-apa dari suaminya.
Tak lama kemudian, aku keluar kamar mandi. Aku tadi lupa cuma membawa handuk aja, jadi keluar cuma pakai handuk. Sengaja di rumah sendiri. Siapa tahu dapat jatah dari istriku.
"MAS!!" teriaknya terkejut sambil memalingkan wajahnya. Terlihat dia menutup matanya dengan rapat.
"Hah kenapa?" tanyaku sok polos.
"Kenapa kayak gitu?" Kali ini dia menutupi wajahnya.
"Ya apa salahnya. Kita udah nikah loh. Aku suamimu. Masa malu sih?" ledekku sambil mendekat ke arahnya.
"Ih mas gak sopan tau!" Dia sambil menggelengkan kepalanya gak mau melihat aku yang udah memamerkan dada.
"Ya oke. Mas pergi. Lagian mas juga udah ada wudhu. Nanti bisa batal kalau nyentuh kamu," ucapku kemudian.
Bukannya marah, justru aku ketawa kecil. Menurutku lucu sih bisa ngegodain Azzahra. Mungkin selama ini aku merasa kesepian, jadi ditemani Azzahra hidupku jadi berwarna.
Saat mau ke kamar, ku lirik lagi dia. "Dik kamu gak mandi sekalian?" tanyaku sambil menaik turunkan alisku.
"Gak bawa ganti," jawabnya masih malu.
"Baju Mas banyak tuh!" ledekku lagi.
"Astagfirullah!" jawabnya dan aku kembali tersenyum kecil.
"Cuma bercanda Dik," jawabku mengakhiri jailku padanya.
"Aku susul nanti," ucapnya sambil menuju ke kamar mandi.
Padahal sejak awal aku sangat obsesi pada Azzahra. Tapi setelah punya dia, akhirnya aku bisa bersabar. Karena suatu saat nanti aku tetap bisa menyentuhnya. Karena ternyata menikah itu tak harus soal nafsu belaka meskipun ada dan banyak godaan untuk memaksanya.
Sambil menunggu Azzahra selesai, aku usahakan mengaji meskipun hanya beberapa ayat.
"Qaala inni 'abdullahi aatanial kitaaba..."
"Waja'alani nabiyyaa," sahut Azzah yang membuatku takjub.
Suaranya sungguh merdu. Persis seperti suara yang ada di tok tok. Nadanya pun sama.
"Kok berhenti Mas?" tanyanya saat aku bengong.
"Ah, suaramu bagus banget Dik," pujiku dengan jujur.
Dia hanya tersenyum. Setelah mengakhiri mengajiku. Kini kami melaksanakan sholat berjamaah.
"Yuk Mas ke rumah abi. Nanti keburu malem," ucapnya.
"Iya ayo!" balasku.
Kemudian dia mengambil sebagian barang belanjaan tadi sekaligus salad yang udah dibuatnya. Soalnya sebagian sudah ia sisihkan di dalam kulkas.
Saat kami hendak masuk mobil. Ponselku berdering. Itu dari teman nakalku yang sering pergi ke karaoke.
"Bentar ya Dik," kataku pada Azzah. Aku pun tak mau menutupi semuanya. Jadi ku terima telfon itu tepat di samping Azzahra.
"Ya, assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam. Udah tobat lu bro! Pakek salam segala!" ledek temanku dari seberang sana.
Aku kecilkan segera volumenya biar Azzahra gak mendengar.
"Ada apa Bro! Tumben nelpon?" tanyaku tanpa basa-basi. Soalnya Joy ini agak ngelantur orangnya.
"Lu inget Jule gak?" tanya Joy dari seberang sana.
"Siapa?" tanyaku tanpa menyebut nama itu.
"Ju Le!" teriak Joy.
"Biasa aja kali gak usah teriak. Gak tahu, pokoknya gue lupa," terangku sambil menatap Azzahra. Aku takut Azzahra mengira aku masih nakal di luar sana.
"Gawat! Lu kok bisa lupa? Tahu gak? Tadi laki si Jule datang. Dia mau mukulin lu karena udah rebut istrinya!" terang si Joy dan aku langsung melotot.
"Ngawur aja!" jawabku sambil tutup telpon si Joy. Kesel banget, masa aku dituduh ngerebut istri orang.
Ku lirik Azzahra lagi. Apa mungkin Azzahra udah pernah punya suami? Pikirku. Ah masa sih.
"Kenapa Mas?" tanya Azzahra bingung saat ku perhatiin dia sambil berpikir.
"Ah ini, kayaknya salah paham."
Setelah dia mengangguk. Kami pun berangkat ke rumah pak Rahmad.
Semoga tak akan ada kejadian yang serius soal si Jule Jule tadi. Harapku.
Bersambung...