---
Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Daren kembali ke ibu kota dengan pikiran yang tidak tenang.
Biasanya, ia selalu pulang dengan kepala dingin, mengatur strategi bisnis, menyusun rencana ekspansi perusahaan dengan rapi. Namun kali ini berbeda.
Setiap kali mobil berhenti di lampu merah, wajah Nirmala muncul di pikirannya. Tatapan bingung gadis itu, cara Mala mencoba berpura–pura tenang meski guncangannya jelas terlihat. Cara bahunya mengendur saat ia tahu Daren datang.
Semua itu membuat dada Daren seperti dihimpit.
“Ini pertama kalinya aku… merasa begini,” gumamnya pelan.
Rayhan pindah duduk sedikit ke depan, melirik ke arah bosnya dari kaca spion tengah.
“Bos, kalau dipikir-pikir, baru kali ini juga aku lihat Bos gelisah.”
Daren menatap lurus ke jalan, tak menjawab.
“Biasanya masalah apa pun bisa Bos atasi. Mau itu ancaman bisnis, skandal, atau perempuan yang ngambek sekalipun.” Rayhan mendecak. “Tapi sekarang… sampai nggak fokus gini.”
Daren menghela napas panjang.
“Ray… aku memang bisa banyak hal. Tapi satu hal yang tidak pernah aku sentuh adalah… pembunuhan.”
Rayhan langsung menoleh cepat. “Bos! Jangan bilang—”
“Aku tidak berniat membunuh siapa pun,” Daren memotong cepat. “Tapi Melisa… wanita itu… dia tidak akan berhenti. Dia mau Mala mati.”
Suasana mobil langsung berat.
Daren menyandarkan kepala di kursi mobilnya.
“Dan aku… tidak cukup berpengalaman menghadapi orang sejenis itu. Beda sama penjahat ekonomi atau pesaing bisnis.”
Rayhan menelan ludah.
“Terus… Bos mau gimana?”
Daren memejamkan mata sejenak, lalu membukanya perlahan.
“Aku akan bicara pada Ayah.”
Rayhan membelalakkan mata.
“T-Tuan Armand?!”
Daren mengangguk.
---
Sampai di Rumah Besar Keluarga Adrianata
Rumah keluarga Adrianata bukan rumah… tapi seperti istana modern. Letaknya di pusat ibu kota, dikelilingi pagar tinggi, kamera tersembunyi, dan penjagaan tingkat tinggi.
Rumor tentang keluarga ini bukan sekadar usaha dan kekayaan.
Ada sesuatu yang lebih gelap. Sesuatu yang tidak pernah dibicarakan terang-terangan, tapi semua orang tahu:
Tuan Armand Adrianata bukan orang biasa.
Daren menaiki beberapa anak tangga menuju ruang utama. Detak jantungnya semakin cepat.
Belum sempat ia mengetuk pintu ruang kerja ayahnya, suara berat itu sudah terdengar.
“Masuk, Daren.”
Daren menarik napas dalam-dalam lalu membuka pintu.
Tuan Armand duduk di balik meja kayu besar. Wajahnya tegas, rambutnya memutih sebagian, tapi sorot matanya tajam—tajam seperti seseorang yang pernah melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat manusia biasa.
“Apa yang membuatmu kembali buru-buru dari kota kecil itu? Sampai-sampai ibumu panik karena kamu hilang dua hari,” tanya Armand tanpa basa-basi.
Daren berdiri, menunduk sedikit. “Ayah… ada hal penting yang harus aku ceritakan.”
Armand mengangkat alis. “Sampai wajahmu setegang itu? Duduklah.”
Daren duduk. Tangannya mengepal di paha.
Ia tahu… begitu kata-kata itu keluar, hidupnya tidak akan sama lagi.
“Ayah, aku sudah menikah.”
Armand terdiam.
Tidak bergerak. Tidak berkedip. Bahkan napasnya seperti berhenti sesaat.
Suasana ruang kerja terasa membeku.
“Ulangi,” kata Armand pelan.
“Aku… menikah.”
Armand membanting pena yang tadinya ia pegang.
“Kapan? Dengan siapa? Dan KENAPA aku dan ibumu tidak diberi tahu?!”
Daren menunduk sedikit. “Itu… terjadi tiba-tiba.”
“Menikah bukan hal yang tiba-tiba, Daren!” suara Armand meninggi.
Daren menarik napas dalam.
“Ayah… aku menikah dengan seorang gadis desa. Namanya Nirmala.”
Armand memicingkan mata. “Gadis desa?”
“Ya.”
Armand berdiri dari kursi, berjalan mengelilingi meja.
“Dan kau pikir itu kabar besar?”
Wajahnya mendekat ke arah Daren.
“Apa masalahnya sampai membuatmu pulang dengan ekspresi seperti orang dikejar maut?”
Daren menggigit bibirnya sebentar. Lalu ia mengatakan semua.
Dari awal.
Pelan tapi jelas.
Tentang malam ketika ia menyelamatkan Nirmala dari penjualan manusia.
Tentang ibu tiri Nirmala yang ingin membunuhnya.
Tentang rencana kecelakaan yang gagal.
Tentang ancaman berikutnya yang jauh lebih besar.
Tentang bagaimana Nirmala diawasi.
Tentang keserakahan keluarga tirinya.
Armand mendengarkan tanpa sekali pun memotong.
Ketika Daren selesai, ruangan itu sunyi beberapa detik yang terasa sangat panjang.
Armand kemudian berkata pelan…
sangat pelan…
“Jadi… menantuku… sedang diburu untuk dibunuh?”
Daren mengangguk.
Armand menatap anaknya seperti tidak percaya.
“Dan kau membiarkannya di sana tanpa perlindunganmu?”
“Aku sudah memasang bodyguard lengkap, Ayah,” jawab Daren cepat.
“TIDAK CUKUP!”
Bentakan Armand menggema di seluruh ruangan.
Daren terkejut.
Armand melangkah mondar-mandir, napasnya berat.
“Aku tidak pernah menyangka kau akan membawa dirimu ke situasi seburuk ini.”
“Ayah…”
“Dan kau tidak pernah bilang bahwa kau MENIKAH?!” Armand menatapnya tajam. “Kau sadar apa artinya ini bagi keluarga?”
Daren menatap balik, tidak mengelak.
“Aku minta maaf. Tapi aku harus melindungi Mala.”
Armand berhenti.
Untuk pertama kalinya, sorot matanya berubah. Tidak lagi marah… tapi khawatir.
“Aku ingin melihat menantuku. Dan aku ingin tahu seberapa parah ancamannya.”
Daren menyentuh dahinya. “Ayah… ini bukan sekadar ancaman keluarga biasa. Melisa… dia bekerja dengan orang-orang yang berbahaya.”
Armand tertawa pelan. “Kau pikir Ayahmu ini tidak tahu bahaya? Daren, aku sudah hidup lebih lama dari yang kau kira. Aku tahu banyak hal. Termasuk bagaimana menghadapi orang-orang yang ingin membunuh.”
Ucapan itu membuat Daren mengangkat kepala.
“Ayah… bolehkah aku… meminta bantuan?”
Armand menatapnya lama.
Lalu mengangguk.
“Kita lindungi istrimu, Daren.”
“Aku tidak akan membiarkan menantuku mati.”
Daren baru akan menghela napas lega ketika Armand menambahkan:
“Dan jika perlu…”
suaranya merendah, tajam, penuh ancaman…
“…kita habisi siapa pun yang mencoba menyentuhnya.”
---
Malam itu, Daren keluar dari ruang kerja ayahnya dengan perasaan yang rumit—takut, lega, sekaligus tegang.
Ia tahu satu hal:
Setelah ini, permainan berubah total.
Kini bukan hanya dia dan bodyguard yang bergerak.
Sekarang…
Tuan Armand Adrianata ikut masuk dalam permainan.