"Gue sudah menepati janji untuk nikahin lo, dan lo juga harus menepati janji untuk tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang kita di sekolah. paham!" ucap pria bernama Arga
Argantara antariksa Grahana namanya. sosok paling tampan dan populer di SMA Cakrawala. karna insiden malam itu membuat Arga harus menikahi teman kelasnya yang bernama Freya Dinata Frankie, biasa di panggil dengan sebutan Reya. anak keempat dari tuan Pramandika Frankie.
Akankah Freya bisa meluluhkan hati pria itu? ikuti yok
Slow up
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa bingung Freya
Keesokan harinya, Arga dan Freya harus menyortir berkas OSIS yang sangat penting. Mereka melakukannya di ruang rapat kecil yang bersebelahan dengan koridor utama.
Arga sudah tegang sejak awal. Dia tahu Danu ada di sekitar. Dia harus menunjukkan pada Danu bahwa dia masih memegang kendali dan bahwa Freya tidak membutuhkan bantuan.
"Freya, ini sudah salah sejak awal! Berkas-berkas untuk sponsor utama harusnya sudah ada di folder A, bukan folder G! Kau tidak bisa membedakan alfabet, atau kau sengaja membuatku terlihat buruk di depan dewan guru?!" bentak Arga, suaranya keras.
Padahal, kesalahan itu adalah kesalahan administrasi yang sepele, tetapi Arga sengaja melebih-lebihkannya. Dia melakukannya untuk audiensnya .
Freya, yang mengerti permainannya, menunduk, mencoba melihat. "Maaf, Arga. Aku akan segera memperbaikinya."
"Perbaiki? Kau selalu berkata akan memperbaiki! Kau tahu berapa banyak tekanan yang kurasakan karena harus menutupi setiap kecerobohanmu?!" Arga mengambil tumpukan berkas itu dan membantingnya kembali ke meja di depan Freya. "Kau adalah asisten paling tidak berguna yang pernah kumiliki! Jika kau tidak bisa melakukan tugas sederhana ini, bagaimana kau bisa melakukan tugas yang lebih besar?"
Saat Arga sedang dalam puncak kemarahannya, pintu ruang rapat terbuka. Bukan Danu yang masuk, melainkan Alice , yang kebetulan lewat dan mendengar teriakan Arga.
Alice berdiri di ambang pintu, tampak terkejut,tetapi di baliknya ada sedikit senyum puas.
"Ada apa, Arga? Aku dengar sampai dari ujung koridor," tanya Alice sambil berpura-pura khawatir.
Arga segera mengendalikan napasnya, kembali ke peran 'pemimpin yang ditekankan oleh asisten yang ceroboh'.
"Tidak ada apa-apa, Alice. Hanya saja Freya yang membuat kekacauan besar dengan dokumen penting," kata Arga, dingin, lalu menatap Freya dengan menekannya.
Freya, melihat kesempatan ini, memutuskan untuk membalas Arga, memperkuat sandiwara di depan Alice sekaligus melepaskan kekecewaannya.
"Maaf, Alice. Aku tidak fokus karena... aku sangat stres di belakangan ini. Tekanan dari Arga terlalu besar. Aku tahu ini salahku. Tapi kadang, aku berharap Arga bisa sedikit lebih memahami," kata Freya, nadanya sedih dan sedikit memberontak.
Kata-kata Freya yang menggabungkan kepasrahan dan pemberontakan membuat Arga terkejut. Dia tahu Freya berusaha memperkuat sandiwara asisten yang lelah, tetapi pengakuan tentang tekanan itu terasa terlalu nyata, dan bisa diartikan ganda oleh Alice.
Arga menahan amarahnya dan tersenyum sinis. "Pengertian? Kau ingin memahami setelah merusak pekerjaanku? Kau pikir aku ini psikologmu, Freya? Kau di sini untuk bekerja, bukan untuk curhat. Jika kau stres, itu masalahmu. Perbaiki berkas-berkas itu sekarang."
Arga kemudian berbalik ke Alice, wajahnya kembali menegang karena kesal.
"Maaf, Alice. Aku seharusnya tidak membiarkan kamu mendengar drama murahan ini. Aku akan segera memecatnya," kata Arga, menekankan kata 'memecat' untuk meyakinkan Alice bahwa Freya tidak berarti apa-apa bagi Arga.
Alice tersenyum, kali ini senyumnya tulus dan penuh kemenangan. "Tidak masalah, Arga. Aku mengerti. Memang sulit memiliki asisten yang tidak profesional. Mungkin dia hanya... mencari perhatian? Yah, sebaiknya kau cepat selesaikan. Aku menunggumu di kedai kopi dekat sini. Kita harus membahas proposal acara selanjutnya."
Alice pergi, membiarkan Arga dan Freya berdua lagi.
Arga menutup pintu ruang rapat dengan sangat pelan, tapi Freya tahu itu lebih berbahaya daripada membanting. Dia berbalik ke Freya, matanya menyala.
"Kau. Baru saja Melakukannya. Lagi," Arga berbisik, nadanya membeku.
"Melakukan apa? Aku menguatkan sandiwara kita! Aku terlihat merendahkan dan kau terlihat kejam! Bukankah itu yang kau mau?" balas Freya.
"Kau hampir membuat Alice curiga! Kau bilang 'stres karena tekanan'! Alice tidak bodoh, Freya! Dia akan menghubungkan 'stres' itu dengan Danu! Dia akan memikirkan ada sesuatu yang sangat kau sembunyikan sehingga kau tertekan!" Arga berjalan mendekat, menunduk hingga wajahnya hampir menyentuh Freya.
"Kau telah mengundang Danu, dan sekarang kau membuat Alice semakin yakin ada rahasia yang kau sembunyikan! Aku sudah bilang jangan pernah melibatkan perasaanmu! Kau ingin terlihat lemah? Sekarang kau terlihat mencurigakan! Kalau sampai Alice tahu tentang pernikahan kita, atau jika Danu menemukan kebenaran, itu semua akan menjadi kesalahanmu! Aku akan memastikan kau dan anakku tidak akan melihatku lagi jika itu terjadi! "
Arga mendorong tumpukan berkas itu dengan marah, lalu pergi, meninggalkan Freya sendirian, kali ini bukan hanya gemetar karena ketakutan, tetapi juga terluka oleh ancaman yang dikeluarkannya.
Freya terkesiap, tangannya gemetar hebat saat menyentuh pinggiran meja untuk menopang tubuhnya yang mendadak lemas. Kalimat terakhir Arga bergema seperti lonceng kematian di telinga.
“...kamu dan anakku tidak akan melihatku lagi.”
Ancamannya bukan sekedar gertakan tentang perceraian. Arga mengancam akan melenyapkan eksistensi Freya dari kehidupannya, dan yang lebih mengerikan, ia bisa saja mengambil bayi itu lalu membuang Freya ke jalanan seolah dia tidak pernah ada.
Freya mengelus perutnya yang masih rata. Di sana ada nyawa yang tumbuh dari sebuah kesalahan, namun bagi Freya, itu adalah satu-satunya alasan dia bertahan di bawah injakan kaki Arga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di koridor yang mulai sepi, Arga berjalan dengan langkah lebar dan napas yang masih memburu. Namun, langkahnya terhenti saat melihat seseorang bersandar di pilar, tidak jauh dari pintu ruang rapat.
Bukan Alice. Tapi Danu .
Danu menatap Arga dengan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. campuran antara amarah yang tertahan dan rasa tidak suka. Ia memegang sebuah jaket di tangannya, kemungkinan besar itu milik Freya yang tertinggal di kantin sebelumnya.
"Kau keterlaluan, Ga," suara Danu berat dan rendah.
Arga memasang topeng angkuhnya dalam sekejap. Ia tertawa meremehkan. "Oh, sang pahlawan datang lagi? Kau mendengar semuanya? Bagus. Jadi kau tahu bahwa Freya memang tidak berguna sebagai asisten."
Danu melangkah maju, memperpendek jarak hingga napas mereka beradu. "Aku mendengar cara kau membentaknya. Aku mendengar bagaimana kau memperlakukannya seperti sampah di depan Alice. Sejak kapan kau jadi orang yang bersembunyi di balik jabatan untuk menindas perempuan?"
"Jaga bicaramu, Danu! Ini urusan internal OSIS," desis Arga sambil melirik waspada ke arah mana Alice tadi pergi.
"Internal? Atau pribadi?" jawab Danu. "Ada sesuatu yang aneh antara kau dan Freya. Kenapa kau begitu kecanduan membuatnya terlihat buruk? Dan kenapa dia seolah-olah... terikat padamu?"
Arga merasa jantungnya berdegup kencang. Prediksinya benar,Alice dan Danu mulai mencium bau busuk dari rahasia mereka. "Jangan terlalu banyak menonton drama, Danu. Freya hanya asisten yang buruk. Dan kalau kau begitu peduli padanya, kenapa kau tidak membawa saja dia pergi dari hadapanku? Aku muak melihat wajahnya."
Arga sengaja memprovokasi, berharap Danu akan menjauh. Namun, jawaban Danu justru membuat Arga membeku.
"Mungkin aku memang akan melakukannya, Ga. Dan pada saat itu tiba, jangan pernah menyesal jika dia tidak akan pernah menoleh padamu lagi."
Danu melangkah melewati Arga, sengaja menabrak bahu sang ketua OSIS itu, dan berjalan menuju pintu ruang rapat di mana Freya masih menangis di dalam.
Sementara itu, di kedai kopi seberang sekolah, Alice tidak sedang memesan kopi. Ia duduk di sudut paling tersembunyi, sambil memainkan ponselnya.
"Ya, aku yakin ada yang mereka sembunyikan," bisik Alice ke seberang telepon. Tampilan yang cantik kini terlihat tajam dan penuh perhitungan. "Arga terlihat terlalu emosional untuk sekadar masalah folder berkas. Dan Freya... gadis itu bukan sekadar asisten yang bodoh. Dia menyimpan ketakutan yang besar pada Arga."
Alice sejenak mendengarkan suara di telepon, lalu memutarnya.
"Aku butuh kau mencari tahu jadwal Freya di luar sekolah. Dan satu lagi... cari tahu kenapa dia sering terlihat pucat dan mual di pagi hari. Aku curiga drama 'pernikahan paksa' yang pernah kudengar di gosip murahan itu bukan sekadar angin lalu."
Alice menutup teleponnya. Ia menyesap latte -nya dengan tenang. "Arga, Sayang... kau pikir kau bisa membohongiku? Jika aku tidak bisa memilikimu secara utuh, maka tidak akan ada orang lain yang boleh,terutama gadis sialan seperti Freya."
Di dalam ruang rapat, pintu terbuka perlahan. Freya mendongak, berharap itu Arga yang kembali untuk meminta maaf, namun hatinya mencelos saat melihat Danu yang berdiri di sana dengan iba.
“Ayo pulang, Freya. Aku yang akan mengantarmu,” ajak Danu lembut.
Freya terdiam. Jika dia ikut Danu, Arga akan mengamuk dan melakukan ancamannya. Jika dia menolak, Danu akan semakin curiga.
freya punya keluarga baru setelah sah jadi istri arga