NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Tuan Albert

Istri Kesayangan Tuan Albert

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

《Chapter 16》

Albert mengira kakeknya akan cepat pergi dari sana, namun ia tak menyangka pembicaraan kakek dan Emily bisa selama ini.

Sudah lebih dari satu jam mereka duduk di halaman sambil minum teh dan bahkan mereka sudah makan siang di sana, namun gadis itu nampak tak pernah kehabisan bahan pembicaraan.

"Kakek, ayo kita bermain catur," ajak Emily.

Albert tidak habis pikir, gadis itu bahkan tidak memberikan jeda agar ia mengganti topik pembicaraan ke masalah perusahaan atau tentang bisnis.

Sekarang ia malah sedang mencari papan catur dan bidak untuk di mainkan dengan kakeknya.

"Aku ingat ada di sini deh," Emily membongkar ruangan penyimpanan dan mencari, ia merasa pernah melihat alat catur di sana.

"Haha, kau memang cocok dengan gadis itu," ucap Kakek, mereka sudah berpindah ke ruang tamu karna cuaca di luar sudah semakin dingin.

"Sepertinya mansion ini sudah lebih berwarna," Lanjut sang kakek.

"Nah, ini kek, ayo kita bermain!," Emily membuka dan mencoba mengatur posisi bidak catur namun Albert mengambil benda itu dari tangannya dan berkata, "Biar aku saja yang bermain dengan kakek, pergilah minum obat lalu beristirahat"

Sejak pagi Emily sudah sibuk mengurus kebun, biasanya setelah makan siang ia akan pergi minum obat dan tidur sebentar, jadi Albert menyuruhnya untuk meninggalkan ia dan kakeknya di sana.

"Oh, kalau begitu maaf kakek, aku akan turun setelah beristirahat sejenak," Emily meminta izin lalu naik ke lantai dua menuju kamarnya.

Kakek yang tidak tau kondisi kesehatan gadis itu kemudian bertanya, "Apa dia sakit?"

Albert telah selesai mengatur papan catur, ia kemudian menjawab, "Ya, saya rasa masalah pernapasan"

Kakek menganggukkan kepala lalu mereka mulai bermain catur dengan tenang.

Permainan catur memang butuh konsentrasi, nyatanya banyak anak muda yang sudah tidak pandai bermain permainan itu karna sudah terpengaruh permainan modern lainnya.

"Sudah kakek bilang pasti kau kalah," Albert tersenyum dan berkata, "Ayo bermain satu kali lagi"

"Baiklah, tapi ini sudah malam, bagaimana kalau kakek menginap disini?"

Albert tak menyangka kakek ingin menginap, mungkin baru kali ini kakek menawarkan dirinya untuk tidur di sana.

"Boleh, Bibi Vei.. tolong suruh pelayan untuk membersihkan kamar tamu, kakek akan menginap malam ini"

Mereka kembali melanjutkan permainan, tak menyadari bahwa Emily sudah turun dengan piyama tidur, ternyata ia sudah membersihkan diri sehingga aromanya sangat enak.

Albert terlebih dulu menyadari aroma Emily, ia mendongakkan kepala dan mendapati gadis itu berada di dapur.

"Benarkah kakek akan menginap?," tanya Emily dari dapur.

Kakek hanya menjawab iya.

Emily tak mendekati mereka yang sibuk dengar catur, ia memilih untuk membantu Bibi Vei menyiapkan makanan mereka malam ini.

"Bagaimana kakek? Apa enak?," tanya Emily begitu sesendok sup masuk dalam mulut sang kakek.

"Lumayan.."

Emily senang karna itu adalah masakan nya, mereka makan dengan tenang lalu kakek pergi menuju kamar tamu untuk beristirahat.

Melihat kakek yang sudah masuk ke kamar, Emily kembali ke kamar sedangkan Albert menyibukkan diri di ruang kerja.

Sekitar pukul 11 malam Emily di kejutan dengan suara pintu terbuka, ia memang tidak biasa mengunci pintu saat tidur.

Samar-samar ia bisa melihat bahwa yang masuk adalah Albert, lelaki itu menyalakan lampu tidur di samping dan berkata, "Apa aku membangunkan mu?

Emily bangkit lalu duduk di tepi tempat tidur dan berkata, "Ya, aku terbangun karna mu, tapi mengapa kau masuk ke kamar ku?"

"Aku akan tidur bersama mu malam ini, jika kakek tau kita berdua tidur di kamar yang berbeda maka ia akan marah"

Jawaban yang Albert berikan masuk akal juga, jadi Emily bangun lalu tidur di sisi kanan kasur, memberikan tempat di sisi kiri agar Albert tidur di sana.

"Tidak usah, aku akan tidur di sofa saja," Albert menjauh dari kasur menuju sofa, namun suara lembut Emily berkata, "Kemarilah, tidak setiap hari kita tidur bersama, dan juga ini hanya tidur biasa, kita tak akan berbuat macam-macam bukan?"

Meski cahaya tidur tidak terlalu terang, namun Albert bisa melihat lengkungan garis mata Emily yang tersenyum manis padanya.

Albert akhirnya naik ke kasur lalu mereka memakai selimut dan tidur bersama.

Huft huft..

Entah sekarang pukul berapa namun di luar masih sangat gelap, Emily terbangun dari tidurnya dengan nafas yang tak beraturan, ia melihat Albert yang masih lelap dalam tidurnya.

Perlahan ia membuka laci lemari dan mencari inhealer, namun ternyata tidak ada disana, ia lupa bahwa alat itu ia taruh di baju yang tadi pagi ia gunakan.

Sekarang ia tidak dalam kondisi yang memungkinkannya untuk mengambil alat di keranjang baju kotor dekat kamar mandi.

Ia memutuskan akan mengambil inhealer baru yang ia simpan di laci lemari baju.

Kakinya perlahan turun dari tempat tidur, namun saat hendak berdiri, ternyata kakinya tak punya kekuatan untuk menopang tubuhnya, alhasil ia kembali duduk di kasur.

Dadanya masih sesak dan ia tidak punya pilihan lain.

"Albert, Albert.. Bangun.."

Suaranya terdengar rendah, tangannya terus menggoyangkan tubuh pria itu agar segera bangun.

"Huh huh.. bangun dulu"

Albert sudah bangun namun masih setengah sadar, jadi ia menoleh menatap Emily, begitu melihat keadaan gadis itu ia langsung sepenuhnya sadar.

"Mana inhealer mu?," Albert melihat ke arah laci yang masih terbuka dan terlihat kosong, ia segera pergi ke lemari baju Emily lalu mengambil yang baru.

Albert sudah tau dimana saja tempat inhealer di rumah itu, jadi ia bisa dengan cepat mengambilnya.

"Tarik nafas, tenang.."

Tangan Albert memegang inhealer dan membantunya menghirup nafas dari sana, sedangkan tangannya yang lain mengelus lembut pundak Emily berusaha menenangkannya.

Setelah agak tenang, Albert bertanya, "Apa kau mimpi buruk?"

Mungkin Albert mengira karna mimpi buruk sehingga Emily terbangun dengan keadaan yang tidak tenang.

"Tidak, mungkin hanya kelelahan saja," Emily berucap bohong, nyatanya sudah seminggu ini ia beberapa kali merasa sesak entah saat pagi, siang atau malam seperti ini.

Namun Emily tau bahwa sekarang belum saatnya ia mati, tokoh ini adalah sebuah karangan yang hidup mengikuti alur cerita, jadi meskipun ia sudah merasa sakit namun jika dalam naskah ia masih hidup maka itulah yang terjadi.

Mungkin orang lain berfikir akan mengubah alur cerita jika di berikan kesempatan kedua seperti sekarang, namun Emily bukan termasuk gadis yang berusaha bertahan.

Faktanya dulu ia juga tidak berusaha bertahan ketika ayahnya memukulnya, padahal jika ia ingin, bisa saja ia mengambil pisau dan menikah ayahnya lalu lari entah kemana, tapi ia hanya diam saja dan meminta kematian datang menjemputnya.

"Tidurlah jika kau sudah tenang, ini masih belum pagi," ucap Albert kemudian membantunya berbaring serta menarik selimut menutupinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!