Alya, mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan mandiri, tengah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah tekanan keluarga yang ingin ia segera menikah. Tak disangka, dosen pembimbingnya yang terkenal dingin dan perfeksionis, Dr. Reihan Alfarezi, menawarkan solusi yang mengejutkan: sebuah pernikahan kontrak demi menolong satu sama lain.
Reihan butuh istri untuk menyelamatkan reputasinya dari ancaman perjodohan keluarga, sedangkan Alya butuh waktu agar bisa lulus tanpa terus diburu untuk menikah. Keduanya sepakat menjalani pernikahan semu dengan aturan ketat. Tapi apa jadinya ketika batas-batas profesional mulai terkikis oleh perasaan yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Cahaya matahari perlahan menebus tirai menimbulkan garis cahaya. Aku membuka mataku perlahan untuk mengumpulkan nyawaku yang belum sepenuhnya terkumpul. Aku melirik jam di atas nakas sudah menunjukkan jam tengah sembilan. Astaga. Aku tidur udah kayak kebo aja.
Aku segera bangkit dari tempat tidurku menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku. Rencanaku hari ingin kerumahku sudah lama aku tidak kesana, sekalian menjemput motorku sayang disana pasti tidak ada yang menggunakannya.
Rumah terasa sunyi mungkin Reihan sudah pergi pikirku. Aku menuju dapur untuk membuat sedikit sarapan untukku, tapi mataku tertuju pada sepotong sandwich di atas meja dan juga susu.
" Tumben dia buat sarapan"
Ting
Aku melihat ke ponselku siapa yang mengirim pesan. Ohh ternyata Reihan .
Reihan
Saya sudah di buatkan sarapan
Jangan lupa dimakan
Aku segera membalasnya.
To pak Dosen pembimbing
Udah kok ini lagi makan
Makasih ya mas
Centang dua tapi tidak ada balasan. "Aiss menyebalkan sekali"
" Lah siapa juga yang berharap di balas"
Aku kembali mengetik pesan mengabarkannya jika hari ini aku akan pergi ke rumah orangtua.
Setelah sarapan aku langsung memesan ojek online di aplikasi hijau itu.
.
.
.
.
Aku menatap rumah tempat dimana aku dibesarkan, rasanya campur aduk ketika mengingat masa-masa dulu
"Assalamualaikum ma" ucapku seraya membuka pintu utama.
" Waalaikumsalam, ya ampun putri mama " ucap Dewi seraya bangkit dari duduknya dan memeluk putri satu-satunya itu.
" Alya kangen mah" ucap Alya. Dia tidak bisa menahan air matanya lagi.
" Hey putri mama kenapa, kok nangis duduk dulu sini. Kamu ada masalah sama Reihan"
Alya perlahan melepaskan pelukannya dari sang mama. " Ngga kok ma, aku cuma kangen aja sama mama"
" Masa, biasanya juga waktu kamu ngekos ngga pulang-pulang"
Dengan muka cemberut Alya menatap sang mama " ihh mama, itu kan beda. Ini juga kalo ku nelpon mama atau papa ngga pernah di angkat"
" Itu demi kebaikan kamu, biar kamu lebih fokus mengurus suamimu"
" Terus ngapain aku kesini" lanjut sang mama
" Emang ngga boleh ma, ini kan masih rumah aku"
" Boleh sayang kapan pun mau kamu penti selalu terbuka buat putri mama satu ini"
" Papa sama Devan kemana mah" tanya Alya dari tadi dia tidak melihat wujud dua orang itu
" Papa mu lagi kerja, kalo si Devan ke kampus dia"
"Ohh, aku ke atas dulu ya ma"
" Iya nanti turun ya, mama mau masak makanan kesukaanmu"
Alya menoleh ke sang mama " boleh aku bantu ma" tanyanya
" Ngga perlu, sana kamu istirahat dulu pasti kamu capek"
Aku mengangguk dan berjalan menaiki tangga menuju kamarku. Kamar ini masih sama saat aku tinggalkan.
Aku membuka pintu kamarnya perlahan. Aroma vanila khas kamarnya masih terasa, buku-buku di atas meja belajar juga masih tertata rapi. Tirai berwarna biru muda masih terpasang dan boneka-boneka kecil tersusun rapi di atas tempat tidurku.
"Aduh… masih sama persis," gumam Alya, sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kasur .
Belum sempat ia melanjutkan lamunannya, ponselnya bergetar di samping bantal. Alya meraih ponsel itu, dan terlihat sebuah pesan masuk. Namun bukan dari Reihan—melainkan dari Farel.
Farel
Jadikan nanti sore
Aku udah Nemu tempat yang bagus nih
To farel
Jadi kok
Nanti serlock aja
Farel
Oke
Send a location
Ia meletakkan ponsel di dada, menatap langit-langit sekali lagi.
“Kenapa harus sekarang sih,” keluh Alya pelan. Bukan dia tidak suka bertemu dengan farel, jujur dulu dia sempat punya sedikit rasa pada farel, tapi itu dulu setelah mati-matian untuk move on karena tidak mau merusak pertemanan mereka.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuat Alya segera bangun dari posisinya.
“Alya, boleh mama masuk?” suara lembut sang mama terdengar.
“Iya, masuk aja, Ma,” jawabnya.
Dewi masuk sambil membawa segelas jus jeruk. “Nih, buat kamu. Kamu pasti haus kan, habis jalan jauh.”
Alya tersenyum menerima minuman itu. “Makasih, Ma.”
Sambil duduk di samping putrinya, Dewi menatap wajah Alya lekat-lekat.
“Kamu kelihatan agak beda sekarang, Ly. Mama senang, tapi juga khawatir. Kamu beneran bahagia kan sama Reihan?” tanyanya hati-hati.
Pertanyaan itu menusuk langsung ke dada Alya. Senyum tipisnya perlahan memudar.
“Aku… baik-baik aja, Ma. Reihan orangnya… emang ya gitu, agak kaku. Tapi dia baik kok mah, baik banget malahan"
Dewi mengangguk pelan, lalu mengusap rambut Alya penuh kasih.
“Kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendiri, ya. Kamu sekarang memang sudah punya suami, tapi kamu tetap anak mama. Rumah ini selalu terbuka buat kamu.”
Sejujurnya Dewi sedikit terkejut dulu saat mau menikah tapi bukan dengan orang yang mau dijodohkan dengannya. Karena sepengetahuannya putrinya itu tidak dekat sama sekali dengan lelaki kecuali farel.
Tak lama, terdengar suara pintu depan dibuka keras. “Ma… aku pulang!” Itu suara Devan.
Alya spontan tersenyum. “Tuh, si tukang usil datang.” Ia langsung beranjak ke pintu kamar, menuruni tangga dengan cepat.
Benar saja, Devan berdiri di ruang tamu dengan tas ransel masih menempel di bahunya. Begitu melihat Alya, matanya membelalak.
“Woi! Kakak pulang?! Serius nih?! Kirain udah lupa rumah.”
Alya mendengus, lalu langsung merangkul adiknya itu. “Dasar mulut kamu, Van. Kangen nggak sih sama kakakmu ini?”
Devan tertawa kecil. “Ya kangen lah, tapi heran aja. Baru nikah eh udah ninggalin suami buat main ke sini.”
Ucapan itu membuat Alya menegang sesaat. Senyum yang tadinya lebar, kini menipis. Devan yang menyadari perubahan ekspresi kakaknya langsung menggaruk kepala.
“Eh, maaf, Kak. Aku cuma bercanda…”
" Dia lagi sibuk, tadi juga udah izin kok"
Alya mencoba mengalihkan suasana. “Yaudah, aku lapar. Mama lagi masak makanan kesukaan kita. Kamu pasti seneng, kan?”
Devan langsung bersorak kecil " serius kak, setelah Kaka nikah ngga pernah lagi tuh mama masak makanan kesukaan ku"
Aroma masakan mulai memenuhi seisi rumah. Alya ikut membantu mamanya menata meja makan, sementara Devan mondar-mandir tak sabar menunggu makanan tersaji.
“Van, bisa diem nggak sih? Dari tadi bolak-balik kayak orang cacingan aja” celetuk Alya sambil menaruh piring.
“Aku lapar, Kak! Udah lama nggak makan masakan Mama,” balas Devan santai.
Tak lama, Dewi membawa sepanci besar sop iga kesukaan Alya. Aroma kaldu yang harum langsung membuat perut Alya keroncongan. “Nah, ayo duduk semuanya,” ujar Dewi dengan senyum lebar.
“Ly, gimana rumah barumu? Kamu udah terbiasa?” tanya Dewi sambil menyendokkan sop ke mangkuk Alya.
Alya tersenyum kecil. “Ya… lumayan, Ma. Masih banyak yang harus dibiasain. Soalnya kan aku biasa sendiri. Sekarang… ada mas Reihan.”
Devan ikut nyeletuk sambil mengunyah. “Dosen kaku itu baik nggak sih, Kak? Jangan-jangan dia suka nyuruh-nyuruh kamu kayak di kampus.”
Alya hampir tersedak mendengar celetukan itu. “Van! Jangan asal ngomong gitu. Dia nggak seburuk yang kamu pikir.”
Dewi ikut tersenyum, tapi matanya seakan mengamati Alya dalam-dalam. “Kalau memang begitu, Mama senang. Kamu harus belajar saling memahami. Pernikahan bukan cuma tentang tinggal serumah, tapi juga mengerti satu sama lain.”
Alya mengangguk pelan, meski hatinya terasa berat. Kata-kata mamanya bagai menampar kenyataan bahwa ia dan Reihan masih sangat jauh dari kata “mengerti satu sama lain”.
Setelah makan siang, mereka bercengkerama sebentar di ruang keluarga. Alya merasa begitu nyaman, hampir lupa dengan semua keruwetan di rumah Reihan.
Menjelang sore, Alya akhirnya pamit. Ia menghampiri mamanya yang sedang duduk sambil menonton acara televisi.
“Ma…” panggil Alya pelan.
“Iya, sayang?” Dewi menoleh.
“Alya mau keluar sebentar, ketemu temen. Udah lama nggak ngobrol,” ucap Alya hati-hati, berusaha terdengar wajar.
Dewi menatapnya curiga sejenak, lalu tersenyum. “Oh, ya sudah. Tapi jangan pulang malam-malam, ya. Mama khawatir.”
“Iya, Ma. Paling juga nggak lama.”
Devan yang duduk di dekat mereka langsung menyelutuk, “Temen? Cowok atau cewek, Kak?”
Alya mencubit lengan adiknya cepat. “Nggak usah ikut campur, bocah!”
Devan meringis tapi malah terkekeh. “Ah, ketauan pasti cowok. Aduh, kasian banget Bang Reihan kalau tau.”
Wajah Alya memerah, tapi ia memilih tak menanggapi lebih jauh. Ia cepat-cepat naik ke kamar untuk bersiap.
Beberapa menit kemudian, Alya sudah rapi dengan blus sederhana dan celana jeans. Ia berpamitan lagi sebelum melangkah keluar.
“Assalamualaikum, Ma, Van. Aku berangkat dulu,” ucapnya.
“Waalaikumsalam, hati-hati ya, Ly,” jawab sang mama.
Alya berjalan keluar rumah berjalan ke arah motornya di garasi. Satu pesan baru masuk dari Farel.
Farel
Aku udah nunggu di kafe depan taman kota.
Nanti aku duduk di pojok dekat jendela.
To farel
Oke
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit akhir aku sampai di tempat yang dimaksud farel. Tempatnya lumayan oke cocok untuk nongkrong muda mudi.
Alya melangkah masuk ke dalam kafe. Suasananya hangat, lampu-lampu gantung memberikan cahaya temaram yang nyaman. Beberapa pasangan tampak berbincang pelan, sementara musik akustik mengalun lembut di latar.
Matanya langsung menangkap sosok Farel yang duduk di pojok dekat jendela, seperti yang ia katakan tadi. Farel mengenakan kemeja kasual warna biru muda, rambutnya sedikit berantakan tapi justru membuatnya tampak santai.
“Alya!” serunya begitu melihat gadis itu datang. Ia segera bangkit dan melambaikan tangan.
Alya tersenyum kecil, berusaha menekan degup jantungnya. “Hai, Rel. Maaf lama, jalanan agak macet.”
“Tenang aja, aku juga baru duduk.” Farel menarik kursi untuk Alya, lalu kembali duduk di hadapannya.
Mereka memesan minuman, lalu sejenak terdiam.
“Jadi, gimana kabarmu, Ly?” Farel membuka percakapan dengan suara yang sedikit pelan. “Udah lama banget kita nggak ketemu. Kayak… semuanya berubah gitu.”
Alya menatap minumannya sebelum menjawab. “Aku baik. Sibuk aja. Kamu gimana?”
“Aku juga baik. Tapi jujur… aku kangen ngobrol sama kamu,” ucap Farel, matanya menatap Alya dalam.
Alya berusaha tersenyum, meski hatinya mulai terasa aneh. “Kita kan masih bisa ngobrol kayak gini. Jadi nggak perlu kangen juga.”
Farel menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Ly… sebenarnya aku udah lama mau ngomong ini. Tapi selalu aku tahan. Aku takut kalau aku ngomong, semuanya bakal berubah.”
Alya menelan ludah, jari-jarinya menggenggam gelas erat. “Ngomong apa, Rel?”
Farel menatapnya lekat, suaranya tegas tapi lembut.
“Aku suka sama kamu, Ly. Dari dulu. Bukan cuma teman. Aku serius. Aku nyesel nggak pernah jujur lebih awal. Dan sekarang, aku cuma pengen kamu tau perasaanku.”
Ruangan seketika terasa hening di telinga Alya. Jantungnya berdegup kencang, ia bahkan sempat tak tahu harus berkata apa. Memang dulu Alya punya perasaan pada farel tapi itu dulu sekarang hanya rasa teman.
“Rel…” Alya menghela napas panjang, menatap sahabat lamanya itu dengan mata berkaca-kaca. “Aku… terharu. Beneran. Tapi… aku nggak bisa. Untuk saat ini aku nggak mau pacaran dulu.”
Farel terdiam. Ekspresinya berubah sendu, tapi ia tetap mendengarkan.
“Aku nggak mau merusak hubungan kita, Rel. Kamu salah satu orang terpenting buatku. Kalau aku nerima perasaanmu, aku takut semuanya jadi aneh. Aku nggak mau kehilangan kamu sebagai teman. Kamu ngerti kan?” suara Alya bergetar, tapi ia berusaha setegas mungkin.
Farel tersenyum pahit, lalu menunduk. “Aku ngerti. Aku memang udah siap kalau jawabannya nggak sesuai harapan. Tapi setidaknya… sekarang aku lega, Ly. Aku udah ngomong.”
Alya meraih tangannya pelan. “Kamu tetap temenku, Rel. Nggak akan berubah. Jadi jangan menjauh, ya.”
Farel menatap tangan Alya yang menyentuh tangannya, lalu mengangguk pelan. “Iya, Ly. Aku janji nggak akan menjauh.”