INGRID: Crisantemo Blu💙
Di balik nama Constanzo, Ingrid menyimpan luka dan rahasia yang bahkan dirinya tak sepenuhnya pahami. Dikhianati, dibenci, dan hampir dilenyapkan, ia datang ke jantung kegelapan-bukan untuk bertahan, tapi untuk menghancurkan. Namun, di dunia yang penuh bayangan, siapa yang benar-benar kawan, dan siapa yang hanya menunggu saat yang tepat untuk menusuk dari bayang-bayang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I. D. R. Wardan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Lacrime di Sangue
"Biarkan dia pergi!" teriak Marcello dengan murka. Matanya memerah, urat-urat di lehernya menonjol, tubuhnya bergetar menahan amarah yang akan meledak.
Frenzzio memandang Marcello yang memberontak. "Tidak akan pernah."
Setelah mengatakan itu Frenzzio berbalik masuk ke dalam mobil dan melaju mengejar mobil yang membawa Ingrid.
"FRENZZIO!!!"
•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•
Di dalam mobil, Ingrid yang tadinya pingsan mulai mendapatkan kesadarannya kembali secara perlahan. Marcello tidak memberi bius yang kuat agar tidak berpengaruh buruk bagi Ingrid.
Lorenzo masih belum menyadari Ingrid yang terbangun karena terlalu fokus dalam menyetir. Ingrid menyadari ia pasti tengah di bawa pergi. Kedua tangannya terikat. Di dalam benaknya ia mengumpati Marcello yang membuatnya dalam keadaan seperti ini.
Ingrid melihat dari pantulan kaca, yang menyetir ternyata Lorenzo. Ingrid perlahan bangkit kemudian berkata dengan suara lemah, "Hentikan mobilnya," pintanya dengan suara lemah.
Lorenzo terkejut mendapati Ingrid yang terbangun. Ditambah ia melihat sebuah mobil mengejar di belakang.
Sial.
"Tolong hentikan mobilnya, Lorenzo," mohon Ingrid.
"Aku tidak bisa, aku telah berjanji pada Marcello untuk membawamu pergi."
"Dia tidak memiliki kontrol apapun dalam hidupku. Hentikan mobil ini, Lorenzo!"
"Maaf, kau harus tahu ini yang terbaik. Dia berusaha keras membawamu pergi meskipun ia tahu apa yang akan ia terima nanti."
Ingrid menoleh ke belakang. Ia tidak tahu siapa yang mengendari mobil itu, tapi yang pasti mobil itu mengejar mobil yang ditumpanginya.
Mata Ingrid bergerak memindai sekitarnya, apa yang dapat membawa dirinya keluar dari mobil ini. Netra biru Ingrid menangkap sesuatu di dalam kantong di bagian belakang kursi. Ia bergerak dengan hati-hati dan perlahan agar Lorenzo tidak mencurigainya.
Meski Ingrid kesulitan karena keadaan tangannya. Namun pada akhirnya, ia berhasil menggapai benda yang ternyata adalah sebuah pisau lipat itu.
Dengan benda temuannya, Ingrid memanfaatkannya untuk memotong tali yang melilit tangannya.
"Apa mobil di belakang mengejar kita?" tanya Ingrid basa-basi.
"Ya."
"Ke mana—"
Frenzzio sengaja menabrak mobil yang dikendarai Lorenzo sebagai peringatan untuk berhenti.
Karena kejadian itu pisau yang digunakan Ingrid tanpa sengaja melukai tangannya. Cukup banyak darah yang mengalir keluar. Tapi, Ingrid tidak berhenti untuk memotong tali tersebut seraya menahan ringisannya.
Akhirnya dengan susah payah, tangan Ingrid terbebas. Ia kemudian menodongkan pisau itu tepat di leher Lorenzo. Lorenzo tentu saja mematung terkejut.
"Hentikan mobilnya, atau aku harus terpaksa menyakitimu, Lorenzo."
"Ini tidak akan menghentikanku untuk menepati janjiku," jawabnya tenang.
Bukannya berhenti, Lorenzo semakin mempercepat laju mobilnya. Ingrid kehabisan cara, ia juga tidak sanggup untuk menyakiti Lorenzo. Ingrid cukup waras untuk tidak memikirkan hal bodoh, melompat keluar dari mobil.
Tanpa diduga, mobil Frenzzio memotong cepat, berhenti di tengah jalan menghadang mobil yang dikendarai Lorenzo hingga laki-laki itu harus membanting setir sampai kehilangan kendali dan menabrak batang pohon.
Lorenzo terluka dan tidak sadarkan diri, sementara Ingrid yang masih sadar meskipun darah mengalir melewati kening dan pipinya bagai arus sungai.
"Lorenzo! Lorenzo, bangun!"
Frenzzio menghampiri mobil yang keadaannya telah kacau tersebut. Memecahkan kaca di kursi kemudi untuk membuka kunci pintu. Setelah berhasil, Ia membuka pintu belakang di mana Ingrid berada. Frenzzio membawa Ingrid keluar menjauh dari mobil tersebut.
Dalam gendongan Frenzzio, Ingrid melihat bahwa api mulai membakar bagian depan mobil.
"Frenzzio kau harus membantu Lorenzo! Mobilnya mulai terbakar."
Mata Ingrid dipenuhi rasa cemas tak berujung.
Ingrid berucap dan memohon berkali-kali namun tidak di gubris oleh Frenzzio. Frenzzio memasukkan Ingrid dalam mobilnya, disusul olehnya.
Ingrid semakin histeris melihat api semakin membara membakar mobil.
Ingrid mencoba keluar namun pintu mobil telah di kunci oleh Frenzzio yang tanpa merasa bersalah melajukan mobilnya menjauh pergi.
Ingrid semakin histeris ketika menyaksikan mobil yang tadi membawanya meledak ditelan kobaran api bersama Lorenzo di dalamnya.
Ia terus menggedor-gedor kaca mobil sambil berteriak histeris. "Frenzzio, kembali! Selamatkan Lorenzo! Tolong dia! Selamatkan dia!"
Mata Ingrid kosong tapi dipenuhi pancaran kobaran api. "kenapa? Kenapa kau tidak menolongnya? Kau yang membuat mobil itu kehilangan kendali!"
"Itu aturannya."
"Dia tidak bersalah!"
"Dia pengkhianat."
"Dia mati karena aku," ucap Ingrid pelan penuh penyesalan melihat mobil yang terbakar itu semakin memudar dari penglihatannya.
"Lebih baik dia mati di sana, dari pada di tangan Giorgio."
•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•
Ingrid dan Frenzzio telah tiba di kediaman Constanzo.
"Aku bisa berjalan dengan kakiku sendiri," ucap Ingrid dingin saat Frenzzio mencoba membantunya.
Frenzzio tak mengatakan apapun, tapi ia tetap berjalan di belakang Ingrid untuk berjaga-jaga.
Di dalam rumah, langkah Ingrid terhenti ketika melihat banyak orang berkumpul. Di sana Marcello dalam posisi terikat, berlutut di depan Giorgio dan beberapa anak buahnya. Vesa dan Vilia juga ada di sana.
Ingrid bertanya-tanya apa yang terjadi, apa ini karena Marcello membawanya pergi?
Ingrid tidak mendengar jelas apa yang dikatakan giorgio karena jarak mereka. Namun, Ingrid segera mendekat menghampiri mereka begitu para anak buah giorgio mulai memukuli saudaranya tanpa belas kasih.
"Hentikan! Hentikan!"
Seruan Ingrid bagaikan angin yang berhembus. Mereka tetap memukuli pemuda itu dengan membabi buta. Ingrid ingin mengampiri Marcello, namun segera ditahan oleh Frenzzio. Dia berusaha lepas dari Frenzzio, tapi tidak berhasil. Vilia tidak sanggup melihat putranya di hukum, akhirnya pergi.
"Aku mohon lepaskan dia. Aku mohon, tolong buat mereka berhenti, aku mohon. Aku akan melakukan apapun, tapi jangan sakiti dia. Ini kesalahanku," mohon Ingrid dengan sangat.
Giorgio memandang datar putrinya itu. "Ini pelajaran pertamamu, putriku."
Setelah beberapa saat, Giorgio memberi isyarat untuk menghentikan aksi mereka. Tanpa berkata lebih lanjut, pemimpin La cosa itu berlalu pergi diikuti para bawahannya.
Frenzzio melepaskan Ingrid, gadis itu pun segera menghampiri saudaranya yang sudah dalam keadaan menyedihkan. Ingrid melepas tali yang membelenggu tangan Marcello lalu duduk di dekatnya dan meletakkan kepala kakaknya di pangkuannya.
Marcello yang terpejam perlahan membuka matanya ketika mendengar suara tangisan Ingrid.
"Kau terluka, seharusnya kau tidak kembali," ucapnya lirih.
Dalam tangisnya Ingrid berkata dengan nada tinggi, "agar aku mendengar kabar kematianmu?!"
Marcello berusaha tertawa. "Ayah tidak akan membunuhku."
Bukannya terhibur, Ingrid justru semakin terisak. "Karena aku ... dirimu dan Lorenzo, maafkan aku."
Marcello bangkit seraya menahan sakit. Ia membawa adiknya ke dekapannya. "Ini bukan kesalahanmu."
"Frenzzio, hubungi Paolo." Setelah mengucapkan itu Vesa melenggang pergi meninggalkan ketiga anak tirinya.
...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...
Keesokan harinya di rumah sakit. Ingrid terbangun lebih dulu. luka di kening dan tangannya telah ditangani dan dibalut dengan perban. Telah hampir setengah jam ia memperhatikan Marcello di sebelahnya yang masih nyaman menutup mata.
Suara pintu yang terbuka mengalihkan fokus netra biru Ingrid.
Frenzzio dan Hen yang memasuki ruangan.
Frenzzio memberikan buket bunga krisan merah yang dibawanya, tetapi tak di gubris oleh Ingrid. Akhirnya Frenzzio meletakkannya di meja dekat ranjang Ingrid. "Aku masih bernapas, sepertinya kau selalu menginginkan kematianku dengan memberikan bunga ini."
Frenzzio tak menjawab.
"Kau masih marah padaku?"
"Kau dapat menyelamatkannya saat itu."
"Kau menyalahkanku?"
Ingrid menggeleng. "Tidak, maaf. Aku hanya kecewa pada diriku sendiri, karena tidak bisa menyelamatkan nyawa yang seharusnya bisa diselamatkan di depan mataku."
"Kau tidak harus menanggung itu."
Kening Ingrid mengerut ketika menyadari perban melilit kepala Frenzzio sama seperti dirinya. Ia sangat ingat terakhir kali ia melihatnya laki-laki ini tidak memiliki luka di kepalanya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa terluka?"
Frenzzio tersenyum. "Itu tidak penting."
Merasa pertanyaannya tidak terjawab, Ingrid mengalihkan arah matanya kepada Hen. "Apa yang terjadi padanya, Hen?"
Hen melihat Frenzzio yang telah memasang wajah datarnya. "Tidak perlu khawatir tentangnya," ucap Ingrid.
Dengan ragu-ragu Hen berkata, "Tuan ... Tuan melukai dirinya sendiri, Nona."
"Apa?!"
"Maaf, saya permisi, Nona, Tuan." Hen tidak ingin terbawa lebih jauh di tengah kedua sejoli itu.
"Selain gila, kau juga bodoh. Apa yang kau lakukan pada dirimu?!" Ingrid memukul lengan atas Frenzzio.
Frenzzio menutup bibirnya rapat. Dia hanya menjatuhkan matanya pada Ingrid.
Untuk beberapa saat keheningan yang mengelilingi keduanya. Mata mereka terkunci satu sama lain. Frenzzio mengangkat tangannya, mengelus lembut kening tempat di mana luka gadis yang dicintainya itu berada, lalu turun mengelus pipinya yang lembut.
Dengan satu tangannya lagi, ia meraih tangan Ingrid. Tangan keduanya diperban di tempat yang sama.
Mata biru indah Frenzzio yang memancarkan penyesalan dengan dalam menatap kedua mata Ingrid hingga mungkin saja bisa menenggelamkannya jika itu adalah lautan.
Detakan jantung keduanya meningkat. "Jika kau terbakar, aku akan terbakar bersamamu. Aku tidak bergurau tentang itu."
"Tidak," tegas Ingrid. "Berjanjilah kau tidak akan melakukan hal ini lagi. Jangan pernah menyakiti dirimu sendiri."
Frenzzio mengecup tangan dan dahi Ingrid yang terluka, lalu menyatukan dahi mereka.
"Jangan terluka."
...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...