🖊SEQUEL MENIKAHI SUAMI TIDAK NORMAL.
Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.
Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.
8 tahun berlalu...
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
*******
Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.
Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTML016~ Diantar Pulang
Alena teringat sesuatu, saat dirinya jatuh tadi ia tidak sengaja menyenggol Axan hingga Axan terjatuh entah kemana.
"Xan, kamu nggak apa-apa?"
Xan mengangguk.
"Xan baik-baik saja, Tante." jawabnya bohong, saat ini tangannya juga ngilu setelah menabrak meja pelanggan, namun ia tidak ingin membuat semua orang bertambah panik.
"Kak, nanti cek badan Axan juga. Tadi nggak sengaja dia kesenggol keras." pinta Alena.
Pak Alex mengangguk, ia memecah kemacetan jalan raya malam ini, klakson tidak henti-hentinya berbunyi.
Pak Alex membawa Alena ke rumah sakit, ia khawatir kulit Alena iritasi, sesampainya di rumah sakit Pak Alex langsung buru-buru menggendong Alena lagi.
"Kak, aku bisa jalan."
Pak Alex diam tidak menggubris dan menggendong Alena.
"UGD ada kuota?" tanya Pak Alex saat perawat menghampiri mereka.
"Ada, Pak. Sisa dua."
"Mohon berikan untuk istri dan anak saya."
Perawat itu memperhatikan Ziya dan Axan, fisik mereka tidak menunjukkan tanda-tanda yang mengharuskan melakukan pengobatan di ruang UGD maupun IGD.
"Baik, Pak." perawat setuju karena melihat situasi di luar tidak ada lagi pasien yang datang.
"Cepat," Pak Alex menggendong Alena dengan langkah cepat menuju ruang UGD, Perawat itu menganga saat pasiennya tidak ditidurkan di bad emergency melainkan digendong langsung.
"Adek mana yang sakit ini?" tanya perawat lainnya.
"Ini saudara Ziya yang sakit, Kak." ucap Ziya sambil menunjuk Axan.
"Baik, ikut kakak sekarang ya."
Melihat Alena dengan pakaian kotor, perawat menawarkan mengenakan pakaian yang disediakan rumah sakit untuk sementara, Pak Alex langsung setuju.
Kulit halus Alena ternyata memang rentan terhadap hal serupa, tidak terlalu lama tersiram kuah panas, kini kulitnya selain memerah namun pembuluh darahnya sampai meninggalkan jejak seolah ingin keluar dari permukaan.
Perawat juga membersihkan area wajah Alena setelah mengganti pakaian Alena. Pak Alex segera menelpon anak buahnya untuk membelikannya satu set pakaian dan harus diantar dalam waktu 10 menit, sungguh tugas yang membuat anak buahnya panas dingin.
"Silahkan Bapak mengisi formulir dulu ya,"
Pak Alex mengangguk dan pergi ke loket pendaftaran.
Setelah selesai di obati, perawat mengizinkan keluarga Alena masuk ke ruangan, Ziya langsung menghampiri Ibunya yang masih terbaring itu.
"Ziya, kamu kok sendirian?" tanya Alena, Ziya langsung memeluk kaki Alena dengan erat.
"Om lagi ke depan, Xan lagi di obati." jawabnya dengan nada lemah.
"Anak Mama yang cantik ini kenapa?" tanya Alena, ia meraih tangan Ziya.
"Ziya sedih liat Mama sakit." jawabnya dengan mata yang mulai basah.
"Maaf ya, Mama ceroboh."
"Tante," Axan ikut masuk ke ruangan, sekilas tubuhnya baik-baik saja.
"Xan, gimana kondisi Xan sekarang?" tanya Alena, Axan berdiri di samping Alena.
"Hanya lebam, selebihnya baik-baik saja."
"Syukurlah, maaf ya. Tante nggak sengaja bikin Xan kayak gini."
"Xan tidak apa-apa. Tante bagaimana? Masih perih?"
Alena menggeleng pelan.
"Tante baik-baik aja, udah di obatin."
Tanpa ragu Axan menggenggam tangan Alena.
"Xan minta maaf," ucapnya dengan tulus.
"Aih, bukan salah siapa-siapa, ini gara-gara Tante ceroboh nggak liat jalan."
"Alena," Pak Alex masuk ke dalam ruangan sembari membawa paper bag berisi pakaian Alena, terlihat dibelakangnya ada anak buahnya yang sedang mengatur napas dengan susah payah.
"Eh, itu orang di luar kenapa?" tanya Alena.
"Oh itu, tadi aku minta dia mencarikan sesuatu." jawabnya santai.
"Ini apa?"
"Pakaian baru, aku akan menebus obat dulu, kamu ganti pakaian yang ini saja. Pakaian lamamu sudah ku amankan."
"Aku jadi sungkan," kata Alena.
"Tidak perlu sungkan. Ayo, aku bantu ke kamar mandi."
Alena buru-buru menolak.
"Makasih, Kak. Aku bisa sendiri."
Alena merasa sungkan jika harus merepotkan Pak Alex lagi, lagi pun ia masih bisa berjalan saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kak, mobilku masih ditinggal di Restoran ya?" tanya Alena.
Meski Alena berusaha menolak, namun Pak Alex tetap dengan keputusannya, ia menggandeng tangan Alena dan Ziya berjalan di sepanjang lorong.
"Iya, biar aku yang mengurusnya. Kamu ku antar pulang."
"Ehh ngerepotin lagi dong? Kak Alex sama Xan langsung pulang aja, aku bisa pesen Grab."
"Lebih baik Tante ikut Xan dan Papa dulu, tangan Tante kan masih baru di obati, takutnya terjadi apa-apa di jalan." bujuk Axan.
"Makasih ya," ucap Ziya pada Axan.
"Sama-sama."
"Kalau gitu anterin aku ke restoran tadi aja kak, aku masih bisa nyetir kok."
"Aku akan mengurus mobilmu, Alena. Kamu tidak perlu sungkan, aku akan mengantarmu dan Ziya pulang dengan selamat."
"Makasih Om ganteng." Ziya tersenyum lebar.
Di dalam mobil, jam menunjukkan pukul 9 malam, Ziya dan Axan mulai tidak kuasa menahan kantuk, perlahan Ziya mulai terlelap dan disusul Axan, mereka berdua tertidur dengan posisi saling bersandar.
"Kak, makasih banyak ya." ucap Alena membuka obrolan.
Pak Alex tidak menjawab, ia hanya menoleh sekilas dan tersenyum.
"Aku yang harusnya berterima kasih, kamu dan Ziya mau meluangkan waktu untuk makan malam denganku dan Axan."
"Akhir-akhir ini aku sibuk banget ngurusin jual beli tanah, biasanya satu bulan sekali aku ajak Ziya makan di luar. Jadi sekalian deh malam ini jatahnya makan di luar."
"Jadi bukan sengaja menemuiku?" tanya Pak Alex.
"...." Alena diam tidak menjawab, Pak Alex menghela napas pelan, sepertinya ia harus berusaha lebih keras lagi.
Sesampainya di rumah Alena...
Pak Alex turun lebih dulu, ia membukakan pintu untuk Alena, kemudian ia membuka pintu belakang untuk menggendong Ziya yang sudah terlelap.
"Ziya biar aku yang gendong, Kak."
"Tidak usah, ayo."
"Tapi Xan..."
"Aku tidak akan lama,"
Alena mengangguk patuh, ia membuka pintu dan mempersilahkan Pak Alex masuk.
"Disini aja kak, nanti aku yang bawa Ziya ke kamarnya."
"Tidak usah, aku saja. Dimana kamarnya?"
Alena berjalan mendahului Pak Alex, ia membuka pintu kamar Ziya. Pak Alex masuk dan membaringkan Ziya dengan pelan di atas tempat tidurnya.
"Makasih banyak, nggak tau deh aku harus gimana buat bales kebaikan Kak Alex." ucap Alena, mereka berdua keluar dari kamar Ziya dengan langkah pelan.
"Aku tidak mengharapkan balasan apapun, Alena."
"Beneran?"
Pak Alex mengangguk pelan.
"Baiklah, aku pulang dulu." pamit Pak Alex, Alena mengantar Pak Alex sampai di teras rumah hingga mobil Pak Alex menghilang dari pandangan.
"Kak Alex masih tetep baik meski udah ku tolak berkali-kali," gumam Alena.
Alena teringat sesuatu.
"Alamak, bajuku yang tadi mana? Waduh, ketinggalan di mobil Kak Alex kayaknya. Makin tua makin pikun, hadeh."
Alena segera mengirim pesan pada Pak Alex untuk menanyakan apakah pakaiannya tertinggal di mobil Pak Alex atau tertinggal di Rumah Sakit.
aku baca dulu
lex kak
jadi pinisirin