NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Arnold mengulurkan tangannya di depan Alia. Alia bingung, awalnya tidak mengerti mengapa Arnold melakukan hal demikian.

“Buat apa kamu mengulurkan tangan kamu di depan aku?”

“Aku mau kita membuat kesepakatan. Kalau seandainya aku bisa bikin papa kamu senang sama aku, kamu harus nikah sama aku tanpa rasa khawatir. Tapi kalau papa kamu nggak bisa aku deketin dan memang nggak ada jalan buat kita, kita tetap bisa temenan, kan?”

Alia yang mendengar itu awalnya merasa sedih. Namun bagaimanapun, semua adalah keputusan dan rintangan orang tua. Tanpa restu, hubungan tidak akan menjadi hal yang baik ke depannya.

Alia akhirnya menyetujui kesepakatan Arnold. Ia pun mengulurkan tangannya ke arah Arnold.

“Oke, aku deal sama kesepakatan kamu. Aku akan menerima semua konsekuensinya. Tapi aku yakin kamu pasti punya trik untuk mendekati papaku. Aku nggak tahu triknya itu apa, tapi yang tahu ya kamu sendiri.”

“Kamu percaya sama aku, Yang?”

“Percaya kok. Aku tahu kalau kamu itu orang pintar dan jenius. Kamu bukan orang yang nggak bisa apa-apa. Jadi ketua kelas sama ketua OSIS aja udah menandakan kalau kamu itu orang yang pintar, Arnold.”

Arnold mendengar itu hanya tersenyum sambil melihat jam. Waktu sudah menunjukkan malam hari.

“Ya udah, kalau gitu aku pulang dulu, ya. Besok kita lanjut lagi di sekolah. Aku mau kasih tahu kamu sesuatu.”

“Kasih tahu apa?”

“Aku ada hadiah kecil buat kamu. Tapi aku nggak tahu kamu suka atau nggak. Nanti dibukanya setelah aku pulang aja, jangan sekarang.”

Arnold menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna pink kepada Alia.

“Kotaknya lucu... tapi aku suka mikir, apakah di dalamnya mahal?”

“Mahal atau nggaknya bukan dinilai dari harganya. Tapi dari keikhlasan dan ketulusan hati aku ke kamu.”

Alia mendengar itu hanya tersenyum. Arnold pun akhirnya pergi meninggalkan Alia.

Namun rasa penasaran membuat Alia membuka kotak pink tersebut. Ia langsung terkejut dan berteriak.

“Ih, kenapa kasih beginian sih? Padahal aku kan nggak minta yang aneh-aneh. Buat apa juga dikasih beginian?”

Saking kesalnya, Alia memfoto isi kotak itu dan mengirimkannya ke Arnold. Arnold hanya membalas dengan emoji senyum.

“Kamu ngapain kasih aku kalung? Kan aku udah bilang nggak usah. Lagian aku nggak bisa pakai di sekolah, kamu tahu kan peraturannya? Nggak boleh pakai kalung.”

“Aku kasih kalung bukan untuk dipakai sekarang. Aku kasih untuk kamu simpan. Nanti kalau kamu udah siap dan yakin sama hati kamu soal aku, baru kamu pakai. Kalau belum siap, ya jangan dipakai dulu. Ngerti nggak?”

“Kenapa harus kalung? Aku jadi bingung. Kalau kamu kasih aku kalung, aku nggak bisa bales apa yang kamu kasih. Apalagi ini keliatannya mahal banget.”

“Itu nggak seberapa, Al. Yang lebih penting itu perasaan aku ke kamu. Benda ini hanya benda, bukan apa-apa. Tapi perasaan aku ke kamu itu bukan main-main. Itu tulus dari hati aku. Jadi, please... apapun yang aku kasih ke kamu, simpan aja. Jangan pernah ngerasa terbebani. Aku senang kok ngasih kamu apapun.”

Alia mendengar itu justru merasa terbebani. Namun bagaimanapun, itu pemberian dari calon suaminya, Arnold. Ia tidak bisa membalikkan benda tersebut. Takut Arnold justru sakit hati dan merasa terhina.

“Ya udah, ini aku simpan. Tapi lain kali jangan kasih aku lagi, please. Aku nggak mau selalu ngerepotin kamu. Atau terkesan aku menyukai kamu karena materi. Aku sukain kamu tuh bukan karena materi.”

“Oke, sayang. Makasih ya. Akhirnya perdebatan panjang ini kamu ngalah juga. Nanti aku mau kasih kamu apa lagi ya, yang bikin kamu marah?”

“Please, jangan! Aku udah bilang jangan kasih apa-apa lagi. Kalau kamu tetap kasih, aku bakal buang itu. Liatin aja nanti.”

Arnold hanya tersenyum, tak bisa berkata apa-apa. Chat mereka pun berakhir di situ. Namun Alia masih terus memandangi kalung tersebut.

“Kalungnya cantik sih... tapi kenapa ya dia kasih kalung balet? Padahal aku nggak pernah suka balet. Aku kan sukanya belajar. Emangnya muka aku kayak cewek balet, ya?”

---

Keesokan paginya, di meja makan rumah Arnold.

“Nold, semalaman kamu ke mana, sayang? Mama liat kamu bawa mobil, tapi kamu nggak pamit sama mama. Kenapa nggak pamit, Nak?”

“Maaf, Ma. Kemarin aku ketemu sama cewek aku, Alia. Maaf ya nggak izin.”

“Kamu beneran sayang banget ya sama dia, Nak?”

Arnold hanya mengangguk. Mama tersenyum sambil menepuk jidatnya.

“Mama jadi ingat waktu papa kamu ngejar mama dulu. Sifat papa kamu sama persis kayak kamu sekarang ke Alia. Sampai mama nggak bisa berkata apa-apa.”

“Berarti mama beruntung dong, disukain sama dua orang yang sama.”

“Emang siapa satu orangnya?”

“Aku lah. Aku juga sayang sama mama. Jadi mama dapat dua pria yang sama sayangnya ke mama.”

Mama tersenyum dan menepuk pundak Arnold pelan.

“Bisa aja kamu bercandain mama. Tapi bener sih apa kata kamu. Mama bersyukur karena memiliki kalian.”

“Iya, Ma. Aku juga bersyukur punya mama kayak mama. Maaf ya, Ma, aku udah mau ke sekolah. Aku berangkat dulu. Nanti kita lanjut ngobrol setelah aku pulang sekolah. Bye bye, Ma.”

Mama mencium pipi Arnold, lalu Arnold pun pergi ke sekolah.

---

Setibanya di sekolah, Arnold mencari Alia.

“Ke mana lagi tuh cewek... hilang mulu. Susah banget kalau mau ketemu dia.”

“Hayoo... kamu ngedumel apa? Pasti ngedumelin aku ya?”

“Kamu kepedean banget sih. Siapa juga yang ngomongin kamu. Aku lagi banyak pikiran soal OSIS.”

“Loh, udah mau jadi anak lulusan terakhir aja masih mikirin OSIS. Kamu mikirin aku kapan?”

Arnold hanya tersenyum mendengar perkataan Alia sambil memegang kedua pundaknya.

“Emang kamu mau dipikirin apa sama aku, sampai-sampai kamu berani ngomong gitu?”

“Nggak tahu, ya. Kalau gitu aku ke kelas dulu deh. Susah sama pria yang sibuknya cuma sama OSIS, bukan sama aku. Bye bye.”

Arnold hanya tersenyum lalu menuju ruangan OSIS.

Sesampainya di sana, ia mendengar sesuatu yang tidak enak didengar.

“Tau nggak sih, kalau si Kak Arnold pacaran sama cewek kutu buku itu? Kok mau ya Kak Arnold? Padahal dia nggak jelek-jelek banget sih, tapi kok sukanya sama yang begitu?”

“Mungkin lebih gampang dibego-begoin kali. Makanya Kak Arnold mau. Kalau nggak bisa dibegoin, buat apa Kak Arnold sama dia? Lagian, Kak Arnold kan ganteng, banyak cewek yang suka sama dia.”

Arnold yang mendengar itu langsung masuk ke ruangan OSIS sambil menggebrak pintu dengan kencang.

Semua mata tertuju padanya, tapi Arnold tidak peduli.

“Ayo, semuanya kumpul! Kita rapat. Kalau ada yang mau nyampaikan visi misi, boleh. Asal jangan ngomongin orang lain aja, karena otaknya jadi nggak ada isinya.”

Anak-anak OSIS lain terdiam. Mereka sadar Arnold mendengar obrolan barusan, tapi berpura-pura bodoh seakan tidak ada yang terjadi.

“Ayo kasih visi misi kalian dong. Kok diam aja? Tadi berisik banget sebelum saya masuk. Kalau punya ide, tuangkan aja. Jangan bisik-bisik di belakang. Kan nggak ada yang denger.”

“Kak Arnold, kita lagi nggak ada ide...”

“Masa sih? Tadi saya denger kalian berisik banget sebelum saya masuk. Kalau takut sama saya, ya nggak apa-apa. Tapi kalau ngomongin di belakang itu nggak sopan. Lebih baik ngomong langsung di depan saya. Kalau nggak suka, ya bilang. Karena saya nggak suka sama orang yang berpura-pura baik di depan saya, tapi menusuk di belakang.”

Semuanya hanya diam dan menunduk, tak berani menatap Arnold. Tak biasanya Arnold marah seperti itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!