NovelToon NovelToon
MEMAAFKAN BUKAN MELUPAKAN

MEMAAFKAN BUKAN MELUPAKAN

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu / Keluarga & Kasih Sayang / Penyesalan Suami / Slice of Life / Tamat
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Kalung Tuti dipinjam, sampai sekarang belum dikembalikan." Tanpa basa-basi, Sari membuka suara dengan nada tajam.

"Ohh... yang katanya dipinjam Hendra itu? Kenapa Ibu ngomongnya ke aku? Yang pinjam, 'kan, anak Ibu sendiri," jawab Indah, berusaha tenang.

"Kalau Hendra yang pinjam, kamu sebagai istrinya harus tanggung jawab, dong!"

Menikah dengan anak sulung yang jadi tulang punggung keluarga, Indah dibawa ke pelosok tanpa akses memadai, tanpa kamar pribadi, dan tanpa perlindungan.

Ibu mertuanya merasa Indah adalah saingan dalam merebut cinta sang anak.

Sementara Hendra—suami yang seharusnya jadi penengah—lebih sering diam, seolah tak mendengar luka yang dialami istrinya.

Mampukah Indah mempertahankan rumah tangganya sendirian? Atau haruskah ia menyerah pada keluarga yang tak pernah benar-benar menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Hoax atau Nyata?

Bukan kaget karena Tuti mendadak berubah jadi perempuan beradab, tapi karena Tuti sedang mengenakan—dengan penuh percaya diri dan gaya sok selebgram—baju miliknya.

Baju milik Indah.

“Itu… bajuku,” gumamnya pelan.

Suara itu tidak ditujukan ke siapa-siapa, hanya ditelan angin dan diiringi satu helaan napas berat yang kayaknya sudah tinggal sehelai saja tersisa.

Matanya masih menatap Tuti yang melenggang bak ratu jalanan tanah becek, sambil sibuk menata rambut dan tertawa kecil seperti habis dapet endorse.

Indah tersenyum miris. “Kakaknya aja, selama dua tahun nikah sama aku, cuma sanggup beliin daster murah, tiga biji. Warna pudar semua. Ukuran juga kayak salah ambil.”

Ia menelan ludah, bukan karena haus, tapi karena pahitnya mulai menggenang di tenggorokan.

“Adik laki-lakinya jual kain panjangku gak tahu buat beli rokok atau beli lembaran togel, sekarang adik perempuannya pakai bajuku tanpa permisi. Rumah macam apa ini…? Keluarga bahagia edisi tukar hak milik?”

Indah ingin marah. Tapi untuk marah, butuh tenaga. Dan tenaganya sudah dikuras habis untuk bertahan hidup, bukan untuk berdebat soal baju yang bahkan ia beli dari hasil kerja lembur dulu.

Ia menunduk, menepuk-nepuk punggung Rayhan pelan. Bocah itu asyik ngunyah biskuit, tak tahu bahwa ibunya baru saja kehilangan lagi satu hal kecil yang membuatnya merasa punya identitas.

Karena di rumah itu… bahkan hak atas baju sendiri pun tak bisa ia jamin.

“Eh, Ndah, itu ada tukang sayur,” ujar Soleha sembari mencondongkan badan ke arah jalan tanah di depan rumah. Indah menoleh.

Seorang pria tampak mengayuh sepeda tua dengan dua keranjang besar menggantung di kanan-kiri. Sepedanya berderit pelan seperti protes karena beban hidup yang tak kalah berat dari tukangnya.

“Mau lihat, Ndah? Bibi mau turun ah,” kata Soleha sambil berdiri, sarungnya diselipkan di pinggang.

Indah menghela napas panjang. “Mending ikut lihat daripada kesal liat baju sendiri dipakai orang tanpa permisi,” batinnya sambil menggendong Rayhan yang tetap kukuh mempertahankan kelapa di tangannya seperti mempertahankan hak asuh warisan.

Mereka turun dari rumah panggung, melangkah ke halaman beralas tanah yang masih lembap sisa hujan semalam.

Jarang-jarang ada tukang sayur masuk kampung ini. Bahkan tukang kredit pun ogah mampir, apalagi tukang sayur.

Soleha membeli kacang panjang dan timun. Indah menatap tempe yang dibungkus daun pisang.

“Udah lama nggak makan tempe,” gumamnya, “Tempe doang, tapi sekarang rasanya kayak beli sushi, langka…”

Setelah transaksi beres dan uang recehan berpindah tangan, Soleha mendadak mengerutkan hidung. Matanya menyipit, lalu membelalak.

“Ndah… kok ada bau gosong, ya?”

Ia mendadak terdiam.

“ASTAGA! Bibi tadi ngukus pisang!”

Tanpa sempat pamit atau memberikan pidato penutup, Soleha langsung menaikkan sarungnya—selevel dengan semangat darurat nasional—dan melesat naik tangga rumah.

Indah terkikik pelan. Entah karena lucu, atau karena hidupnya memang sudah terlalu getir, jadi apa pun terasa lucu.

Tukang sayur menatap bingung, sorot matanya antara penasaran dan cemas.

“Ada apa, Mbak? Kok ibu itu kayak panik?” tanyanya ragu, dalam bahasa Indonesia yang agak kaku. Rupanya, ia tak paham bahasa daerah yang digunakan Soleha tadi.

“Bibi saya tadi ngukus pisang. Kayaknya gosong,” sahut Indah.

“Ohhh…” gumam si tukang sayur sambil mengangguk-angguk dengan mimik paham.

Tatapannya lalu jatuh pada Rayhan.

“Gak tambah berat apa, Mbak, gendong anak sambil bawa kelapa gitu?”

Indah tertawa pelan. “Miris sih, Mas. Dulu saya ngidam kelapa muda, tapi gak pernah diturutin. Ya, sekarang anak saya kalau lihat kelapa, langsung dikejar kayak lihat jodoh—gak peduli muda apa tua, yang penting kelapa.”

Tukang sayur ikut tertawa kecil.

Indah menatapnya, “Tapi kok jarang banget ya tukang sayur masuk kampung ini?”

Tukang sayur itu melirik kanan dan kiri. Bukan untuk melihat kendaraan, tapi seolah ingin memastikan tidak ada telinga tambahan yang ikut mendengar.

“Mbak orang baru, ya?” tanyanya pelan. “Soalnya bahasa Indonesianya lancar. Gak kayak kebanyakan warga sini.”

Indah mengangguk. “Iya, saya orang Jawa. Tapi kayaknya Mas juga orang Jawa, 'kan? Medok banget,” ujarnya sambil terkekeh.

“Wah, iya, Mbak. Saya dari Jawa, merantau ke sini.”

“Makanya bahasanya medok. Tapi Mas medoknya masih manusiawi, saya sering dengar medok versi ultraman.”

Mereka tertawa sebentar, lalu kembali ke topik.

“Jadi kenapa tukang sayur jarang masuk kampung ini?” tanya Indah.

Tukang sayur itu kembali memastikan sekeliling aman, lalu mendekat sedikit, suaranya menurun.

“Karena daerah sini… rawan, Mbak. Banyak kebun, hutan, tanah kosong. Kalau pendatang lewat dan bawa barang, apalagi malam, sering dibegal.”

Indah mengerutkan dahi. “Dibegal?”

“Kalau gak ngasih barangnya, ya bisa pulang tinggal nama. Banyak cerita… yang pulangnya cuma dalam berita.”

Indah menelan ludah.

“Serius?”

“Kalau Mbak sudah lama di sini, nanti juga dengar sendiri. Main bacok kepala udah biasa di daerah ini, Mbak. Hati-hati, ya…”

Ucapan itu menggantung di udara. Lebih tajam dari pisau dapur dan lebih menyesakkan dari aroma gosong kukusan.

Indah mengangguk kecil. “Terima kasih ya, Mas…”

Hatinya kembali dingin. Kali ini bukan karena angin desa, tapi karena kenyataan yang makin hari makin membuatnya merasa tinggal bukan di rumah, tapi di medan tempur dengan aturan yang tak tertulis—tapi mematikan.

Indah kembali naik ke teras rumah Soleha sambil bergumam, "Apakah yang dikatakan tukang sayur tadi sekedar hoax? Tapi kayaknya serius. Ah, zaman udah ada polisi tentara gini masa iya, main tebas kepala orang macam nebas batang pisang?"

Sementara si tukang sayur mengayuh sepeda tuanya menjauh, suaranya pelan seperti lagu perpisahan—ritmis tapi menyedihkan.

Soleha keluar dari rumah sambil membawa piring plastik berisi pisang kukus yang kulitnya tampak lebih gelap dari biasanya. Aroma gosongnya menusuk hidung.

"Masih bisa dimakan," kata Soleha santai, bak chef profesional menenangkan tamu VVIP. "Yang gosong cuma sedikit kok. Sisanya... ya kelihatan enggak, tapi rasa tetep ada."

Indah duduk di sebelahnya, tertawa kecut. Mereka bertiga—Indah, Soleha, dan Rayhan yang sibuk mengelus-elus kelapa seolah kelapa itu boneka kesayangan—menyantap pisang gosong dengan khidmat. Tak ada piring porselen, tak ada teh hangat, hanya sepiring pisang dan suasana yang cukup lengang untuk mendengar cicitan burung di pohon jambu belakang rumah.

Beberapa saat kemudian, Rayhan mulai menguap. Tangannya tetap erat memeluk kelapa, seperti security pribadi yang enggan lengah.

“Waktunya pulang,” gumam Indah pelan, berdiri sambil menggendong Rayhan dan membawa tempe yang dibelinya tadi. Langkahnya menuju rumah seperti jalan nasib—pelan, berat, dan penuh beban yang tak kasat mata.

Indah menatap ke penjuru rumah. "Sepi. Mereka macam ninja habis lempar bom asap—ngilang entah ke mana. Mungkin benar ke perempatan pasar kecil yang menjual baju dan perabotan. Mungkin juga ke tempat lain—siapa peduli?"

Indah menidurkan Rayhan di ayunan sarung. Pegasnya berderit pelan tiap kali digoyang sedikit keras. Bocah itu masih memeluk kelapa erat-erat bahkan dalam tidur. Seakan takut ada yang merebut satu-satunya 'mainan' yang paling dia cintai.

Indah menggoyang ayunan perlahan, sambil menyanyikan sholawat lembut yang biasa ia lafalkan kala hati sedang digerus rasa sepi. Ia ingin anaknya tumbuh menjadi anak yang tak hanya kuat, tapi juga mengenal Allah sejak dini—meskipun lingkungannya lebih akrab dengan umpatan dan dukun daripada zikir.

Setelah Rayhan benar-benar terlelap, Indah pergi ke dapur. Ia menyalakan tungku besi berkaki tiga. Kayu-kayu bakarnya agak lembap karena semalam gerimis. Indah menghela napas panjang.

"Nyalain api aja butuh perjuangan kayak niupin semangat sama orang yang mau gantung diri."

Ia meniupnya dengan bambu pendek hingga matanya perih dan napas terasa seperti habis dikejar setan utang.

"Ya Allah, perihnya asap tak seperih hati yang dipaksa sabar meski udah mau mati."

Asap mengepul dari tungku, seakan bersaing dengan beban hidup yang sudah duluan memenuhi dada.

Sambil menunggu tempenya matang, Indah mondar-mandir. Goyang ayunan—balik ke dapur. Goyang ayunan lagi—tiup api lagi.

“Orek tempe ini... perjuangan banget,” gumamnya. “Masakannya biasa, capeknya luar biasa.”

Akhirnya, ketika tempe yang ia potong kecil-kecil itu sudah meresap dengan bumbu dan bau harum familiar sudah semerbak, ia duduk bersila di lantai. Satu tangan menyuap nasi dan tempe, satu tangan lagi tetap menggoyang ayunan.

“Subhanallah…” gumamnya lirih, “udah lama gak makan tempe. Rasanya kayak makan makanan mewah.”

Ia mengunyah perlahan. Bukan karena ingin menikmati tiap suapan, tapi karena giginya ikut lelah dalam hidup ini.

Dalam diam, ia menatap anaknya yang tertidur dengan kelapa di pelukan. Sebuah pemandangan absurd tapi mengharukan—anak yang mencintai kelapa lebih dari apapun, karena ibunya dulu tak sempat menuruti ngidam sederhana.

Tempe, kelapa, dan hidup yang seperti ayunan—terus bergerak, tapi tetap di tempat yang sama.

Dan satu hal yang pasti: tak akan ada asap kalau tak ada api.

Di pertigaan desa—bukan asap yang naik ke langit, tapi darah segar yang mengalir pelan di atas tanah merah.

...🍁💦🍁...

.

To be continued

1
YuWie
aku sing baca aja sdh gak tahan..kau masih ajaaa kuat walo dg ngomel2 dah indah🙃
YuWie
Luar biasa
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
YuWie
kenapa kok yo tahan in indah..
YuWie
hendra nyinyirnya noleh juga ya..sayur dimask cmn bumbu doa.. gelas disabun trus di celup 🤣
YuWie
kenapa laki2 versi terbaiknya pas pacaran.

sedangkan wanita versi sempurna kecantik annya pas pacaran...hmmm
YuWie
nyesek ya dapat anak sulung yg dituntut untuk ngurusin adiknya terus menerus..pelajaran juga lebih baik kali ya dapat anak ragil yg tanggung jawab 🤣
Yunita Sophi
selamat ya Ndah semoga kamu akan beruntung setelah menjadi guru...
Yunita Sophi
doa dan nekat udah cukup untuk sekarang Ndah... yg penting jauh dari mertua dan ipar 😂
Yunita Sophi
gimana mau ada yg tertarik jd guru yah...
Yunita Sophi
semua jg bisa menyalahkan orang lain... tp untuk diri sendiri mereka akan menutup mata dan hatinya
Yunita Sophi
bagus Indah... semoga kamu bahagia dengan hidupmu di masa depan..
Yunita Sophi
seru sih tp kasian Indah
Yunita Sophi
semoga orang orang baik selamat 🤲
Yunita Sophi
siapa yg datang..
Yunita Sophi
asal tau aja Indah gak perlu tanya tanya... gak penting juga kali..
Yunita Sophi
dasar ponakan gak tau diri... ngembat suami tante nya
Yunita Sophi
semoga Indah jd guru biar dia bisa nabung untuk pulang ke jawa..
Yunita Sophi
nasib mu Indah... kapan mau berubah nya
Yunita Sophi
terima kasih pak Usman... semoga aja Indah di pulangkan agar dia bisa lepas dari kluarga toxis dan suami yg gak punya hati...
Yunita Sophi
tolong paman Usman antar Indah ke jawa... kasian dia tdk ada harga nya di depan suami dan kluarga nya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!