NovelToon NovelToon
Jodohku Pak CEO DUDA

Jodohku Pak CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO
Popularitas:55.2k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Ketika seorang duda kaya anak dua terpikat dengan pesona seorang wanita yatim piatu yang hanya tinggal berdua bersama adiknya. Namun kisah cinta mereka harus berasa di Antara Status yang berbeda jauh. Bukan hanya itu, Cinta mereka juga harus berada diAntara dua keyakinan yang berbeda.

Bagaimana kisah keduanya? Siapakah yang akan mengalah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Di teras rumah yang diterangi cahaya lampu temaram, kedua remaja itu masih enggan melepaskan pelukan mereka dari Vana. Tubuh mereka bergetar pelan, air mata menetes di bahu wanita itu, seolah tak ingin malam itu berakhir.

“Udah ya, sayang…” bisik Vana lembut sambil mengusap punggung keduanya. “Kalian nggak usah nangis. Kan Mami cuma pulang aja. Mami nggak pergi ke mana-mana kok.”

Namun Aksa dan Aska tetap diam. Hanya suara isak kecil yang terdengar di antara keheningan malam. Dari kejauhan, Leo berdiri bersama Kenan dan Agam, memperhatikan dengan wajah tak kalah haru.

Akhirnya Leo angkat bicara, suaranya tenang tapi tegas.

“Nggak usah cengeng. Kalian itu laki-laki.”

Aksa menoleh, wajahnya masih basah oleh air mata. “Terus, anak laki-laki nggak boleh nangis gitu?” tanyanya, suaranya bergetar tapi penuh keberanian.

Aska ikut mendongak, matanya memerah. “Emangnya anak laki-laki nggak boleh nangis ya, Mi?” tanyanya polos, menatap Vana dengan tatapan memohon jawaban.

Vana tersenyum lembut. Ia menatap Leo sejenak, seolah meminta pengertian, sebelum kembali menunduk menatap kedua putranya. Ia menyeka air mata di pipi Aksa, lalu menunduk sejajar dengan wajah Aska.

“Boleh kok, sayang…” ujarnya lembut, suaranya sehangat pelukan. “Laki-laki itu bukan berarti nggak boleh nangis. Tapi… setiap air mata yang keluar harus punya alasan.”

Aska mengangguk pelan. “Kami punya alasannya, Mi,” ucapnya lirih.

Vana tersenyum kecil, mengelus rambut keduanya. “Iya, Mami tahu,” katanya lembut. “Tapi sekarang udah ya, nangisnya cukup. Udah malam, kalian harus istirahat. Adek masih demam, dan luka abang juga belum sembuh, kan?”

Aksa dan Aska menunduk, mengangguk pelan. “Iya, Mi…”

“Sekarang kalian masuk kamar, ya. Supaya besok pagi adek sama abang udah sehat.”

Keduanya saling berpandangan, lalu perlahan melepaskan pelukan itu. Sebelum melangkah masuk ke rumah, Aska menoleh lagi, suaranya nyaris bergetar.

“Mi…” panggilnya pelan. “Mami sering-sering ke sini ya?”pinta Aska.

Vana tersenyum lembut, matanya mulai berkaca-kaca. “Pasti, sayang. Kapan pun kalian mau, Mami pasti ke sini.”

Agam yang berdiri di samping mereka menepuk bahu keduanya, mencoba mencairkan suasana.

“Udah, Mami kalian bukannya pergi ke medan perang. Dia cuma pulang, kok,” ujarnya sambil tersenyum.

Vana mengusap rambut Aska pelan. “Udah ya, Mami pulang dulu. Kalau ada waktu, Mami pasti ke sini lagi.”

“Iya, Mi,” jawab keduanya hampir bersamaan.

“Mami hati-hati ya di jalan,” tambah Aska cepat-cepat.

“Kalau udah sampai rumah, jangan lupa telepon Abang,” sambung Aksa.

“Adek juga, Mi,” celetuk Aska lagi.

Vana terkekeh kecil, lalu mengangguk. “Iya, sayang.”

Keduanya kembali memeluk Vana erat-erat, seolah belum rela melepasnya. Setelah beberapa saat, mereka akhirnya mengendurkan pelukan itu.

Aska menatap Agam dengan nada setengah bercanda, setengah serius.

“Uncle hati-hati bawa mobilnya, ya. Kalau sampai Mami lecet sedikit aja… awas aja, Uncle.”

Agam tertawa kecil, mengangkat tangan seolah menyerah.

“Iya, iya. Tenang aja. Uncle bakal antar Mami kalian pulang dengan selamat, tanpa lecet sedikit pun.”ucapnya.

Setelah sesi pamitan yang penuh haru itu, akhirnya Vana diizinkan pulang oleh dua remaja itu. Ia segera masuk ke mobil yang sudah disiapkan. Aksa dan Aska sepakat tidak mengizinkan sopir keluarga mengantar Mami mereka—mereka justru menunjuk Agam.

“Udah sana, kalian masuk. Mami pergi dulu, ya,” ucap Vana lembut sambil tersenyum.

Keduanya mengangguk pelan, namun langkah mereka tak juga beranjak. Aska lebih dulu bergerak membuka pintu mobil untuk Vana, sementara Aksa berdiri di samping, menatap ibunya dalam diam.

Kedua remaja itu melambaikan tangan sambil menahan air mata.

“Hati-hati, Mi!”

Mobil itu perlahan melaju meninggalkan halaman rumah. Suara ban yang bergesekan dengan aspal terasa begitu sunyi, seolah ikut menarik suasana hati yang tertinggal di sana. Aksa dan Aska berdiri berdampingan di teras, tak bergeming sedikit pun. Pandangan mereka terpaku pada mobil yang semakin menjauh, sampai akhirnya benar-benar hilang di balik gerbang rumah mewah itu.

Tak ada kata, tak ada gerak. Hanya napas yang terdengar pelan, disertai mata yang mulai basah.

Ketika mobil itu menghilang, keduanya menunduk bersamaan, bahunya sedikit bergetar menahan tangis.

Dari belakang, Leo dan Kenan memperhatikan dalam diam. Kenan sempat melirik sahabatnya itu, melihat rahang Leo yang mengeras dan tangan yang mengepal di sisi tubuh. Namun di balik tatapan datar dan dingin itu, ada sesuatu yang sulit disembunyikan,perasaan iba yang nyaris menyakitkan.

Meskipun belum lama mengenal Vana, Leo tahu betul seberapa dalam kedua anak itu terikat padanya. Vana berhasil menyentuh sisi lembut yang bahkan dirinya sendiri jarang tunjukkan pada siapa pun.

“Papi…” lirih Aksa dan Aska hampir bersamaan.

Leo menegakkan tubuhnya sedikit. “Kenapa?” suaranya terdengar datar, tapi tenang.

Belum sempat ia bergerak, dua remaja itu sudah berlari ke arahnya dan langsung memeluknya erat. Tubuh keduanya gemetar di dadanya.

Leo diam sejenak, menatap kosong ke depan sebelum akhirnya mengangkat tangan dan menepuk bahu mereka pelan. “Sudah…” katanya lirih. “Ada apa, hm?”

“Papi… Mami udah pulang…” isak Aska pecah di pelukannya.

Leo menghela napas panjang. “ Papi tahu,” ucapnya tenang. “Tapi kalian nggak boleh terus begini. Dia juga punya keluarga, punya rumah. Kalian tidak bisa memaksanya untuk selalu bersama kalian.”

Aksa mengangkat wajahnya, mata merah dan basah. “Tapi bisa, Pi…” katanya dengan suara serak.

“Bisa apa?”

“Asal Papi nikah sama Mami,” jawab mereka hampir bersamaan.

Leo terdiam. Hanya matanya yang bergeser sedikit menatap keduanya. Dingin, tapi lembut.

“Jangan asal bicara,” katanya tenang namun tegas. “Dunia orang dewasa nggak sesederhana itu.”

Kedua anak itu menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh lagi.

Leo menghela napas pelan, lalu merapikan rambut mereka satu per satu. “Masuk. Istirahat,” katanya singkat. “Kalian butuh tidur, kondisi kalian belum pulih sepenuhnya. "

Aksa dan Aska menurut. Mereka melangkah pelan masuk ke rumah, masih sesekali menoleh ke arah Leo.

Dari belakang, Kenan hanya terkekeh kecil. “Dingin banget bro...Tapi yang mereka ucapkan tadi juga ada benar nya” gumamnya sambil menyeringai.

Leo menatapnya sekilas tanpa ekspresi. “Diam, Kenan.”ucap Leo.

Kenan mengangkat bahu, masih dengan senyum geli di wajahnya. “Iya, iya, gue diam,” ujarnya cepat sambil tertawa pelan. Ia pun berbalik meninggalkan halaman sebelum Leo benar-benar berubah menjadi singa seperti yang sering ia sebut.

Begitu kedua anak itu benar-benar masuk ke dalam rumah, Leo masih berdiri di tempat. Tatapannya tertuju ke jalan yang kini kosong — tempat terakhir mobil itu melintas. Untuk beberapa detik, garis bibirnya melunak, nyaris membentuk senyum samar yang hanya muncul ketika tak ada yang melihat.

Ia menarik napas panjang, lalu berbalik dan melangkah masuk tanpa suara.

🍁🍁🍁

Sementara itu, di dalam mobil yang melaju menjauh dari rumah, suasana hening menyelimuti kabin. Hanya suara mesin yang stabil dan gesekan ban di jalan yang terdengar, berpadu dengan desiran angin malam yang masuk lewat celah jendela.

“Terima kasih… sudah datang ke kehidupan Aksa dan Aska,” ucap Agam pelan dari balik kemudi. Nada suaranya tenang, tapi penuh makna.

Vana menoleh sekilas, tersenyum tipis. “Sama-sama, Pak,” jawabnya lembut. “Saya juga senang bisa ada di sisi mereka. Mereka anak yang luar biasa.”

Agam mengangguk kecil, pandangannya tetap fokus ke jalan di depan. “Kamu tahu, biasanya mereka nggak mau dekat dengan perempuan mana pun yang datang ke rumah.”

Vana terdiam, menatapnya dengan alis sedikit terangkat.

“Mereka paling anti sama yang namanya perempuan. Bahkan para pekerja perempuan di rumah itu… dilarang terlalu banyak beraktivitas kalau Aksa dan Aska sedang di rumah. Mereka membangun dinding pertahanan yang tinggi dari banyak orang.”

Vana memandang keluar jendela, matanya menerawang. “Jadi selama ini… mereka se-tertutup itu?” tanyanya pelan.

Agam melirik sekilas ke arahnya lewat kaca spion, lalu menghela napas panjang. “Iya,” ujarnya tenang. “Bahkan mereka nggak pernah menunjukkan sisi manja seperti yang kamu lihat tadi, pada siapa pun. Termasuk pada Papi mereka sendiri.”

Vana menoleh cepat, menatap Agam dengan ekspresi tak percaya. “Serius?”

Agam mengangguk. “Leo udah coba berbagai cara buat ngedeketin mereka. Tapi tetap aja… selalu ada jarak. Sampai kamu datang.” Suaranya menurun, nyaris seperti gumaman. “Entah gimana, kamu berhasil nembus dinding yang bahkan Leo sendiri nggak bisa tembus.”

Kata-kata itu membuat Vana terdiam lama. Matanya menunduk, jemarinya saling meremas di pangkuan. Ada kehangatan sekaligus sesak yang menyelusup di dadanya.

Ternyata, anak-anak yang selama ini ia kira begitu ceria, begitu penuh tawa dan canda… menyimpan luka yang begitu dalam.

Bayangan wajah Aksa dan Aska terlintas di benaknya — tawa polos mereka, cara mereka memeluk, dan bagaimana mata keduanya tampak berkilat setiap kali memanggilnya Mami. Kini semua itu terasa berbeda. Ada arti lain di balik setiap senyum mereka.

“Mereka pasti kesepian,” gumam Vana pelan, suaranya nyaris tak terdengar.

Agam melirik sekilas, lalu mengangguk kecil. “Iya,” jawabnya lirih. “Kesepian yang nggak pernah mereka tunjukin ke siapa pun.”

Agam menarik napas pelan sebelum melanjutkan, “Kamu tahu, satu-satunya cara mereka buat ngilangin rasa sepi itu?”

Vana menoleh pelan. “Apa?” tanyanya, suaranya lembut tapi penuh penasaran.

“Membuat masalah,” ujar Agam datar, namun ada nada iba di sana. “Mereka bikin ulah, beratem,tawuran,cari perhatian, ngelakuin hal-hal yang bahkan mereka sendiri nggak suka. Tapi bagi mereka… itu satu-satunya cara biar ada yang peduli, biar ada yang lihat.”

Vana terdiam. Kalimat itu menohok perasaannya. Ia memejamkan mata sesaat, menahan sesak di dada.

“Jadi selama ini…” bisiknya lirih, “semua kenakalan itu cuma teriakan minta tolong.”

Agam menatapnya dari kaca spion, ekspresinya lembut. “Iya, Van. Mereka nggak nakal… mereka cuma kesepian.”

Vana mengangkat kepalanya perlahan, pandangannya kembali menembus jendela mobil. Lampu-lampu kota berpendar lembut di balik kaca, namun yang terlihat di matanya bukan pemandangan malam — melainkan dua wajah remaja yang tiba-tiba terasa begitu rapuh dalam ingatannya. Ia tidak mampu lagi berkata-kata setelah mendengar cerita singkat tentang keduanya.

Bersambung,,,,,,,,,,,,,,,

1
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban guys
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Farah HakimKapau Farah Hakim
Ending nya gi mana ini...
Farah HakimKapau Farah Hakim
Masih menunggu...
Farah HakimKapau Farah Hakim
Kapan up episode baru ni... Lama dah tunggu...
Farah HakimKapau Farah Hakim
👍👍👍👍👍
Farah HakimKapau Farah Hakim
😍😍😍😍😍
Azarrna
maaf ya say,
akan diusahain setiap hari up🙏😍😊
Farah HakimKapau Farah Hakim
Jangan lama2 up episode nya darlings.. Makin penasaran ini
Azarrna
/Bye-Bye/🤭
Farah HakimKapau Farah Hakim
Still waiting...
Azarrna: thank you for waiting🤭
total 1 replies
Farah HakimKapau Farah Hakim
Makin penasaran aja
Azarrna
makasih kk😍
falea sezi
ngakak q/Curse//Curse/
falea sezi
cie aska Aksa cmburu mami nya meluk anak lain/Chuckle/
falea sezi
ceritanya bagus q suka
falea sezi
SMP seumuran anak ku anak ku. tidur aja kagak. mau deh di. kelonin malu katanya
Azarrna
oke kk😍
Farah HakimKapau Farah Hakim
Terima kasih... Tunggu update seterusnyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!