Lima belas tahun yang lalu, Maria adalah sosok yang ceria tidak peduli bagaimana asal - usulnya. Namun semenjak dirinya menyatakan cinta pada Yudha dan ditolak, ia jadi memahami mengapa Bibit, Bebet, dan Bobot menjadi standar ditolak dan diterima, dipilih dan dipinang.
Apalagi ketika ia harus terusir dari rumah karena sertifikatnya telah digadai sang ayah. Sedangkan sang ayah sendiri tewas menjadi bulan - bulanan massa setelah tertangkap basah tengah mencopet.
Yudha seorang pria tamvan, mavan, dan rupawan. Karirnya begitu cemerlang. Namun takdir seolah menjungkir balikkan hidupnya ketika sang istri meninggal saat melahirkan buah hati kedua mereka.
Karena harus menitipkan sang bayi di rumah sang ibu, ia kembali bertemu Maria dalam kondisi saling membutuhkan.
"jadilah baby sitter untuk anakku, aku akan menanggung semua kebutuhanmu."
"Hey, kamu nggak takut mempercayakan anakmu padaku. Nanti kalau anak mu rewel kemudian aku bunuh, gimana."
Yudha tersadar, kesalahannya di masa lalu telah membuat Maria tidak lagi sama seperti yang dulu.
Namun Ketika Cinta Telah Bicara, akankah menyatukan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eeeewy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Mario masih berusaha menenangkan tangis Maria dengan membelai rambut sang adik yang sesenggukkan dalam pelukannya. Awalnya pasti terasa berat bagi Maria untuk berdamai dengan nasib. Tapi Mario berjanji akan membahagiakan Maria untuk menebus puluhan tahun waktu kebersamaan mereka yang pernah hilang.
Belai penuh kasih seorang Mario perlahan mencairkan hati Maria. Ia harus memaafkan masa lalu, demi Safira dan dirinya sendiri. Saat ini ia harus fokus untuk membantu sahabatnya terbebas dari dilema cinta. Selama ini Safira telah menemaninya saat melalui suka dan duka, menggantikan peran Mario yang tidak pernah ia tahu keberadaannya.
Perlahan - lahan Maria melepaskan diri dari pelukan Mario. Ia pun menatap abangnya dengan tatapan menuntut.
"Berarti janji Abang untuk jadian dengan Safira deal loh ya?"
Mario tertawa. Tangannya kini mengacak - acak kepala adiknya. Kalau si tuan puteri sudah berkehendak? Si Abang bisa apa?
********
Safira membuka pintu ruang tamu dengan menunjukkan muka bantalnya. Mendadak ia merasa salah tingkah ketika melihat Maria dan Mario berdiri di depan pintu rumahnya.
Maria masuk ke dalam rumah sambil terkekeh. Tanpa merasa sungkan, ia berjalan ke dapur untuk memberi salam pada ibunya Safira dan meninggalkan Mario mengagumi kecantikan alami calon istri yang di sponsori oleh adiknya.
"Silakan duduk, Pak Mario!" Safira meringis malu. Bagaimana tidak malu coba? Ia sudah terbiasa menemui pak Mario dalam keadaan cantik, rapi, dan wangi bukannya acak adut seperti penampilannya pagi ini.
Minggu pagi adalah waktunya menikmati injury time memeluk bantal dan guling. Setelah selama satu minggu berkutat dengan laporan keuangan perusahaan yang memusingkannya. Tapi mendadak tanpa mengiriminya pesan lebih dulu, Maria muncul bersama pak Mario.
Untunglah kemunculan Maria dan sang ibu membuat Safira bisa segera ngacir ke kamar mandi. Sedangkan Mario terpana melihat keakraban adiknya dengan ibu Safira.
"Abang, kenalin ini ibunya Safira. Beliau yang sering aku repotkan." Maria memperkenalkan sang abang dengan calon mertuanya.
"Ish... Nggak kok, Mas. Malah saya yang sering merepotkan Mbak Maria untuk menemani puteri saya."
Mario mencium punggung tangan calon mertuanya dengan takzim. "Terima kasih ya, Bu karena sudah ikut menjaga adik saya."
*******
Maria dan Safira sengaja mengajak Mario untuk bersantai di stadion. Mereka berjalan - jalan sambil mengobrol.
"Jadi Pak Mario itu beneran abangmu?" tanya Safira dengan tatapan tidak percaya.
"Kami saudara berbeda ayah." Mario menjelaskan pada Safira sekaligus mencoba membangun keakraban. Sebenarnya mereka sudah kenal sejak lama sih. Bahkan Mario mengenal Safira lebih dulu daripada mengenal adiknya. Tapi keduanya selalu bertemu dalam suasana formal, bukan suasana santai seperti saat ini.
"Nah, sekarang kamu sudah percaya kan kalau pak Mario itu adalah abangku. Berarti kamu harus mau jadi kakak iparku dong, Saf!" todong Maria yang memunculkan semburat merah di pipi Safira.
*********
Yudha baru saja sembayang Subuh saat pintu kamarnya terbuka. Ia melihat Arina masuk ke kamar dengan wajah ceria.
"Papa, kita jadi kan jalan - jalan ke stadion? Aku ingin naik motor matic mini, Pa!" rayu si bocah sambil menunjukkan puppy eyesnya
"Nanti ya, tunggu adek bangun dulu!" Yudha menunjuk Arka yang masih lelap dalam tidurnya.
Arina segera menjatuhkan tubuhnya di ranjang empuk milik sang papa. Kemudian tangannya mulai mencolek - colek pipi gembil Arka.
"Adek buruan bangun. Kita naik odong - odong yuk!" Arina mulai mengusili adiknya supaya terbangun dari tidur.
"Kakak, jangan ganggu adek dong!" Yudha yang sedang melipat sajadah mengingatkan puterinya. Menjadi seorang single daddy membuatnya menyadari. Kebahagiaan hakiki seorang ibu rumah tangga yang memiliki bayi adalah ketika si bayi tidur nyenyak.
Keusilan Arina berhasil membangunkan adiknya. Dan Arka pun mulai menangis karena kesal.
"Kakak!" Yudha menegur Arina sambil buru - buru menggendong Arka sebelum tangisan si bocah menjadi semakin tidak terkendali. Tiba -tiba saja ia jadi teringat dengan Maria. Seandainya mantan tetangganya itu bersedia menjadi pengasuh untuk kedua anaknya, pasti setiap pagi ia tidak menghadapi medan pertempuran ini seorang diri.
Setelah bersiap - siap, Yudha dan kedua anaknya pun mulai berjalan - jalan menuju stadion yang terletak di depan gerbang kompleks perumahannya.
Yudha jadi merasa menyesal. Mengapa dulu ia mengambil perumahan di dekat stadion. Karena keramaian stadion di minggu pagi yang mirip pasar malam itu telah meracuni Arina. Gadis kecil itu tidak pernah absen menghabiskan minggu paginya dengan menaiki aneka wahana permainan yang ada. Dan Yudha sambil menggendong Arka akan berolah raga angkat beban sembari mengikuti Arina mengendarai motor listrik mini.
"Hati - hati ya, Kak!" Yudha mengingatkan Arina supaya berhati - hati saat mengendarai scoopy mini yang mereka sewa.
"Ayay captain!" cengir gadis kecil itu memamerkan senyum cantiknya.
Dengan segera, Arina melajukan motor mininya. Banyaknya pengunjung yang sedang berolah raga pagi membuat Arina kesulitan mengemudikan laju mainnnya. Sehingga tanpa sengaja motornya menyeruduk seseorang.
Maria yang sedang berjalan - jalan mengelilingi stadion, refleks menoleh ke arah seorang bocah yang baru saja menabraknya dengan motor mainan. Ia merasa kesal karena pemilik usaha memilih lokasi di tempat yang ramai. Seharusnya si bocah dalam pengawasan orang dewasa mengingat mereka suka serampangan saat bermain.
Arina mendongakkan kepalanya. Ia melihat wajah orang yang ia tabrak itu dengan rasa bersalah. "Maaf ya, Onty." pintanya dengan tulus. Mata bulatnya yang indah dan wajah cantik si bocah, membuat Maria mengurungkan niatnya untuk mengomel.
Suasana yang ramai membuat Yudha sedikit kelimpungan mengawasi Arina. Benar saja, gadis kecilnya telah menabrak seseorang. Dengan terburu - buru, Yudha mendekati puterinya. Jangan sampai Arina membuat masalah deh.
"Tolong maafkan puteri saya."
Maria yang tengah menunduk memperhatikan si bocah jadi terkejut saat mendengar suara seseorang. Ia pun menengadahkan wajahnya dan melihat Yudha sedang menggendong seorang bayi tampan berpipi chuby.
"Yudha?"
"Maria?"
Tbc.