Hasrat adalah sebuah keinginan. Keinginan dalam apapun. Tapi kata "hasrat" biasanya berkonotasi sedikit negatif. Kata itu selalu disandingkan dengan keinginan untuk bercinta.
Sedangkan bagi Abra Ishan Abinawa dia tidak mengenal kata itu. Dia tidak memiliki keinginan untuk berhubungan dengan wanita di usianya yang sudah tidak muda lagi, yakni 32 tahun. Menurutnya wanita itu sungguh ribet dan menyusahkan. Terlebih sebuah alergi muncul saat dia bersentuhan dengan wanita. Hingga dia bertemu oleh seorang gadis yang memanggilnya "Om".
Gadis cantik berusia 25 tahun bernama Ciara Kamila Prasojo itu selalu membuat Abra naik darah. Ada saja ulah Ciara yang membuat Abra kehabisan akal.
Apakah akan muncul hasrat dari Abra kepada Ciara?
Lalu kira-kira hasrat seperti apa itu?
Dan, bagaimana dengan alergi Abra?
Cerita ini pol ringan ya guys. Nggak akan ada konflik yang berat. So nikmati aja oke.
HAPPY READING
pict. by pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Presdir Ketus 16
Sesampainya di rumah. Ciara langsung melemparkan tubuhnya di atas ranjang. Dia membuang nafasnya kasar. Ciara mengingat lagi apa yang tadi terjadi di kantor. Ia menggelengkan kepalanya cepat mengusir semua bayangan.
" Kenapa tadi bisa ngomong seperti itu ya, haish. Tapi memang itu lah yang paling aman saat ini," gumam Ciara lirih.
Pintu kamarnya diketuk, suara sang mama terdengar dari balik pintu.
" Ada apa Ma?"
" Cia nanti jam 7 kita akan pergi, Papa ada jamuan makan malam. Kamu ikut, jadi bersiap lah."
Ciara mendesahkan nafasnya berat. Dia sebenarnya enggan untuk ikut di acara-acara seperti itu. Tapi sepertinya kali ini dia tidak bisa menolak. Mungkin bagus juga untuk bertemu banyak orang.
" Iya Ma, nanti Cia siap-siap," ucap Ciara pasrah.
Laila tersenyum dan kembali menutup pintu kamar. Ini mungkin merupakan sebuah cara untuk membuat Ciara kembali membuka hatinya.
Sebenarnya acara perjamuan makan malam bisnis itu dari hari kemarin, tapi diundur karena suatu hal. Dan pada akhirnya hari ini.
Hal serupa juga diminta oleh Rama dan Sita kepada Abra. Satu-satunya putra yang bisa diajak untuk acara seperti ini adalah Abra. Semua anaknya sudah berkeluarga, hanya Abra yang masih diajak kemana-mana oleh kedua orang tua itu.
" Mom, ogah ah. Males, pasti banyak banget orang di sana. dan banyak wanita-wanita yang berkeliaran," keluh Abra.
" Kamu nanti gandengan sama mommy aja kalau gitu, kayak bocah 5 tahun tuh, gandeng mak nya kemana-mana,"cibir Rama.
Wajah Abra seketika berubah masam, ia kesal sekali kepada kedua orang tuanya itu. Senang sekali meledek dirinya.
" Oke, deal. Aku bakal gandeng Mommy."
Mulut Rama menganga, ia hanya bercanda dan Abra benar-benar serius akan hal itu. Jika itu terjadi Rama sendiri yang akan kesusahan nantinya.
"Serah kamu lah Ra," ucap Rama pasrah.
Sita hanya terkekeh geli melihat tingkah pria berbeda generasi itu. Tapi peristiwa itu merupakan hiburan Sita yang memang mulai merasa sepi sekarang. Bayangan keramaian anak-anaknya semakin menghilang dan hanya tersisa Abra saja.
" Apakah besok kalau Abra menikah dia juga akan keluar dari rumah ini," gumam Sita lirih yang ternyata di dengar oleh Rama.
" Sayang, anak-anak meninggalkan kita itu adalah kodrat dari Yang Maha Kuasa. Hanya pasangan yang akan menemani hingga akhir hayat," papar Rama, dia memeluk sang istri dengan erat.
" Jangan tinggalkan aku ya sayang, jika kamu pergi duluan, aku tidak tahu bagaimana harus menjalani hidup," imbuh Rama.
Air matannya tidak kuasa menetes. Sita lalu mengusap wajah Rama dengan lembut. Pria yang sudah hidup bersamanya selama 32 tahun itu merupakan bagian dari hidupnya. Jika Rama meninggalkannya lebih dulu, maka dia pun tidak tahu bagaimana untuk menjalani hidup.
" Aku pun sama mas, aku juga tidak bisa hidup tanpamu, tapi jika takdir sudah berkata maka sebagai manusia kita hanya bisa menerima. Semoga kita masih bisa sehat hingga cucu kita dewasa nanti, Aamiin." Doa Sita tulus dari hati. Ia masih berhadap bisa melihat cucu-cucu mereka besar, terlebih cucu dari Abra nanti yang masuk kategori bujang lapuk.
Pukul 19.10 menit, Abra sudah siap. Dia sedang menunggu ayah dan mommy nya di dalam mobil. PAdahal yang mengajak kedua orang tuanya, tapi malah dia sekarang yang menunggu.
" Bisakah cepat, kita akan terlambat nanti," gerutu Abra.
Sita dan Rama hanya terkekeh geli melihat wajah tampan sang putra. Hal seperti ini malah membuat Sita semakin inggin menggoda Abra.
" Uluh-uluh, anak mommy sayang, ngambek ya, maaf ya sayang," goda Sita.
" Au ah Mom."
Dengan wajah yang masih ditekuk, Abra melajukan mobilnya menuju Pandawa Resort and Hotel milik DCC. Tempat tersebut merupakan salah satu tempat favorit dan pilihan untuk melakukan acara apapun. Dari perjamuan bisnis,pernikahan, maupun anniversary apapun.
Sekitar satu jam mereka sampai di sana. Dan benar saja apa yang dibilang ABra, dia langsung menggandeng tangan Sita. Hal tersebut membuat Rama menepuk keningnya sendiri.
" Ini namanya senjata makan tuan, anak itu bener-bener dah. Udah setua itu tetap mengganggu ku," gumam Rama pelan. Tapi mau bagaimana lagi, dengan cara ini Abra mau ikut.
Sepanjang acara dan saling bertemu dengan kolega bisnis Abra terus menempel kepada Sita. Terlebih jika ada wanita yang mana anak para kolega, Sebisa mungkin Abra mengendalikan ke-mualannya setelah berjabat tangan.
" Tidak bias, ini tidak bisa diteruskan. Jika begini aku pasti akan segera muntah, perutku sudah bolak-balik nggak karuan ini," batin Abra.
Wajah Abra pucat pasi, dia melihat kanan dan kiri bersiap untuk berlari menuju ke toilet. Tapi suatu hal membuatnya mengunci pandangannya. Ia melihat seseorang yang ia kenal sedang berdiri dan berbincang dnegan akrab. Ada rasa tidak suka dalam diri Abra saat melihat keakraban tersebut.
Abra langsung melepaskan tangannya dari tangan Sita. rasa mualnya pun sudah hilang entah kemana. Dengan langkah besar Abra menghampiri Ciara, ya orang yang dia lihat itu adalah Ciara. Dan tanpa basa-basi Abra merengkuh pinggang Ciara.
" Sayang, mengapa kamu meninggalkanku hmmm? Aku baru saja bicara dengan rekan bisnis yang lain, kamu sudah ada di sini dengan pria lain."
Mata Ciara membulat sempurna saat mendengar Abra memanggilnya sayang, dan tangan Abra yang ada di pinggangnya itu sungguh memancarkan aura mendominasi serta posesif.
" Jangan panggil aku Pak Bos atau Om, panggil aku mas," bisik Abra tepat ditelinga Ciara membuat tubuh gadis itu merinding disko. Dia sama sekali tidak bisa mengelak. Ia tidak mungkin juga membuat Abra malu dengan berkelit.
" Maaf mas, tadi aku haus, he he he ya aku haus," ucap Ciara kaku.
Pria yang tadi mengobrol dengan Ciara pun mau tidak mua pergi. Rupanya dia salah mengira, gadis yang ia ajak bicara itu sudah punya pasangan.
" Apa an sih Pak seenaknya saja memanggil saya sayang. Saya bukan sayangnya Anda, dan ini apa tangannya. Lepas!" geram Ciara. Wajah Ciara bersemu merah, antara malu dan marah.
" Tck, aku hanya sedang menyelamatkanmu dari pria hidung belang. Kau tau itu, pria-pria yang hadir di perjamuan itu rata-rata buaya," ujar Abra.
" Termasuk Anda," sahut Ciara cepat.
Rupanya pemandangan itu dilihat oleh beberapa orang. Jika satu pasangan terlihat senyum-senyum, maka pasangan lain tidak. Mereka tentu bingung dan bertanya-tanya. Siapa kiranya yang tengah berbicara dengan sang putri? Mengapa keduanya sangat begitu akrab?
TBC
Terima kasih utk karyanya Kak, sehat2 slalu 🙏🏼💐💪🏼