NovelToon NovelToon
Anin'S Recurring Dream

Anin'S Recurring Dream

Status: tamat
Genre:Matabatin / Hantu / Romansa / Mengubah Takdir / Penyeberangan Dunia Lain / Roh Supernatural / Horor / Tamat
Popularitas:21.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

"Jika kamu ingin melepas kutukan itu, maka menikahlah dengan laki-laki yang memiliki garis keturunan berdarah biru!"

Anindya Widura, gadis yatim-piatu berusia 27 tahun, hidup bersama neneknya di sebuah desa di pinggiran Kota Jakarta. Sejak berusia 7 tahun, ia hampir setiap malam mengalami mimpi buruk dengan setting yang sama.

Dalam mimpinya, Anin selalu bertemu dengan makhluk aneh yang muncul di luar jendela kamarnya pada waktu menjelang maghrib. Makhluk itu memiliki tubuh yang besar dengan kulit yang hitam legam, serta mata yang merah tajam menatap Anin diiringi senyum menyeringai.

Awalnya Anin tidak begitu menghiraukannya, meski merasa jenuh dengan mimpi yang selalu itu-itu saja, namun Anin memilih untuk mengabaikan. Sampai suatu ketika mimpi aneh itu berdampak pada kehidupan nyatanya, barulah Anin meminta pertolongan pada seseorang yang mengerti akan hal-hal mistis. Konon katanya, Anin terkena kutukan dari kesalahn yang Kakek dari kakeknya lakukan di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 - Pasangan Mesum

"Ahh, akhirnyaaa," ucap keduanya merasa lega.

Anin dan Pak Panji masih belum menyadari bahwa mereka sudah ada yang mengintai di luar sana, Pak Panji sibuk membantu sang gadis merubah posisi yang tadinya telentang di bawah, laki-laki itu tak segan mengangkat tubuh Anin kemudian ia dudukkan di atas kursi mobil. Refleks Anin pun melingkarkan kedua tangannya ke leher Pak Panji agar tidak kembali jatuh.

"Kepalanya masih sakit, nggak?" tanya Pak Panji khawatir dengan tubuh masih mengungkung sang gadis.

"Masih, ini agak pening," sahut Anin. Belum sempat ia melepaskan kedua tangannya di leher si pria, teriakan dari arah luar sontak mengejutkan dirinya dan juga Pak Panji. Kepala dua insan yang sudah dianggap tersangka pelaku kemesuman itu pun langsung menoleh ke asal suara.

"Naahh, kalian tertangkap basah!" seru keempat pria sambil mengacungkan obor.

Anin dan Pak Panji saling tatap satu sama lain, belum memahami dengan situasi yang sebenarnya.

"Kita di mana ini, Pak? Mereka siapa?" Anin cemas sekaligus bingung, netranya menyapu sekeliling masih dengan keadaan gelap gulita, kecuali cahaya yang berasal dari obor milik keempat laki-laki yang sudah mengelilingi mobil seolah sudah tidak sabar menunggu mereka keluar.

"Saya juga belum tahu. Ayo kita keluar dulu!" Pak Panji pun akhirnya mengajak Anin untuk turun dari mobil meski sambil menahan rasa sakit di tubuh masing-masing. Melihat wajah sang gadis yang nampak panik, dengan sigap laki-laki itu pun menggenggam tangan Anin begitu lembut.

Tentu saja adegan tersebut menambah prasangka buruk keempat pemuda yang kini memasang wajah garang siap menggelandang kedua pelaku yang sudah berani berbuat mesum di tempat mereka menimba ilmu.

Dalam waktu singkat Anin dan Pak Panji pun digiring ke rumah Pak Kiai yang kebetulan masih ada dalam lingkup area pesantren, tepatnya di samping mesjid yang saat ini sudah dipenuhi oleh para jemaah yang baru selesai beribadah.

Kedatangan keempat kawan mereka menggiring sepasang manusia dengan wajah mencurigakan pun tentulah memancing rasa penasaran para santri yang lain, Anin dan Pak Panji seketika menjadi pusat perhatian semua orang.

"Aya naon ini teh, ada apa?"

"Sepertinya ada yang ketahuan berbuat mesum, ayo kita lihat!"

"Aduh, ini teh pagi-pagi udah pada heboh aja, ya!"

"Ayo, cepat kita susul mereka!"

Mereka semua akhirnya berbondong-bondong mengikuti iring-iringan keempat santri tadi.

"Assalamualaikum, Pak Kiai!" seru keempat pemuda. Anin dan Pak Panji diperintahkan menduduki sebuah kursi kayu di teras rumah Pak Kiai secara paksa.

"Waalaikumsalaam. Ya Allah, ini ada apa rame-rame begini?" Seorang wanita baya masih mengenakan mukena keluar dari dalam rumah dengan langkah tergesa.

Anin dan Pak Panji masih diam lantaran belum tahu harus berbuat apa dalam sutuasi seperti ini. Kedua tangan mereka masih saling menggenggam tanpa keduanya sadari.

"Ini, Ummi. Si Teteh sama si Aa ini teh kepergok pacaran di dalam mobil, udah gitu mobilnya goyang-goyang, diparkirin di belakang pondok pula. Kalau bukan pada berbuat mesum lalu apalagi?" Agus sang leader misi penggerebekan menengok ketiga temannya secara bergantian, "iya kan, Mir, Pan, Za?" katanya meminta dukungan.

"Iya, Ummi. Betul itu," timpal ketiga santri memperkuat tuduhan.

Sepasang manusia yang sejak tadi diam menyimak pun sontak saja membulatkan kedua mata masing-masing, sekarang mereka baru menyadari bahwa kesalahpahaman ini dipicu oleh mereka sendiri. Belum surut rasa terkejut Anin dan Pak Panji, wanita baya yang dipanggil Ummi itu pun berucap sesuatu yang sangat mengejutkan.

"Astaghfirullahaladziim, kalau benar mereka melakukannya berarti harus segera dinikahkan."

keempat santri dan yang lainnya mengangguk setuju.

"Betul itu, Ummi. langsung dinikahkan saja!" seru para santri menyetujui.

"Sudah, sudah. Kita tunggu Pak Kiai saja dulu, kita juga belum mengetahui mereka berdua ini siapa dan datang dari mana," kata Ummi berusaha meredakan keadaan yang semakin memanas.

Sementara Anin dan Pak Panji hanya saling pandang mendengar keputusan mendadak tersebut. Kesadaran mereka saja bahkan rasanya belum sepenuhnya pulih, dengan kebeeradaan mereka yang tiba-tiba ada di tempat ini pun cukup membuat Anin dan Pak Panji dilanda shock berat.

"Maaf, semuanya, ini semua salah paham!" Akhirnya Anin lebih dulu berbicara, ia kesal dengan situasi ini apalagi atasannya terus saja diam tidak mengatakan apa-apa.

"Ah, iya. Mbak ini benar, kalian hanya salah paham!" Pak Panji menambahkan.

"Sudah diam, Kang. Akang udah jelas-jelas ketangkap basah, maka harus bertanggung jawab!" ujar salah satu santri.

Mata Anin memicing dengan kepala tertunduk agak miring ke arah Pak Panji, mulutnya komat-kamit dengan begitu gemasnya.

"Jelasin yang bener, doong!" ucap Anin tanpa suara. Pak Panji memalingkan wajah, pura-pura tidak melihat dengan senyum kecil di sudut bibirnya. Entah apa yang lelaki tampan itu pikirkan.

Saat semua orang terus larut dalam tuduhan dan kesalahpahaman, seorang Bapak-Bapak bertubuh tegap mengenakan pakaian rapi juga sorban di bahunya datang dari arah belakang para santri kemudian membelah kerumunan.

"Assalamualaikum, Pak Kiai!" semua santri serempak mengucap salam.

"Waalaikumsalaam," jawabnya dengan tenang sambil berjalan ke atas teras menghampiri dua orang manusia yang sedang dihakimi di depan rumahnya.

Agus, sang pemimpin penggerebekan pun kembali menjelaskan secara rinci pada sang kiai. Setelah dirasa cukup, Pak Kiai pun hanya manggut-manggut pertanda mengerti.

"Sudah, kalian semua bubar dulu. Yang belum melaksanakan shalat subuh silakan segera ke mesjid, menilai keburukan orang lain itu memang perihal yang sangat mudah manusia lakukan, padahal dia sendiri tak luput dari segala dosa. Maka sebaiknya masalah ini kita selesai dengan cara baik-baik. Biar nanti saya yang mengatasinya," tutur Pak Kyai yang langsung disetujui oleh semua santri tanpa ada satu pun bantahan.

Semua orang membubarkan diri, tinggalah Anin dan Pak Panji yang masih duduk di kursi kayu masing-masing. Sementara Pak Kiai dan Ummi masih beridiri di hadapan mereka, juga satu orang perempuan berpakaian tertutup kisaran usia 25 tahunan berdiri tak jauh dari dalam pintu rumah yang terbuka lebar. Ia menyaksikan kejadian tadi sedari awal dengan hati yang berdebar.

Anin dan Pak Panji akhirnya dipersilakan masuk ke dalam rumah Pak Kiai, dan Ummi yang tadi menyambut Anin Pak Panji pertama kali masuk lebih dalam dan tak lama kembali membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman, mereka disuguhi air minum hangat serta cemilan ringan sebelum akhirnya Pak Kiai lanjut berbicara.

"Sudah, sekarang kalian tenangkan diri dulu," kata Pak Kiai memulai pembicaraan sambil tersenyum hangat.

"Sebelumnya mohon maaf, Pak Kiai, kami sudah membuat gaduh pagi-pagi begini. Perkenalkan nama saya Panji dan ini Anin, rekan kerja saya," ujar Pak Panji memperkenalkan diri dengan hati yang diliputi perasaan tidak enak.

Pak Kiai mengangguk ringan sama sekali tak menunjukkan ekspresi yang berlebihan, terkesan sangat tenang dan mengerti dengan situasi yang sebenarnya tadi.

"Kalian harus banyak-banyak bersyukur pada Allah, perbaiki ibadah kalian dan memohon ampun pada-Nya!" Wajah Pak Kiai mulai serius setelah mengatakan hal itu.

"Iya, Pak Kiai. Tapi sungguh, kami berdua tidak melakukan sesuatu yang mereka tuduhkan tadi, itu semua hanya salah paham." Kini Anin yang angkat bicara, ia merasa bahwa Pak Kiai juga memiliki prasangka yang sama seperti para santri tadi terhadap dirinya dan Pak Panji.

"Tenang, Mbak. Saya sama sekali tidak berpikir ke arah sana, tapi kalau dilihat dari tangan kalian yang terus saling menggenggam seperti ini, siapa pun pasti akan mengira kalau kalian benar melakukan hal yang tidak-tidak." Pak Kiai semakin tersenyum melihat kedua orang di hadapannya refleks melepaskan tautan tangan masing-masing dengan pipi yang bersemu merah serta salah tingkah.

"Maaf, kami tidak sengaja," kata Pak Panji tersenyum kikuk.

"Dunia yang telah kalian singgahi bukanlah tempat yang seharusnya kalian datangi, sebenarnya apa yang terjadi sampai kalian bisa terjebak di sana?"

Pertanyaan yang terlontar tiba-tiba dari sang Kiai tentu membuat Anin dan Pak Panji terkejut, namun dilihat dari aura yag dimilikinya, keduanya paham bahwa orang yang kini duduk di hadapan mereka bukanlah orang sembarangan.

Baru saja Anin hendak berbicara, namun Pak Kiai sudah lebih dulu kembali bersuara meminta mereka agar melaksanakan shalat terlebih dahulu sebab waktu subuh sudah hampir habis. Beliau pun berseru pada seseorang agar membawakan pakaian ganti untuk Pak Panji dan mukena untuk Anin.

"Neng, sini bantu Mbak Anin tunjukin ruangan untuk beribadah!" seru Pak Kiai.

Seorang perempuan muda yang Anin kira adalah putri dari Pak Kiai pun datang menghampirinya, wajahnya terlihat sangat cantik meski berjalan sedikit merunduk.

Saat si perempuan sudah sampai di dekat Anin, Pak Panji tiba-tiba bersuara. Meski pelan, namun Anin masih tetap bisa mendengarnya, termasuk putri dari Pak Kiai yang seketika menoleh.

"Meidina?" ucap Pak Panji.

1
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ KANG SALMAN
kalo laki laki turun timun bahaya
Denis blora
kok udah tamat sih Thor😱
aku pasti kangen dengan pak Panji😁
semangat Thor biarpun pembacanya baru dikit ,,💪💪♥️
〈⎳🥑⃟HIATUS
Aku sweetdrop
〈⎳🥑⃟HIATUS
Apa-apaan nih?
Ela Jutek
lah kok udah end
Ela Jutek
wah kagak bener nie ortu Mela
〈⎳🥑⃟HIATUS
Nggak ditumbalkan, kan si Mela sama ortunya?
〈⎳🥑⃟HIATUS
Ortunya kenapa deh, Kok aneh banget?

Kudu dikulik, nih?
〈⎳🥑⃟HIATUS
Pak, bisa nggak, nggak usah bikin diabetes melitus gitu?
Ela Jutek
mencurigakan banget ya orang tua Mela, apa yg di ucapin nenek Anin dulu benar ya
Denis blora
cepet nikahin Anin aja pak Panji,,biar
oleng tuh mahkluk gaib💪💪♥️
AnnaYoung: Huum, meresahkan. 🤧
total 1 replies
〈⎳🥑⃟HIATUS
hal-hal klenik semacam yang dilakukan oleh warga itu terkadang meresahkan, padahal ini zaman maju bukan lagi zaman batu, tapi masih aja ada yang percaya hal seperti itu.
〈⎳🥑⃟HIATUS: mungkin tapi rasanya kaya kadang tidak masuk di akal
total 2 replies
Ela Jutek
untung ketemu kamu Mel, bikin kuatir aja
Ela Jutek: kasian dong si mela
total 2 replies
Tegang, ketawa, tegang, ketawa. Begitulah. 😌 Mangats, akuw!
ᏦᎯᎿᏃᎬ
kasian bang iki, bikin merinding tuh yang nyiksanya...
Denis blora
lanjuuuut Thor 💪♥️
aku kangen sama pak panji,setelah melamar kok malah GK pernah muncul
AnnaYoung: Begitulah laki-laki. Kalau sudah mendapatkan yang dituju, langsung ngilang. 🤭
total 1 replies
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ KANG SALMAN
astaghfirullahal'adziim...
keliru baca aku...
tak kiro kampret..
rupane karpet.
🤦‍♂🤦‍♂🤦‍♂
AnnaYoung: 😏😏😏😏😏😏😏
total 3 replies
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ KANG SALMAN
aamiin
Sribundanya Gifran
lanjut lagi thor💪💪💪💪💪
AnnaYoung: siap, Kak. sudah up 😊🙏
total 1 replies
Denis blora
lanjuuut Thor cemunguuut💪💪♥️
AnnaYoung: done, Kak. 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!