Giselle mengira menikah dengan Gibran adalah pilihan terbaik dalam hidupnya. Sosok pria yang mau menerima kekurangannya dan melengkapinya. Akan tetapi, semua angan dan impian Giselle berubah menjadi pahit, ketika dia tinggal satu atap dengan mertuanya.
"Jadi wanita bisanya cuma bekerja, gak tahu dapur, gak tahu kerjaan rumah tangga. Sudah begitu, kamu menikah lama dan tidak memiliki anak. Jangan-jangan kamu mandul, Sell?"
Perkataan pedas, tudingan miring, ditambah dengan ketidakberdayaan Gibran kian menambah runyam suasana. Dapatkah Giselle bertahan dengan konflik batin yang dia alami setiap harinya? Akankah pondok mertua yang tak indah ini perlahan-lahan menjadi rumah yang bisa menerimanya dan memanusiakannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Ada Rasa Aman
Sore harinya, ketika Gibran pulang ke rumah, belum melepas tas ransel di punggungnya. Rupanya sudah ada ibunya yang menunggu di ruang tamu. Begitu Gibran datang langsung mengadukan semuanya kepada Gibran bagaimana kelakukan Giselle tadi pagi.
"Gibran, sekarang Ibu ingin bertanya kepada kamu. Sebenarnya, Giselle mandul kan?"
Jujur, Gibran begitu capek. Baru selesai bekerja, dan belum istirahat, baru memasuki rumah sudah dicerca dengan berbagai pertanyaan oleh Ibunya sendiri. Memang biasanya, orang awam berpendapat sukar hamil itu akan disangka mandul. Padahal, Giselle tidak mandu, melainkan terkena PCOS.
"Tidak Bu ... Giselle tidak mandul kok. Dia terkena PCOS, Bu. Sekarang, setelah Giselle lebih kurus, kami akan kembali ke Dokter. Semoga kali ini sudah ada kabar baik," balas Gibran.
Dulu memang advice dari Dokter Nuri meminta Giselle untuk mengurangi berat badannya terlebih dahulu. Itu juga supaya indung telur milik Giselle tidak berisikan lemak, dan lebih mudah untuk dibuahi. Sehingga, sekarang dengan berat badan Giselle yang sudah berkurang banyak, Gibran berniat untuk mengajak Giselle ke Dokter lagi dan memeriksakan kondisinya. Siapa tahu, sekarang kondisinya sudah lebih baik.
"Kalau mandul ya akui saja mandul. Tidak ada PCOS," bentak Bu Rosa sekarang.
"Bu, Gibran baru pulang dari kantor loh. Belum beristirahat. Jadi, jangan mengajak Gibran bertengkar, Bu," ucap Gibran sekarang.
Bukan berniat tidak sopan, tapi memang dia lelah baru saja datang dari kantor. Tidak disambut dengan baik, tapi sudah dicerca dengan serangkaian pertanyaan. Semua orang yang seharian bekerja, untuk pasti akan capek.
"Siapa tahu, Giselle diet karena memiliki pria idaman lain. Alasan aja, diet untuk punya anak. Lagipula, Giselle kan dari keluarga kaya raya, apa tidak bisa program bayi tabung. Mereka dari keluarga yang sama sekali tidak kekurangan uang," balas Bu Rosa.
Ya, Bu Rosa menilai bahwa keluarga Giselle begitu kaya. Jika hanya memberikan sedikit untuk program bayi tabung tidak menjadi masalah. Toh, kekayaan keluarga Wardhana juga tidak akan habis tiga turunan. Kalau bukan untuk anaknya, untuk siapa lagi.
"Giselle tidak meminta, Bu. Itu adalah harta Mama dan Papanya," balas Gibran.
"Harta orang tua juga milik anak. Mana ada dihitung beda-beda seperti itu. Alasan saja, yang pasti istrimu itu mandul atau tidak mau memiliki anak," balas Bu Rosa dengan pedas.
Di saat bersamaan, Giselle bisa mendengar perdebatan antara Bu Rosa dengan Gibran. Wanita itu hanya berdiri di balik pintu sebelum masuk ke dalam rumah. Air mata Giselle berlinangan. Harus berapa lama, Giselle bisa sabar dengan suasana rumah yang seperti ini. Pun, dengan Gibran yang seolah tidak bisa membelanya.
Giselle yang sudah berada di depan rumah, akhirnya memilih untuk pergi. Daripada ketika dia berada di rumah dan masih mendengarkan semua ocehan ibu mertuanya.
Rupanya, Gibran mendengar suara mobil yang baru saja keluar dari halaman rumah. Gibran pun akhirnya memilih menaruh ranselnya di rumah, dan dia pergi menyusul Giselle.
"Bran, mau kemana?" Suara teriakan Bu Rosa kepada putranya, tapi Gibran memilih untuk pergi dan menyusul Giselle sekarang. Yang ada di dalam pikiran Gibran, tidak biasanya istrinya pergi seperti ini. Sudah pasti Giselle mendengarkan semua ucapan Ibunya.
Rupanya, mobil Giselle berhenti di sebuah taman kota yang tidak jauh dari rumah Gibran. Tidak turun dari mobil, karena memang Giselle masih menangis. Sehingga, Gibran kali ini yang berinisiatif untuk mendatangi mobil Giselle. Pria itu mengetuk kaca mobil Giselle, mengetahui bahwa yang datang adalah Gibran, Giselle pun membukakan pintu mobilnya, mempersilakan Gibran untuk masuk ke dalam.
"Sayang," sapa Gibran begitu sudah masuk ke dalam.
"Untuk apa menyusulku, Mas?" tanya Giselle kemudian.
"Kamu mendengarkan semua ucapan Ibu, yah?" tanya Gibran sekarang.
"Iya, aku mendengarnya. Mas Gibran juga mau menuduhku sebagai wanita mandul juga?" tanyanya.
Dengan cepat Gibran pun menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak pernah menyebutmu sebagai wanita mandul," balas Gibran.
Air mata Giselle sudah mengalir dengan begitu derasnya. Kesal dengan ucapan dan tudingan miring dari ibu mertuanya. Namun, di satu sisi juga suaminya tidak bisa memberikan perlindungan, rasa aman, dan juga kehidupan rumah tangga yang harmonis. Jika, mau menakar semua, yang banyak Giselle alami justru penderitaan dan air mata.
"Aku ingin rasa aman, aku ingin kehidupan rumah tangga yang harmonis, Mas. Jika terus seperti ini, usaha mendapatkan anak pun rasanya sukar. Aku tidak sehat secara emosi," balas Giselle.
Mungkin fisiknya sehat. Akan tetapi, secara mental Giselle sama sekali tidak sehat. Yang ada setiap hari dirinya begitu tertekan dengan keadaan di dalam rumah. Ingin mendapatkan perlindungan, tapi seolah tak ada tempat untuknya berlindung.
"Maafkan aku, Sayang," ucap Gibran.
"Apa tidak bisa sesekali Mas Gibran membelaku?"
Pertanyaan yang sukar untuk Gibran. Namun, di sisi lain Gibran tidak bisa membela Giselle. Tidak bisa memberi pembelaan dan perlindungan ketika ibunya terus-menerus menyudutkan Giselle.
"Kamu juga kan kalau berani kepada orang tua itu berdosa?" Gibran justru balik bertanya kepada Giselle, dan menegaskan bahwa berani kepada ibu, orang tua itu berdosa.
"Aku tidak menyuruhmu melawan ibumu, Mas. Namun, setidaknya pikirkan aku yang adalah ibumu," balas Giselle.
"Kenapa, Yang ... kenapa kamu terus mendesakku untuk memilih di antara kamu dan Ibu? Aku tidak bisa memilih salah satunya. Kalian berdua sangat berharga untukku," balas Gibran.
Giselle tidak meminta Gibran untuk melawan Ibunya. Yang Giselle mau, Gibran mau membelanya. Menjelaskan kondisinya sekarang ini. Toh, ketika istri dipinang suaminya, suaminya adalah rumahnya. Jika, seperti ini yang ada rumah tangga harmonis itu pernah terwujud.
sedih kalo berada di posisi Gisel semuanya serba salah