Bertahun- tahun Arini berusaha menjadi istri yang baik buat Ilham. Dan menantu yang penurut untuk Bu Lastri.
Atas permintaan Ilham. Arini terpaksa melepas posisinya yang cukup bagus di sebuah perusahaan swasta. alasanya Ilham ingin Arini menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.
Namun seiring waktu, karier Ilham yang terus melejit membuat perubahan sikap mertuanya. Arini masih bernafas lega, karna Ilham selalu membelanya.
Puncaknya ketika sebuah rahasia terungkap. Ilham telah mengkhianatinya. Dia berselingkuh dengan Anita, sahabatnya sendiri. Alasannya sepele, yaitu Arini yang tak kunjung hamil. Berbagai konflik mulai terjadi.
Ilham yang berbakti menjadi buta hatinya. Ia selalu menuruti apapun yang di katakan ibunya.
Di tengah keterpurukannya, Denis datang sebagai penyelamat.
Akankah Arini memperjuangkan Ilham? ataukah memilih Denis menjadi partner hidupnya?
Kita ikuti kisah selengkapnya yuuk!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Tanpa di sengaja, Ilham juga sedang berada di klinik yang sama. Semula dia sedang mengantar Aditia dan istrinya yang sedang hamil muda dan tiba-tiba pingsan.
Namun karna Sinta terus muntah dan mengeluh pusing, Aditia minta tolong pada Ilham untuk menebus obatnya. sedangkan mereka menunggu di mobil.
Tanpa sengaja pula ia berpapasan dengan Arini yang baru keluar dari ruangan Dokter.
"Rin, kau disini?" tanyanya heran.
Arini juga tak kalah kaget.
Ia melirik benda yang ada di tangan Ilham.
"Ini... obat buat istrinya Adit, aku dan Adit mengantarnya berobat karna terus muntah-muntah dari tadi pagi." jelas Ilham saat melihat tatapan curiga dari Arini.
"Oowh.. " hanya itu yang terucap dari Arini.
Cepat-cepat dia berlalu dari hadapan Ilham.
Arini takut suaminya itu akan mencecarnya dengan pertanyaan. Arini belum siap menyampaikan kabar kehamilannya.
Ilham bengong sendiri menyaksikan tingkah Arini.
Sejurus kemudian dia mengejar istrinya.
"Rin, tunggu! pulang bersama kami saja!" suaranya setengah berteriak.
Namun Arini keburu masuk ke dalam taksi kosong yang sedang mangkal.
"Aku harus cepat menghindar dari mas Ilham." gumam Arini.
Sesampai di rumah, Arini langsung mengurung diri di kamarnya.
"Maafkan ibu nak...! kau terpaksa harus mendapati kemelut di antara ayah ibumu."
Arini mengusap perutnya yang masih rata.
"Rin, buka pintu!"
Suara Ilham menggedor pintu kamarnya.
"Ada apa sih gedor-gedor pintu?"
Kepala Arini menyembul dari balik pintu.
"Aku ingin tau, kau sakit apa?"
"Hanya pusing biasa..!" ucap Arini acuh.
"Tidak mungkin cuma pusing saja!"
"Terus buat apa bertanya kalau memang tidak akan percaya.!" ujar Arini lagi.
"Banyak hal yang kamu sembunyikan, Rin!" ucap Ilham curiga.
"Sebelum menuduh orang lain, tanya dulu pada dirimu sendiri Mas!" jawab Arini santai.
Ilham berlalu dengan wajah kesal.
"Ham, ibu sudah bicara dengan orang tua Ayu, tinggal kamu yang harus mendekati Ayu!"
Ilham terlihat salah tingkah, karna ada Arini.
"Kenapa tidak tanya mas Ilham saja Bu gadis mana yang sekiranya dia mau!"
Celetuk Arini. wajahnya terlihat datar.
Ilham menengadah menatapnya.
"Tidak usah ikut campur. ibu sudah memberinya kepercayaan dulu waktu memilihmu, akhirnya apa? ibu ingin Ilham mendapatkan pendamping yang subur, yang bisa memberinya banyak keturunan!" sindir Bu Lastri ketus.
"Sudahlah Bu, jangan itu saja di ulang -ulang." ucap Ilham tak suka.
Arini tersenyum hampa.
"Banyak keturunan? mudahan istrinya kelak akan banyak keturunan seperti tikus." Arini menyumpah dalam hati.
Entah kenapa dia tidak bisa mengeluarkan air mata lagi, kala mendengar ejekan atau sindiran mertuanya. Rencana pernikahan Ilham juga tidak lagi terlalu mempengaruhinya. mungkin air matanya sudah mengering.
Ilham dan Ayu pun di jadwalkan bertemu oleh Bu Lastri.
Ilham merasa gelisah.
Apalagi mengingat reaksi Anita saat mengetahui semuanya.
"Tidak mungkin Mas, lalu apa artinya hubungan kita selama ini? pokoknya aku tidak terima. kau selalu menolak kalau aku minta kau nikahi, tapi sekarang malah mau menikah dengan orang lain?"
Ilham masih terdiam
"Kalau kau tidak tegas mengambil keputusan, aku akan bongkar semuanya pada Arini!" ancam Anita
"Jangan Nit! aku mohon, aku akan cari jalan untuk menggagalkan rencana ibu"
Anita tidak percaya pada Ilham untuk menggagalkan rencana ibunya.
"Aku harus bergerak sendiri!" ucapnya berang.
Anita mulai mencari nomor kontak Ayu.
Setelah itu, dia sengaja mengundang Ayu ke suatu tempat. Ayu merasa penasaran karna Anita bilang ada sesuatu yang penting, yang menyangkut calon suaminya.
Ia pun datang ke tempat di mana Anita sudah menunggunya.
Setelah berbasa-basi seperlunya, Anita langsung pada tujuannya.
"Kau mau menikah dengan Ilham yang sudah punya istri dan kekasih? menjadi yang ketiga itu sangat berat Yu, jangankan yang ketiga, aku yang ke dua saja sering sakit hati di buatnya. apalagi yang ketiga? belum lagi ibunya Ilham, galaknya minta ampun!" Anita mulai mencuci otak Ayu.
"Tapi yang ku dengar dari ibuku, istrinya sendiri yang minta dia menikah lagi."
"Itu kata ibumu, tentu saja dia bilang begitu, entah apa yang di janjikan oleh calon mertuamu pada ibumu." Anita sengaja terlihat berpikir.
"Iih.. amit-amit deh, aku tidak Sudi menikah dengan pria seperti itu.!" ujar Ayu bergidik.
"Karna itu, tolak perjodohan itu! aku saja sebenarnya menyesal banget. tapi mau gimana lagi, aku terlanjur berhubungan terlalu jauh dengannya, hingga aku pun hamil." ucap Anita keceplosan.
"Kau hamil?" ulang Ayu prihatin
Anita tergagap saat menyadari kecerobohannya.
Ia mengangguk menatap Ayu.
"Setelah aku hamil, dia tidak mau bertanggung jawab,!" timpal Anita lagi.
Ayu terlihat bingung. apa yang di katakan ibunya dengan cerita Anita sangat bertolak belakang.
"Aku sih cuma nyaranin, kalau mau terusin juga tidak apa-apa. asal kau tau juga, Ilham itu cuma badannya saja yang kekar. kalau di ranjang dia gemulai.. keok duluan!"
cerita Anita membuat Ayu merinding.
Tanpa permisi dia meninggalkan Anita yang cekikikan sendiri.
***
"Rin, kau masak yang enak hari ini! Ayu dan orang tuanya mau datang.
kalau kau tidak sanggup melihat acaranya, kau boleh masuk kamar menghindarinya. tapi setelah masakannya rampung ya!"
ucap Bu Lastri tanpa perasaan.
Arini tersenyum getir.
Ia di suruh memasak untuk calon istri suaminya, setelah itu, ia pun di suruh ngumpet?
Sungguh mertua yang tidak punya hati.
Tapi Arini masih menghormati karna Bu Lastri adalah orang tua.
Arini menelan semua kepahitannya sendiri.
Tak ada tempat baginya untuk berbagi.
Arini bertahan di rumah itu hanya karna belum mendapat pekerjaan.
Bila ia menutut cerai sekarang, dengan apa dia akan menghidupi calon anaknya kelak?
Setelah menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Ia bersiap pergi.
Hari itu ia ingin bertemu seseorang.
"Mau kemana?" tanya Bu Lastri sinis.
Mau keluar Bu, masakan sudah siap sesuai pesanan ibu. jadi, aku boleh keluar dong!" jawab Arini sekenanya.
"Hmm ya, ya.. keluarlah! lagian kau tidak akan sanggup melihat apa yang terjadi nantinya."
ucap Bu Lastri mengibaskan tanganya.
Arini melangkah keluar. Di depan pintu dia berpapasan dengan suaminya.
"Mau kemana? rapi banget?" suara Ilham penuh selidik.
"Mau ketemu seseorang!" jawab Arini cuek.
"Siapa Rin?"
"Tidak perlu kau tau, urus saja pertemuan mu dengan calon istrimu!"
jawab Arini ketus.
Ilham mendengus kesal.
Ia masuk meletakkan tas kerjanya, lalu bergegas keluar lagi hendak menyusul Arini.
"Heh mau kemana? sebentar lagi Ayu dan ibunya datang!" teriak Bu Lastri.
"Sebentar saja Bu!"
Belum sempat ibunya berkata lagi, Ilham sudah menghilang dari pandangannya.
"Mau ketemu siapa sih Arini, tumben berdandan rapi sekali" hatinya tambah curiga. kenapa ia merasa tidak rela kalau Arini berdandan untuk orang lain.