sindy Aulia perempuan tangguh dengan segala hinn dari kakak ipar & mertuanya, kata kata pedas yang di ucapkan mertua dan kakak iparnya menjadi cambuk untuknya bisa menjadi sukses, menjadi seorang penulis novel di aplikasi berbayar. yuk ikuti kisahnya baca selengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siti jubaedah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
makanan yang di jarah mertua
Mereka bertiga makan dengan diam bahkan bu Sela, menambah dua kali tak lupa juga setelah makan Bu Sela. membungkus capcay dan ayam goreng yang tersisa 3 potong lagi. Dan mengambil sayur mentah di kulkas.
Untungnya sekarang Sindy lebih cerdas, dia sengaja menyetok sayur tidak banyak dan sudah memotong sayur sayur itu dan di masukannya kedalam wadah kedap udara, jadi sayur dan lauk tidak mudah layu, dan berbau. Adam yang mengetahui tingkah laku ibunya hanya bisa menggeleng kecil dan mengelus dada,
Sindy yang melihat suaminya menggeleng kecil gegas tersenyum kepada suaminya, menandakan bawah dia tidak keberatan dengan semua yang dilakukan oleh mertuanya, bagaimanapun juga itu adalah ibu dari suaminya.
Selesai mengambil semuanya dan membungkusnya ke dalam plastic. Setelah semua yang dibutuhkan bu Sela siap di dalam plastic, bu sela gegas berbicara maksud dan kedatanganya sepagi ini, agar tidak mengganggu jam kerja anak bungsu kesayangan, sedangkan Sindy sibuk berkutat di dapur membereskan semuanya dan juga mencuci piring.
Setelah selesai makan bu Sela dan Adam menuju ruang keluarga terlebih dahulu
“Adam, kedatangan ibu ke sini, ibu ingin menanyakan uang jatah bulanan ibu” ucap bu sela dengan lembut,
Ya begitulah bu sela selalu berkata lemah lembut jika ada maunya saja, menyebalkan bukan.
“baiklah ibu, kebetulan ibu datang lebih awal dari biasanya dan juga aku belum mampir ke ATM untuk mengambil uang jadi uangnya aku transfer saja ya,” ucap Adam dengan santai
“iya boleh, kamu jangan lupa ya. Lebihi buat ongkos ibu pergi ke toko emas langganan ibu” ucap bu sela dengan semangat 45
bagaimana tidak semangat pasalnya dia sudah barzanj dengan salah satu teman sosialitanya, kalau hari ini akan membeli beberapa perhiasan terbaru.
“aku sudah transfer dan juga melebihkan untuk ibu” ucap Adam
Ting
Tanda ada sebuah notifikasi dari hp milik bu Sela, gegas dengan semangat 45 ibu membuka hp miliknya, hp boba keluaran terbaru yang di belikan oleh Anggi.
“wah.. kamu dapat bonus banyak ya
melebihkan uang buat ibu, banyak sekali ini bisa untuk membeli 2 buah cincin terbaru” ucap bu Sela dengan bahagia.
“hehe iya bu rezeki buat ibu” balas Adam
“yaudah kalau begitu sekarang ibu, pulang dahulu dan akan pergi ke toko emas”ucap bu Sela dengan bahagia.
Setelah kepergian bu Sela, Sindy menghampiri suaminya.
“emas bonus kamu sudah, di berikan kepada ibu kan?” Tanya Sindy
“sudah dek, makasih ya kamu udah ngertiin aku, dan udah sabar menghadapi ibu” balas Adam
“tak apa emas ibumu, juga ibuku” balas Sindy
Di tempat lain.
“bu, dari mana pagi pagi udah ke luar ?” Tanya bu Mala tetangga tiga rumah dari rumah Bu Sela dengan senyum mengejek
“oh ini bu, abis ambil sayuran tadi subuh Sindy telepon saya mengabari jika dia masak banyak dan saya tidak perlu masak” jawab bu Sela dengan bangga
Baru kali ini, ibu mertua Sindy, menyanjungnya di depan tetangga, mungkin jika bukan bu mala yang menyapa tak mungkin bu sela akan berkata seperti itu.
“oh, ya saya pikir ibu habis menjarah rumah anak dan memantu ibu”balas bu mala dengan nada mengejek
“sial, rupanya bu Mala ini tahu kelakuanku pasti dia tahu dari tetangga di rumah Sindy” batin bu Sela
“tidak bu, pagi ini Sindy sendiri yang menghubungi saya di suruh mengambil lauk beserta sayur,” balas bu Sela
“oh ya,, kalau begitu saya pergi dahulu ya bu, mau berbelanja sayur” balas bu Mala
“hmm iya” balas bu Sela seraya menghembuskan napas kasar.
“akhirnya mis kepo pergi juga” pikir bu Sela
Tak lama bu sela sampai di rumahnya, gegas beliau menyiapkan semua makanan yang sudah di ambil dari rumah Sindy. Menyiapkan sarapan untuk Anggi.
Gegas bu Sela, memanggil Anggi, untuk sarapan pagi karena sebentar lagi mereka akan pergi shoping.
“Anggi, sarapan dahulu” panggil bu Sela dari arah dapur
“iya bu balas Anggi,” gegas Anggi, menghampiri ibunya, namun saat tiba di depan meja makan dia merasa heran, karena
Sepagi ini ibunya sudah memasak lauk yang cukup banyak, ada ayam goreng, capcai sambal serta lalapan. Hal yang jarang bahkan hampir tak pernah dilakukan oleh ibunya adalah memasak, walau rasa masaknya selalu enak.
“kamu gak usah heran begitu Anggi, semua ini ibu dapat dari rumah Adam” ucap bu Sela yang ternyata mengetahui jika Anggi merasa heran dengan masakannya.
“hmm pantas saja aku ga denger ibu masak, tetapi sudah terhidang menu yang eak” ucap
Anggi seraya mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauknya.
Anggi, makan dengan diam sedangkan bu Sela sedang menyusun Wadah wadah yang berisikan sayur, tahu tempe dan ayam yang sudah di ungkep ke dalam kulkas. Anggi yang melihat itu hanya cuek saja.
“Anggi, selesai kamu makan kita berangkat ke mall ya?”Pinta bu Sela
“oke bu, memangnya ibu sudah mendapatkan uang dari Adam” Tanya Sindy
“oh iya ibu lupa bilang, Adam ngasih uang lebih buat ibu, lumayan uangnya bisa buat beli dua cincin model terbaru” ucap bu Sela dengan bahagia dan mata yang berbinar.
“wah alhamdulilah bu” ucap Anggi sekarang Anggi sudah mulai berubah, selalu bersyukur dengan apa pun nikmat yang dia dapatkan.
“hehe, iya Alhamdulilah, sekarang adikmu sudah bisa di bilang berkecukupan” ucap bu Sela
Selesai dengan obrolan mereka keduanya sibuk di kamar masing masing bersiap siap untuk pergi ke mall yang tak jauh dari tempat tinggalnya, bu Sela juga sudah memiliki janji dengan teman teman sosialitanya untuk bertemu di salah satu café yang berada di mall, sedangkan tugas Anggi, hanya menemani Ibunya.
Dua puluh menit kemudian Anggi telah siap dengan celana jeans panjang kaus polos warna putih dan cardigan panjang warna hitam, tak lupa rambutnya di kuncir kuda dan tas selempang serta flat shoes berwarna hitam. Bak anak remaja padahal Anggi seorang janda tanpa anak.
Sedangkan bu Sela, memakai baju gamis berwarna navy dan kerudung yang senada serta tas tangan yang mewah, serta hells dengan ketinggian 3 cm.
Setelah menunggu cukup lama di depan teras, tak lama taksi daring yang di pesan Anggi sampai di rumahnya.
Sebelum pergi Anggi tak lupa menitip kedai, kepada karyawan kepercayaan.
Kedai Anggi sudah dim lengkapi CCTV jadi Anggi bisa memantau nya dari jarak jauh.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang mereka berdua larut dengan obrolannya,
💞💞💞💞
Setelah kepergian mertuanya Sindy, memutuskan untuk tidak memasak karena semua bahan masaknya sudah berpindah rumah.
Adam, tak mempermasalahkannya, karena hari ini hari libur Adam bekerja, dan dia memiliki bonus yang cukup banyak adam berencana akan mengajak istrinya makan di luar.
“sayang ayo siap siap kita pergi ke café yang dekat dengan rumah mamah” ajak Adam
“café yang dekat dengan rumah mamah?” Tanya Sindy
“iya, kata teman teman emas tempatnya asyik” ucap Adam.
“Iya ayo emas aku siap siap dahulu" balas Sindy
gegas Sindy bergantian pakaian dan tak lama Sindy sudah siap dengan pakaian yang lebih rapi.
memakan waktu 35 menit menuju ke cafe yang di maksud Adam. Sebenarnya cafe itu adalah usaha keluarga Sindy, yang sengaja tidak di beritahu kepada Adam.
Tak lama mereka berdua Samapi di depan cafe, beruntungnya Sindy semua karyawannya cafe belum ada yang mengenalinya, jadi dia bisa leluasa makan di tempat itu tanpa takut, di ketahui oleh suaminya. Jika cafe ini juga salah satu usaha orang tuanya.
Flash back
Sebelum membangun cafe dan usaha lainya yang sekarang sudah ramai Sindy, dan orang tuanya dahulu hanya orang biasa.
Ayah Sindy berjualan besi tua, namun tak sesukses orang orang, Jualannya hanya cukup untuk sehari hari dan sekolah kedua anaknya, ibu Alma, hanya ibu rumah Tangga biasa.
Namun di saat usaha suaminya mengalami kegagalan.
berkat ketelitiannya membaca peluang usaha, Bu Alma nekad berjualan Nasi membuka rumah makan kecil kecilan.
berkat kegigihannya kehidupan keluarga Sindy bisa menjadi lebih baik, bisa mencukupi kebutuhan anak anaknya.
makin hari warung nasi makin ramai, Bu Alma juga wanita yang pandai bersyukur dan mengelola keuangannya. di saat Sindy mengatakan akan membuka usaha beliau dengan sigap memberi tempat dan modal bahan bangunan untuk membangun usahanya.
"Bu, aku ada uang yang cukup dari hasil menulis" ucap Sindy beberapa Bulan yang lalu.
"kita pergunakan uang itu dengan bijak, nak kamu belikan tanah saja di sebrang warung makan Tanah itu akan di jual, pak haji Muis sedang membutuhkan uang. untuk sekolah anaknya di luar negeri" balas Bu Alma
"iya mah, aku manut saja sama mamah, lagian uang ini jelas punyaku, tanpa menyatu dengan uang emas Adam" balas Sindy
"yaudah mamah mau lanjut masak dahulu" ucap Bu Alma.
Flash back OFF
Ruko yang berderet di sisi kanan rumah makan adalah miliknya, sedangkan ruko yang berderet di seberang jalan adalah milik Sindy, Sindy wanita cerdas seperti ibunya, semua uang yang dia hasilkan dari menulis dia belikan tanah, lalu membangun beberapa ruko untuk di kontrakkan. suaminya Adam tak mengetahui semua ini, bukan karena Sindy ingin membohongi suaminya sendiri, namun semua dia lakukan karena dia tahu ibu mertua pasti akan mengambil semuanya.
Sekarang Sindy, benar benar menikmati hasilnya setelah perjuangan menulis yang dia lalui.
"bagaimana dek, kamu suka gx sama tempatnya" ucap Adam ketika mereka masuk dan duduk di dalam cafe.
"suka emas, tempatnya, nyaman bgt dan bersih" balas Sindy
setelah kedua pasang suami istri duduk tak lama Seorang Waiters menghampiri mereka membawakan buku menu memberikan kepada Adam.
gegas Adam memilih makanan kesukaannya yaitu nasi goreng seafood, sedangkan Sindy memilih ayam Rica Rica dan mereka kompak memilih air mineral
Di tempat lain
Bu Sela, dengan bangganya memamerkan beberapa perhiasan yang baru saja di belinya. Sedangkan Anggi hanya diam duduk sesekali mengecek karyawannya di kedai, melalui handphone, Boba miliknya setelah di tinggalkan Devan, Kini Anggi hidup lebih berkecukupan.
Bu Sela dengan teman teman arisannya begitu antusias membahas soal perhiasan dan Berlian.
tak jarang Bu Sela, dapat tawaran dari Anggi, untuk membelinya.
Bersambung.....