Katarina Putri Sifana, perempuan berusia 22 tahun bekerja di kediaman keluarga Erlanga-salah satu keluarga kaya di kota Surabaya.
Sifana terpaksa menjadi pelakor hanya demi untuk bisa mendapatkan uang, Sifana menjebak Mas Sadam-majikannya agar bisa menjadi istri kedua lelaki kaya dan juga tampan itu.
Sifana melakukan rencananya tidak sendirian, tapi melibatkan kedua orangtua Sadam sendiri.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kedua orangtua Sadam malah mendukung Sifana dan mengabaikan Tasya anak menantunya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khairin Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Terpaksa Mengancamnya
Aku melihat Mbak Tasya hendak membuka mulutnya berbicara,
dengan kurang ajar dan tidak berpikir panjang aku langsung menyela
kata-katanya. “Mbak Tasya, jangan lakukan kekerasan di depan, Liora,” ucapku dengan manik mata masih tidak lepas melihat kearah gadis kecil yang kini mulai memucat wajahnya.
Mbak Tasya langsung mengalihkan pandangannya melihat Liora
yang kini melihatnya dengan tatapan yang tidak terbaca, satu detik kemudian Mbak Tasya langsung menatapku lagi dengan tajam dan juga membunuh tanpa bicara
wanita itu dengan kasar memasukkan sela-sela jarinya di rambut panjang ku lalu menariknya dengan kuat, aku meringis kesakitan saat merasakan kulit kepala ini hampir saja terkelupas bersama tarikan kuat tangan Mbak Tasya pada rambutku. Aku mulai menitihkan air mata lagi, rasa sakit ini langsung hilang saat aku melihat Liora juga ikut menangis dengan tubuh yang gemetar.
Ya, Tuhan kasihan sekali gadis kecil itu, dia masih sangat kecil tidak seharunya kepolosannya ternodai dengan sikap kasar yang telah
dilakukan oleh Mbak Tasya sekarang, Aku harus melawan Mbak Tasya karena hanya dengan begitu saja Mbak Tasya bisa menghentikan tindak kekerasan ini.
“Kau pikir aku akan perduli, dia hanya anak kecil dan tidak akan melakukan apapun,” dengan satu tangannya yang lain, kini wanita ini mencengkram rahang ku seakan hendak menghancurkannya “Kau sudah
berani menggoda suamiku, ****** seperti kamu memang lebih pantas di usir ke jalanan,” sambung wanita ini dengan menghempaskan keras rahang ku.
Aku terjatuh di lantai ketika tangan Mbak Tasya mendorongku
usai melepaskan genggaman tangannya yang kuat tadi pada rambut panjang. Aku mengerakkan rahang ku perlahan dan merasakan kaku bercampur nyeri seakan tangan Mbak Tasya masih menempel di rahang ini.
“Mbak Tasya, jangan pernah lakukan kekerasan lagi di hadapan, Liora. Dia adalah anak yang pintar dan pasti dengan sangat mudah mengingat kejadian ini, Mbak Tasya boleh menghukum aku sesuka hati tapi tolong, jangan dihadapan gadis kecil itu,” ucapku mulai tidak terima saat melihat Liora semakin memucat dengan tangis yang tertahan. Gadis kecil itu hanya bisa menetaskan air matanya tanpa bisa mengeluarkan suara tangisannya sungguh miris
sekali.
“Hahaha! Kau sungguh ****** yang sangat baik hati, kau bahkan perduli dengan putriku.” Wanita itu menatapku semakin tajam dan tidak
terbaca. “Apakan ini cara kamu berikutnya? Kamu ingin merebut kasih sayang Liora untuk meluluhkan hati suamiku,” teriak Mbak Tasya semakin kencang padaku.
“Mama, jangan pukul Mbak Sifana lagi, sudah cukup,” ucap Liora
dengan nada suara parau. Aku mengelengkan kepala menyuruh gadis kecil itu untuk diam akan tetapi Liora anak yang memiliki jika sosial yang sangat tinggi jadi dia tidak akan diam melihat orang lain disakiti. Dan itu semua adalah ajaran dariku, mungkin sebaiknya aku tidak perlu menekankan jiwa sosial padanya agar dia tidak merasa sedih seperti ini.
“Liora, masuk kedalam kamar! Jangan ikut campur urusan orang
dewasa,” teriak Mbak Tasya dengan kedua bola mata yang membulat penuh.
“Liora, Mbak Tasya dan juga Mama tidak bertengkar sekarang bisakah kamu masuk kedalam kamar, nanti Mbak Sifana janji akan membuatkan kamu jus alpukat yang sangat lezat,” bohongku sembari mengusap air mata yang sempat membasahi kedua pipiku tidak lupa aku juga tersenyum manis padanya.
“Mbak Sifana, benar baik-baik saja. Liora mau di sini saja dengan Mbak Sifana karena Mama jahat sekali,” ucap Liora dengan polos. Aku
melihat dia mengusap air mata yang jatuh di kedua pipinya
“Liora! Jangan banyak bicara cepat masuk kedalam kamar atau akan Mama pukul!” ancam Mbak Tasya dengan membulatkan kedua matanya penuh.
“Mbak Sifana, Liora takut.” Tanpa di sangka gadis kecil itu malah berlari ke arahku lalu memeluk kakiku.
Mbak Tasya membulatkan kedua matanya dengan rahang yang
sudah mulai berkedut tanpa emosi, “Liora,” wanita itu berteriak dengan tangan hendak menggapai tubuh kurus Liora namun aku segera menepis tangannya. Aku bisa
melihatnya menyakitiku bahkan menghujat ku sesuka hatinya, tapi untuk kali ini aku tidak bisa membiarkan Liora di sakiti.
“Mbak Tasya, jika kamu tidak membiarkan aku untuk membawa
Liora masuk kedalam kamarnya maka akan aku pastika jika nenek dan juga kakek Liora akan mengetahui sikap kasar kamu pada anak kecil ini!” aku mengancamnya dengan terpaksa. Mbak Tasya hanya menatapku dengan tajam bahkan ketika aku mengandeng tangan Liora menjauh darinya wanita itu hanya diam saja menaham emosi yang sudah hampir meledak di ubun-ubunnya.
Aku mencoba untuk menenangkan Liora dan juga mengatakan bahwa Mbak tasya tadi hanya salah paham saja. Liora anak yang pintar tentu saja
dia tidak langsung percaya dengan apa yang barusan aku ucapkan, tapi setelah aku berikan penjelasan yang mudah di cerna barulah gadis kecil itu mau mengerti dan berjanji tidak akan takut lagi pada, Mbak Tasya dan aku tentu saja langsung lega usai mendengarkan hal itu. Aku baru saja keluar dari dapur dan secara
kebetulan melihat Liora baru menuruni anak tangga rumah ini, gadis kecil itu langsung menghampiriku.
“Mbak Sifana, apakah sudah baik-baik saja?” ucap gadis itu sembari menatap wajahku.
Aku mensejajarkan posisi berdiri dengannya lalu berkata, “Mbak
Sifana, baik-baik saja sebaiknya Liora jangan khawatir, kamu lekas ke teras
rumah jemput Papa karena ini sudah sore dan waktunya Papa pulang bekerja,” ucapku dengan mengusap kepalanya dan tidak lupa aku juga tersenyum manis.
Liora mengganggukkan kepalanya setuju, ia mencium ku sebelum
pergi. Dan secara kebetulan sekali Mas Sadam melangkah masuk kedalam pintu rumah ini dengan Mbak Tasya disampingnya. Ya, setiap sore Mbak Tasya akan menunggu kedatangan Mas Sadam di teras rumah. Aku berbalik arah lalu kembali
masuk kedalam dapur ini, aku kembali melakukan tugasku untuk menyiapkan makan malam.
'Demi Liora aku mengancam, Mbak Tasya. Bukankah menurut kamu aku salah, Mas Sadam?'