Kanaya Anastasia, harus rela menikah dengan pria yang sudah beristri demi menyelamatkan panti asuhan agar tidak di gusur oleh keluarga Alexander.
Pernikahan tanpa cinta dari kedua belah pihak, Kanaya hanya di jadikan babu oleh istri pertama yang bernama Bella dan suaminya yang bernama Melvin.
Anehnya, sikap Melvin suka berubah-ubah hingga membuat Naya dilema. Jika tidak ada Bella, sikap Melvin sangat baik pada Naya dan sebaliknya, jika ada Bella maka Melvin akan bersikap jahat pada Naya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16.Melvin, Bangun...
"Minum dulu,...!" Melvin menyodorkan segelas air putih. Mereka tidak jadi pergi ke tempat makan karena Melvin memutuskan untuk pulang.
"Terimakasih!" ucap Naya dengan suara yang masih bergetar.
Melvin masih bisa melihat dengan jelas jika Naya masih ketakutan meskipun mereka sudah berada di apartemen. Wajahnya pucat, Naya hanya tertunduk diam.
"Makanannya sudah datang. Sebentar, aku akan mengambilnya dulu!" kata Melvin lalu beranjak pergi.
Setelah Melvin mengambil pesanannya, pria ini juga langsung menyiapkan makanan tersebut.
"Makanan lah, kau pasti lapar dan butuh tenaga sekarang!" ujar Melvin.
Naya memandang makanan yang baru saja di siapkan suaminya. Tangannya bergetar ketika meraih sendok.
Tiiing.....
Sendok yang di pegang Naya jatuh kelantai.
"Maafkan aku, nanti saja aku makan!" ucap Naya.
Melvin menarik nafas panjang lalu mengambil makanan tersebut dan menyuapkannya pada Naya.
"Aaa.......!" ujar Melvin seperti menyuapi anak kecil.
Naya menatap Melvin, rasanya canggung sekali jika di hadapkan dengan situasi seperti ini.
"Aku bisa sendiri," kata Naya.
"Tangan ku bergetar, megang sendok saja jatuh bagaimana kau bisa makan sendiri?"
"Tapi,.....!"
"Buka mulut mu atau ku paksa makan!" ancam Melvin membuat Naya mau tidak mau membuka mulutnya.
"Terimakasih!" ucap Naya.
"Em, makan yang banyak. Tubuh mu sangat kurus,"
"Kata-kata mu termasuk penghinaan fisik gak sih?" tanya Naya kesal.
"Eh, aku hanya bercanda. Kenapa kau menanggapinya serius?"
"Aku tidak suka!" seru Naya.
"Kenapa hidup mu sangat serius? bercanda dong!"
"Aku sudah terbiasa di didik serius. Jadi, aku tidak tahu bagaimana bercanda," kata Naya membuat Melvin bingung sendiri.
"Apa kau punya teman?"
"Selain anak-anak panti, aku tidak memiliki teman. Ibu Amber melarang ku untuk berteman dengan orang luar," jawab Naya semakin membuat Melvin merasa aneh.
"Kenapa?" tanya Melvin penasaran.
"Dia bilang orang luar hanya akan membawa pengaruh jelek saja!"
"Dan apakah dia sudah memberi mu pengaruh baik selama ini?"
"Sepertinya tidak, selama aku hidup di panti semuanya di atur oleh ibu Amber!"
"Jika ku katakan dia adalah salah satu dalang dari kecelakaan yang kau alami dengan orangtua mu bagaimana?"
Naya langsung tersedak, terkejut mendengar perkataan Melvin.
"Apa maksud mu hah?" tanya Naya yang sudah kehilangan selera makan.
Melvin meletakan piring yang masih berisi makanan.
"Trauma yang kau alami malam ini, aku tahu pasti di sebabkan oleh kecelakaan di masa lalu. Naya, aku sebenarnya tidak tahu kebenarannya bagaimana, yang tahu semua ini adalah mamah!"
"Jadi, maksud mu adalah jika orangtua ku kenal dengan ibu Amber?" tanya Naya mulai penasaran.
"Sepertinya begitu, aku juga tidak tahu pasti. Besok kita temui mamah jika kau ingin tahu cerita sesungguhnya,"
"Bagaimana jika malam ini kita pergi ke rumah mamah?"
"Tidak, ini sudah malam. keadaan kau sedang tidak baik-baik saja!" tolak Melvin.
"Ayo lah Mel,....!" rengek Naya namun Melvin kekeh menolak.
"Besok ya besok...!" tegas Melvin membuat wajah Naya langsung cemberut.
"Kau membuat ku tidak bisa tidur malam ini...!"
"Heh,memangnya aku berbuat apa?"
"Kau membuat ku penasaran!" seru Naya kesal.
"Lah, kau ini. Sepertinya suka sekali menyalahkan orang lain...!"
Naya hanya bisa mendengus kesal, rasa penasaran atas kecelakaan di masa lalu membuat hatinya terus bertanya-tanya. Selesai makan, baik Naya maupun Melvin langsung kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Malam telah berganti pagi, Naya bangun pagi sekali dan sudah rapi. Wanita ini tidak sabaran, Naya terus mengetuk pintu kamar Melvin.
Hoaaam......
"Ada apa sih?" tanya Melvin yang masih mengantuk.
"Kau sudah janji membawa ku pulang ke rumah mamah. Ayo cepat!" ajak Naya tidak sabaran.
"Naya, ini masih pagi sekali. Biarkan aku tidur sebentar saja!"
"Melvin,....!"
Melvin yang gemas dengan sikap Naya langsung menarik wanita itu masuk kedalam kamarnya.
"Mau apa kau hah? Melvin lepaskan aku....!" Naya berusaha melepaskan tangan Melvin.
Ternyata Melvin kembali ketempat tidur lagi sambil memeluk Naya yang sejak tadi berontak. Melvin langsung menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.
"Diam atau aku akan melakukan yang lebih pada mu!" ancam Melvin membuat Naya langsung terdiam.
"Jangan macam-macam kau Melv, aku akan menendang mu!" ancam Naya malah membuat Melvin tertawa.
"Perempuan, andalannya cuma itu saja!" cibir Melvin, "diam kau, aku mau tidur sebentar!"
"Melvin, tapi kau sudah janji...!"
"Diam Kanaya....!" sentak Melvin.
Naya mengalah, wanita ini terdiam namun dalam hatinya terus mengumpati Melvin yang kembali tertidur. Pada akhirnya, Naya yang tidak bisa bergerak karena Melvin memeluknya sangat erat itu terlelap begitu saja.
Mendengar dengkuran halus yang keluar dari bibir Naya membuat Melvin langsung terbangun yang sebenarnya pura-pura tidur sejak tadi.
"Oh, ternyata begini cara menjinakkan mu!" batin Melvin terkekeh geli.
Melvin terus menatap wajah cantik Naya yang meskipun tanpa make up pun masih terlihat sangat cantik.
"Dia ini sebenarnya cantik, di poles sedikit pasti jauh lebih cantik dari Bella yang sudah kebanyakan oplas itu. Dasar bodoh kau Melvin, kenapa bisa kau jatuh cinta dengan perempuan seperti Bella?" Melvin mengatai dirinya sendiri.
Jari-jari nakalnya mulai berani mengusap wajah lembut Naya. Naya yang sebenarnya mengantuk tidak sadar akan hal yang di lakukan Melvin sekarang. Tidur larut malam dan bangun sangat pagi membuat Naya tidur sangat nyenyak pagi ini.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Naya tiba-tiba saja terbangun hingga membuat Melvin terkejut.
"Melvin, bangun....!"
"Aku sudah bangun sejak pagi," ucap Melvin dengan santainya.
"Kenapa kau tidak membangunkan ku hah? kau mengerjai ku kah?" Naya kesal.
"Tidak, maksudnya aku bangun sebelum kau. Dua menit yang lalu!" bohong Melvin.
"Aku tidak percaya!" seru Naya merasa curiga karena wajah Melvin terlihat segar. Naya tidak peduli, wanita ini langsung turun dari atas tempat tidur dan keluar dari kamar suaminya.
"Naya,...Naya,...bercanda saja tidak boleh!" ucap Melvin bergeleng kepala.
Sudah hampir dua bulan pernikahan mereka, namun rasanya Melvin dan Naya bagaimana dua orang asing yang di paksa tinggal bersama tanpa memiliki rasa.
Terus merengek hingga membuat telinga Melvin sakit, pada akhirnya lelaki itu mengajak Naya pulang ke rumah mamahnya.
"Kita cari sarapan dulu...!" ujar Melvin.
"Kita makan di rumah mamah saja," sahut Naya yang sudah tidak sabar menunggu penjelasan.
"Aku lapar Naya, kau juga pasti lapar. Santai saja, lagian mamah tidak akan pergi ke mana-mana."
Lagi-lagi Naya harus mengalah, mau tidak mau wanita ini menurut pada suaminya. Mereka mencari tempat makan untuk sekedar mengisi perut.
"Makan yang banyak," ujar Melvin.
"Kenapa kau suka sekali menyuruh ku makan banyak?" tanya Naya membuat Melvin terdiam. Melvin ingat lagi ketika mendapati Naya makan seorang diri di dapur sedangkan dirinya makan dengan begitu mesranya bersama Bella.
Melvin tersenyum lalu menjawab, "Tidak kenapa-kenapa, aku suka melihat kau yang selalu menghabiskan makanan mu."
"Makanan itu harus di hargai, karena mencarinya butuh tenaga. Aku sudah merasakan betapa beratnya kerja siang malam hanya untuk sesuap nasi," ucap Naya merasa sedih.
"Untuk mu....!" Melvin menyodorkan sebuah kartu tanpa batas pada istrinya, "kau tidak perlu bekerja, apa pun kebutuhan mu kau bisa gunakan ini."
"Tidak, aku tidak bisa menerimanya!" tolak Naya.
"Kenapa?" tanya Melvin bingung, beda lagi jika dirinya memberi pada Bella yang hampir setiap hari merasa kurang.
"Tidak kenapa-kenapa!" jawab Naya.
"Aku suami mu, ini nafkah dari ku!" ucap Melvin, "ambil dan simpan lah. Aku tidak menerima penolakan. Jika kau tidak mau, buang saja!"
Naya mendengus kesal lalu mengambil dan langsung menyimpannya di tas kecil yang ia bawa.
"Terimakasih!" ucap Naya lalu mereka kembali melanjutkan makan.
Toorrr ayo mangaat dilanjut lagi, seru lhoo ini ceritanya !!!
Forgive but no forget ! 😝